
Sesampainya di rumah Nesha langsung masuk ke dalam kamarnya, Sedangkan Farhan mengantar Sifa ke kamar Nathan. Sifa meminta ijin pada Farhan untuk membawa Nathan ke rumahnya, Ia ingin memberikan waktu untuk sahabatnya menenangkan diri karena Sifa yakin kalau jiwa Nesha sedikit terguncang akibat kejadian tadi.
" Nathan." Panggil Farhan sambil membuka pintu kamar Nathan.
" Ya Pi." Sahut Nathan yang sedang asyik bermain dengan gadgetnya.
" Mama Sifa mau mengajakmu menginap ke rumahnya, Kamu mau?" Tanya Farhan.
Nathan menoleh ke arah Sifa yang berdiri di depan pintu. Ia segera berlari menghampiri Sifa.
" Mama...." Teriak Nathan merentangkan tangannya.
" Uluh uluh anak Mama, Kok nggak bobok?" Ujar Sifa menggendong Nathan.
" Athan lagi main Ma." Sahut Nathan.
" Mau nginap ke rumah Mama?" Tanya Sifa.
" Mau.... Athan mau ajak Papa jalan jalan." Ucap Nathan.
" Siapppp nanti malam kita ke time zone." Ujar Sifa.
" Yeiiiii." Sorak Nathan.
" Kak aku pulang dulu ya, Titip Nesha." Ucap Sifa.
" OK hati hati, Nathan ingat jangan nakal ya." Ujar Farhan.
" Siap Pi." Sahut Nathan mencium punggung tangan Farhan.
" Assalamu'alaikum Pi." Ucap Nathan.
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Farhan.
Sifa pergi tanpa membawa perlengkapan untuk Nathan karena di rumahnya semua sudah tersedia. Setelah kepergian Sifa dan Nathan, Farhan masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu dengan pelan. Farhan menghela nafasnya menatap Nesha yang sedang tidur berbaring di atas ranjang tanpa ganti baju dulu. Farhan tidak mau menganggunya untuk saat ini, Ia turun ke bawah menuju dapur untuk mengompres luka lebam pada pipinya.
Setelah mengompres lukanya, Farhan segera kembali ke kamarnya, Saat Ia membuka pintu Ia menatap Nesha yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menggosok rambut basahnya dengan handuk di tangannya. Farhan berjalan menghampirinya.
" Sini sayang." Ucap Farhan menuntun Nesha menuju meja riasnya. Farhan menancapkan hairdryer lalu mulai mengeringkan rambut Nesha helai demi helai. Untuk saat ini Farhan tidak mau menanyakan apapun pada Nesha, Biarkan Nesha yang menceritakan sendiri.
" Nathan sedang apa Mas?" Tanya Nesha membuka suara.
" Nathan tadi di jemput Sifa, Untuk beberapa hari Nathan akan tinggal di sana sayang, Sifa kesepian karena Jordan mau berangkat keluar kota selama tiga hari." Jelas Farhan.
" Owh." Sahut Nesha.
" Udah kering, Mas kucir ya?" Ujar Farhan. Nesha menganggukkan kepalanya.
Farhan berlutut di depan Nesha, Ia mengelus perut Nesha. Lalu menempelkan telinganya ke perut Nesha.
__ADS_1
Dugh....
Suara tendangan dari dalam mulai terasa keras, Farhan tersenyum bahagia. Dulu saat Vera hamil boro boro Farhan mengelus perutnya, Mendekatinya saja Vera sudah marah marah. Mungkin karna tidak cinta kali ya...
" Halo dedeknya Bang Nathan... Mau ngajak Papi main bola ya, Nendangnya keras banget sih Papi hampir mental lhoh." Ucap Farhan sambil mendongak melirik wajah Nesha yang terlihat murung. Dia harus mencari cara supaya Nesha mau menceritakan semua.
" Dedek lihat? Mamimu sedang murung memikirkan pacarnya, Papi boleh cemburu nggak ya?" Kekeh Farhan.
" Apasih Mas, Kamu ini.... Dia bukan pacar aku." Sahut Nesha.
