Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
102. Menanti Kabar Bahagia


__ADS_3

Cia mengerjapkan matanya kala mendengar suara alarm pada ponselnya yang Ia stel jam enam pagi.Tiba tiba perutnya terasa mual tidak karuan. Ia langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi sambil membekap mulutnya.


Huek.... Huek....


Cia memuntahkan cairan bening dari mulutnya.


Irvan membuka matanya kala sayup sayup mendengar suara orang muntah.


Huek.... Huek.....


Irvan menatap ke ranjang di sisinya yang ternyata kosong, Ia langsung menyusul Cia di kamar mandi.


" Sayang kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Irvan memijat tengkuk Cia.


Huek.... Huek...


Cia membasuh mulutnya dengan air bersih, setelah itu Ia mengusapnya dengan tisu.


" Udah mendingan?" Tanya Irvan yang di balas Cia dengan anggukan kepala.


" Udah Mas." Sahut Cia.


Irvan menggendong Cia menuju ranjangnya. Ia merebahkan tubuh Cia dengan pelan.


" Aku buatkan teh hangat ya." Ujar Irvan.


" Nggak mau Mas, aku pengin jus stroberi aja." Sahut Cia.


" Sayang ini masih pagi lhoh, nggak baik minum jus di jam segini, perutmu akan terasa perih sayang." Ujar Irvan.


" Ya udah nggak usah, aku nggak mau minum apa apa." Sahut Cia.


Dan tanpa kepekaannya Irvan justru naik kembali ke atas ranjang, lalu Ia memejamkan matanya. Cia mendengus kesal melihat sikap Irvan. Ia mengambil ponselnya lalu menekan nomer dengan kontak " Abang Sayang"


" Halo Cia, ada apa?" Rupanya yang menjawab bukan Nathan tapi Valen.


" Abang mana Kak?" Tanya Cia membuat Irvan menatap ke arahnya.


" Abang lagi gendong Erald, sebentar ya." Sahut Valen.


" Mas Cia nanyain kamu nih." Ucap Valen mendekati Nathan. Valen mendekatkan ponsel ke telinga Nathan.


" Halo Cia, ada apa sayang?" Tanya Nathan sambil menimang Erald.


" Bang aku mau jus stroberi, Abang beliin dan anterin sekarang." Ucap Cia.


" Sepagi ini mau di anterin jus stroberi? Kenapa harus Abang? Emang Irvan kemana?" Tanya Nathan.


" Aku maunya Abang yang beliin, buruan Bang kalau tidak aku akan marah, aku akan mengacak acak seisi apartemen ini." Ancam Cia.


Nathan menatap Valen yang menganggukkan kepala kepadanya.


" Baiklah Abang akan segera datang membawa pesananmu." Sahut Nathan. Valen mematikan sambungan teleponnya.


" Hah ada ada aja Cia, dia selalu membuatku dalam kesulitan." Gerutu Nathan.


" Aku berharap akan ada kabar gembira dari Cia Mas." Ucap Valen.

__ADS_1


" Maksudmu?" Tanya Nathan.


" Aku rasa saat ini Cia sedang ngidam Mas." Ujar Valen.


" Apa? Benarkah?" Tanya Nathan.


" Kita lihat saja nanti, ya udah buruan gih berangkat nanti ponakan kita ileran, jangan lupa mampir apotik ya Mas beli alat tes kehamilan." Sahut Valen.


" Ah iya, Erald sama Mami dulu ya Papi mau membeli jus untuk calon adikmu dari tante Cia." Ujar Nathan memberikan Erald pada Valen.


" Mas berangkat ya Yank." Ucap Nathan.


" Iya Mas hati hati." Sahut Valen.


Nathan mencium kening Valen, lalu pindah ke bibir Valen. Ia mencecap bibir Valen dengan lembut.


" Manis." Ucap Nathan.


" Udah buruan Mas keburu Cia marah nanti." Ujar Valen.


" Ah iya lupa." Sahut Nathan.


" Assalamu'alaikum sayang." Ucap Nathan.


" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Valen.


Nathan berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya kembali.


Sedangkan di kamar Cia, Ia sedang berdebat dengan Irvan soal jus stroberi.


" Kamu ngapain minta itu sama Bang Nathan? Aku bisa beliin sayang." Ucap Irvan.


" Bukan tidak mau, tapi tunggu nanti siangan sedikit sayang, perutmu akan perih jika minum jus stroberi di pagi hari." Ujar Irvan.


" Aku tuh penginnya minum sekarang Mas, ibarat orang mau buang air, kebeletnya sekarang masa' suruh ngeluarinnya nanti, gimana kamu sih Mas." Sahut Cia.


" Ya bedalah sayang, kamu ini memang keras kepala ya." Ujar Irvan.


" Ya kau benar, aku memang keras kepala, sekarang aku tanya padamu Mas, kalau seandainya Kak Valen yang memintamu untuk membelikannya sekarang, apa yang akan kamu lakukan Mas?" Tanya Cia membuat Irvan gugup.


