
Hari hari berlalu, Setelah melakukan pencarian yang menemui jalan buntu, Akhirnya Nathan memasrahkan semuanya pada Tuhan. Ia yakin jika memang keduanya berjodoh maka Tuhan pasti akan mempertemukannya bagaimanapun jalannya. Sejak Kavia sering mengantar kopi ke ruangan Nathan, Kini Kavia dan Nathan semakin dekat. Itu semua membuat Kavia sangat bahagia. Usahanya membuahkan hasil dan mungkin saja sebentar lagi Ia akan menjadi pacar Nathan. Pikirnya.
Bukan saat mengantar kopi saja, Lebih tepatnya saat Nathan mengantar Kavia pulang dan melihat Kavia di siksa oleh ibu dan ayah angkatnya, Ia menjadi iba dengan diri Kavia. Pada akhirnya Nathan menjalin pertemanan dengannya.
" Nathan ini kopinya." Ucap Kavia meletakkan secangkir kopi di hadapan Nathan.
" Ah iya Kavia, Letakkan di situ saja terima kasih." Sahut Nathan fokus pada komputer di depannya.
" Di minum dulu donk." Ujar Kavia.
Nathan menatap ke arah Kavia.
" Baiklah." Sahut Nathan menghampiri Kavia di sofa.
" Bagaimana pekerjaanmu saat ini?" Tanya Kavia.
" Lumayan melelahkan." Sahut Nathan sambil menyesap kopinya.
" Jangan terlalu menforsir kerjanya nanti sakit gimana?" Ujar Kavia.
" Kan ada kamu." Gurau Nathan.
" Aku kan nggak bisa merawat kamu karna statusku hanya OG di sini." Ujar Kavia.
" Ya nanti tinggal aku tarik ke pelaminan terus jadi istriku kan kamu bisa bebas merawatku, Gampang kan." Canda Nathan. Nathan tidak tahu jika gurauannya di anggap serius oleh Kavia.
" Kamu bisa aja." Sahut Kavia.
" Oh ya apa orang tuamu sudah tidak menyiksamu lagi?" Tanya Nathan.
" Sejak kamu mengancam mereka, Mereka tidak berani melakukannya lagi, By the way makasih ya Than kamu udah mau bantu aku." Sahut Kavia.
" Its ok, Tapi maaf aku tidak bisa memberikan posisi untukmu di sini, Ya kamu tahu kan apa tamatan kamu." Ujar Nathan.
" Nggak pa pa aku tahu kok, Kamu udah mau berteman denganku saja aku sudah seneng kok." Ucap Kavia.
" Ya kita berteman dengan siapa aja kan." Sahut Nathan.
" Nathan, Apa kamu mau mengajakku jalan jalan malam ini?" Tanya Kavia penuh harap.
" Mau jalan kemana?" Tanya Nathan.
" Ke Mall xx, Kita nonton gimana?" Ujar Kavia.
" Ok deh, Jam tujuh aku jemput kamu, Tapi maaf jika nanti Mamiku tidak mengijinkan maka aku akan membatalkannya ya." Ucap Nathan.
" Ok." Sahut Kavia.
" Selalu saja Maminya yang menjadi kendala, Seperti apa sih Maminya hingga begitu istimewa di hati Nathan." Gerutu Kavia dalam hati.
" Ya udah aku mau lanjut kerja." Ucap Nathan.
" Ah baiklah aku kembali ke pantry." Ujar Kavia.
Kavia keluar dari ruangan Nathan dengan membusungkan dada membuat para pegawai lainnya menatapnya dengan tatapan menghina.
Kalau orang rendahan ya rendahan aja, Jangan berharap bisa jadi pasangan atasan
__ADS_1
Iya nggak tahu malu banget setiap hari nyamperin di ruangan Pak Bos
Ya gitu tuh kalau orang miskin pengin kaya dengan instant, Tinggal gaet Bos jadi deh milyarder dadakan
Begitulah cibiran orang orang di kantor tapi Kavia tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah terus mendekati Nathan dan mendapatkan hatinya.
Malam harinya Nathan menjemput Kavia di rumahnya.
" Hai." Sapa Kavia dengan centil sambil duduk di sebelah kursi kemudi.
" Ayo kita langsung berangkat." Ucap Nathan melajukan mobilnya menuju Mall xx.
" Ok." Sahut Kavia
" Kamu mau menonton film apa?" Tanya Nathan fokus pada stirnya.
" Aku memilih film bergenre romantis." Sahut Kavia.
" Kau tidak keberatan bukan?" Tanya Kavia.
" Tidak, Aku hanya ingin menyenangkan kamu saja." Sahut Nathan.
Setengah jam kemudian mereka sampai di Mall yang di tuju. Dengan percaya diri yang tinggi, Kavia menggendeng lengan Nathan tanpa penolakan dari Nathan.
" Kau tahu Than? Aku sangat bahagia bisa jalan denganmu seperti sekarang ini." Ucap Kavia dengan mata berbinar.
" Aku akan sering sering mengajakmu kemari." Sahut Nathan.
" Benarkah?" Tanya Kavia memastikan.
" Hmm tentunya seijin dari Mamiku." Sahut Nathan. Kavia memutar bola matanya malas.
Mereka terus berjalan menuju lantai atas dimana bioskop itu berada. Saat hendak mengantri di pintu masuk sekilas Nathan melihat sosok gadis yang selama ini di carinya. Nathan langsung melepas pegangan Kavia dan berlari menghampiri gadis itu.
Nathan terus menatapnya hingga gadis itu hilang dalam keramaian. Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri mengedarkan pandangannya berharap Ia bisa menemukan gadis itu.
