Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
86. Diamnya Azza


__ADS_3

Prank......


Vas bunga jatuh ke lantai membuat Dika menoleh ke arah suara.


Deg....


Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Azza yang berdiri tak jauh darinya. Dika segera mematikan sambungan ponselnya.


" Sa.... Sayang." Ucap Dika menghampiri Azza.


" Jangan mendekat Mas." Ucap Azza memundurkan langkahnya.


" Azza." Pekik Dika saat kaki Azza menginjak beling vas bunga membuat kakinya berdarah.


" Kakimu terluka sayang." Ucap Dika mendekati Azza.


" Aku bilang jangan mendekat." Tekan Azza.


" Tapi kakimu berdarah Azza, kita harus mengobatinya." Ujar Dika.


" Luka ini tak seberapa di bandingkan luka di dalam hatiku yang baru saja kau torehkan Mas." Sahut Azza.


" Kau mendengar....


" Ya aku mendengar semuanya." Sahut Azza.


Dika semakin mendekati Azza, namun Azza semakin memundurkan tubuhnya membuat darahnya tercecer di lantai.


" Sudah berapa kali aku tanyakan padamu untuk menyakinkan hatimu Mas, tapi kenapa kau membohongiku? Kau selalu berkata kalau di dalam hatimu sudah bersih, bahkan hanya ada namaku di sana, tapi apa semua ini? Kau bahkan terbayang wajah wanita lain di saat kau bersamaku Mas." Ujar Azza.


" Sayang bukan begitu maksudku, aku minta maaf karna membuatmu kecewa dan sakit hati, tapi aku sendiri juga tidak tahu kenapa bayangannya tiba tiba muncul di dalam pikiranku sayang, aku bersama Cia sejak kecil, aku khawatir kalau Cia kenapa napa makanya aku telepon dia, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti ataupun melukai hatimu." Sesal Dika.


" Itu semua terjadi karna kamu belum mengikhlaskannya Mas, kau meneleponnya tapi menanyakan kabarnya, kau lebih ke arah curhat kepadanya dan membuka aib rumah tangga kita Mas, kau membuat aku malu pada diriku sendiri, aku terlihat seperti wanita murahan yang menyodorkan tubuhnya kepada pria hidung belang." Ucap Azza.


" Tidak sayang jangan katakan itu, kau wanita mulia yang berhati lembut, Mas mohon jangan berpikiran seperti itu." Ujar Dika.


" Lalu aku harus bagaimana Mas? Aku menikahi pria yang masih menyimpan nama wanita lain dalam hatinya, aku di tolak saat malam pertama oleh suamiku sendiri, dan aku juga di sakiti di hari pernikahanku yang seharusnya aku merasakan bahagia di hari ini kan." Ucap Azza.


" Inilah yang aku takutkan dari dulu Mas, kau membawa masa lalumu ke dalam masa depan kita dan itu terjadi di malam pertama kita." Ucap Azza dengan air mata mengalir di pipinya.


" Sayang tidak begitu, aku sudah menghapus namanya jauh sebelum aku bertemu denganmu, di dalam hatiku sudah tidak ada namanya, hanya dirimu tapi entah....


" Kau sudah mengatakan itu sebelumnya Mas, dan aku mempercayainya tapi apa? Kau justru mengingakrinya, jangan temui aku sebelum kau mampu melupakannya Mas." Potong Azza keluar kamarnya.

__ADS_1


" Sayang kita obati lukamu dulu, baru nanti kita bicarakan soal ini lagi." Ucap Dika mencekal tangan Azza di depan pintu.


" Jangan khawatir aku bisa mengobati lukaku sendiri Mas, dan aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Mas, selamat malam." Sahut Azza melepas cekalan Dika.


" Arghhhh." Teriak Dika frustasi.


Azza turun ke bawah menuju kamar tamu. Ia mengunci pintunya dari dalam karna takut Bryan akan mendatanginya. Azza naik ke atas ranjang tanpa membersihkan lukanya terlebih dahulu.


" Hiks.... Hiks..... Hiks...." Isak Azza.


" Kenapa rasanya sesakit ini? Ya Allah kuatkanlah hambamu ini dalam menjalani ujianmu ini Ya Allah, hamba yakin ada hikmah tersimpan di balik semua ini." Monolog Azza.


Hati Azza terlalu lembut untuk di sakiti. Dan hatinya terlalu sensitif dengan yang namanya mantan. Karena ibunya rela meninggalkan ayahnya hanya demi mantan pacarnya yang jauh dari segalanya di bandingkan ayahnya. Ada rasa trauma tersendiri di dalam hati Azza.


" Aku tidak menyangka ternyata wanita masa lalu suamiku adalah Cia adiknya Kak Valen, itu sebabnya tadi Mas Dika selalu menatapnya, semoga kau mau memperbaiki hubungan ini Mas." Ujar Azza.


