
" Saka kamu jagain Verdy sama Vebby dulu ya, Tante mau menyusul Om Irvan dulu." Ujar Cia.
" Iya Tante." Sahut Saka.
" Mbak.... Mbak Titin." Panggil Cia memanggil babby sister yang membantunya menjaga babby twins di siang hari, karena di malam hari Cia dan Irvan sendiri yang menjaganya.
" Iya Nyonya." Sahut Mbak Titin.
" Tolong jagain mereka ya Mbak, saya ada urusan dengan Mas Irvan sebentar." Ucap Cia.
" Baik Nyonya." Sahut Mbak Titin.
Cia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Ceklek....
Cia membuka pintunya, Ia melongokkan kepalanya mencari keberadaan Irvan suaminya. Ia menatap Irvan yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang. Cia berjalan menghampirinya.
" Mas maafkan aku, maaf jika ucapanku justru menyinggung perasaanmu, tapi percayalah aku sama sekali tidak menyinggungmu Mas, aku tidak bermaksud." Ucap Cia menggenggam tangan Irvan.
" Bukan hanya aku, Saka pun pasti akan tersinggung mendengar ucapanmu, apalagi kalau Valen mendengar semua ucapanmu tadi soal Saka, bukankah sudah menjadi kesepakatan bersama jika saat ini Saka adalah anak dari Om Alex, adik dari Valen dan pewaris ke dua dari keluarga Xander? Bagaimana kau bisa melupakan itu Cia? Dan bagaiman kamu bisa berbicara seperti itu?" Ujar Irvan menghela nafasnya.
" Iya aku minta maaf Mas, entah mengapa jika aku melihat Saka aku selalu teringat dengan ibunya, wanita yang pernah berniat jahat kepada kita." Sahut Cia.
" Astaga Cia... Kenapa kamu masih punya pikiran seperti itu sih, Saka dan ibunya tidak bersalah sayang, itu murni kesalahan kakeknya Saka, dan aku mohon sama kamu, buanglah rasa kebencianmu itu untuk Saka karena aku yakin kamu tidak akan terima jika ada yang membenci anakmu sayang." Ucap Irvan.
" Ya ya aku tidak akan mengulangi itu semua, tapi aku butuh waktu untuk itu dan mulai besok jangan bawa Saka sering sering main ke sini atau aku tidak akan bisa melupakan kebencianku." Ujar Cia.
" Terserah kamu saja, tapi kamu yang bilang sendiri sama Om Alex, kalau aku tidak bisa, lidahku akan kelu untuk mengucapkannya." Sahut Irvan.
Cia menatap Irvan dengan tatapan yang entah.
" Aku rasa saat ini kamu sedang membela Saka Mas, bukan karena perasaanmu yang tersinggung, tapi kamu tidak terima aku berkata seperti itu tentang Saka, sekarang aku tahu alasan yang sebenarnya." Sahut Cia keluar kamarnya.
" Cia." Panggil Irvan.
Cia berjalan perlahan menuruni anak tangga menghampiri kedua babbynya.
" Mbak bawa Verdy ke kamar ya." Ucap Cia mendorong kereta bayi milik Vebby.
" Tante mau kemana?" Tanya Saka.
" Tante mau istirahat, kamu bermain aja di sini." Sahut Cia.
" Tapi Tante...
Cia tidak mau mendengar ucapan Saka lagi, Ia terus berjalan menuju kamarnya.
" Taruh Verdy di box Mbak." Ucap Cia kepada Mbak Titin.
" Sayang kenapa kamu bawa twins ke sini? Terus Saka dimana?" Tanya Irvan.
" Den Saka bermain di bawah Tuan." Ucap Mbak Titin.
__ADS_1
" Kamu keterlaluan Cia." Ucap Irvan keluar kamarnya.
" Tolong tutup pintunya kembali ya Mbak, saya mau istirahat dan jangan sampai ada yang mengganggu saya." Ujar Cia.
" Baik Nyonya." Sahut Mbak Titin keluar kamar Cia.
Cia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mencoba memejamkan matanya merasuk ke dalam alam mimpi.
Irvan menghampiri Saka yang sedang bermain sendirian.
" Saka." Panggil Irvan.
" Iya Om." Sahut Saka.
" Vebby sama Verdy mau bobok dulu, kamu mau bobok atau mau main sama Om?" Tanya Irvan duduk di sebelah Irvan.
" Om antar Saka ke rumah Kak Valen aja, Saka mau bermain sama Erald." Ucap Saka.
" Baiklah ayo." Sahut Irvan.
Irvan menggandeng tangan Saka keluar rumah menuju mobilnya. Keduanya masuk ke dalam mobil, lalu Irvan melajukan mobilnya menuju rumah Nathan.