" Ya aku akan membelikannya sekarang lah, kalau tidak nanti aku di pecat." Sahut Irvan.


" Kamu melakukannya karen kamu menganggap itu sebuah pekerjaan atau karna kamu peduli dengan Kak Valen?" Cia bertanya lagi.


Irvan menatap Cia yang kini sedang menatapnya.


" Aku peduli pada Valen karna dia atasanku, dia bosku Cia." Sahut Irvan.


" Bukan krna kamu ada perasaan dengannya?" Selidik Cia.


Deg....


Jantung Irvan berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Cia.


" Kenapa Cia bicara seperti itu? Apa dia tahu jika aku pernah suka dengan Valen?" Tanya Irvan dalam hatinya.


" Kenapa Mas? Apa kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan dari kami semua? Kau salah jika kau pikir aku tidak menyadarinya." Ujar Cia.

__ADS_1


" Aku tahu kalau selama ini wanita yang berhasil mencuri hatimu itu Kak Valen, bosmu sendiri." Sambung Cia.


" Ya aku akui kalau aku pernah menyukai Valen tapi itu sudah berlalu, sejak aku menikahimu cinta itu berpaling ke arahmu, dan saat ini aku hanya mencintaimu bukan Valen ataupun yang lain." Ungkap Irvan.


" Aku memang tidak mengatakannya pada siapapun, karna aku takut ungkapan perasaanku malah merenggangkan hubunganku dengan Valen dan Om Alex, apalagi aku melihat Valen tidak pernah menganggapku sebagai pria, dia hanya menganggapku sebagai temannya, belum lagi setelah mendengar kalau Valen ternyata di jodohkan dengan anak teman Om Alex yang tak lain adalah Abangmu, aku tidak bisa berbuat apa apa, aku sadar diri dan memendam perasaan itu dalam dalam, aku kira hanya aku saja yang tahu tapi ternyata aku salah." Ujar Irvan.


" Selain itu aku memikirkan diriku sendiri, kau juga tahu sendiri kan kalau aku sudah tidak punya siapa siapa lagi, aku hanya punya mereka berdua sebagai atasan sekaligus sebagai keluargaku, aku tidak mau membuat Om Alex kecewa karna aku menyimpan perasaan pada putrinya, sejak kecil Cia.... Sejak kecil rasa itu sudah tumbuh dalam hatiku, aku selalu berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan diriku untuk tidak mengungkapkannya kepada Valen, aku tersiksa... Aku sangat tersiksa Cia." Terang Irvan.


" Aku mengerti apa yang kamu rasakan Mas, aku tidak mempermasalahkan semua itu, kita berdua sama sama punya masa lalu, sekarang kita harus memikirkan untuk masa depan kita." Sahut Cia menangkup wajah Irvan.


" Terima kasih sayang." Sahut Irvan.


Tanpa mereka ketahui jika Nathan berada di depan pintu dan mendengar semua ucapan mereka.


" Jadi selama ini Irvan menyukai Valen, aku salut padamu Van, kamu mampu menahan dirimu selama ini, aku saja yang baru melihat Valen sekali tidak bisa menahan diriku, aku langsung menginginkan Valen menjadi milikku." Batin Nathan.


" Abang." Ucap Cia yang baru sadar ada Nathan di depan pintu.


" Ini pesanannya." Ucap Nathan memberikan kantong plastik kepada Cia.


" Abang sudah dari tadi?" Tanya Cia khawatir Nathan mendengar ucapan Irvan.


" Belum, baru saja Abang mau mengetok pintu kamunya udah lihat Abang duluan." Kilah Nathan.


" Owh... Makasih ya Bang." Ucap Cia membuka kantong plastik yang di berikan oleh Nathan.


Cia mengernyitkan keningnya saat mendapati benda kecil di dalamnya.


" Apa ini Bang?" Tanya Cia mengamati benda itu.


" Itu titipan dari Kakakmu, silahkan di coba siapa tahu akan ada kabar bahagia Cia." Sahut Nathan.


Cia tahu betul maksud dari Abang dan Kakaknya. Kenapa Ia tidak berpikir ke arah situ? Pikir Cia.


" Apa itu sayang?" Tanya Irvan.


" Alat tes kehamilan Mas." Sahut Cia.


" Kamu mau mencobanya?" Tanya Irvan.


" Iya, aku akan mencobanya, doakan agar aku mendapat kabar baik Mas." Ujar Cia.


" Tentu sayang." Sahut Irvan.


Cia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencoba dua tespack sekaligus. Setelah sepuluh menit Cia keluar dari kamar mandi.


" Gimana hasilnya Cia?"


" Gimana hasilnya sayang?" Tanya Nathan dan Irvan bersamaan.


*Cia jawab apa nih?????


Jangan lupa like vote koment dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport authir semoga sehat selalu....


Miss U All*....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2