Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
47. Pernikahan


__ADS_3

Satu bulan berlalu sejak kepergian Adrian. Hubungan Ria dan Davian semakin dekat. Bahkan Davian sudah mengutarakan perasaannya pada Ria dan Ria pun mencoba menerimanya. Jujur... Ria merasa nyaman dengan perhatian dan kedekatannya dengan Davian. Ia berharap Davian bisa menjadi pasangan yang baik untuknya. Pasangan yang bisa membuatnya bahagia.


Hari ini acara pernikahan Ria dan Davian yang di gelar di rumah keluarga Ardiansyah. Dengan mengundangnya para kerabat dekat membuat acara semakin meriah. Setelah acara ijab qobul selesai Ria langsung di boyong ke rumah Davian.


" Sayang selamat ya, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah." Ucap Mami Nesha memeluk Ria.


" Terima kasih Mi, doakan untuk kebahagiaanku Mi, aku pamit dulu." Ujar Ria.


" Doa Mami selalu menyertaimu sayang.. Hati hati jaga diri baik baik di tempat barumu sayang." Sahut Mami Nesha menangkup wajah Ria.


" Iya Mi." Sahut Ria. Ria beralih ke Papi Farhan.


" Papi..." Ucap Ria memeluk Papi Farhan.


" Selamat sayang, semoga berbahagia." Ucap Papi Farhan mengelus punggung Ria.


" Terima kasih Pi, maafkan Ria yang belum bisa membuat Papi bangga." Ujar Ria.


" Jadilah istri solehah itu akan membuat Papi bangga melebihi segalanya sayang." Ucap Papi Farhan.


" Aku akan berusaha Pi." Sahut Ria melepas pelukannya.


" Kakak..." Ucap Ria memeluk Valen.


" Selamat sayang semoga bahagia." Ujar Valen.


" Makasih Kak." Sahut Ria.


Davian memeluk Papi Farhan.


" Selamat Nak Davi, aku titip putriku padamu, jika nanti kau sudah tidak mencintainya maka kembalikan dia dengan baik baik ke rumah ini." Ucap Papi Farhan melepas pelukannya.


" Tentu Pi." Sahut Davian.


" Baiklah semuanya kami pamit dulu." Ucap Davian.


" Hati hati seringlah mampir ke sini." Ucap Valen.


" Akan kami usahakan." Sahut Davian.


Davian menggandeng tangan Ria menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Semua orang terlihat sedih dengan kepergian Ria terutama Mami Nesha.


" Sabar Mi, Ria pasti akan bahagia bersama suami yang di cintainya." Ucap Valen memeluk Mami Nesha.


" Iya sayang, Mami hanya tidak menyangka saja sekarang anak anak Mami sudah dewasa, sekarang Ria sudah menikah dan pergi dari rumah ini, suatu saat Cia juga akan meninggalkan Mami." Ujar Mami Nesha.


" Tapi Mami juga dapat gantinya kan? Apa aku tidak bisa menggantikan mereka menjadi anak Mami?" Tanya Valen.


" Kamu ini bicara apa, tentu saja bisa sayang, kamu memang putriku." Sahut Mami Nesha.


" Makasih Mi." Sahut Valen.


Setelah semua tamu pulang, mereka kembali ke kamar masing masing. Valen masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai.


Nathan yang baru saja masuk menghampirinya.

__ADS_1


" Yank kamu mau tidur?" Tanya Nathan.


" Iya Mas, sepertinya aku mengantuk." Sahut Valen meletakkan ponselnya di atas nakas.


" Ya sudah tidurlah, aku peluk ya." Ujar Nathan memeluk Valen.


Tiba tiba perut Valen terasa mual. Ia membekap mulutnya dengan tangannya.


" Kenapa sayang?" Tanya Nathan.


Valen turun dari ranjang, Ia berlari menuju wastafel kamar mandi.


Huek.... Huek.....


Valen memuntahkan semua isi perutnya. Nathan memijat tengkuknya dari belakang.


" Sayang kau kenapa? Apa kau masuk angin?" Tanya Nathan.


" Tidak tahu Mas, mungkin aku salah makan." Sahut Valen.


" Sudah baikan?" Tanya Nathan.


" Hmm." Gumam Valen menganggukkan kepalanya.


Valen membasuh mulutnya dengan air bersih. Badannya terasa lemas tak berdaya. Melihat itu Nathan membopongnya, Ia merebahkan tubuh Valen di atas ranjangnya.


" Istirahatlah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu." Ujar Nathan mencium kening Valen.


Nathan turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Lima menit Ia kembali ke kamarnya.


Valen meminumnya setengah gelas, lalu Ia kembali merebahkan tubuhnya.


" Mas aku ngantuk, aku mau tidur dulu ya." Ujar Valen.


" Iya sayang, Mas akan menjagamu di sini." Sahut Nathan.


Valen memejamkan matanya menuju lam mimpi, Nathan memeluknya dari belakang menyusul ke alam mimpi.


Di rumah Davian, Ria dan Davian baru saja masuk ke dalam rumahnya. Mereka di sambut oleh adik perempuannya dan seorang wanita paruh baya bernama Bi Asih yang tak lain pembantunya.


" Selamat datang Kak." Sapa Luci adik Davian.


" Terima kasih, kenalkan aku Ria." Ucap Ria mengulurkan tangannya.


" Aku Luci Kak, adiknya Kak Davi." Sahut Luci menjabat tangan Ria.


" Ayo kita ke kamar." Ajak Davian menarik tangan Ria.


