Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
101. Makan Siang Bersama


__ADS_3

Sesampainya di rumah utama, kelima orang yang baru saja tiba turun dari mobil lalu berjalan memasuki rumah.


" Assalamu'alaikum." Ucap Valen.


" Wa'alaikumsallam sayang, kalian sudah pulang." Sahut Mami Nesha.


" Iya Mi, Mi kenalin ini Tian pengacara yang membebaskan Davian dari kasusnya." Ucap Valen.


" Halo tante, aku Tian." Ucap Tian menyalami Mami Nesha dengan takzim.


" Panggil aja Mami Nesha, kamu temannya Valen kan?" Tanya Mami Nesha.


" Iya Tan." Sahut Tian.


" Wah... Mami kagum sama kamu, masih muda, ganteng, pengacara hebat lagi." Ujar Mami Nesha.


" Tante bisa aja." Sahut Tian.


" Mi aku ke kamar dulu ya mau lihat Erald." Ujar Valen.


" Iya sayang." Sahut Mami Nesha.


" Tian aku tinggal dulu ya." Ucap Valen menatap Tian.


" Ok." Sahut Tian.


Ria keluar dari kamarnya menghampiri Davian.


" Mas kamu pulang? Kamu bebaskan Mas? Kamu terbukti tidak bersalah kan Mas?" Tanya Ria memindai tubuh Davian.


" Tenanglah sayang! Aku sudah bebas sekarang, kenapa kamu ke sini hmm? Kamu belum pulih sayang." Ujar Davian menangkup wajah Ria.


" Aku khawatir sama kamu Mas, syukurlah kalau kamu sudah bebas." Sahut Ria memeluk Davian.


" Ayo kita ke kamar saja, kamu harus banyak banyak istirahat kan." Ujar Davian.


" Iya Mas." Sahut Ria.


" Maaf semuanya aku pamit mengantar istriku ke kamar dulu ya, nanti aku akan kembali lagi." Ucap Davian.


" Silahkan." Sahut semuanya.


" Silahkan duduk Nak Tian, Mami akan mengenalkan kamu dengan adik adik Valen." Ujar Mami Nesha.


" Iya Tante." Sahut Tian.


Mami Nesha membawa Tian ke ruang tamu. Ia memperkenalkan satu persatu keluarganya kepada Tian. Gama, Luci, Cia dan Papi Farhan satu persatu berkenalan dengan Tian.


" Nak Tian kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu." Ucap Papi Farhan.


" Ini memang sudah menjadi tugasku Om." Sahut Tian.


" Tapi kamu sampai rela jauh jauh terbang ke sini demi membantu kami." Ujar Papi Farhan.


" Tidak masalah Om, lagian Valen kan teman saya, jadi mau jauh ataupun dekat itu tidak masalah bagi saya." Sahut Tian.


" Kami juga berterima kasih kepadamu Van, tanpa kamu masalah ini juga tidak akan selesai." Ucap Papi Farhan.


" Sama sama Pi, tapi bolehkah aku meminta imbalan kepada Papi?" Tanya Irvan membuat semua orang menatap ke arahnya.

__ADS_1


" Apa maksudmu Mas? Kamu mau meminta bayaran dari Papi begitu?" Selidik Cia.


" Bukan! Tapi aku mau Papi membujuk Valen untuk mengembalikan gajiku menjadi utuh." Sahut Irvan.


" Kau licik sekali Van." Ucap Valen tiba tiba dari belakang Irvan sambil menggendong Erald.


Irvan menoleh ke belakang menatap Velan sambil nyengir.


" Kamu menggunakan Papi untuk membujukku, jangan mau Pi biarkan Irvan bertanggung jawab atas kesalahannya." Ujar Valen menghampiri Nathan.


" Anak Papi sayang, sini sama Papi." Ucap Nathan mengambil alih gendongan Erald. Nathan memangku Erald dengan hati hati.


" Dimana letak kesalahanku Len? Aku membawa Tian untuk membantu Davi, dan terbukti kan kalau kita berhasil membuktikan jika Davian tidak bersalah." Ujar Irvan.


" Kak Irvan benar Kakak ipar, kembalikan saja gajinya yang utuh, kan kasihan kalau gajinya berkurang banyak." Ujar Davian yang baru bergabung dengan mereka.


" Aku memotong atau tidak gaji Irvan itu sama saja Davi." Ucap Valen.


" Kok sama sih?" Tanya Davian mengerutkan keningnya.


" Gimana nggak sama kalau istrinya menguras semua isi dompet suamiku." Sahut Valen membuat semua orang bergantian menatap Cia, sedangkan yang di tatap hanya nyengir saja.


" He he maaf Kak." Ucap Cia.


" Tapi kamu tenang saja Van, sebagai tanda terima kasihku atas kerja kerasmu membantuku, maka aku tidak akan memotong gajimu." Ucap Valen.


" Beneran? Ah terima kasih Valen, apa kau tahu kalau gaji itu akan aku tabung buat anak anakku nanti." Pekik Irvan.


" Tapi kamu harus mengganti uang Mas Nathan yang di habiskan oleh Cia." Ujar Valen.


