Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Luka Hati Nathan


__ADS_3

Hai readers maaf ya kemarin kemarin jarang update, Mood author lagi jungkir balik soalnya...


Makasih untuk para readers yang udah selalu dukung dan menemani author selama ini. Maaf jika banyak kekurangan dalam cerita author ini. Author hanya manusia biasa dan masih pemula.


Author minta dukungan dan doanya juga donk di karya author yang lain


Ada " Pria cacat itu suamiku"


Ada " Suamiku Kakak Angkatku"


Dan yang terbaru yang mau ngajuin kontrak


Ada " Ternyata Dia hanya Milikku"


Author tunggu di sana ya....


Makasih....


Miss U All tanpa kalian karya author bukan apa apa..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nathan sedang belajar sambil mengawasi Gama di dalam kamar Nesha, Sedangkan Nesha masih tiduran di kamarnya karena kondisi kesehatannya yang kurang baik pasca ngidamnya.


" Dek Gam nggak boleh ganggu Abang Dek, Abang lagi belajar main sendiri dulu ya." Ucap Nathan karena saat ini Gama sedang berada di atas punggung Nathan yang belajarnya sambil tiduran.


" Tu.... tu... da." Celoteh Gama.


" Adek ini gimana? Masa' Abang keren sama ganteng gini di samakan sama kuda, Nggak banget Dek." Protes Nathan.


" Tu... da... Tu...da." Gama berceloteh lagi.


" Sekarang turun ya nanti kalau mau main kuda kudaan sama Papi aja ya jangan sama Abang, Abang mau menyelesaikan tugas dulu nanti kalau tidak di kerjakan Abang kena hukuman dari Bu guru" Ujar Nathan.


" Pa.. pi..." Ucap Gama sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


" Iya... Sekarang turun Abang mau lanjutin nulisnya." Ucap Nathan.


Gama turun perlahan dari punggung Nathan. Nathan langsung merubah posisinya menjadi duduk supaya tidak di naiki lagi sama Gama.


" Nih Dek Gam main squishi aja ya, Apa mau mobil mobillan.... Nih... Ngeng..... Ngeng..." Nathan memaju mundurkan mainannya ke lantai.


" Aha.... ha...." Gama tertawa sambil tepuk tangan.


" Abang Papi mana?" Tanya Nesha.


" Papi lagi masak di dapur Mi, Ada yang Mami butuhkan?" Tanya Nathan menghampiri Maminya.


" Mami mual mau muntah sayang, Tapi Mami nggak kuat mau jalan ke kamar mandi." Ujar Nesha.


" Abang panggil Papi dulu Mi." Ujar Nathan.


Nathan berlari menuju dapur meninggalkan bukunya yang masih terbuka.


" Papi, Mami mual mau muntah." Ucap Nathan menghampiri Farhan.


" Ah iya sebentar sayang." Sahut Farhan.


Farhan mematikan kompornya lalu berlari menuju kamarnya.


" Sini sayang Mas gendong." Ucap Farhan membopong Nesha menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Nesha memuntahkan cairan bening dari perutnya.


" Pait Mas." Ucap Nesha.


" Mas ambil minum." Ucap Farhan berlari keluar.


" Ini sayang." Ucap Farhan memberikan seelas air putih kepada Nesha.


Keduanya sibuk urusan muntah sedangkan Nathan saat ini sedang berkacak pinggang menatap Gama. Yang di tatap hanya menunduk saja.


" Dek Gammmmm." Geram Nathan.

__ADS_1


" Dek Gam yang ganteng kenapa tugas Abang di sobek? Lalu Abang nanti gimana ngumpulinnya... Ah ini bukan salah Dek Gam ini salah Abang yang ceroboh meninggalkan buku Abang tanpa di singkirkan lebih dulu, Ya sudah Dek Gam mainan lagi Abang mau cari plester buat nambal bukunya." Ujar Nathan bersikap dewasa, Apapun yang Gama lakukan Nathan tidak bisa memarahinya.


" Jangan kemana mana ya, Abang tinggal sebentar." Sambung Nathan meletakkan bukunya yang sobek di atas meja.


Nathan berjalan menuju kamarnya untuk mencari plester, Setelah menemukan plester Nathan segera menyatukan sobekan demi sobekan bukunya menjadi utuh kembali. Sedangkan Gama malah tiduran berbantalkan boneka beruang. Nathan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adiknya.


Farhan keluar dari kamar mandi menggendong Nesha ala bridal style, Ia merebahkan tubuh Nesha di atas ranjang dengan pelan. Farhan menata bantal untuk Nesha bersandar.


" Sayang apa saat ngidam Gama kamu juga kaya' gini?" Tanya Farhan menggenggam tangan Nesha.


" Enggak Mas, Dia anak pengertian, Gama tahu kalau saat aku jauh dari Papinya." Sahut Nesha.


" Maafkan aku sayang, Mas jadi nggak tega lihat kamu begini." Ucap Farhan merasa bersalah.