" Tapi orang yang begitu mencintaimu." Ujar Farhan.
" Mungkin." Sahut Nesha singkat.
" Mau berbagi cerita denganku?" Tanya Farhan pelan takut membuat Nesha tambah murung. Di luar dugaan Nesha justru menganggukkan kepalanya.
" Kita pindah dulu di ranjang, Kamu duduk bersandar biar enakan." Ucap Farhan.
Nesha duduk bersandar pada bantal, Sedangkan Farhan duduk bersila di samping Nesha sambil menatap ke arah Nesha.
" Sekarang ceritalah, Berbagi kesedihan kepada suamimu ini, Yah walau aku tidak bisa membantu mengurangi beban rasa bersalahmu setidaknya aku akan menghiburmu." Ujar Farhan.
" Semua berawal dari masa masa SMP Mas, Arnold teman sekelasku, Dia sosok laki laki yang super pendiam, Dia bahkan tidak mau berbicara dengan siapapun termasuk dengan guru." Nesha memulai ceritanya.
"Di dalam kelas dia selalu menatapku dengan tatapan kosong, Dia juga selalu mengikutiku secara sembunyi sembunyi, Saat aku ke kantin pasti dia ikut ke kantin, Aku ke perpust dia juga ikut kesana, Semua itu berlangsung hingga enam bulan lamanya." Ucap Nesha menghela nafasnya. Farhan menyimak cerita Nesha dengan seksama.
" Setelah enam bulan dia mulai menunjukkan ketertarikannya padaku, Dia selalu memanggilku dengan sebutan Yank, Aku sudah pernah memprotesnya tapi dia tidak mau mendengarnya, Dia selalu membelikanku ini itu, Kau tahu?" Tanya Nesha menatap Farhan. Farhan menggelengkan kepalanya.
" Hingga sampai pada saat dia menyatakan cintanya padaku, Aku menolaknya karena memang aku tidak tertarik padanya, Dia tidak terima, Tiba tiba dia menggila Mas, Dia mengamuk menghancurkan seisi kelas pada saat itu, Dia bahkan mengobrak abrik sepeda dan motor di parkiran hingga keluarganya harus mengganti kerugian yang di sebabkan olehnya." Jelas Nesha.
" Lalu?" Tanya Farhan.
" Sejak saat itulah dia akan selalu hilang kendali jika ada yang menyinggungnya atau berbuat kasar padanya, Atau berani berbuat kasar padaku seperti saat kamu membentakku tadi, Aku merasa bersalah padanya Mas." Ucap Nesha. Farhan mengelus tangan Nesha.
" Maafkan Mas yang tadi tidak sengaja membentakmu sayang, Mas cemburu saat kamu membelanya." Ucap Farhan yang di balas anggukan kepala oleh Nesha.
" Masih mau mendengarkan?" Tanya Nesha.
" Hmm." Gumam Farhan menganggukkan kepala.
" Tidak berhenti sampai di situ, Setelah itu Ia tetap menganggapku sebagai pacarnya, Dia umumkan kepada seluruh sekolahan jika aku adalah pacarnya, Dia juga mengancam jika ada pria lain yang mendekatiku maka akan berhadapan dengannya, Semua teman laki laki jadi takut untuk mendekatiku." Sambung Nesha.
" Dia sangat perhatian padaku, Apapun akan dia lakukan demi aku, Aku merasa risih dengan semua perhatiannya yang tidak wajar menurutku, Hingga suatu hari aku sengaja menjalin hubungan dengan Rendy, Aku pikir dengan aku menunjukkan pacarku padanya dia akan melupakan aku, Dia tidak akan sering mengamuk lagi, Aku berharap dia akan sembuh tapi dugaanku salah Mas, Dia justru semakin menjadi hingga akhirnya Ia harus di bawa ke rumah sakit untuk tes psikis, Saat itu Dokter mengatakan kalau dia mengalami gangguan psikis... Hiks... Hiks... Aku merasa sangat bersalah padanya Mas, Aku tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini, Aku menghancurkan hidup orang lain... Hiks...Hiks... Aku jahat Mas, Aku bahkan bisa bahagia di atas penderitaan orang lain." Isak Nesha. Farhan menarik tubuh Nesha ke dalam pelukannya.