Tiga puluh menit kemudian mobil Irvan sampai di depan rumah Nathan.
" Ayo sayang kita turun." Ucap Irvan membuka sealbelt yang Saka kenakan.
" Ayo Om." Sahut Saka.
Keduanya turun dari mobil. Irvan memencet bel rumah Nathan. Tak lama pintu pun terbuka dari dalam.
Valen membuka pintunya.
" Irvan... Saka." Ucap Valen menatap keduanya.
" Halo Kak, bolehkah aku bermain di sini?" Tanya Saka mendongak menatap Valen.
" Boleh donk sayang, apa kamu baru dari rumah Om Irvan?" Tanya Valen memastikan.
" Iya Kak, aku bermain dengan Babby Veb." Sahut Saka.
" Kalian berdebat lagi? Aku akan meminta Papa untuk tidak mengirimkan Saka ke rumahmu lagi." Lirih Valen tanggap akan situasi yang di hadapi oleh Irvan saat ini.
" Maafkan aku Len." Ucap Irvan.
" Tidak masalah aku paham kok situasinya, nasehati Cia dengan pelan dan lembut, aku yakin suatu saat dia akan mengerti." Ujar Valen.
" Baik terima kasih Len, memang hanya kamu yang bisa memahamiku sebaik ini." Ujar Irvan.
" Kita besar bersama Van, jika kau lupa itu." Ujar Valen.
" Ayo masuk, Saka bermainlah dengan Erald! Dia ada di ruang bermainnya." Ujar Valen.
" Makasih Kak." Sahut Saka berlari masuk ke dalam menuju ruang bermain Erald.
__ADS_1
" Aku langsung pulang aja Len, aku khawatir Cia akan semakin marah." Ucap Irvan.
" Ok hati hati ya." Sahut Valen.
" Tentu." Sahut Irvan kembali memasuki mobilnya.
Valen masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintunya Valen berjalan meuju ruang bermain Erald.
Terlihat Erald sedang tengkurap sambil bermain saliva, kakinya menggejol ke atas dan ke bawah.
" Lihat Kak, Erald sudah pintar tengkurap sama ketawa ketawa sendiri." Ucap Saka.
" Iya donk anak siapa dulu, kan anaknya Kakak gitu loh." Sahut Valen duduk di sebelah Saka.
" Kak boleh Saka bertanya sesuatu?" Tanya Saka membuat Valen menatap ke arahnya.
" Apa itu?" Tanya Valen.
" Kenapa sepertinya Tante Cia tidak menyukaiku Kak?" Tanya Saka.
" Tidak suka? Tidak suka gimana maksudmu?" Valen balik bertanya.
" Ya tidak suka Kak, apa karena Saka tidak punya keluarga yang utuh ya Kak? Apa karena Saka bukan anak kandung Papa Alex makanya dia tidak suka sama Saka?" Tanya Saka sedih.
" Kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Valen.
" Aku mendengar Tante Cia bicara seperti itu." Sahut Saka.
" Sayang lihat Kakak ya." Ucap Valen menangkup wajah Saka.
" Jangan pernah berpikir kalau kamu tidak punya keluarga, Papa, Kakak, Abang dan Erald adalah keluargamu sayang, jangan pernah bilang kepada siapapun kalau kamu bukan anak kandung Papa ok? Sejak namamu menyandang nama Xander maka saat itu juga kamu adalah anak kandung Papa Alex, adik kandung Kakak, kamu paham kan?" Tanya Valen menatap Saka.
" Iya aku tahu Kak." Sahut Saka menganggukkan kepalanya.
" Dan soal Tante Cia, jangan kamu pikirkan ya, mungkin Tante Cia merasa terganggu karena Saka sering bermain ke sana, mulai besok jangan lagi ke sana ya." Ujar Valen.
" Tapi aku ingin bermain dengan Vebby Kak, Masa' nggak boleh ke sana." Ujar Saka.
" Boleh ke sana tapi jangan sering sering, misal seminggu sekali aja, kalau kamu nggak ada teman bermain kan kamu bisa main ke sini sama Erald." Ujar Valen.
" Baik Kak." Sahut Saka.
" Pintar kamu." Ucap Valen mengusap pucuk kepala Saka.
Setelah itu Saka bermain main dengan Erlad. Ia merasa bahagia mempunyai Kakak seperti Valen. Begitupun dengan Valen yang merasa bahagia memiliki adik angkat seperti Saka.
TBC.....
Kalau ada yang bilang kok Cia gitu sih Thor? Ya emang gitu ya... Mungkin ini akan author jadikan konflik di saat mereka dewasa nanti..
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat meneruskan ceritanya.
Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....