
Hari ini Valen dan Nathan hendak pergi ke rumah sakit untuk cek kandungannya. Tak terasa kini usia kandungan Valen mencapai empat bulan. Dengan memakai dres selutut Valen nampak lebih cantik dengan perut yang sedikit membuncit.
" Mas perutku udah kelihatan buncit, mirip badut." Ucap Valen mengelus perutnya.
" Kamu ini Yank, selalu itu yang omongin." Ujar Nathan menarik pelan hidung Valen.
" Sakit Mas." Cebik Valen.
" Sini Mas tiup biar hilang sakitnya." Ujar Nathan mencium hidung Valen.
" Massss." Rengek Valen.
" Apa sayang hmm?" Tanya Valen lembut.
" Pengin makan bakso pedes." Ujar Valen.
" Nanti setelah pulang chek up, tapi nggak boleh pedes pedes ya." Sahut Nathan.
" Tapi harus ada rasa pedasnya." Ujar Valen.
" Iya sayang, tapi jangan terlalu OK." Ucap Nathan.
" Baiklah Mas." Sahut Valen menggandeng mesra lengan Nathan.
Keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Di sana sudah ada Mami Nesha dan Papi Farhan.
" Pagi Mi, Pi." Sapa Valen dan Nathan bersamaan.
" Pagi sayang." Sahut Mami Nesha.
Valen segera mengambilkan makanan untuk Nathan.
" Mas suapi aja mau nggak?" Tanya Nathan saat Valen hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
" Mau banget." Sahut Valen tersenyum senang.
" Sini duduk." Ujar Nathan.
Nathan menyuapi Valen, sesekali Ia menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya sendiri.
" Mi Papi jadi iri, Mami mau nggak Papi suapi?" Tanya Papi Farhan membuat ketiganya menoleh kearahnya.
" Apa sih Malu udah tua." Sahut Mami Nesha.
" Ya nggak pa pa donk, mereka yang muda aja nggak malu." Sahut Papi Farhan.
" Udah ah Mas, kamu bikin mereka canggung aja." Sahut Mami Nesha.
" Oh ya Mi, apa Gama langsung pindah ke rumahnya?" Tanya Valen menatap Mami Nesha.
" Iya." Sahut Mami Nesha.
" Oh ya Papi dapat undangan acara lamaran Dika sama saudaramu Nak." Ucap Papi Farhan menatap Valen.
" Apa Pi? Mas Dika beneran mau melamar Azza?" Tanya Valen memastikan.
__ADS_1
" Iya, acaranya besok malam, Papi di undang sama Pak Bram." Sahut Papi Farhan.
" Wah aku bahagia banget Pi, semoga lamaran Mas Dika di terima oleh Azza." Ujar Valen.
" Amien." Sahut mereka serempak.
" Apa kamu mau datang?" Tanya Mami Nesha.
" Enggak ah Mi aku malas kalau bepergian malam, lagian cuma lamaran aja kan? Besok aja kalau nikahannya aku pasri datang." Sahut Valen.
" OK." Gumam Mami Nesha.
Bukannya kenapa, cuma Valen malas aja kalau keluar malam malam. Biasanya Iaenggunakan waktu malam untuk menjahili suaminya. Semenjak kehamilannya memasuki trimester kedua Ia lebih agresif si banding sebelumnya. Mungkin akibat hormon kehamilan kali ya.
Setelah selesai sarapan, Nathan dan Valen pamit pergi. Nathan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang.
...****************...
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar Cia lewat celah celah korden. Cia mengerjapkan matanya menatap jendela kamarnya, dimana matahari sudah nampak jelas.
" Owh sudah pagi." Gumam Cia.
" Eh kok seperti ada yang menindih perutku ya." Sambung Cia.
Cia menatap kepada tangan yang melingkar di perutnya, Ia menoleh ke samping dan...
" Astaga." Pekik Cia menjauh dari Irvan seketika dan tiba tiba..
Bugh....
" Awh." Teriak Cia membuat Irvan terbangun dari tidurnya.
" Cia kamu dimana?" Teriak Irvan.
" Aku di sini Kak." Sahut Cia sambil mengelus panta*nya.
Irvan melongok ke bawah menatap Cia yang sepertinya sedang menahan kesakitan.
" Kamu ngapain di situ?" Tanya Irvan mengerutkan keningnya.
