Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Habisnya kesabaran


__ADS_3

Hari hari berlalu tak terasa hampir satu bulan lamanya Farhan sedikit mengabaikan Nesha. Ia juga sering tidak pulang dengan alasan lembur. Nesha masih berusaha bersabar menghadapi sikap Farhan kepadanya. Malam ini Nesha merasa kepalanya berdenyut nyeri, Seluruh badannya dingin. Keringat dingin terus menetes pada tubuhnya. Ia melihat jam pada dinding kamarnya menunjukkan pukul sebelas malam. Nesha mengambil ponselnya mencoba menghubungi Farhan.


Tut... tut...tut... Sambungan tersambung, Tak berapa lama Farhan mengangkatnya.


" Halo Yank." Sapa Farhan di sebrang sana.


" Mas... Kamu dimana? Apa kamu bisa pulang sekarang?" Tanya Nesha.


" Maaf sayang aku sedang lembur di kantor, Rencananya aku menginap di sini." Jawab Farhan.


" Lagi??" Tanya Nesha.


" Iya Maaf ya... Akhir akhir ini Mas si..."


Nesha langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum Farhan menyelesaikan ucapannya. Lagi lagi Farhan memberikan alasan yang sama. Nesha mencoba menelpon Rohan untuk memastikan kebenarannya, Rohan adalah Satpam yang berjaga di Bank milik Farhan.


" Halo Nya." Sapa Rohan.


" Mas Rohan, Saya mau nanya apa Mas Farhan ada lembur hari ini?" Tanya Nesha memastikan.


" Tidak Nya... Tuan Farhan tidak ke kantor hari ini, Bahkan meeting pembukuan akhir bulan di tunda besok sore Nya." jawab Rohan.


" Ok makasih Mas." Ucap Nesha.


" Sama sama Nya." Sahut Rohan.


Nesha mematikan ponselnya, Hatinya berdenyut nyeri mengetahui Farhan lagi lagi membohonginya.


" Sampai kapan kau akan membohongiku Mas... Kesabaranku ada batasnya, Baiklah tunggu aku menanyakan sendiri padamu Mas, Jika kamu masih berbohong jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat meninggalkanmu untuk selamanya." Gerutu Nesha dalam hatinya.


Nesha mencoba berdiri untuk berjalan keluar. Kepalanya kembali berdenyut nyeri. Ia memegangi kepalanya saat Ia membuka pintu tiba tiba..


Brugh.... Tubuh Nesha luruh ke lantai.


" Ya ampun Non.." Pekik Mbak Nadia saat lewat di depan kamar Nesha.


" Bangun Non.. Bangun..." Mbak Nadia menepuk pelan pipi Nesha. Nesha tidak bergeming sama sekali.


Mbak Nadia segera turun ke bawah mencari bantuan. Ia berlari ke pos satpam mencari Bang Udin.


" Bang... Bang Udin... Tolongin Nona Nesha pingsan." Teriak Mbak Nadia.


" Dimana Mbak?" Mang Udin langsung berlari menghampiri Mbak Nadia.


" Di depan kamar." Jawab Mbak Nadia.


" Ayo." Sahut Bang Udin.


Keduanya berlari masuk ke dalam menuju lantai atas. Bang Udin segera membopong tubuh Nesha lalu merebahkannya di atas ranjang.


" Makasih Bang." Ucap Mbak Nadia.


" Sama sama Mbak, Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Bang Udin berlalu dari sana.


Mbak Nadia mencari Ponsel Nesha, Ia menghubungi Farhan tetapi nomernya tidak aktif. Lalu Ia mencari kontak atas nama Sifa. Mbak Nadia segera menelponnya.


" Halo Nes ada apa? Ini udah malem lhoh." Ucap Sifa dari sebrang sana.


" Anu Non ini Mbak Nadia." Sahut Mbak Nadia.


" Mbak Nad ada apa?" Tanya Sifa sambil mengucek matanya.


" Non Nesha pingsan Non, Tuan Farhan sepertinya nggak pulang lagi." Ujar Mbak Nadia.


" Apa? Pingsan?" Pekik Sifa.


" Iya Non... Bisakah Non Sifa kesini?" Tanya Mbak Nadia.


"Baiklah Mbak saya akan segera kesana, Tolong telepon Dokter dulu untuk memeriksanya." Titah Sifa.


" Baik Non terima kasih." Sahut Mbak Nadia mematikan sambungan teleponnya.


Sifa turun dari ranjang menghampiri Jordan yang tidur di sofa.


" Mas... Bangun." Sifa mengguncang pelan bahu Jordan.


" Ada apa sayang?" Tanya Jordan masih dengan mata terpejam.


" Kita harus ke rumah Nesha Mas, Dia pingsan." Ucap Sifa.

__ADS_1


" Kan ada Farhan Yank." Sahut Jordan.


" Kak Farhan sekarang jarang pulang ke rumah Mas... Ayo buruan kalau nggak aku pergi sendiri nih." Ancam Sifa.


" Jangan donk Yank." Sahut Jordan.


Mereka segera bersiap menuju rumah Nesha.


