
" Mas perutku mulai membuncit." Ucap Valen sambil memutar mutar tubuhnya di depan cermin.
Nathan menghampirinya, Ia memeluk Valen dari belakang menempelkan dagunya di pundak Valen.
" Itu tandanya anakku sehat di dalam sini Yank, perutmu akan semakin membesar seiring perekambangan calon anak kita sayang, tapi jangan khawatir karna cintaku tidak terbatas dan tidak memandang fisik, hatiku sepenuhnya milikmu sayang." Sahut Nathan mengelus perut Valen.
" Terima kasih Mas, aku berharap hanya ada kebahagiaan dalam hidup kita ke depannya." Ucap Valen.
" Amien." Sahut Nathan.
" Kira kira anak kita laki laki atau perempuan ya Mas?" Tanya Valen.
" Mas juga tidak tahu sayang, tapi apapun jenis kelaminnya yang penting sehat dan lancar persalinannya." Ujar Nathan.
" Iya Mas kau benar, tapi kalau boleh jujur aku ingin dia laki laki." Ucap Valen.
" Kenapa laki laki?" Tanya Nathan.
" Ya ingin aja sih punya anak pertama laki laki, laki laki tampan dan penyayang seperti Papanya." Sahut Valen.
Nathan membalikkan tubuh Valen menghadap ke arahnya. Ia menatap wajah Valen, lalu Nathan memajukan wajahnya mencium bibir Valen. Nathan melum** lembut bibir Valen. Suara decapan memenuhi ruangan kamar kamar mereka. Nathan melepas pagutannya, Ia mengusap lembut bibir Valen dengan jempolnya.
" Morning kiss." Ucap Nathan.
" Kamu mah nggak pagi, nggak siang apalagi malam selalu nyosor melulu Mas." Cebik Valen mengusap bibirnya denga tisu.
" Habisnya bibir kamu manis Yank." Sahut Nathan.
" Aku minum obat yang pahit aja tetap kamu sosor Mas." Ujar Valen.
" Ya kan kalau cinta pahit pun akan terasa manis Yank." Kekeh Nathan.
" Tau ah gelap." Sahut Valen.
" Ya udah kita turun yuk, semua pasti udah menunggu." Ajak Nathan.
" Mas, Cia semalam pulang nggak sih? Kok aku nggak lihat." Ucap Valen.
" Mas juga nggak tahu Yank, mungkin pulangnya udah malam banget kali kita udah tidur." Sahut Nathan.
Nathan merangkul pundak Valen. Keduanya berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Saat keduanya melewati ruang keluarga, langkah Nathan berhenti melihat anggota keluarganya sedang berkumpul di sana.
" Irvan? Kenapa kamu pagi pagi sampai sini? Apa ada masalah di perusahaan?" Tanya Valen menghampiri ruang keluarga. Pasalnya Valen tidak menyuruh Irvan datang ke sini.
" Mami baru mau memanggil kalian, tapi kalian sudah datang jadi duduklah, ada yang ingin Irvan sampaikan." Ujar Mami Nesha.
" Kamu juga di sini Dik?" Tanya Nathan duduk di samping Dika.
__ADS_1
" Iya, Cia memintaku untuk ke sini." Sahut Dika.
Valen menatap orang orang yang sedang duduk di sofa. Ada Mami, Papi, Cia, Irvan, dan Dika. Ada masalah apa sebenarnya? Pikir Valen.
" Sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan kepada kami Nak Irvan!" Titah Papi Farhan menatap Irvan.
" Aku ingin meminta maaf pada kalian semua, karna aku membuat kesalahan yang fatal." Ucap Irvan.
" Kesalahan fatal? Kesalahan fatal apa maksudmu hingga kau membuatku datang ke sini?" Tanya Dika menatap Irvan.
" Semalam aku dan Cia minum sampai mabuk, dan kami melakukan kesalahan dengan melakukan hal terlarang itu." Terang Irvan.
" Apa? Maksudmu kau dan Cia telah melakukan...." Valen menggantung ucapannya. Lidahnya kelu tidak mampu meneruskan kalimatnya.
" Iya, kami melakukan dosa besar semalam." Sahut Irvan.
Jeduar.....
Bagai pukulan telak di jantung Dika dan semua orang di sana. Dika menatap Cia tidak percaya.
" Apa ini Cia? Katakan apa semua yang di katakan Irvan adalah kebenaran? Kau mengkhianati cinta kita dengan bermalam dengan Irvan?" Tanya Dika menatap Cia.
