
Sebelum aku menunjukkan buktinya, aku ingin mengatakan apa yang selama ini aku sembunyikan pada kalian semua." Ucap Gama menatap semua orang bergantian.
" Apa maksudmu Nak? Apa yang sedang kau sembunyikan dari kami sayang?" Tanya Mami Nesha.
" Sebenarnya aku sama sekali tidak mencintai Kavia." Ucap Gama. Semua orang kaget dengan pengakuan Gama.
" Apa? Apa maksudmu Gama? Kalau kamu tidak mencintaiku lalu kenapa kau melamarku Gama? Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan." Bentak Kavia.
" Itu karena aku tidak mau Abangku jatuh ke dalam pelukan wanita yang salah,aku tahu benar wanita seperti apa dirimu Kavia, aku tahu Abang akan memberikan apapun kepadaku termasuk dirimu, itulah sebabnya aku berbohong dengan mengatakan kalau aku jatuh cinta kepada dirimu." Ucap Gama.
"Abang akan memberikan apapun yang aku minta selain Valen tentunya." Sambung Gama.
" Kalau itu tidak akan Abang berikan sampai kapanpun dan pada siapapun termasuk kepadamu Dek." Sahut Nathan merangkul pundak Valen.
" Aku tahu Bang." Sahut Gama.
" Gama katakan yang jelas! Apa alasanmu melakukan semua ini?" Tanya Papi Farhan.
" Kavia." Ucap Gama menunjuk Kavia.
" Dari awal Kavia sengaja mendekati Abang, dia selalu mencari simpati dan perhatian Abang supaya Abang dekat dengannya, Ia punya tujuan lain di balik semua itu, Ia berpikir dengan menjadi bagian dari keluarga kita maka Ia bisa menguasai harta keluarga kita Pi." Terang Gama.
" Apa?" Pekik semua orang yang ada di sana.
" Tidak.... Jangan percaya pada Gama, aku tidak begitu Tante, aku benar benar mencintai Nathan tulus dari hatiku." Kilah Kavia.
" Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan temanmu saat di pantry Nona Kavia, itulah sebabnya aku ingin menjauhkanmu dari Abangku, Jangan mengelak lagi karna aku masih punya banyak bukti2 kejahatanmu Nona Kavia... Aku sengaja mendekatimu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan, dan aku berhasil bukan?" Kekeh Gama.
" Kau memang licik Gama." Ucap Kavia merasa terpojok.
" Wow... Maling teriak maling." Sahut Gama.
" Kau yang licik Nona Kavia, kau merencanakan penjebakan untuk Valen, kau bekerja sama dengan Ardan untuk memisahkan Abang dengan Valen, bahkan kau rela melempar tubuhmu ke Ardan supaya dia mau bekerja sama denganmu... Sungguh menjijikkan." Gama menatap Kavia jijik.
" Ini semua bukti yang sudah aku dapatkan." Ucap Gama menunjukkan sebuah flashdisk kepada semua orang.
" Malam itu Ardan sengaja memberi bius kepada Valen lewat asap rokoknya, setelah itu Ardan membawanya ke kamar hotel, saat Ardan memesan wine saat itu pula aku mencampurkan obat tidur di dalam minuman Ardan." Ucap Gama.
Valen, Nathan dan Kavia menatap kaget ke arah Gama.
" Kenapa? Apa kau heran bagaimana aku bisa melakukan semua itu dan mengetahui rencanamu? Akan aku kasih tahu Nona Kavia.... Aku selalu mengawasi gerak gerikmu." Ucap Gama menunjuk matanya lalu menunjuk mata Kavia dengan dua jarinya. Kavia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghilangkan kegugupannya.
" Di saat Ardan akan menyentuh Valen di saat itu juga Ardan tidak sadarkan diri, Ia sudah terlelap merajut di alam mimpi." Sambung Gama.
" Maafkan aku Kak Valen, aku membiarkanmu sampai pagi di sana, aku tidak mau kedua iblis itu tahu jika aku sudah mengacaukan rencananya." Ucap Gama menatap Valen.