Azza terlelap ke dunia mimpinya tanpa mengobati lukanya. Ia berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari setelah mengobati luka di kakinya, Azza segera memakai hijabnya lalu menuju dapur. Ia memasakan makanan untuk sarapan Papa dan suaminya. Di sini ada art yang bernama Bi Uci, yang kebetulan sedang ke pasar.


Setelah selesai masak dan menatanya di meja makan, Azza kembali ke kamarnya untuk mandi dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Walaupun hatinya terluka karna sikap Dika tapi Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, tapi tidak untuk yang satu itu.


Azza membuka pintu kamarnya, ranjangnya kosong tapi ada suara air gemericik di dalam kamar mandi. Ia yakin kalau suaminya masih mandi di dala. Azza menyiapkan pakaian casual Dika lalu Ia letakkan di atas ranjang. Setelah itu Ia mengambil baju untuk dirinya sendiri dan kembali ke kamar tamu untuk mandi di sana.


Dika keluar dari kamar mandi, tatapannya tertuju pada baju di atas ranjang. Ada senyum mengembang di sudut bibirnya.


" Sayang kamu kembali." Ucap Dika mencari keberadaan Azza di dalam kamarnya.


Dika menghela nafasnya kala tidak menemukan istrinya. Ia segera memakai bajunya lalu turun ke bawah menuju meja makan. Ia yakin kalau saat ini Azza berada di sana.


Benar saja, Azza sedang melayani Papanya di meja makan. Dika menghampiri keduanya dengan senyum merekah di wajahnya.


" Pagi." Sapa Dika.


" Pagi Dik, silahkan duduk." Sahut Papa Bram.


Dika hendak mencium kening Azza tapi Azza menghindarinya membuat Dika menghela nafasnya.


Dika duduk di kursi sebelah Azza, Azza segera mengambilkan makanan untuk Dika tanpa berkata sepatah pun. Papa Bram menatap keduanya yang nampak dingin.


" Azza, Papa lihat kamu pagi tadi keluar dari kamar tamu, apa kalian tidak tidur satu kamar?" Tanya Papa Bram di sela sela makannya.

__ADS_1


" Iya Pa." Sahut Azza.


" Kenapa? Apa ada masalah dengan kalian berdua?" Selidik Papa Bram.


" Papa tidak perlu khawatir, kami baik baik saja Pa, Azza sengaja tidur di kamar tamu karna takut tidak bisa mengendalikan diri Pa, saat ini Azza masih dalam keadaan kotor." Sahut Azza menohok hati Dika.


" Oh Papa kirain kalian bertengkar." Ujar Papa Bram.


" Oh ya, apa kamu mau berangkat mengajar? Kok pakai seragam?" Tanya Papa Bram melihat Azza memakai seragam paud.


Dika menatap ke arah Azza. Ia tidak menyadarinya karna seragamnya tidak seperti seragam guru pada umumnya.


" Iya Pa." Sahut Azza.


" Lhoh bukannya hari ini kamu pindah ke rumah Dika? Kenapa tidak cuti saja? Kan kalian baru menikah." Ujar Papa Bram.


" Kasihan Meta Pa kalau menghandle anak anak sendirian, dia bisa kewalahan menghadapi anak anak yang pintarnya minta ampun, lagian Azza pindahanya sore Pa." Sahut Azza.


" Ya udahlah terserah kamu sayang, tapi setelah pindah kamu resign kan?" Tanya Papa Bram lagi.


Azza menatap Dika yang saat ini sedang menatapnya. Ia kembali menatap Papanya.


" Tidak Pa, aku akan tetap mengajar." Sahut Azza.


" Apa kamu mengijinkannya Dik?" Tanya Papa Bram menatap Dika.


" Aku akan bosan di rumah sendirian Pa, jadi sebelum aku punya anak sendiri aku akan tetap mengajar Pa, lagian mengajar anak anak merupakan hiburan tersendiri untukku Pa." Sahut Azza tidak mengijinkan Dika menjawab pertanyaan Papanya.


" Apapun yang kamu inginkan, harus seijin suamimu sayang, kalau Dika tidak mengijinkannya, maka kamu harus menurut padanya." Tutur Papa Bram.


" Aku tahu itu Pa." Sahut Azza.


Dika tidak ingin menyela ucapan Azza karna Ia ahu Azza saat ini sedang marah. Ia akan membicarakan soal ini setelah emosi Azza mereda.


" Ternyata Azza memiliki sikap keras kepala di balik kelembutannya menjadi istri solehah, aku harus sabar menghadapinya karna ini memang salahku." Batin Dika.


Bukan tanpa alasan Azza berusaha menghindari Dika, menurut Azza lebih baik menghindar sementara dari pada meluapkan amarah di depan suaminya. Ia akan melunak dengan sendirinya di saat amarahnya sudah reda.


Maklum lah ya dengan sikap Azza walaupun dia anak solehah.....


Jangan lupa like dan komentnya....


Miss U All.....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2