Glek....


Irvan menelan kasar ludahnya. Ia yakin uang Nathan yang di habiskan Cia tidak sedikit, karena Ia sudah melihat barang barang yang di beli oleh Cia kemarin. Bahkan Nathan harus menguras saldo di dalam atmnya hingga puluhan juta.


" Ya." Sahut Valen.


" Kau kejam Len, itu mah sama aja gajiku habis buat ganti uang Bang Nathan." Cebik Irvan.


" Enggak enggaklah aku cuma bercanda aja." Sahut Valen.


" Yakin?" Tanya Irvan yang di balas anggukan kepala oleh Valen.


" Terima kasih Kakak Ipar." Ucap Irvan.


" Dih geli gue." Sahut Irvan.


Tian mengembangkan senyum di sudut bibirnya. Ia tidak menyangka jika keluarga Valen benar benar harmonis. Tian menatap wajah Babby tampan yang sedang di pangku oleh Nathan.


" Hallo Babby, siapa namamu?" Tanya Tian mengelus lembut kepala Erald.


" Namanya Erald." Sahut Nathan.


" Erald? Nama yang keren sekeren orangnya." Ujar Tian.


" Iya lah, besok kalau Erald udah besar gantengnya ngalahin Papinya." Sahut Valen.


" Jelas lah dari kecil aja udah kelihatan, berapa bulan Len kok pipinya temben amat bikin gemes deh." Ujar Tian.


" Satu bulan lebih beberapa hari." Sahut Valen.

__ADS_1


" Mirip bayi bayi luar negeri." Ujar Tian menoel pipi Erald.


" Kan Papinya ganteng kaya' artis luar negeri." Sahut Nathan.


" Geer." Cebik Tian.


" Kalau gue nggak ganteng, Valen nggak akan terpikat sama gue bro." Ujar Nathan.


" Ya ya... Terserah lo aja." Sahut Tian.


" Sudah sudah kalian ini." Ujar Valen menggelengkan kepalanya.


" Baiklah sekarang keluarga kita sudah berkumpul, Davian kami semua ingin mengucapkan selamat kepadamu, selamat karena kamu terbebas dari tuduhan yang di ajukan oleh pihak kepolisian, kami turut bahagia atas semua ini, kami bahagia akhirnya sekarang kalian bertiga bisa hidup dengan tenang tanpa bayang bayang berada dalam penjara lagi." Ucap Papi Farhan.


" Iya Pi, aku ucapkan terima kasih untuk kalian semua, terima kasih untuk doa yang kalian berikan kepadaku, aku yakin tanpa doa kalian semua ini tidak akan mudah untuk di buktikan, apalagi semua bukti bukti yang Reno berikan mengarah kepadaku." Sahut Davian.


" Sekali lagi aku ucapkan banyak banyak terima kasih kepada Kakak Ipar Valen, Irvan dan Tuan Christian yang telah banyak membantuku, tanpa adanya kalian aku tidak mampu membuktikan jika aku tidak bersalah, semoga Tuhan memberikan kalian suatu kebahagiaan yang kekal dan abadi di masa depan." Sambung Davian.


" Amien." Seru mereka serempak.


" Sekarang ayo kita makan siang bersama, semuanya sudah siap di meja makan." Ucap Mami Nesha.


" Baiklah Mi, ayo." Sahut Gama menggenggam tangan Luci.


" Mari Nak Tian." Ajak Papi Farhan.


" Iya Om." Sahut Tian beranjak dari duduknya.


Semua orang menuju meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah Mami Nesha siapkan.


Valen mengambilkan makanan untuk Nathan, karena saat ini Nathan sedang memangku Erald.


" Makan dulu Mas, biar Erald sama aku saja." Ucap Valen menyajikan makanan di depan Nathan.


" Kamu juga harus makan donk, biar nanti Erald kenyang saat minum asi kamu." Sahut Nathan memberikan Erald kepada Valen.


" Aku nanti aja Mas, kamu makan dulu aja." Ujar Valen.


" Nggak boleh telat makan Yank, aku akan suapi kamu." Sahut Nathan.


" Malu Mas banyak orang." Ujar Valen saat Nathan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Valen.


" Nggak perlu malu Kak, kami semua akan tutup mata." Ujar Cia.


" Kamu dengar kan? Sekarang ayo makan nanti malah makanannya jatuh ke tubuh Erald sayang." Ujar Nathan.


" Baiklah hati hati, jangan sampai Erald ke jatuhan makanannya." Sahut Valen pasrah karena memang sebenarnya Valen merasa lapar saat ini.


Tian menatap bahagia ke arah dua sejoli yang nampak romantis di matanya.


" Aku bahagia melihatmu bahagia seperti ini Len, semoga suatu saat nanti aku akan mendapatkan giliran merasakan kebahagiaan sepertimu." Batin Tian melanjutkan makannya.


TBC.....


Babnya masih slow ya... kita lupakan konflik untuk sesaat...


Udah double up nih harus di kasih hadiah ya buat author...


Jangan lupa like koment vote di setiap babnya...

__ADS_1


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Miss U All....


__ADS_2