Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
66. Ketenangan Hidup


__ADS_3

Ria mencoba membangunkan Davian dengan mengguncang pelan bahunya.


" Mas bangun." Ucap Ria.


" Hmm." Gumam Davian masih memejamkan mata.


" Bangun mandi dulu, udah aku siapin air hangatnya." Ujar Ria.


Davian mengerjapkan matanya. Ria memajukan wajahnya untuk melakukan aktivitas rutin memberikan semangat untuk suaminya. Saat Ria hendak mencium pipi Davian, tiba tiba Davian memalingkan wajahnya. Ia beranjak dari raanjang menuju kamar mandi. Ria menghela nafasnya mencoba menguatkan kesabarannya.


Ya sejak semalam Davian ngambek soal perdebatan pemberian bola pada anak dalam kandungan Ria. Hal di luar nalar sebenarnya jika masalah itu di besar besarkan oleh Davian. Tapi bagi Davian ini hal yang menyakiti hatinya. Ia jadi ingat masa masa sulit yang Ria hadapi karna ulahnya bahkan Ria menolaknya dan lebih memilih Irvan. Ada ketakutan sendiri dari dalam diri Davian. Ketakutan akan kehilangan istrinya. Yang namanya cinta mustahil pun jadi nyata, bener nggak sih???


Ria menyiapkan baju ganti untuk Davian. Ia akan membujuk suami manjanya agar bisa memaafkannya. Walaupun ada kesenangan tersendiri dari dalam hati Ria melihat tingkah suaminya. Entah itu bawaan dari bayinya atau karna ada yang lainnya.


Ceklek....


Davian keluar dari dalam kamar mandi. Ia berjalan menuju ruang ganti. Ria segera mengikutinya untuk membantu Davian bersiap.


" Sini Mas aku bantu." Ucap Ria mengambil kaos oblong di tangan Davian.


Ya Davian masih belum bekerja karna baru saja sembuh. Ia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Ria.


Ria memakaikan kaosnya ke tubuh Davian.


" Ganteng banget suamiku kalau pakai pakaian casual gini." Puji Ria. Davian tidak bergeming. Ia meninggalkan Ria keluar kamar menuju meja makan.


Davian menuruni tangga di ikuti Ria dari belakang.


" Mas." Panggil Ria.


Davian mengabaikan panggilan Ria. Ia semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Ria di anak tangga atas hingga tiba di anak tangga terakhir tiba tiba...


" Awh." Pekik Ria memegangi perutnya.


Davian menoleh ke belakang menatap Ria yang terduduk di anak tangga.


" Sayang." Ucap Davian cemas. Davian menaiki anak tangga menghampiri Ria.


" Sayang kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Davian.


" Perutku sakit Mas." Ucap Ria.


" Sini aku elus biar nggak sakit lagi." Ucap Davian.


Davian mengelus perut rata Ria sambil sesekali meniupnya. Ria menatap wajah cemas Davian membuatnya menahan tawa. Sadar akan hal itu Davian menatap wajah Ria.


" Kamu mengerjaiku?" Selidik Davian.


Ria menggelengkan kepalanya sambil tetap menahan tawanya.


" Bohong... Kamu pasti ngerjain aku kan? Usil kamu ya." Ucap Davian menggelitik perut Ria.


" Awh Mas... Stop stop Mas... Geli." Ucap Ria sambil tertawa.


" Salah sendiri usil sama suami." Ujar Davian.


" Mas udah kasihan dedeknya nggak nyaman." Ucap Ria.

__ADS_1


Davian menghentikan gelitikannya. Ia menangkup wajah Ria dengan kedua tangannya. Ria menatap wajah Davian.


" Maafkan aku telah membuatmu marah Mas, aku sengaja melakukannya untuk melihat reaksi darimu, apakah kau benar benar takut kehilanganku atau tidak." Ucap Ria.


" Kau meragukan aku?" Tanya Davian.


" Tidak... Tapi aku harus memastikannya setiap saat kan? Ternyata kau cemburuan juga ya." Ujar Ria.


" Itu karna aku sayang sama kamu, dan takut kehilanganmu." Sahut Davian.


" Aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Ria.


" Makasih sayang." Ucap Davian memeluk Ria.


" Ehm ehm." Dehem Luci dari atas tangga.


" Nggak ada tempat yang lebih nyaman buat bermesraan apa Kak? Kan sakit kalau di tangga." Ujar Luci menuruni anak tangga.


" Kakak sedang membujuk Kakakmu." Ujar Ria.


" Kalau dia suka ngambek, tinggalin aja Kak nggak usah repot repot di bujuk segala." Ujar Luci.


" Kakak ngambek karna Kakak pengin di perhatiin Luci." Ucap Davian.


" Halah sok cari perhatian, dirinya sendiri nggak pernah perhatian sama istrinya." Cibir Luci meninggalkan mereka menuju meja makan.


Davian dan Ria sama sama melongo dengan jawaban Luci. Keduanya saling pandang lalu saling melempar senyuman.


Di dalam kediaman Ardiansyah, Valen sedang memasangkan dasi di kerah baju Nathan pagi ini. Nathan menatap wajah cantik Valen yang ada di depan matanya.