" Kamu tadi me....." Cia menggantung ucapannya. Ia malu mengatakan kalau Irvan memeluknya.
" Me apa?" Tanya Irvan.
" Tadi sepertinya kamu mimpi buruk deh Kak, terus aku kamu tendang keras banget sampai aku jatuh ke bawah, hua.. Sakit Kak." Dusta Cia.
" Ah masa' sih? Perasaan aku mimpi indah deh." Ujar Irvan sambil mengingat mimpinya.
" Iya aku mimpi indah kok, aku mimpi tidur sambil memelukmu, dan kamu begitu nyaman tidur di pelukanku." Ujar Irvan.
" Ish kalau itu mah kamu bukan ngimpi Kak tapi nyindir aku." Batin Cia.
" Apa kamu bisa bangun?" Tanya Irvan menatap Cia.
" Gendong." Sahut Cia manja sambil mengulurkan kedua tangannya.
__ADS_1
" Dih manja." Ujar Irvan.
" Sakit tahu, buruan gendong sampai kamar mandi." Ucap Cia.
Irvan menghela nafasnya. Ia turun dari ranjang lalu mengangkat tubuh Cia menuju kamar mandi.
Jantung keduanya terasa berdebar. Irvan menatap wajah Cia begitupun sebaliknya. Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, Irvan tidak fokus hingga Ia tersandung pintu dan....
Bugh....
Keduanya jatuh ke dalam kamar mandi. Refleks tangan Irvan langsung melindungi kepala Cia.
" Awh." Pekik Cia saat tubuhnya mendarat di kamar mandi.
Tubuh Irvan menindih tubuh Cia. Cia menatap Irvan dengan cemberut.
" Kamu nggak niat nolongin aku Kak, makanya di jatuhin lagi." Cebik Cia.
" Malah lebih sakit dari yang sebelumnya." Sambung Cia.
" Maaf aku tidak sengaja, lagian ini yang buat kamar mandi gimana, pintunya pakai di geser segala." Ujar Irvan masih menatap Cia.
Hening....
Keduanya hanya saling melempar tatapan. Irvan memajukan wajahnya membuat wajah keduanya hanya berjarak satu centi saja. Cia memejamkan matanya? tiba tiba....
Cup...
Mata Cia langsung terbuka dengan mulut sedikit terbuka saat Irvan mengecup bibirnya. Irvan tidak melewatkan kesempatan itu, Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Cia. Ia mencecap bibir Cia dengan lembut membuat Cia terlena. Tanpa sadar Cia mengalungkan tangannya di leher Irvan.
Irvan menahan tengkuk Cia untuk memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi kamar mandi mereka. Setelah di rasa keduanya kehabisan nafas, Irvan melepas pagutannya. Lebih tepatnya kehabisan pertahanannya. Karna tanpa Cia sadari ada yang mengeras di bawah sana. Irvan mengusap lembut bibir Cia menggunakan jempolnya.
" Makasih, bibirmu manis." Ucap Irvan.
" Kak aku seperti wanita murahan yang mau di sosor tanpa adanya cinta." Gerutu Cia.
" Kita suami istri Cia, jadi apapun yang akan kita lakukan itu halal, terlepas apakah kita melakulannya dengan cinta atau tidak, kau yang bilang sendiri kan kalau kita belum bisa menilai perasaan masing masing, siapa tahu aja cinta mulai tumbuh di antara kita." Ujar Irvan bangkit dari tubuh Cia.
" Kau benar Kak." Sahut Cia beranjak duduk.
" Sekarang mandilah, aku akan menunggu di luar." Ucap Irvan.
" Hmm... Makasih Kak, tapi kau berhutang pijatan denganku." Sahut Cia menutup pintunya.
Irvan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Ia begitu senang telah berhasil mencium Cia.
" Apakah hatiku mulai mengarah kepadanya? Aku senang jika semua ini terjadi begitu cepat, setidaknya ini yang terbaik untuk kita berdua." Gumam Irvan dalam hatinya.
Cia gadis cantik yang banyak bicara terlihat cocok dengan Irvan yang kalem dan pengertian. Keduanya berharap pernikahan mereka mampu membawa kebahagiaan untuk mereka sendiri ataupun orang lain.
TBC......
Bab bab ini ringan aja ya jangan di kasih konflik dulu nanti ndak kebanyakan konflik katanya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu......
__ADS_1
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya...
Miss U All....