Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Temu Kangen


__ADS_3

Mobil Jordan sampai di halaman rumahnya. Nesha menuntun Nathan berjalan menuju rumah sedangkan Jordan menggendong Gama.


" Langsung ke kamar aja Nes." Ucap Jordan berjalan mendahului Nesha menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Ayo sayang, Mami gendong atau...


" No, Bang Athan jalan sendiri." Tolak Nathan mulai menaiki anak tangga.


" Baiklah anak pintar." Sahut Nesha.


Ceklek....


Jordan membuka pintu kamarnya. Sifa yang sedang berbaring di atas ranjang menoleh ke arahnya.


" Mama.... Papa bawa Dek Gama dan Bang Nathan nih." Seru Jordan menghampiri Sifa.


" Sayang.. Mama kangen banget sama kamu sama Bang Nathan." Ucap Sifa dengan mata berbinar.


Sifa duduk bersandar pada headboard. Ia memangku Gama dengan hati hati takut mengenai perutnya.


" Duh Adek Gama sekarang udah tambah besar aja ya, Padahal Mama nggak lihat beberapa minggu saja." Ujar Sifa mengelus pipi Gama lalu menciuminya.


Nathan berdiri di depan pintu menatap Sifa yang saat ini menoleh ke arahnya.


" Bang Nathan nggak kangen sama Mama nih? Nggak mau peluk Mama?" Tanya Sifa.


Nathan mendongak menatap ke arah Nesha, Nesha menganggukkan kepalanya. Sifa mendudukkan Gama di kasurnya. Nathan berjalan menghampiri Sifa lalu memeluknya.


" Mama kangen banget sama kamu Bang." Ucap Sifa.


" Bang Athan juga kangen sama Mama." Sahut Nathan.


" Kalau kangen kenapa tidak pernah ke sini jenguk Mama? Mama sakit lhoh Bang." Ucap Sifa.


Nathan melepas pelukannya, Ia menatap wajah Sifa yang terlihat pucat.


" Maaf Ma." Ucap Nathan sambil menunduk.


" Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu sayang, Maafin Mama sama Papa yang belum bisa jadi orang tua yang baik untuk kamu ya, Mama dan Papa tidak bisa seperti Mami dan Papi kamu sayang." Ujar Sifa meneteskan air matanya.


" Sayang jangan bersedih, Sekarang Nathan sudah ada di sini jadi kamu tidak boleh sedih lagi kamu harus bahagia, Kasihan Babbynya kalau kamu stres terus." Ucap Jordan.


" Iya Mas." Sahut Sifa mengusap air matanya.


Nathan hanya melihatnya saja mendengar ucapan Jordan Nathan semakin bisa menilai akan ketulusan yang ke empat orang tuanya berikan kepadanya.


" Sini sayang cium Mama." Ujar Sifa.


Sifa menciumi pipi Nathan begitupun sebaliknya.


" Maaf ya Sif baru bisa ke sini sekarang." Ujar Nesha.


" Nggak pa pa Nes aku tahu kesibukanmu kok, Makasih ya udah bawa mereka ke sini." Sahut Sifa.


" Sayang kamu belum makan?" Tanya Jordan menatap Sifa. Sifa menggelengkan kepalanya.


" Kenapa? Kamu harus makan donk sayang biar ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kamu sebelum kamu membuangnya lagi." Omel Jordan.


" Aku nggak selera makan Mas." Sahut Sifa.


" Harus di paksain sayang." Ujar Jordan.


Sifa melirik ke arah Nathan, Senyum mengembang di sudut bibirnya.


" Mas aku mau makan di suapi sama Bang Nathan." Ucap Sifa.


Mendengar namanya di sebut Nathan menatap ke arah Sifa.


" Bang Nathan mau nggak menyuapi Mama?" Tanya Sifa dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


" Iya sayang coba suapi Mama Sifa, Siapa tahu kalau Nathan yang nyuapi Mama Sifa nggak muntah lagi." Ujar Nesha.


" Emang bisa gitu ya Mi?" Tanya Nathan.


" Bisa sayang kan Dedek bayinya yang pengin di suapi sama Bang Nathan." Sahut Nesha.


" Iya deh." Sahut Nathan.


Nathan duduk di samping Sifa sambil memangku piring berisi makanan untuk Sifa. Dengan sedikit kesusahan Nathan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Sifa. ( Kebayang si bontot nyuapin author kalau lagi sakit, Umurnya sama kaya' Nathan tiga tahun setengah).


Sifa menunduk menerima suapan dari tangan Nathan. Satu suap dua suap sampai suapan terakhir telah Sifa habiskan tanpa merasa mual.


" Apa mual sayang?" Tanya Jordan.


" Enggak Mas." Sahut Sifa menggelengkan kepalanya.


" Wah tangan Bang Nathan benar benar ajaib, Makasih sayang udah mau menyuapi Mama." Ucap Jordan mengelus pucuk kepala Nathan.


" Iya Pa." Sahut Nathan.


Sifa meminum obatnya setelahnya Ia bermain main dengan Nathan dan Gama di atas ranjangnya.


" Hari ini aku bahagia banget Nes setidaknya aku tidak kesepian." Ucap Sifa.


" Sebenarnya kemarin kemarin aku mau ke sini, Tapi mau bagaimana lagi Nathannya belum mau, Maaf ya aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk kamu." Ujar Nesha.


" Nggak pa pa aku ngerti kok Nes, Nggak baik juga kalau Nathan di paksain entar dia tambah takut sama kami." Sahut Sifa.