" Maafkan aku Mas, kami tidak sengaja melakukannya, kami dalam keadaan mabuk." Sahut Cia menundukkan kepalanya.
" Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Tanya Papi Farhan.
Dika memejamkan matanya menahan sakit di dadanya.
" Bagaimana Dika?" Tanya Papi Farhan menatap Dika.
" Cia wanita yang aku cintai menghabiskan malam dengan pria lain, aku yakin Om pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini, tapi aku tidak boleh egois, jika memang Cia menerima Irvan maka aku rela melepasnya, aku doakan semoga Cia dan Irvan bahagia." Ucap Dika berbesar hati.
" Mas maafkan aku, aku tidak bermaksud mengkhianatimu, mungkin ini sudah menjadi takdir Tuhan untuk kita, sekali lagi maafkan aku, aku akan menerima tanggung jawab dari Kak Irvan, walaupun kau tahu sangat sulit bagiku untuk menghapus kenangan dan perasaanku padamu hiks.... Mas Dika aku minta maaf padamu karna aku tidak bisa menepati janjiku padamu, maafkan aku." Isak Cia.
Dika menarik tubuh Cia ke dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Cia, sesekali Ia mencium pucuk kepala Cia. Keduanya menangis meluapkan perasaan sedih dalam hati mereka.
" Belajarlah untuk melupakan perasaan itu Cia, sekarang kau harus belajar mencintai Irvan, pria yang akan menjadi suamimu, pria yang akan menepati semua janji janjiku padamu, cintai dia seperti kamu mencintaiku." Ucap Dika.
" A... Aku akan berusaha Mas." Sahut Cia melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya.
" Irvan, aku titipkan cintaku kepadamu, Cintai Cia seperti aku mencintainya, penuhi janji yang pernah aku buat untuknya karna aku tidak bisa menepatinya, jika sampai kau menyakitinya maka aku akan merebutnya kembali darimu." Ucap Dika.
" Aku akan berusaha mencintainya dan membuatnya bahagia." Sahut Irvan.
" Kalau begitu aku permisi." Ucap Dika beranjak dari duduknya.
" Hati hati." Sahut Mami Nesha.
__ADS_1
Dika meninggalkan kediaman keluarga Ardiansyah. Papi Farhan menatap ke arah Irvan dan Cia yang duduk berdampingan.
" Kapan kau akan menikahi Cia?" Tanya Papi Farhan.
" Satu minggu lagi Om." Sahut Irvan.
" Baiklah Om akan menunggu kedatangan keluargamu untuk melamar putriku." Ucap Papi Farhan.
Irvan menatap ke arah Valen yang saat ini sedang menatapnya juga.
" Maaf Pi, Irvan sebatang kara, Papa Alex dan aku yang menjadi keluarganya jadi kami nanti yang akan datang melamar Cia." Ujar Valen menyela obrolan Papi Farhan dan Irvan.
" Maaf, Om tidak tahu." Ucap Papi Farhan.
" Tidak apa Om." Sahut Irvan.
" Pi tidak perlu acara lamaran, kami langsung nikah aja seminggu lagi." Ujar Cia.
" Tidak Cia aku akan datang bersama Om Alex untuk memintamu dari orang tuamu, dan kita akan menikah seminggu setelah hari itu." Ucap Irvan.
" Emang kapan Kak Irvan mau melamarku?" Tanya Cia.
" Nanti malam." Sahut Irvan.
" Baiklah kami akan menunggumu." Ucap Papi Farhan.
" Kalau begitu saya permisi Om, Tante, maafkan saya karna saya telah membuat keributan pagi pagi begini." Ujar Irvan.
" Iya kau membuatku kelaparan Van, kau tidak kasihan dengan Babbyku." Sahut Valen.
" Maaf Len, kalau begitu sekarang makanlah! Apa pengin aku belikan sesuatu untukmu?" Tanya Irvan.
" Nggak usah aku mau makan masakan Mami saja, Gimana kalau kau ikut sarapan bersama kami saja." Tawar Valen.
" Bolehkan Pi?" Tanya Valen menatap Papi Farhan.
" Kenapa tidak, ayo kita sarapan bersama." Ajak Papi Farhan.
Keluarga Ardiansyah bersama Irvan sarapan bersama. Keluarga ini nampak sangat harmonis dan terlihat sangat bahagia.
TBC.....
Jangan lupa like koment dan votenya...
Author ucapkan terima kasih untuk para reader yang selalu mendukung author....
Miss U All....
__ADS_1