" Ah sial aku kehilangan jejaknya." Umpat Nathan kesal.
" Aku harus menemukannya." Ujar Nathan mencari kembali.
Sedangkan Valen sedang berlari menjauh dari Arman. Niatnya ingin menonton film malah gagal gara gara bertemu dengan si Arman pengkhianat itu.
" Sial banget sih gue, Kenapa harus ketemu Arman juga." Gerutu Valen masuk ke dalam cafe di Mall itu.
" Mau kemana?" Tanya Arman mencekal tangan Valen.
" Lepas! Apaan sih." Cebik Valen menyentak kasar tangan Arman.
" Sayang sebenarnya kamu ini kenapa? Apa salahku sehingga kamu selalu menghindari aku?" Tanya Arman.
" Pikir saja sendiri." Ketus Valen mencari meja kosong. Setelah mendapatkan meja kosong Ia mendudukkan pant*tnya di kursi meja tersebut.
" Sayang katakan apa salahku? Apa aku membuat kesalahan padamu?" Tanya Arman.
" Kau selingkuh, Kau mengkhianatiku." Ucap Valen.
Deg....
__ADS_1
Jantung Arman serasa berhenti berdetak. Ia menatap Valen sambil mengerutkan keningnya.
" Kau menuduhku?" Tanya Arman.
" Sudah lah Man jangan mengelak dan mencoba membodohiku lagi, Aku tahu semuanya." Ujar Valen.
" Tidak sayang aku tidak mengkhianatimu, Kau mungkin salah paham sayang." Ujar Arman.
" Stop memanggilku dengan panggilan itu aku muak mendengarnya, Dan asal kau tahu aku melihat pacarmu menjemputmu di Bandara, Kau berpelukan bahkan berciuman mesra di sana tanpa tahu malu, Aku ada di belakangmu saat itu." Terang Valen membuat Arman melongo.
" Sayang kamu salah paham, Ya aku akui aku memang melakukan semuanya, Maafkan aku." Ucap Arman menggenggam tangan Valen.
" Lepaskan tanganku." Titah Valen.
" Dengarkan dulu penjelasanku baru aku akan melepaskanmu." Ujar Arman.
" Baiklah silahkan kamu memberi penjelasan untuk membela dirimu." Ucap Valen.
" Aku di jodohkan oleh orang tuaku, Aku terpaksa harus menikahinya demi bisnis orang tuaku yang saat ini sedang koleps, Aku tidak bisa berbuat apa apa, Mau tidak mau aku harus menerima pernikahan ini, Tapi percayalah aku hanya mencintaimu, Pernikahan ini tidak berarti bagiku, Kita bisa melanjutkan hubungan ini walau aku sudah menikah, Aku berjanji padamu aku akan menceraikannya setelah perusahaan orang tuaku membaik, Atau jika kau mau kalian berdua bisa menjadi istriku secara bersamaan." Terang Arman dengan percaya dirinya berharap Valen mau mengikuti ide gilanya.
" Maksudmu aku di madu begitu?" Tanya Valen.
" Iya... Tapi percayalah hanya kamu yang aku cintai Len." Ujar Arman.
" Aku tidak sudi jika harus dimadu, Kau pikir aku tidak laku setelah lepas darimu, Kau salah Arman bahkan sekarang aku sudah mendapat gantinya, Dan ya alasanmu tidak masuk akal Arman, Perusahaan mana yang lebih besar dari Perusahaan Papaku?" Tanya Valen.
Arman kehilangan kata kata, Ia menundukkan wajahnya tak mampu menatap mata Valen.
" Jangan kamu pikir aku bodoh Arman, Jika masalah suntikkan dana, Siapa yang bisa memberikan suntikan lebih besar dari Papaku? Dari keluarga mana calon istrimu itu?" Selidik Valen. Arman tidak bergeming.
" Bahkan calon istrimu hanya seorang putri dari pengusaha kecil yang jauh di bawah perusahaanku, Kau pikir aku tidak tahu?" Tanya Valen.
" Darimana kamu tahu?" Tanya Arman.
" Aku tahu segalanya Arman, Kau memacariku hanya untuk menjadikan aku atm berjalanmu saja, Saat pacarmu butuh ini kau minta uang padaku, Asal kau tahu semua uang yang sudah aku berikan padamu sudah aku masukan ketagihan kartu kreditmu." Ucap Valen.
" Apa?" Pekik Arman.
" Ya... Bersiaplah sampai rumah kau akan di usir oleh orang tuamu karna saking banyaknya tagihan itu ha ha ha, Bye." Ucap Valen meninggalkan Arman yang sedang memikirkan nasibnya.
" Ternyata kau licik juga Valen... Aku tidak menyangka kau secerdik itu." Monolog Arman menyugar kasar rambutnya.
Mila berjalan keluar Mall menuju parkiran mobilnya. Saat itu juga Nathan baru keluar bersama Kavia. Walau tadi Kavia sempat marah marah karna di tinggal oleh Nathan tapi sekarang Ia sudah bisa tersenyum lagi.
Nathan menatap Valen yang mulai melajukan mobilnya. Nathan kembali mengejarnya tapi sayang mobil Valen sudah keluar di jalan raya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
" Arghhhh sial sial sial." Umpat Nathan menarik rambutnya kasar.
" Aku kehilangan jejakmu lagi.... Mobil itu mobil sultan, Berarti dia orang kaya." Ucap Nathan.
" Aku berharap semoga lain kali kita bisa di pertemukan dengan benar." Ujar Nathan.
TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya....
Author ucapkan terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author...
__ADS_1
Miss U All.