Setelah sampai di dalam kamar Davian melempar kasar tubuh Ria ke atas ranjang. Ia menatap nyalang ke arah Ria membuat Ria ketakutan.


" Mas... Kau kenapa?" Tanya Ria.


" Aku akan menyudahi sandiwaraku selama ini Vale." Sahut Davian.


" San.. Sandiwara?" Tanya Ria.

__ADS_1


" Yah... Aku pura pura menyukaimu supaya aku bisa dengan mudah mendapatkanmu, dan akhirnya terwujud juga kan? Aku sangat bahagia Vale." Ucap Davian menindih tubuh Ria.


" Apa maksudmu pura pura Mas? Kenapa kamu lakukan semua ini padaku?" Tanya Ria.


" Yah aku pura pura mencintaimu karna aku ingin balas dendam kepadamu atas kepergian ibuku." Bentak Davian.


Jeduarrrrr....


Tubuh Ria terasa kaku seperti tersengat aliran listrik. Balas dendam?


" Kau ingat pria cupu yang menyatakan cintanya padamu saat kau masih bersekolah dulu?" Tanya Davian.


Ria mencoba mengingatnya tapi hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak mengingat sosok pria di depannya.


" Aku tidak mengingat apa apa Mas." Sahut Ria.


" Apa kau juga lupa kalau waktu itu kau menghadangku di depan apotik?" Selidik Davian.


" Aku tidak melakukannya, sebenarnya apa masalahnya Mas?" Tanya Ria.


" Karna kau.... Karna kau menghadangku waktu itu aku jadi terlambat pulang untuk memberikan obat itu pada ibuku Vale, Ibuku meninggal saat aku sampai rumah dan semua itu gara gara kamu Valeria." Bentak Davian menekan tubuh Ria hingga membuat dada Ria terasa sesak.


" Masss... aku sama sekali tidak mengingatnya, mungkin saja itu bukan aku." Lirih Ria.


" Bukan kamu lalu siapa lagi? Aku ingat betul wajahmu ini Vale...." Sahut Davian mengelus pipi Ria.


" Karna kamu hidupku dan adikku menjadi menderita, kau akan menanggung akibat dari perbuatanmu itu, aku akan membuatmu seperti hidup di neraka hingga kau tidak tahan dan mengakhiri hidupmu sendiri, dengan begitu dendamku akan terbalaskan." Ucap Davian.


Srekkkk...


Davian menarik kasar gaun yang di pakai Ria hingga robek.


" Mas apa yang akan kamu lakukan? Jika memang aku melakukan kesalahan itu aku minta maaf Mas, tapi tolong jangan hina aku dengan berbuat seperti ini." Ujar Ria.


" Kau akan tahu bagaimana di perlakukan layaknya sampah Vale, sama seperti aku yang selalu di anggap sampah oleh masyarakat setelah kepergian ibuku." Teriak Davian.


Davian melucuti pakaian dalam Ria dengan membabi buta.


" Jangan Mas... Jangan perlakukan aku dengan kasar seperti ini, kita bisa membicarakannya dengan baik baik... Mungkin kau salah orang Mas.." Ucap Ria.


" Jangan berharap aku akan memperlakukanmu dengan lembut Vale." Ucap Davian.


Dan benar saja, Davian memaksakan kehendaknya kepada Ria dengan kasar. Awalnya Ria memberontak tapi apalah daya kekuatannya kalah jauh dari Davian yang seperti orang kesetanan. Davian terus menggaga** tubuh Ria dengan beringas. Ria hanya bisa mengeluarkan air matanya meratapi nasib buruk yang sedang dia alami. Dia menjadi ajang balas dendam tanpa Ia melakukan apa apa. Setelah puas dengan apa yang Davian lakukan dan mendapat beberapa kali pelepasan, Davian meninggalkan Ria begitu saja dengan kondisi Ria yang acak acakkan.


" Minumlah pil penunda kehamilan! Aku tidak mau mempunyai anak dari wanita pembunuh sepertimu." Ucap Davian.


Hati Ria sakit bagai di sayat sembilu. Bukan saja hatinya tapi juga fisiknya. Davian benar benar memperlakukannya dengan kasar layaknya seekor hewan. Davian tidak punya hati nurani untuk mengasihinya. Bahkan saat ini Ria lebih memilih mati dari pada harus hidup bersama dengan pria tidak waras seperti Davian.


" Hiks.... Hiks... Mami... Papi... tolong aku, aku salah telah memilihnya menjadi pendamping hidupku.... Hiks... Hiks... Aku menyesal telah percaya kepadanya hingga aku terbuai dengan kebaikannya, Siapa sebenarnya yang melakukan hal buruk kepadanya hingga aku yang harus menanggung akibatnya seperti ini." Isak Ria. Tiba tiba terlintas dalam pikiran Ria jika Cia lah yang melakukannya. Ia ingat saat Cia bercerita tentang cowok culun yang mengatakan cinta padanya tapi Cia menolaknya


" Cia.... Apakah benar Cia yang melakukannya? Ya aku yakin itu pasti Cia, baiklah aku akan menebus kesalahan Cia sampai Cia kembali, aku tidak akan mengatakan jika aku punya saudara, aku yakin jika Davian tahu soal itu Ia tidak akan melepas Cia begitu saja, biarlah aku yang menanggung kebenciannya, bertahanlah sampai Cia kembali Ria, setelah itu apapun yang terjadi aku akan pergi dari sini." Ujar Ria berjalan menuju kamar mandi menahan sakit di bagian bawahnya.


TBC.....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...

__ADS_1


Miss U All....


__ADS_2