" Tidak masalah aku justru berterima kasih padamu Gama karna kamu mau menolongku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kejadian memalukan itu benar benar terjadi padaku tapi sekarang aku sudah merasa lega." Sahut Valen mencoba setenang mungkin karna sebenarnya Ia memendam emosi yang sangat dalam.
" Jadi malam itu tidak terjadi sesuatu di antara mereka?" Dengan bodohnya Kavia bertanya.
" Tidak... Bahkan Abang sudah membuktikannya sendiri semalam." Sahut Gama melirik Nathan membuat Nathan salah tingkah.
__ADS_1
" Apa maksudmu Nathan sudah membuktikannya sendiri?" Tanya Kavia.
" Yah mereka sudah melewati malam pengantin bersama lah, masa' gitu aja nggak ngerti." Sahut Cia.
" Apa? Malam pengantin? Bagaimana bisa mereka melakukan malam pengantin?" Tanya Kavia.
" Ya karena mereka sepasang suami istri gimana sih." Cebik Ria.
" Suami istri?" Tanya Kavia.
" Kau tidak perlu bertanya lagi Nona Kavia, sekarang pergilah dari sini! Rumah kami har*m di injak oleh wanita rendahan dan licik sepertimu." Usir Cia.
Valen yang sedari tadi mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya merasa tidak kuat lagi. Valen menatap nyalang ke arah Kavia. Ia tidak terima jika harga dirinya di injak injak oleh wanita seperti Kavia.
" Jadi semua ini ulah wanita rendahan sepertimu." Teriak Valen tiba tiba menghampiri Kavia.
" Dasar wanita tidak tahu diri, kau menghina harga diriku dengan rencana busukmu itu." Bentak Valen menjambak rambut Kavia.
" Awh lepaskan... Lepaskan aku." Teriak Kavia kesakitan. Rasanya rambutnya hampir copot semua. Kepalanya mengikuti arah tarikan Valen berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
" Aku tidak akan pernah melepaskan wanita licik sepertimu, aku akan memberikanmu pelajaran Kavia sialan." Teriak Valen.
" Lepaskan aku." Teriak Kavia.
Mami Nesha dan semua orang mendadak panik melihat sikap kasar Valen. Tapi mereka hanya menjadi penonton setia saja tanpa mau menghentikan Valen. Mereka membiarkan Valen meluapkan emosinya.
" Rasakan wanita sialan, wanita licik." Valen terus menarik rambut Kavia hingga berantakan tak berbentuk lagi.
" Awh lepaskan aku, ku mohon siapapun tolong aku." Ucap Kavia.
" Abang suruh Valen menghentikan semua ini Bang, jangan buat Valen terkena masalah karna sudah menyakiti Kavia." Titah Mami Nesha.
" Iya Mi." Sahut Nathan.
Nathan maju mendekati Valen lalu...
Grep.... Kebiasaan Bang Nathan nih...
" Sayang lepaskan dia, jangan kotori tanganmu dengan menyentuhnya." Ucap Nathan memeluk Valen dari belakang.
Valen menjauhkan tangannya dari rambut Kavia yang sudah acak acakan seperti orang tersengat listrik. Ia menatap nyalang ke arah Kavia.
" Kau tidak tahu kau sedang bermain main dengan siapa Nona Kavia." Ucap Valen menatap Kavia, begitupun sebaliknya.
"Perlu kau ketahui aku... Valentina Adriana istri dari Vernatan Ardiansyah dan putri satu satunya dari Alexander Adriano CEO perusahaan Alexander Group." Sambung Valen.
Kavia membelalakkan matanya. Jantungnya terasa mau copot dari tempatnya.
" Aku katakan kepadamu kalau aku bukan orang susah sepertimu, jadi aku tidak membutuhkan uang apalagi sampai rela menawarkan tubuh ini demi mendapat sesen uang Nona.... Kau tahu bukan berapa uang yang aku punya di dalam rekeningku? Ah tidak... Anda tidak akan tahu karna anda hanya orang bodoh jadi anda tidak akan pernah bisa menghitungnya.... Uangku tidak berseri Nona Kavia." Ejek Valen tersenyum meremehkan. Sebenarnya Valen bukan tipe orang yang suka merendahkan orang lain, tapi jika orang itu membuat masalah dengannya, lidah tajamnya pasti akan bereaksi membuat lawan mati kutu.
