
Valen turun dari mobil dengan tergesa, Ia berlari menghampiri kerumunan orang orang di depan kantor Nathan. Jantungnya berdetak sangat kencang, pikirannya memikirkan hal buruk yang terjadi pada suaminya.
" Permisi, permisi." Ucap Valen menyela kerumunan orang orang itu. Saat tiba di kerumunan paling depan tiba tiba kaki Valen terasa lemas tak bertenaga.
Deg....
Valen menatap seorang pria yang terbujur kaku dengan kepala bersimpah darah dan wajah yang tertutup kain putih hingga batas perut. Di sana juga terlihat beberapa polisi sedang mondar mandir, mungkin melakukan evakuasi atau introgasi terhadap saksi. Valen tidak bisa berpikir jernih, pikirannya berkecamuk menatap ke arah jenazah yang tidak satu orang pun berani mendekatinya.
Valen menatap jam tangan yang melingkar di tangan pria itu. Valen melangkah maju menggenggam tangan itu untuk memastikan jam tangan yang terlihat sangat familiar baginya.
Deg....
Lagi lagi jantung Valen terasa berhenti berdetak. Nafasnya terasa tercekat saat menatap jam tangan milik Nathan.
" Jam tangan ini milik Mas Nathan, jadi Mas Nathan benar benar mengakhiri hidupnya sendiri? Mas.... Hiks hiks ... Kenapa kamu lakuin ini Mas? Kenapa kamu tinggalin aku... Hiks..." Isak Valen.
" Mas....." Teriak Valen pilu.
" Mas bangun Mas.... Jangan tinggalin aku.. Bangun Mas." Ujar Valen mengeratkan genggamannya pada tangan pria itu.
" Mas bangunlah, aku berjanji akan memaafkanmu dan kembali padamu tapi bangunlah Mas ..... Aku tidak sungguh sungguh marah padamu, aku hanya pura pura Mas... Hiks... Ku mohon bangunlah." Isak Valen menghapus air matanya.
" Sayang." Panggil seseorang di belakang Valen.
Valen menoleh ke asal suara yang di rindukannya. Mata mereka bertemu, sesaat Valen nampak seperti orang bingung.
" Sayang apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Nathan membantu Valen berdiri.
" Mas Nathan?" Gumam Valen.
Valen menoleh ke arah pria itu lagi lalu Ia menatap Nathan.
" Ini aku sayang, Nathan suamimu." Ucap Nathan menangkup wajah Valen.
" Jika ini kamu, lalu siapa dia?" Tanya Valen menunjuk ke bawah.
" Dia temanku." Sahut Nathan.
" Lalu jam tangan itu?" Valen masih bertanya.
" Hari ini dia ulang tahun, dan tadi saat bertemu dia meminta jam tangan yang aku pakai sebagai hadiah ulang tahunnya, ya udah aku kasih aja, lagian itu jam juga masih baru tapi tidak ku sangka jika ini permintaan pertama dan terakhirnya." Terang Nathan.
" Apa kamu kira itu aku? Makanya kamu sampai menangis begini?" Tanya Nathan. Valen menganggukkan kepalanya.
" Jika benar itu aku, apa kamu akan memaafkan aku dan menyesal karna telah meninggalkan aku selama ini?" Tanya Nathan. Valen menganggukkan kepalanya.
" Baiklah akan aku lakukan supaya kamu mau memaafkan aku." Ucap Nathan.
" Sttt." Valen meletakkan telunjuknya di bibir Nathan.
" Jangan pernah kamu lakukan itu Mas." Ucap Valen.
" Kenapa? Bukankah kamu menginginkan aku untuk meninggalkanmu?" Tanya Nathan.
" Tidak Mas.... Jangan tinggalkan aku... Aku tidak mau kehilanganmu." Sahut Valen memeluk Nathan. Nathan membalas pelukan Valen.
" Hiks... Jangan tinggalkan aku Mas." Ujar Valen dalam pelukan Nathan.
" Aku juga tidak mau kehilangamu sayang, maafkan aku ya." Ujar Nathan.
" Apa benar yang kau ucapkan tadi?" Sambung Nathan melepas pelukannya.
" Ucapan yang mana?" Valen balik bertanya.
__ADS_1
" Ucapan kalau kamu hanya pura pura marah padaku, dan ucapan jika kamu memaafkan aku dan mau kembali kepadaku." Ujar Nathan.
" Aku belum lihat perjuanganmu Mas." Sahut Valen.
" Baiklah aku akan membuktikan cintaku padamu, tapi nanti setelah polisi mengurus jenazah temanku dulu." Ujar Nathan.
" Temanmu kenapa Mas?" Tanya Valen.
" Dia tertabrak mobil saat akan menyebrang jalan, apa kau kira itu adalah aku yang lompat dari gedung?" Ujar Nathan.
" Iya Mas." Sahut Valen.
" Saking paniknya kamu tidak melihat sekitar? kalau jatuh dari gedung pasti di halaman kantor sayang bukan di jalan raya kaya' gini." Ujar Nathan.
Valen mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Benar saja, ini di jalan raya. Valen merutuki kebodohannya.
" Terima kasih sayang sudah mencemaskan aku." Ucap Nathan merangkul Valen.
" Tuan Nathan jenazah korban akan kami bawa ke rumah sakit sekarang karna ambulans sudah datang, dan untuk tersangka sudah kami bawa ke kantor polisi, kami akan mengusut tuntas masalah ini." Ucap Polisi menghampiri Nathan.
" Silahkan Pak dan saya ucapkan terima kasih, kalau begitu saya pergi dulu Pak." Sahut Nathan.
