Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
89. Cia & Ria


__ADS_3

Setelah keluar dari mobil, Irvan berlari menuju unit apartemennya. Setelah masuk Ia langsung menuju kamarnya.


Brak....


Irvan mendorong kasar pintunya. Ia menatap ke arah Cia yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya, jangan lupakan headseat menempel di telinganya.


" Sayang." Panggil Irvan menghampiri Cia.


Irvan duduk di tepi ranjang di samping Cia.


" Sayang kamu salah paham, dia bukan putraku Yank, aku tidak pernah melakukan apapun dengan Elin." Ujar Irvan mencoba menjelaskan semuanya.


Cia tidak bergeming, Ia justru menirukan lagu yang sedang di putar pada ponselnya.


" Oh mungkinkah diri ini, dapat merubah buih yang memutih..... Menjadi permadani seperti pinta yang kau ucap dalam janji cinta." Seru Cia dengan suara khasnya saat bernyanyi.


" Yank dengerin aku kenapa sih." Kesal Irvan.


Cia tetap tidak bergeming membuat Irvan semakin kesal, Irvan melepas paksa headseat yang sedang di pakai Cia. Cia menata Irvan dengan tatapan nyalang.


" Apa sih rese' banget jadi orang." Cebik Cia merebut headsaetnya kembali.


" Kalau suami mau jelasin sesuatu itu dengerin Yank." Ujar Irvan.


" Gue nggak tertarik, itu masalah lo bukan masalah gue." Ketus Cia membuat Irvan melongo. lo? gue?....


" Sayang waktu itu orang tua Elin minta bantuan sama aku terus....


" Udahlah Mas terserah kamu aja, mau dia anak kamu atau bukan aku nggak nggak peduli, yang jelas jika terbukti kamu ayah biologisnya maka aku akan menggugatmu." Sahut Cia memotong ucapan Irvan.


" Besok ikut aku ke rumahnya supaya kamu tahu kebenarannya." Ucap Irvan keluar dari kamarnya.


Cia menatap punggung Irvan yang sudah menghilang.


" Bodo' amat lah....." Ujar Cia.


" Arghhhh..... Kenapa nasib gue sial banget gini sih? Gimana kalau beneran anak itu anaknya Mas Irvan? Apa yang bakal gue lakukan? Kalau gue gugat Mas Irvan, entar Elin yang menang donk! Tapi kalau aku di suruh menerima anak itu, yang ada setiap hari gue darah tinggi karena nahan emosi melihat wajahnya.... Ah.... Ya Tuhan.... Kenapa ujianmu menyulitkan aku? Kau tahu bukan kalau gue paling tidak bisa nahan emosi dan rasa kecewa, pengin gue bejek bejek tuh Mas Irvan sama Elin, awas aja kalau benar mereka punya hubungan sebelumnya." Gerutu Cia menarik kasar rambutnya.


" Gue telepon Ria aja, gue ingin tahu solusi apa yang Ria berikan pada gue." Ujar Cia.


Cia mengambil ponselnya, Ia mencoba menelepon Ria. Telepon tersambung, tak berapa lama Ria mengangkat teleponnya.


" Halo Cia, apa kabar?" Sapa Ria di sebrang sana.


" Gue sedang nggak baik Ri." Sahut Cia.

__ADS_1


" Nggak baik gimana? Apa kamu sakit? Atau mungkin kamu dalam fase nyidam?" Selidik Ria.


" Hati gue sakit Ri...." Ujar Cia.


" Sakit kenapa Cia? Coba ceritakan padaku, aku akan membantumu." Ujar Ria.


" Apa yang akan lo lakuin kalau seandainya suami lo punya anak dari wanita lain?" Tanya Cia.


" Apa? Anak dari wanita lain? Apa kamu melihat Mas Davi bersama wanita lain dan anaknya?" Pekik Ria menatap Davian yang sedang duduk bersandar pada headboard.


Merasa namanya di sebut, Davian menatap Ria yang sedang menatapnya dengan tatapan nyalang.


" Kenapa sayang? Anak siapa? Wanita lain yang mana?" Tanya Davian menghampiri Ria.


Ria mengisyaratkan Davian untuk Diam menggunakan telunjuknya.


" Cia sebenarnya apa yang ingin kau beritahukan kepadaku?" Tanya Ria.


" Mas Irvan punya anak dari wanita lain Ri." Sahut Cia.


" Apa? Tidak mungkin Cia, kamu jangan ngada ngada deh." Pekik Ria.


" Bagaimana jika itu kebenaran Ria? Gue mau tahu apa yang harus gue lakuin? Apa gue harus berpisah dari Mas Irvan? Hati gue sakit Ri, gue kecewa..." Ujar Cia.