Hari menjelang sore Nesha pamit pulang kepada Sifa dan Jordan karena Farhan sudah menjemputnya.


" Ayo sayang kita pulang." Ajak Farhan.


" Iya Mas." Sahut Nesha.


" Aku pamit pulang ya Sif, Lain kali aku akan ke sini lagi, Sehat sehat ya biar bisa kumpul lagi, Besok aku temenin belanja kebutuhan babby deh." Pamit Nesha.


" Pulang dulu Sif semoga cepat pulih ya." Ucap Farhan menggendong Gama.


" Makasih Kak udah minjemin mereka hari ini." Canda Sifa.


" Apaan sih kamu mereka milikmu juga kan." Sahut Farhan.


" Ha ha iya Kak." Sahut Sifa.


" Ma Bang Athan pulang dulu." Ucap Nathan menyalami Sifa.


" Hati hati sayang, Sering seringlah main ke sini temenin Mama ya." Ujar Sifa mencium pipi Nathan.


" Iya Ma." Sahut Nathan.


" Nggak pamit sama Papa?" Tanya Sifa yang di jawab gelengan kepala oleh Nathan.


" Ya udah nggak Papa." Ujar Sifa.


" Kami pamit Dan, Assalamu'alaikum." Ucap Farhan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Jordan.


Nesha menggandeng Nathan keluar kamar Sifa sedangkan Farhan menggendong Gama. Mereka menaiki mobil Farhan untuk sampai di rumahnya.


Malam hari setelah menidurkan Nathan dan Gama, Nesha kembali ke kamarnya. Ia menghampiri Farhan yang sedang duduk bersandar di atas ranjang memangku laptopnya.


" Udah mau tidur?" Tanya Farhan mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


" Iya Mas, Mas butuh sesuatu?" Tanya Nesha.


" Iya Mas butuh servis." Jawab Farhan.


Nesha tahu betul maksud dari ucapan Farhan. Ia tersenyum menatap suaminya.

__ADS_1


" Kan kamu lagi sibuk bekerja." Ujar Nesha.


" Aku akan menyelesaikannya sebentar lagi, Kamu bersiaplah." Ucap Farhan mengerlingkan matanya.


" Baiklah." Sahut Nesha.


Nesha turun dari ranjang menuju almari mencari gaun transparan yang biasa Ia gunakan di saat melakukan servis untuk suaminya. Ia mengganti bajunya di dalam kamar mandi.


Farhan menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Ia menghampiri Nesha yang sedang duduk di tepi ranjang sambil membuka kemejanya. Ia mendorong pelan tubuh Nesha di atas ranjang.


" Kamu selalu terlihat cantik di mataku sayang." Ucap Farhan mengelus pipi Nesha.


" Kau juga selalu terlihat tampan di mataku Mas." Sahut Nesha membelai wajah Farhan.


Farhan mendekatkan wajahnya ke wajah Nesha membuat Nesha memejamkan matanya. Ia mencecap bibir Nesha dengan lembut. Nesha membuka sedikit mulutnya membiarkan lidah Farhan menyusup ke dalam mulutnya. Farhan ******* lembut bibir Bedah. Nesha membalas ciuman Farhan dengan tak kalah lembutnya.


Ciuman itu semakin menuntut hingg membuat Farhan memulai permainannya. Ia memulainya dengan bermain main pada ceruk leher Nesha dan meninggalkan banyak jejak di sana.


" Mas jangan terlalu kentara atau aku akan bingung menjawab pertanyaan Nathan besok." Ujar Nesha menghentikan kegiatan Farhan.


" Di tutup pakai foundation aja sayang beres." Sahut Farhan melanjutkan aksinya.


Malam dingin tapi membuat kedua insan yang sedang di mabuk cinta menjadi kepanasan. Farhan memanjakan Nesha dengan penuh kelembutan membuat Nesha terbang melayang ke awang awang. Suara desah*n dan erang*n saling menyahut memenuhi ruangan kamar mereka. Nesha begitu terlena dengan permainan yang di mainkan oleh suami tercintanya.


Hingga dua jam lamanya akhirnya Farhan menyudahi permainannya karena keduanya sama sama sudah mendapat pelepasan yang luar biasa.


" Semoga segera hadir kembali mereka di sini." Ucap Farhan mencium perut Nesha.


" Kau menginginkannya?" Tanya Nesha di sela mengatur nafasnya.


" Iya... Sesuai keinginan Nathan kita harus memberinya banyak adik." Ucap Farhan.


" Tapi mereka masih kecil Mas, Gama juga belum genap satu tahun." Ujar Nesha.


" Kita hanya merencanakan, Tuhan yang menentukan sayang, Mau di kasih berapa bulan atau berapa tahun lagi yang penting kita sudah berusaha." Terang Farhan.


" Baiklah kalau begitu aku pun siap menerimanya." Sahut Nesha.


" Kalau begitu kita harus berusaha lebih keras lagi." Ucap Farhan penuh arti.


Dan benar saja Farhan kembali memulai permainannya di atas tubuh istrinya. Ia mulai memanjakan kembali tubuh Nesha dengan kelembutannya. Hingga menjelang pagi akhirnya keduanya sama sama terlelap ke alam mimpi.


TBC....


*Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Makasih untuk semua readers yang sudah mendukung author semoga sehat selalu...


Miss U All..


Mampir dan dukung juga karya author yang lain ya...




Pria cacat itu suamiku




Suamiku Kakak Angkatku




Ketik profile author lalu pilih karya ya... Author tunggu di sana*...

__ADS_1


__ADS_2