" Kamu cantik Yank." Ucap Nathan.


" Bisa aja, istri siapa sih? Dengarkan Yank, bagaimanapun dirimu, mau cantik atau jelek mau langsing atau gendhut sekalipun aku akan selalu mencintaimu." Ucap Nathan mencium kening Valen.


Keduanya saling bertatapan dengan tatapan penuh cinta. Nathan memajukan wajahnya membuat Valen memejamkan matanya. Nathan mencium bibir Valen dengan lembut. Valen membuka sedikit mulutnya membiarkan Nathan menyusupkan lidahnya untuk mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya sama sama menikmati sensasi manis bibir pasangannya. Sampai tiba tiba...


" Ya Tuhan Bang." Pekik Gama membalikkan badannya. Ia tidak tahu kalau di dalam sana sepasang pasutri ini sedang bermesraan makanya Ia menyelonong masuk ke dalam.


Nathan melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Valen dengan jempolnya sedangkan Valen menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia sangat malu karna kepergok sedang berciuman oleh adik iparnya.


" Ada apa kamu kesini Dek?" Tanya Nathan.


" Aku mau pinjam laptop Abang, e malah dapat pemandangan yang menodai kesucian mataku... Buat aku iri aja Bang." Sahut Gama.


" Tuh ambil ada di meja." Sahut Nathan.


" Valen nggak usah malu gitu, aku nggak pa pa kok, makanya lain kali di tutup pintunya biar nggak ada yang lihat kalau kalian ngapa ngapain." Canda Gama sambil berjalan menuju meja Nathan untuk mengambil laptopnya.


" Kamu ini Dek, Kakak iparmu tambah malu kalau kamu ngomong kaya' gitu Dek." Ucap Nathan.


" Kan aku udah bilang jangan malu Bang, ya udah lah laptopnya aku bawa, silahkan di lanjut lagi adegan plus plusnya." Goda Gama menutup pintu kamar Nathan dari luar.


Valen menatap Nathan, Nathan tersenyum kepadanya.


" Nggak perlu malu, Gama udah gedhe juga, udah saatnya dia belajar yang begituan biar nanti pas nikah dia sudah berpengalaman." Ucap Nathan.


" Gimana nggak malu orang kepergok gitu." Ujar Valen

__ADS_1


" Ya udah nggak usah di pikirkan, sekarang kita turun yuk." Ucap Nathan.


" Hmm." Gumam Valen.


Valen dan Nathan turun ke bawah menuju meja makan sambil bergandengan tangan. Di meja makan kedua orangtuanya beserta Gama sudah berada di sana.


" Pagi semuanya." Sapa Nathan.


" Pagi Bang, silahkan." Sahut Mami Nesha.


" Abang udah kenyang Mi." Ucap Gama.


" Udah kenyang? Apa Abang sudah makan?" Tanya Mami Nesha mengerutkan keningnya.


" Udah di kasih vitamin sama Valen barusan." Sahut Gama membuat pipi Valen memerah karna malu.


" Kamu apa apaan sih Dek, sengaja banget godain Kakak iparmu dari tadi." Cebik Nathan.


" Sekarang mulai makanlah, jangan membahas soal pribadi lagi." Ujar Mami Nesha.


Paham akan situasi Mami Nesha memerintahkan mereka untuk segera memakan sarapannya. Selesai sarapan para pria dalam keluarga itu berpamitan untuk bekerja di kantor masing masing. Valen mengantar Nathan sampai di teras rumah.


" Aku berangkat dulu Yank, kamu jangan sampai kecapekan ya." Ucap Nathan. Valen mencium punggung tangan Nathan.


" Hati hati Mas." Sahut Valen.


Nathan berlutut di depan Valen. Ia mencium perut Valen.


" Sayang Daddy berangkat kerja dulu ya, jangan nakal di rumah kalau mau apa apa telepon Daddy ya, sehat sehat sayang." Ucap Nathan mencium perut Valen.


" Mas berangkat, assalamu'alaikum." Ucap Nathan. Tak lupa Ia juga mencium kening Valen.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Valen.


Valen kembali ke kamarnya. Hari ini Ia berencana pergi ke perusahaannya untuk menemui Irvan. Sudah lama Ia tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Ia juga ingin menanyakan tentang pria yang selalu mengintainya.


Valen berjalan menuruni anak tangga, Ia keluar rumah menuju mobilnya. Valen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak takut pergi sendiri karna Irvan selalu memantaunya dari balik layar komputernya. Setengah jam Valen sampai di perusahaan Alexander Goup. Ia turun dari mobil, berjalan menuju lobby.


" Pagi Nona Valen." Sapa para karyawan dengan penuh hormat.


" Pagi semuanya." Sahut Valen ramah.


Valen berjalan menuju ruangan Irvan.


Ceklek...


Valen membuka pintu tanpa mengetoknya terlebih dahulu. Dan...


" Irvan."


Apa ya yang sedang di lakukan Irvan di dalam sana? Apa terjadi sesuatu? Temukan jawabannya di bab selanjutnya....


Jangan lupa like vote koment dan hadiahnya ya biar author semangat ngetiknya...


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


Tbc.....


__ADS_2