" Jangan seperti ini Mas, Ini hanya sementara nanti kalau udah genap tiga bulan aku akan sehat seperti biasa, Kalau kamu sedih gini kasihan calon anak kita, Nanti mereka mikirnya kehadiran mereka tidak di inginkan gimana?" Terang Nesha.


" Ah iya kau benar, Sayang maafin Papi ya... Papi akan selalu menunggu kelahiran kalian sehat sehat di dalam sini, Bantu Mami menjadi kuat ya." Ucap Farhan mencium perut Nesha.


" Papi Dek Gam tidur." Ucap Nathan.


" Lhoh udah tidur padahal masih pagi." Ujar Farhan.


" Ngantuk Pi." Sahut Nathan.


" Papi pindah ke kamar ya, Abang belajar sambil jagain Adek." Ujar Farhan.


" Siap Pi." Sahut Nathan.


Nathan mengambil buku bukunya lalu keluar menuju kamarnya dan Gama.


Farhan menghampiri Nesha di atas ranjang.


" Sayang mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Farhan.


" Nanti aja Mas, Mas antar Nathan ke rumah Sifa ya." Ujar Nesha.


" Apa Nathan mau ke sana?" Tanya Farhan.


" Baiklah." Sahut Farhan.


Farhan keluar kamar menuju kamar Nathan. Tak lama setelah itu Nathan masuk ke kamar Nesha.


" Ada apa Mi?" Tanya Nathan sambil duduk di samping Nesha.


" Sayang kamu sayang kan sama Mami?" Tanya Nesha.


" Iya Mi." Sahut Nathan.


" Kalau kamu sayang sama Mami, Mami mau minta satu permintaan sama kamu, Apa Nathan akan mengabulkan permintaan Mami?" Tanya Nesha.


" Iya Mi Abang akan menuruti permintaan Mami." sahut Nathan.


" Untuk beberapa hari menginaplah di rumah Mama Sifa, Temani Mama dan Arion di rumah, Dia juga adik kamu sayang, Kasihan Mama Sifa di rumah sendirian, Mama kesepian sayang." Terang Nesha.


" Tapi Mi." Ucap Nathan.


" Kalau kamu nggak mau Mami akan marah sama Abang, Mami nggak mau ngomong lagi sama Abang." Ancam Nesha.


Nathan sedikit berpikir, Akhirnya Nathan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Mi." Sahut Nathan.


" Anak pinter sekarang bersiaplah." Ucap Nesha.


" Apa Mami baik baik saja aku tinggal?" Tanya Nathan.


" Tenang saja Mami ada Papi sama Mbak Nadia, Jadi bersenang senanglah di sana ajak dedek bayinya bergurau ya, Walaupun dia masih kecil tapi dia tahu apa yang Nathan ucapkan, OK." Ujar Nesha.


" Siap Mi, Nanti Abang akan gendong Arion." Ucap Nathan dengan mata berbinar.


" Oh ya? Beneran ya nanti sampai sana Abang cuci tangan terus gendong Arion, Nanti vc Mami ya." Ucap Nesha.


" Siap Mi, Nathan mau bersiap dulu Mi." Ujar Nathan.

__ADS_1


Lima belas menit Nathan bersiap karena Ia hanya mengemas buku bukunya, Kalau baju di sana sudah ada. Dengan menggendong tas di punggungnya Nathan berpamitan sama Nesha.


" Mami Abang pamit dulu, Abang mau di sana selama tiga hari atau semingguan ya Mi, Jangan kangen sama Abang karena kata Papi nahan kangen itu berat." Ucap Nathan mbuat Nesha tersenyum.


" Tentu sayang, Makasih ya udah mau menuruti apa kata Mami." Ucap Nesha.


" Iya Mi, Abang berangkat Assalamu'alaikum." Ucap Nathan menyalami Nesha.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Nesha.


" Mas pergi dulu kalau ada apa apa telepon aku atau panggil Mbak Nadia ya." Ucap Farhan mencium kening Nesha.


" Iya hati hati Mas." Sahut Nesha.


Nathan dan Farhan keluar kamar menuju mobilnya.


Di lain tempat tepatnya di rumah Jordan, Sifa sedang menyusui putranya. Arion begitu kuat menyesap kendi miliknya. Sifa mengelus lembut pipi buah hatinya, Terbesit perasaan sedih saat Nathan bersikap biasa saja saat melihat kelahiran putranya tidak seperti saat kelahiran Gama. Nathan begitu antusias dan bahagia menyambut kelahiran Gama. Ada rasa iri muncul dalam hati Sifa, Tapi Ia segera menepisnya.


" Sabar ya sayang, Suatu hari nanti pasti Abangmu akan menyayangimu juga seperti Abang menyayangi Bang Gama." Ucap Sifa.


" Duh sayangnya Papa minum mulu." Ujar Jordan yang baru masuk ke dalam kamarnya.


" Mas aku pengin kamu ajak Nathan kemari, Aku ingin mendekatkan Nathan dengan Arion karena bagaimanapun mereka bersaudara Mas." Ucap Sifa.