" Anda terbiasa memegang uang sebesar satu sampai dua juta saja, sedangkan aku terbiasa dengan uang milyaran bahkan triliunan Nona.... Aku bahkan mampu membeli dirimu beserta keluargamu untuk menjadi pembantu di istanaku." Sinis Valen.
__ADS_1
Ucapan Valen menohok di jantung Kavia. Kavia merasa rendah serendah rendahnya. Bagaimana bisa Kavia tidak mengetahui identitas asli Valen. Kavia sangat takut karna saat ini Ia merasa berada di kandang singa yang kapan saja bisa menerkamnya. Ia mengedarkan pandangannya menatap orang orang yang sedari tadi memandang remeh ke arahnya.
" Terima hukuman dariku setelah ini dan tentunya partner kerjamu juga akan merasakan hal yang sama." Ucap Valen.
Valen membuka kunci ponselnya. Ia menelepon seseorang untuk memberikan titahnya.
" Halo Nona." Sapa seseorang di sebrang sana.
" Hancurkan keluarga Kavia dan pamannya serta hancurkan keluarga Ardan Zavran, segera akuisisi perusahaannya dan satukan dengan perusahaan VA coorp." Titah Valen.
" Baik Nona." Sahut seseorang di sebrang sana.
Valen mematikan ponselnya. Ia kembali menatap Kavia.
" Nikmati kehancuran keluargamu Kavia, sekarang pergilah dari sini sebelum aku membunuhmu, dan tunggu polisi menjemputmu, kau tidak bisa bersembunyi dimana mana karna aku akan menemukanmu walau di lubang semut sekalipun." Ucap Valen.
Tanpa banyak berkata Kavia segera pergi meninggalkan rumah keluarga Nathan. Valen duduk di sofa sebrang Papi dan Maminya.
" Maafkan atas sikap buruk Valen Pi Mi, Maaf jika Valen membuat kalian semua kecewa." Ucap Valen menundukkan kepalanya.
" Kami memaafkanmu sayang, lagian bukan kamu yang salah tapi Kavia yang sudah keterlaluan." Sahut Papi Farhan.
" Terima kasih Pi, dan perlu kalian ketahui jika tidak terjadi apapun kepada kami malam itu, Mas Nathan sudah membuktikannya jika memang dia yang pertama." Ujar Valen tanpa rasa malu.
" Kami percaya padamu sayang." Sahut Mami Nesha.
" Gama.. Aku ucapkan terima kasih kepadamu sekali lagi karna ternyata kamu melindungiku secara diam diam." Ucap Valen.
" Kembali kasih, jika kau tulus mengucapkan terima kasih padaku maka kamu harus menemaniku jalan jalan seharian ini." Ucap Gama.
" Tidak bisa, Abang tidak mengijinkan Valen pergi denganmu." Sahut Nathan.
" Bagaimana Kakak ipar?" Tanya Gama tanpa menghiraukan ucapan Nathan.
Valen menatap Nathan yang menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
" Begini saja, hari ini Kakak ipar menjadi milik kami, jadi kami bertiga akan mengajak Kakak Ipar jalan jalan, tapi hanya Kakak ipar saja tanpa Abang." Ucap Cia.
" Iya benar, Kak Valen milik kami bertiga, kalau Abang nanti malam saja." Ucap Ria.
" Baiklah Abang akan ikut dengan...
" Big No." Ucap Gama dan si kembar bersamaan.
Valen tersenyum menatap Nathan yang menekuk wajahnya. Pasalnya jika ketiga adiknya sudah meminta sesuatu darinya maka Ia harus memberikannya. Termasuk waktu Valen untuknya...
TBC.....
Terjawab sudah rasa penasaran kalian ya...
Jangan lupa like dan komentnya....
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung author.... Semoga author bisa membuat cerita yang semakin menarik bagi para readers...
Miss U All....