Sesampainya di rumah Nesha, Sifa dan Jordan segera masuk menuju kamar Nesha. Kebetulan seorang Dokter sedang memeriksanya.


" Mbak Nad gimana?" Tanya Sifa menghampirinya.


" Masih di periksa Non." Jawab Mbak Nadia.


" Gimana Dok?" Tanya Sifa kepada Dokter cantik yang menangani sahabatnya.


" Tekanan darahnya rendah, Asupan gizinya kurang, Dan menurut dugaan saya Nona Nesha sedang hamil muda." Jelas Dokter.


" Apa??? Hamil Dok??" Tanya Sifa memastikan


" Iya Nona... Untuk lebih jelasnya besok periksakan ke bagian Obgyn di rumah sakit untuk USG." Ujar Dokter yang bertage name Mila.


" Baik Dok terima kasih." Sahut Sifa.


" Untuk saat ini saya tidak berani memberinya obat, Karna jika dugaan saya benar itu akan beresiko untuk si janin." Ucap Dokter Mila.


" Nggak pa pa Dok nanti saya akan belikan tespeck untuk mengeceknya." Sahut Sifa.


" Itu lebih baik, Kalau begitu saya permisi Nona." Pamit Dokter undur diri.


" Silahkan Dok, Sekali lagi terima kasih." Ucap Sifa.


" Sama sama." Sahut Dokter Mila.


Mbak Nadia mengantar Dokter Mila sampai teras depan.


" Mas ke apotik beli tespeck dulu yuk." Ajak Sifa.


" Ayo." Sahut Jordan


Mereka berdua pergi ke apotik untuk membeli alat yang di butuhkan oleh Nesha. Malam itu juga mereka mendapat kabar bahagia bahwa Nesha tengah mengandung benih Farhan Sifa dan Jordan mengucapkan selamat kepada Nesha. Setelah itu mereka berdua pamit pulang.


" Kemana istriku Mbak?" Tanya Farhan.


" Nyonya ada di kamar Tuan, Sedang tidak enak badan, Semalam Nyonya pingsan." Jawab Mbak Nadia.


" Pingsan?" Ucap Farhan memastikan.


" Iya Tuan, Pingsan lama banget." Sahut Mbak Nadia.


Farhan langsung berlari menuju kamarnya, Ia membuka pintu kasar mencari istrinya.


Huek...huek.


Terdengar suara Nesha mutah dari kamar mandi, Farhan segera menghampiri Nesha di dalam kamar mandi.


" Sayang...Kamu tidak pa pa." Ucap Farhan sambil memijat tengkuk Nesha yang sedang mengeluarkan semua cairan dalam perutnya.


Huek...huek.....


" Sayang kita ke Dokter ya." Ujar Farhan.


Nesha mencuci mulutnya dan mengelapnya dengan tisu. Ia berbalik badan menatap ke arah Farhan.


" Tidak usah sok peduli denganku." Ketus Nesha meninggalkan Farhan. Farhan melongo mendengar ucapan Nesha. Ia segera mandi membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi Farhan memakai bajunya yang ada di dalam sana, Matanya tak sengaja menangkap suatu benda yang tidak asing baginya di tong sampah. Farhan mengambilnya lalu Ia menatap teliti benda itu.


Deg....Garis merah dua... Farhan tersenyum bahagia, Ia segera menghampiri Nesha yang sedang berbaring di kasur.


" Sayang ini milikmu? Kau hamil? Aku akan menjadi seorang Ayah?" Tanya Farhan menatap Nesha.


" Sayang... Terima kasih..." Farhan ikut berbaring di ranjang sambil memeluk perut Nesha dari belakang.


" Sayang anak Papi sehat sehat di dalam sana ya.. Jangan menyusahkan Mami." Ucap Farhan mengelus perut Nesha.


" Minggir... Itu bukan milikku." Ucap Nesha menepis tangan Farhan.


" Jangan membohongi aku Yank, Aku tahu ini milikmu buktinya kamu mutah gitu, Itu namanya morning sicknes... Ahhh aku bahagia sekali Yank... Akhirnya aku akan memiliki anak kandung." Ujar Farhan kembali memeluk Nesha.

__ADS_1


" Tapi aku tidak bahagia." Ucap Nesha dengan Nada tinggi.


" Apa maksudmu?" Farhan membalikkan badan Nesha menghadap ke arahnya.


" Aku tidak bahagia." Ucap Nesha sambil duduk bersandar pada headboard. Farhan menatap mata Nesha dengan tajam.


" Kau tidak bahagia mengandung anakku?" Selidik Farhan.


" Aku tidak bahagia aku hamil di saat aku ingin lepas darimu." Ujar Nesha.


" Vanesha.... Apa yang kamu katakan hah." Bentak Farhan sambil mengguncang kedua bahu Nesha.


" Hiks...Hiks.. Aku tidak bahagia karna kau membagi waktuku dengan wanita lain." Teriak Nesha.


" Aku membencimu yang terus membohongiku Farhan." Ucap Nesha masih berteriak. Farhan bengong menatapnya dengan tidak percaya.


" Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku Tuan Farhan Ardiansyah, Aku mengetahui segalanya sejak lama, Aku hanya berusaha bersabar menunggu kejujuranmu." Teriak Nesha menuding wajah Farhan.


" Tapi apa???? Apa yang aku dapatkan? Hanya kebohongan saja." Bentak Nesha.


" Sayang... Bukan begitu maksudku." Ucap Farhan berusaha memeluk Nesha.


" Jangan sentuh aku, Aku mengharamkan dirimu menyentuh tubuhku." Teriak Nesha.


Jederrrrrr


Dunia Farhan seakan luruh mendengar ucapan Nesha. Semarah itukah Nesha kepadanya? Ia berpikir jika Nesha tidak akan pernah memgetahuinya, Tapi Farhan lupa jika insting seorang istri lebih tajam dari pedang samurai.


" Sayang aku bisa jelaskan semuanya, Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan, Aku hanya menolongnya." Jelas Farhan.


" Diammmm." Bentak Nesha.


" Kua... Diamlah... Biarkan aku yang berbicara." Sambung Nesha. Farhan diam mendengarkan apa yang akan Nesha ucapkan. Ia membiarkan Nesha mengeluarkan uneg unegnya.


" Kau meninggalkan aku demi dia di saat kami sama sama berada di rumah sakit." Farhan mendongak menatap Nesha yang sedang menangis.. Hatinya perih bagai tersayat sembilu.


" Kau pulang malam hanya demi menemaninya, Kau bahkan sering berbohong kepadaku dengan alasan lembur demi menghabiskan malam bersamanya." Ujar Nesha.


" Tidak sayang... Kami tidak melakukan apa apa, Aku akui aku salah, Aku tidak jujur padamu tapi ketahuilah, Aku tidak mengatakannya padamu karna aku tidak mau melukai hatimu sayang, Dia sahabatku... Ayahnya menitipkannya padaku... Aku hanya memberikan suport padanya, Dia sakit Yank.. Dia sakit..." Jelas Farhan.


" Lalu apa bedanya denganku?... Aku semalam meneloponmu memintamu pulang karna aku butuh dirimu, Tapi apa kau lebih mementingkan dirinya dari pada aku, Kau bilang kau sedang lembur, Padahal hari ini kau sama sekali tidak ke kantor, Lalu apa sekarang? kau dengan bahagianya datang saat kau mengetahui aku mengandung anakmu?... Bukan....." Nesha menjeda ucapannya.


" Dia bukan anakmu... Tragedi istrimu mengandung anak orang lain terulang kembali saat ini." Ucap Nesha.


" Jangan pernah katakan itu sayang... Aku tahu kau tidak serendah itu, Dia milikku, Dia anakku." Tegas Farhan.


Nesha turun dari ranjang, Ia berdiri menatap Farhan yang ikut berdiri di depannya.


" Kau salah.... Aku bisa melakukan apapun termasuk berbuat rendah seperti dirimu, Berduaan dengan wanita lain dan meninggalkan istrinya, Bahkan mengabaikannya selama ini, Kesabaranku sudah habis Mas, Aku tidak mampu lagi bertahan di sampingmu, Maafkan aku... Maafkan aku karna aku harus meninggalkanmu." Ujar Nesha.


Nesha segera berlari ke ruang ganti. Ia membuka kopernya untuk menata baju ke dalam koper tersebut.


" Sayang kamu mau apa? Kamu mau kemana?" Farhan merebut koper Nesha lalu membuangnya ke sembarang arah.


" Minggir... Jangan halangi aku, Aku sudah tidak mampu lagi hidup bersamamu, Hidup yang penuh kebohongan." Ucap Nesha.


" Dengarkan aku... Aku hanya menolongnya, Aku tidak ada hubungan apa apa dengannya sayang.... Aku mensuportnya sebagai sahabat, Dia sakit kanker stadium akhir... Dia ingin di sisa hidupnya aku ada untuk menemaninya, Aku takut kamu tidak mengijinkannya makanya aku tidak jujur padamu, Sayang maafkan aku, Jangan tinggalkan aku, Ku mohonnnn." Jelas Farhan dengan bersipu di depan kaki Nesha.


" Minggir... Aku bilang minggir..." Teriak Nesha.


" Awh... Awh sakittt." Rintih Nesha memegangi perutnya.


" Sayang... Kenapa? Mana yang sakit?" Cemas Farhan.


" Awh... Mas... sakittt." Lirih Nesha.


Tiba tiba...


Brugh... Farhan segera menangkap tubuh Nesha yang pingsan lagi.


" Sayang bangun Sayang.... jangan seperti ini" Ucap Farhan menepuk pipi Nesha.


Farhan segera membopong tubuh Nesha menuju mobilnya. Ia segera membawa Nesha ke rumah sakit. Farhan tidak mau sampai terjadi sesuatu hal buruk kepada istrinya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh..


TBC.....


Mumpung Author lagi khilaf... Double up lagi hari ini ya...100 kata lebih lho di bab ini...


Jangan lupa like vote dan hadiahnya biar author semangat nulisnya ya... Makasih..

__ADS_1


__ADS_2