" Nathan tidak mau jauh dari Gama sayang, Nggak mungkin kan kalau kita bawa Gama juga kemari? Entar yang ada Gama nangis terus Nathan makin nggak suka sama kita sayang." Terang Jordan.


" Lalu sampai kapan dia akan menjauh dari kita? Aku nggak mau Nathan tidak mengenal saudaranya." Ucap Sifa.


" Sabarlah sayang Nesha juga masih berusaha memberi pengertian pada Nathan." Sahut Jordan.


" Aku nggak yakin kalau Nesha akan berhasil meyakinkan Nathan, Nathan anak yang sangat peka terhadap sekitarnya Mas, Andai saja waktu itu kamu nggak ngebentak Nathan kejadiannya nggak akan seperti ini Mas." Ujar Sifa menghela nafasnya.


" Tidak perlu di bahas Yank semua sudah berlalu dan sudah terlanjur terjadi, Lagian kita sudah punya Arion kan tidak perlu memikirkan Nathan lagi, Kalau dia mau ke sini aku akan menjemputnya jika tidak ya sudah jangan paksa dia, Kita fokus saja sama Arion." Sahut Jordan.


" Apa? Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu Mas? Nathan anakmu, Abangnya Arion Mas, Apa kamu siap kehilangan anakmu?" Tanya Sifa menatap Jordan.


" Ah aku tahu kehadiran Nathan tidak berarti bagimu itu sebabnya kau tidak peduli dengan hubungan ini, Makanya kau bisa santai saat Nathan mulai menjauh dari kita, Aku tidak menyangka kau bisa berpikir seperti itu Mas, Kamu memang Papa yang jahat." Ujar Sifa kesal.


" Lhoh Den Nathan kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Bi Imah tiba tiba kepada Nathan yang ternyata sedari tadi berdiri di depan kamar Sifa.


Sifa dan Jordan menoleh ke arah suara dan betapa kagetnya mereka saat melihat Nathan berdiri menatap nyalang ke arah mereka sambil mengepalkan tangannya. Sifa dan Jordan saling pandang.


" Sayang kamu di sini? Sejak kapan? Kamu sama siapa ke sininya?" Tanya Jordan menghampiri Nathan.


" Den Nathan sejak tadi Tuan berdiri di sini tidak masuk masuk." Sahut Bi Imah.


Jeduarrrrr


Bagai di sambar petir Jordan dan Sifa khawatir kalau Nathan mendengar semua ucapan mereka, Apalagi ucapan Jordan yang mengatakan tidak perlu memikirkan Nathan karena sudah ada Arion. Sifa takut Nathan akan salah paham.


" Sayang ada apa telepon Papi suruh kembali ke sini?" Tanya Farhan menghampiri Nathan.


" Abang nggak jadi menginap di sini Pi, Abang kangen sama Dek Gam, Abang mau di rumah aja." Sahut Nathan.


" Lhoh kok gitu? Kan baru ketemu sama Gama masa' udah kangen sih." Ucap Farhan.


" Abang tunggu di mobil Pi." Sahut Nathan meninggalkan Farhan menuju mobilnya.


" Apa terjadi sesuatu?" Selidik Farhan menatap Jordan dan Sifa bergantian meminta jawaban atas pertanyaannya.


" Maaf Kak tadi kami sedang membicarakan Nathan dan Mas Jordan sempat mengatakan hal yang kurang mengenakkan hati, Mas Jordan sempat bilang kalau tidak perlu memikirkan Nathan karena sudah ada Arion, Dan Mas Jordan menyuruhku untuk fokus kepada Arion saja, Mungkin Nathan mendengar semuanya." Jelas Sifa menundukkan kepalanya, Bagaimanapun Farhan harus tahu masalahnya bukan? Supaya Ia bisa mencari solusi untuk membujuk Nathan.


" Kau tahu kalau Nesha berusaha keras membujuk Nathan supaya mau menginap di sini? Bahkan Nesha memberikan sedikit ancaman kepada Nathan, Hal yang tidak pernah Nesha lakukan selama ini, Tapi kalian mengabaikan usahanya." Ucap Farhan.


" Maafkan aku Han, Aku tidak tahu kalau Nathan ada di sini." Ucap Jordan.


" Lalu kalau Nathan tidak ada di sini kenapa? Kamu bisa seenaknya bicara buruk tentangnya? Jika kau tidak menginginkan kehadirannya seharusnya dari dulu kau tidak perlu mendekatinya, Biarkan Nathan bersamaku lagian kau juga sudah punya anak sendiri, Aku tidak yakin kau bisa adil dalam membagi kasih sayang kepada mereka." Ucap Farhan.


Farhan meninggalkan Jordan yang masih mematung di tempatnya. Kata kata Farhan membuat hatinya mencelos, Bagaimana bisa Ia berbicara seperti itu tentang anak kandungnya sendiri. Jordan menatap Sifa yang sedang menatapnya dengan tatapan kecewa.


TBC......


Like ya udah banyak nih capek nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2