" Silahkan Tuan, terima kasih atas kerja samanya." Ucap Polisi.
" Sama sama Pak." Sahut Nathan.
" Ayo sayang ikut aku." Ajak Nathan menggandeng Valen.
Nathan membawa Valen ke rooftoop kantornya.
" Kenapa kita ke sini Mas? Kamu tidak ingin melompat dari sini kan?" Tanya Valen.
" Bisa iya bisa tidak." Sahut Nathan.
" Kalau kamu masih bersikeras tidak mau memaafkan aku, maka aku akan lompat dari sini, tapi kalau kamu mau memaafkan aku maka aku tidak akan melakukannya." Sahut Nathan.
" Hah... Kau memang pemaksa Mas." Keluh Valen.
" Kamu kalau nggak di paksa pasti nggak mau Yank, di bujuk aja susahnya minta ampun." Ujar Nathan.
" Mas turun aja yuk, aku takut di sini gelap." Ucap Valen.
" Tunggu ya." Ujar Nathan.
" Sekarang lihatlah ke sana." Ucap Nathan menunjuk ke pojokan.
Terlihat banyak lilin yang menyala di atas meja.
" Apa ini makan malam romantis?" Tanya Valen menatap Nathan.
" Iya... Sebagai permintaan maafku padamu dan merayakan kembalinya kamu ke sisiku, sebenarnya ada kembang api yang akan membuat acara ini semakin indah tapi aku tidak jadi menyalakannya, aku merasa tidak enak hati karna insiden yang di alami oleh temanku." Ucap Nathan.
" Tidak masalah Mas, aku mengerti kok." Sahut Valen.
Tiba tiba Nathan berjongkok di depan Valen dengan satu kakinya sebagai tumpuan.
" Valen sayang maukah kau kembali menjadi istriku? Menemaniku dalam keadaan susah dan senang, mendukungku dalam kebaikan dan menegurku dalam keburukkan, maukah kau mendampingi hidupku di sisa umurmu?" Tanya Nathan menyodorkan cincin pernikahan yang pernah di lepas Valen.
Valen merasa terharu dengan apa yang di lakukan oleh Nathan. Valen akan memberikan kesempatan pada Nathan untuk yang terakhir kalinya.
" Aku mau Mas, aku akan memberikan kesempatan terakhir padamu." Sahut Valen menganggukkan kepalanya.
Nathan berdiri, Ia menarik tangan Valen lalu menyematkan cincin pernikahannya ke jari manis Valen. Suara tepuk tangan beserta cahaya lampu yang menyala mengiringi kebahagiaan mereka.Valen mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, Ia terkejut melihat banyaknya orang yang bertepuk tangan di sana.
__ADS_1
" Massss mereka....
" Aku sengaja mengundang mereka ke sini, tenanglah mereka semua keluarga besarku." Ujar Nathan.
" Tapi aku malu Mas, kenapa kamu tidak bilang jika sebenarnya banyak orang di sini." Ucap Valen masuk ke dalam pelukan Nathan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan.
" Hei kenapa harus malu? Peluk aku aja kamu nggak malu." Kekeh Nathan. Valen mencubit perut Nathan membuat sang empu mengaduh.
" Aduh sakit Yank." Keluh Nathan.
" Biarin... Lagian kamunya rese' ih" Sahut Valen.
" Ini kejutan untukmu sayang." Ujar Nathan.
" Ehm ehm... Kak kalau mau pelukan nanti di rumah aja, kita mulai acara makan malamnya keburu pada pingsan nanti karna nahan lapar dari tadi." Ucap Cia berdiri di belakang Valen.
Valen melepas pelukannya, Ia menjadi salting karna banyak orang yang menatap ke arahnya.
" Cie cie.. Jadi salting ya Kak." Goda Cia.
" Cia kamu membuat istriku malu." Ujar Nathan.
" Selamat kembali ke keluarga kami Kak." Ucap Cia memeluk Valen.
" Makasih adikku sayang." Sahut Valen melepas pelukannya.
" Kakak selamat ya, semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang membuat kalian berpisah." Ucap Ria.
" Amien... Makasih sayang atas doanya." Sahut Valen.
" Yah padahal gue berharap bisa dapetin janda Lo Len." Ujar Gama menghampiri Valen.
Plak...
Satu geplakan mendarat di kepala Gama dari Mami Nesha.
" Ampun Mi." Ucap Gama.
" Jangan bicara sembarangan karna ucapan adalah doa." Ucap Mami Nesha.
" Iya iya Mi." Sahut Gama.
" Sayang terima kasih sudah mau memaafkan Abang dan kembali lagi ke keluarga Ardiansyah, semoga selalu bahagia." Ucap Mami Nesha.
" Terima kasih Mi, maafkan aku karna telah membuat Mami kecewa dengan keputusanku pergi dari rumah." Ucap Valen.
" Tidak masalah sayang." Sahut Mami Nesha.
Mami Nesha memperkenalkan Valen kepada keluarga besarnya satu per satu. Setelah itu di lanjut acara makan malam bersama.
" Sayang terima kasih sudah mau memaafkan aku dan menerimaku kembali." Ucap Nathan menggenggam tangan Valen.
" Sama sama Mas, kita buka lembaran baru untuk memulai hidup berdua, jangan pernah lakukan hal yang menyakitiku Mas." Ujar Valen.
" Tentu sayang." Sahut Nathan.
TBC.....
*Udah balikan ya..... Bab berikutnya yang manis manis dulu aja ya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu.
Mohon maaf kemarin tidak up karna kegiatan author full sampai malam....
__ADS_1
Miss U All*...