" Cia kamu jangan gegabah, jangan mengambil keputusan karena kamu kesal, pastikan dulu kebenarannya, siapa tahu itu hanya salah paham saja Ci." Ucap Ria.


" Kalau kamu memang benar benar mencintai suamimu, maka kamu terima saja anak itu, bukankah kamu juga ingin memiliki anak? Anggap anak itu sebagai anakmu sendiri Cia." Ujar Ria.


" Hati gue tidak selembut hati lo Ria, bagi gue semua ini terasa sangat berat Ri." Ujar Cia.


" Bersabarlah Cia semua orang punya masa lalu, baik itu buruk ataupun baik, pastikan dulu kebenarannya, setelah itu akan kita pikirkan langkah selanjutnya." Sahut Ria.


" Baiklah Ria, terima kasih udah mau mendengar curhatan gue dan terima kasih atas sarannya, akan gue pikirkan." Ucap Cia.


" Sama sama." Sahut Ria menutup teleponnya.


" Ada masalah dengan Cia?" Tanya Davian memeluk Ria dari belakang, sehingga memudahkannya mengelus perut Ria yang sudah membuncit.


" Iya Mas, tapi masalahnya belum jelas kebenarannya, jadi aku memintanya memastikan kebenarannya dulu." Sahut Ria.


" Biarkan Cia yang mengatasinya sendiri, kamu tidak perlu membebani pikiranmu dengan masalah Cia, karena itu akan berpengaruh kepada anak kita sayang." Bisik Davian mengendus leher Ria membuat tubuh Ria meremang.


" Iya Mas, aku hanya memberikan solusi aja karna Cia sedang bingung saat ini, apalagi Cia itu gegabah dalam mengambil keputusan Mas, aku tidak mau Cia menyesal atas keputusannya sendiri." Sahut Ria.


Davian menuntun Ria menuju ranjang.

__ADS_1


" Duduk sini." Ucap Davian.


Ria duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah, sedangkan Davian berlutut di depannya.


" Sayangnya Papa sedang apa di dalam sini hmm?" Tanya Davian menempelkan telinganya pada perut Ria.


Dugh.... Dugh....


" Mau menjawab Papa ya, sehat sehat ya sayang, Papa sudah tidak sabar menanti kehadiranmu, Papa sangat menyayangimu sayang... Maafkan Papa yang pernah membuat kalian menderita." Ujar Davian mendongak menatap Ria.


" Sayang maafkan aku yang pernah membuatmu menderita, sampai saat ini masih ada rasa bersalah bersarang di dalam hatiku, aku tidak menyangka jika aku bisa menjadi pria keji seperti itu sayang, maafkan aku." Sambung Davian menggenggam tangan Ria.


" Tidak perlu di ungkit lagi Mas, aku tidak mau sampai anak kita tahu bagaimana rumah tangga kita di awal pernikahan, biarlah semua itu menjadi kenangan buruk yang tidak perlu kita ingat Mas." Ucap Ria menangkup wajah Davian.


" Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf padaku Mas, aku mencintaimu sebelum pernikahan ini terjadi, dan rasa cinta itu tidak akan hilang sampai aku tidak bisa bernafas lagi, jadi sekarang jangan pernah pernah mengungkit hal itu lagi, bukan hanya aku yang terluka, tapi kamu dan Luci juga Mas, aku takut rasa trauma Luci akan kembali lagi." Sambung Ria.


Davian langsung memeluk erat tubuh Ria, walau sedikit sulit karena terhalang perut Ria.


" Terima kasih sayang, kau memang wanita terbaik di dunia ini, hatimu lembut bagai malaikat sayang, aku selalu berdoa semoga kita selalu bahagia, dan anak anak kita kelak akan mewarisi sikapmu ini, aku tidak mau mereka sepertiku." Ujar Davian mencium pipi Ria.


" Aku juga berterimakasih padamu Mas karena kamu membuktikan kalau kamu sudah berubah, itu terbukti karena sekarang kamu begitu menyayangiku." Sahut Ria.


" Aku akan menebus sikap burukku kepadamu dengan menyayangimu dan selalu membuatmu bahagia." Ucap Davian.


" Aku bahagia Mas, sangat bahagia." Sahut Ria.


" Aku mencintaimu." Ucap Davian.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Ria.


Keduanya saling berpelukan meluapkan perasaan bahagia dan rasa syukur kepada Tuhan, karena selama ini tidak ada masalah yang datang menghampiri rumah tangga mereka.


Yang minta Part Ria udah author kasih ya....


Bagaimana dengan konflik Irvan dan Cia???


Kita akan selesaikan di bab berikutnya atau mau di perpanjang nih konfliknya?


Tulis di kolom komentar ya....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar authornya semangat ya....


Terima kasih untuk para reader yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2