
Hari hari berlalu dengan damai, Pagi ini setelah sarapan Farhan bersiap untuk pergi ke kantor. Nesha membantu Farhan memakai dasi.
" Udah." Ucap Nesha menepuk pelan dada Farhan.
" Makasih Yank." Farhan mencium kening Nesha. Ia beralih ke bibir manis istrinya. Farhan mencecap bibir Nesha merasakan manis bibir istrinya, Nesha membuka mulutnya mempermudah lidah Farhan bermain di dalam sana. Keduanya sama sama menikmati sensasi manis bertukar saliva. Setelah keduanya kehabisan nafas, Farhan melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Nesha dengan jempolnya.
" Makasih." Ucap Farhan.
" Aku ke kamar Nathan ya Mas, Hati hati berangkatnya." Ujar Nesha.
" Hmm." Gumam Farhan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar, Nesha segera membukanya.
" Ada apa Mbak?" Tanya Nesha kepada Mbak Nadia.
" Ada tamu Non." Ucap Mbak Nadia.
" Siapa?" Nesha menatap Mbak Nadia
" Saya nggak tahu namanya Non, Katanya mau bertemu Non dan Tuan." Ujar Mbak Nadia.
" Suruh tunggu sebentar ya Mbak." Sahut Nesha.
" Iya Non." Setelah itu Mbak Nadia undur diri.
" Siapa Yank?" Tanya Farhan.
" Mbak Nadia, Dia bilang ada tamu Mas di bawah." Sahut Nesha.
" Aku temui dulu, Kamu urus Nathan saja." Ujar Farhan.
" Iya Mas." Sahut Nesha.
Farhan berjalan menuju lantai bawah sedang Nesha ke kamar Nathan untuk memandikan Nathan. Sesampainya di bawah Farhan segera menghampiri tamunya di ruang tamu.
" Selamat pagi Tuan Farhan." Sapa Jordan menjabat tangan Farhan.
" Pagi." Sahut Farhan.
" Pagi Tuan Farhan, Saya Julius pengacara keluarga Pradana." Ucap Julius menjabat tangan Farhan.
" Ada perlu apa anda datang kemari?" Tanya Farhan basa basi padahal Ia sudah tahu maksud kedatangan Jordan ke rumahnya.
" Ini mengenai Nathan Tuan, Kami ke sini untuk membawanya pulang bersama kami, Anda sudah tahu bukan? Sebelum Hakim ketuk palu dan menyatakan anda berhak mengasuh Nathan maka Nathan menjadi tanggung jawab kami sebagai keluarganya." Ucap Julius.
" Saya juga sudah melengkapi berkas berkas untuk sidang termasuk mencocokkan hasil tes DNA ulang Nathan dengan DNA Tuan Jonathan yang datanya masih tersimpan di Rumah Sakit." Sambung Julius. Farhan tidak bergeming, Ia tidak tahu harus berkata apa. Karna Farhan tahu Ia tidak mungkin menang melawan keluarga Jo karna memang Nathan anggota keluarga mereka. Sampai tiba tiba...
" Saya mohon biarkan Nathan bersama kami Tuan." Sahut Nesha dari belakang menghampiri Farhan di sana.
" Oh keponakan Ayah sudah datang." Jordan berdiri menghampiri Nesha yang sedang menggendong Nathan.
__ADS_1
" Ayo gendong Ayah." Jordan mengulurkan tangannya ingin mengambil alih Nathan dari gendongan Nesha.
" Ndak mau." Sahut Nathan.
" Hey...Ini Ayah sayang.." Ucap Jordan, Farhan memejamkan matanya, Sesungguhnya hatinya tidak rela ada orang lain yang di panggil Nathan dengan sebutan Ayah.
" Butan... Athan ndak puna Ayah, Athan cuma puna Papi." Ujar Nathan.
" Sayang... Nggak boleh gitu, Salim dulu sama Ayah." Ucap Nesha. Bagaimanapun Ia tidak boleh egois bukan? Nathan harus bersikap baik dengan keluarga kandungnya agar dia nyaman saat tinggal di sana.
" Ayah Mami?" Tanya Nathan menatap Nesha.
" Hmmm... Itu Papi Nathan." Nesha menunjuk ke arah Farhan.
" Dan ini Ayah Nathan." Sambung Nesha menunjuk Jordan. Nesha menatap ke atas mencoba menahan air matanya.
" Athan puna Papi dan Ayah?" Tanya Nathan lagi.
" Iya... Banyak kan yang menyayangi Nathan? Sekarang anak baik salim dulu sama Ayah." Ucap Nesha. Nathan menyalami Jordan dengan takzim.
" Bilang apa?" Tanya Nesha.
" Maaf Ayah." Ucap Nathan.
" Tidak masalah Boy." Sahut Jordan.
Hati Jordan trenyuh melihat kelembutan hati Nesha. Ia bahkan wellcome dengan kehadirannya. Nesha tidak menghalangi Nathan bertemu dengan keluarga kandungnya.
" Ndak mau tatut." Jawab Nathan.
" Eh... Kok takut si? Nathan tau nggak? Ayah sama dengan Papi yang nggak akan bikin Nathan terluka, Coba deh kalau nggak percaya." Ujar Nesha.