" Tenanglah sayang semua sudah takdir dari yang kuasa, Ini bukan salahmu." Ujar Farhan mengelus rambut Nesha.
"Apa keluarganya menyalahkanmu?" Tanya Farhan.
" Tidak Mas, Keluarganya bilang jika gangguan mental Arnold sudah terdeteksi sejak dini, Keluarganya tahu jika semua ini pasti akan terjadi suatu saat nanti, Arnold tidak mampu menahan emosi kejiwaannya hingga Ia mengalami ganguan jiw* sampai sekarang." Jelas Nesha.
__ADS_1
" Kasihan sekali dirinya, Kita doakan saja semoga dia cepat sembuh." Ucap Farhan.
" Iya Mas." Sahut Nesha.
" Dan tentunya melupakanmu hmm." Sambung Farhan. Nesha menganggukkan kepalanya.
" Sekarang mau tidur apa tiduran aja?" Tanya Farhan.
" Tiduran aja sambil di peluk." Ucap Nesha
" Baiklah sayang apapun untukmu." Sahut Farhan.
Keduanya rebahan sambil berpelukan, Farhan memberikan kekuatan lewat pelukannya.
Malam harinya Farhan sedang menata makanan di meja makan, Yang awalnya hanya tiduran malah jadi tidur beneran, Akhirnya Farhan tidak sempat memasak, Ia delivery makanan untuk makan malamnya dengan Nesha. Jika tidak ada Nathan di rumah maka Mbak Nadia akan pulang kecuali jika Nesha yang memintanya untuk tinggal.
" Mas maaf aku ketiduran." Ucap Nesha menghampiri Farhan.
" Nggak pa pa sayang." Sahut Farhan mencium pipi Nesha.
" Mas masak apa?" Tanya Nesha.
" Mas delivery sayang, Mas juga baru bangun, Ini ada steak, Rica rica ayam sama soup buntut, Mau yang mana?" Tanya Farhan.
" Aku mau sop buntut aja Mas." Sahut Nesha sambil duduk di kursi.
" Baiklah tuan putri akan aku ambilkan." Ucap Farhan sambil mengambilkan makanan sesuai keinginan Nesha.
" Ayo makan yang banyak biar dedeknya sehat." Ujar Farhan.
" Makasih Mas." Ucap Nesha.
" Sama sama sayang." Sahut Farhan.
Mereka berdua makan dengan khidmat, Sepertinya Nesha sudah sedikit melupakan masalahnya hingga Ia makan dengan lahap.
Sedangkan di kediaman Jordan saat ini Nathan sedang bermain dengan Jordan, Sifa duduk bersandar pada sofa sambil memainkan ponselnya.
" Papa ayo kejal Athan... Tangkap Athan." Teriak Nathan.
" Ok siapa takut." Sahut Jordan mulai mengejar Nathan.
" Yah kenaa.." Ucap Jordan menggelitik perut Nathan.
" Geli Pa ha ha ha ha.... Papa geli...." Teriak Nathan sambil tertawa.
Sifa menatapnya dengan senyum bahagia, Terkadang dalam hatinya terbesit rasa kesal jika melihat kebersamaan mereka, Bagaimanapun Nathan adalah anak Jordan dengan wanita lain, Dalam hati terdalamnya Ia tidak menerimanya tapi Sifa selalu berusaha menepis rasa itu, Ia tidak mau kasih sayangnya kepada Nathan berubah hanya karena Nathan anak Jordan dengan wanita lain. Sifa ingin mengikuti jejak Nesha yang selalu menyayangi Nathan dengan sepenuh jiwa dan raganya. Bahkan Nesha tidak mempermasalahkan siapa orang tua Nathan yang jelas Nathan adalah putra pertama mereka. Sifa pun akan berusaha melakukan hal yang sama.
" Nathan putraku.... Dia putraku... Dia putraku dengan Mas Jordan." Batin Sifa menyakinkan dirinya.
__ADS_1
TBC.....
Jangan lupa like koment dan hadiahnya ya... Miss U All...