" Ayah dendong." Ucap Nathan sambil mengulurkan tangannya. Jordan segera menggendongnya. Ia menciumi keponakan yang Ia anggap anaknya sendiri. Tidak kuasa menahan air matanya, Nesha segera berlari meninggalkan semuanya di sana.
" Sayang.." Panggil Farhan. Farhan segera menyusul Nesha.
Nesha terus berlari menuju kamarnya, Sesekali Ia mengusap air matanya. Setelah masuk kamarnya Nesha membanting tubuhnya telungkup di atas kasur. Ia menangis sejadi jadinya mengeluarkan rasa sesak di dadanya.
" Sayang..." Farhan menghampiri Nesha. Ia duduk di samping Nesha sambil membelai rambut Nesha.
" Sayang.... " Ucap Farhan lembut. Nesha bangun langsung memeluk tubuh Farhan.
" Mas...Hiks...hiks...." Isak Nesha.
" Tenanglah sayang semuanya akan baik baik saja." Ucap Farhan mengelus punggung Nesha.
" Mas...Aku nggak bisa bayangkan kalau aku harus berpisah dengan Nathan Mas....Dia putraku... Putra kita.. Apakah mereka tega memisahkan ibu dari anaknya...Hiks..." Celoteh Nesha masih dalam pelukan hangag suaminya.
" Sayang.... Dengarkan aku, Nathan bukan hak kita, Jika memang Nathan harus berpisah dari kita, Ikhlaskan dia Yank..... Biarkan dia hidup bahagia bersama keluarga kandungnya, Kita tidak boleh egois... Kamu baru beberapa bulan bersamanya saja sudah berat melepaskannya apalagi aku yang sudah bertahun tahun." Ujar Farhan.
" Mas berikan apapun yang mereka mau asal jangan pisahkan aku sama Nathan." Ucap Nesha.
" Mereka hanya menginginkan Nathan sayang sebagai ahli waris mereka, Kalau kamu tidak mau melepas Nathan maka...." Ucapan Farhan menggantung. Nesha melepas pelukannya. Ia menatap Farhan dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
" Maka apa Mas?" Tanya Nesha mengusap air matanya.
"Dengan terpaksa Mas akan menerima syarat dari Jordan, Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu sayang." Farhan menghela nafasnya. Ia tidak tega melihat kesedihan Nesha.
" Kebahagiaanku ada bersamamu Mas." Sahut Nesha menangkup wajah Farhan dengan kedua tangannya.
" Jangan pernah melepas aku untuk siapapun, Aku hanya ingin bersamamu selamanya hingga maut memisahkan kita, Maafkan aku yang tidak peduli dengan perasaanmu hingga membuatku menambah beban di pundakmu." Ujar Nesha.
" Tidak sayang... Aku tidak pernah terbebani oleh dirimu, Aku sangat mencintaimu.... Bersabarlah kita akan segera hadirkan Nathan junior versi kita sendiri hmmm."Goda Farhan mencium pipi Nesha.
" Makasih Mas." Ucap Nesha.
" Ayo kita keluar...Cuci dulu mukanya biar fresh." Ujar Farhan menyibak anak rambut Nesha.
" Hmm." Gumam Nesha.
Nesha beranjak ke kamar mandi membasuh mukanya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat semuanya dari tadi. Setelah dari kamar mandi Farhan menggandeng Nesha menuju ruang tamu. Di sana Nathan sedang bermain dengan Jordan di atas lantai beralaskan karpet sedang Julius sudah kembali ke kantor. Jordan menoleh ke arah Nesha yang sedang berjalan ke arahnya. Ia menatap mata Nesha yang masih memerah.
" Apa yang terjadi denganmu Nona Nesha? Kenapa matamu memerah?" Tanya Jordan.
" Eh.. Iyakah? Oh mungkin ini karna kelilipan tadi." Kilah Nesha duduk di samping Nathan.
" Mami Nanis ya?" Nathan menangkup wajah Nesha.
" Enggak... Siapa bilang Mami nangis? Orang Mami kelilipan aja, Ya kan Pi?" Tanya Nesha menatap Farhan.
" Hmm." Farhan menganggukkan kepalanya.
" Ya udah Papi berangkat kerja sebentar ya, Papi akan segera kembali." Ucap Farhan.
" Hati hati Mas, Aku akan minta di temenin Mbak Nadia biar kami nggak hanya bertiga." Ucap Nesha mencium tangan Farhan.
" Iya lagian aku percaya padamu kok... Maaf Tuan Jordan saya tinggal dulu." Ucap Farhan.
" Silahkan Tuan Farhan." Sahut Jordan.
" Sayang Papi berangkat dulu ya." Farhan mencium pipi Nathan.
" Ati ati Pi." Sahut Nathan.
" Assalamu'alaikum." Farhan mencium kening Nesha mengabaikan Jordan di sebelahnya.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Nesha.
" Dada Papi...." Ucap Nathan.
" Da Sayang." Sahut Farhan sambil berjalan keluar.
" Maaf saya mau cari Mbak Nadia, Silahkan main dulu sama Nathan." Ucap Nesha.
" Ok.... Ayo Nathan kita bermain lagi." Ujar Jordan. Mereka melanjutkan mainnya, Jordan sedang memikirkan rencana apa yang akan Ia ambil untuk kebaikan bersama. Melihat keharmonisan keluarga Farhan membuatnya sedikit iri. Pasalnya Ia sudah lama tidam merasakan kehangatan sebuah keluarga.
TBC......
__ADS_1