
Nesha mengerjapkan matanya, Kepalanya berdenyut nyeri, Semuanya terasa berputar. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru kamar seakan tubuhnya melayang ke udara. Rasanya tidak karuan.
" Mas...." Panggil Nesha. Tidak ada sahutan.
" Mas Farhan." Teriak Nesha.
" Awh." Nesha memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Nesha meraba raba ponselnya di atas nakas. Ia mencoba telepon Farhan.
" Iya sayang gimana?" Tanya Farhan setelah mengangkat teleponnya.
" Mas... Dimana? Ke kamar Mas kepalaku pusing banget." Lirih Nesha.
" Ah iya sayang tunggu." Farhan menutup teleponnya. Ia berlari dari dapur menuju kamarnya.
Ceklek....
" Ada apa sayang? Mana yang sakit? Sakit banget ya." Ucap Farhan cemas sambil berjalan menghampiri Nesha.
" Mas.. Mual, Pengin muntah." Ucap Nesha.
Farhan langsung menggendong Nesha ala bridal style menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Ia menopang tubuh Nesha di depan wastafel.
Huek..... Huek.....
Nesha memuntahkan seluruh isi perutnya sedangkan Farhan memijat pelan tengkuk Nesha.
" Masih mual?" Tanya Farhan di jawab anggukan dari Nesha.
Huek.... Huek...
" Masss lemes." Lirih Nesha.
Farhan membersihkan mulut Nesha dari sisa muntahnya, Ia mengelap mulut Nesha dengan tisu.
" Udah baikan?" Tanya Farhan.
" Udah Mas." Sahut Nesha.
Farhan kembali menggendong Nesha kembali ke ranjangnya. Ia merebahkan tubuh Nesha dengan pelan, Farhan menata tumpukan bantal untuk bersandar Nesha.
" Kenapa hm? Apa kamu demam?" Tanya Farhan menyentuh kening Nesha.
" Nggak panas Yank." Ucap Farhan.
" Mas kepalaku sakit banget." Ucap Nesha.
" Mas pijit ya." Ujar Farhan sambil membuka jasnya.
Farhan duduk disamping Nesha, Tangannya mulai memijat kepala Nesha.
" Sayang kita ke rumah sakit ya." Ujar Farhan.
" Enggak usah Mas aku mau kamu belikan aku tespack aja." Sahut Nesha.
" Tespack? Apa kamu udah telat sayang?" Tanya Farhan memastikan.
" Baru telat tiga hari sih Mas." Sahut Nesha.
" Ya udah aku suruh Mbak Nadia yang belikan, Kita beli tiga ya." Ujar Farhan.
" Iya Mas." Sahut Nesha.
Farhan keluar kamar bertepatan dengan Nathan yang menggandeng Gama hendak masuk ke kamarnya.
" Papi, Mami dimana? Kok belum turun?" Tanya Nathan.
" Mami lagi sakit sayang, Kalian mau sarapan?" Tanya Farhan.
" Nanti aja Pi, Abang mau nemuin Mami dulu." Sahut Nathan.
" Baiklah temui Mami sebentar setelah itu kita sarapan lalu berangkat sekolah ya." Ucap Farhan.
" Pi kalau Abang nggak masuk sekolah gimana? Abang pengin jagain Mami aja." Ujar Nathan.
" Gimana ya??? Abang masuk sekolah aja deh biar Mami Papi yang nemenin." Ujar Farhan.
__ADS_1
" Tapi Abang tidak akan bisa konsentrasi Pi, Pasi Abang kepikiran Mami terus, Kali ini aja Pi? Ijinin Abang merawat Mami." Ucap Nathan sok bijak membuat Farhan tersenyum.
" Baiklah sayang Papi ijinkan, Sekarang ganti dulu seragammu baru temui Mami, Sini Gama sama Papi aja." Ucap Farhan menggendong Gama.
" Baik Pi." Sahut Nathan kembali ke kamarnya.
Farhan berjalan menuju ruang laundry untuk mencari Mbak Nadia.
" Mbak bisa minta sebentar?" Tanya Farhan.
" Bisa Tuan, Ada apa ya?" Tanya Mbak Nadia meninggalkan pekerjaannya yang sedang mencuci.
" Tolong ke apotik beli tiga tespack dengan merk yang berbeda ya Mbak." Titah Farhan.
" Tespack? Apa akan ada kabar baik dari Nyonya Tuan?" Tanya Mbak Nadia memastikan.
" Doakan saja Mbak." Sahut Farhan.
" Baik Tuan semoga saya akan mendengar kabar bahagia dari Nyonya." Ujar Mbak Nadia.
" Ini uangnya Mbak." Ucap Farhan memberikan tiga lembar uang ratusan. Kalau author pakeknya yang lima ribuan Han 😆
" Baik Tuan." Sahut Mbak Nadia menerima uang itu.
Farhan kembali ke kamarnya.
" Pa.. Pa.. Pa." Oceh Gama.
" Apa sayang?" Tanya Farhan menciumi pipi gembul Gama.
" Mam.... Mam... Mi." Gama berceloteh.
" Iya kita temenin Mami ya." Ucap Farhan masuk ke dalam kamarnya.
Farhan menghampiri Nesha di ranjangnya, Ia mendudukkan Gama di sebelah Nesha.
" Apa sayang?" Tanya Nesha.
" Nen*n." Ucap Gama menarik baju Nesha bagian gunungnya.
" Sayang minum pake dot aja ya." Ujar Nesha.
" Mas aku takutnya kalau aku hamil, Kan nggak baik kalau aku ngasih asiku ke Gama." Ujar Nesha.
" Kan belum tentu sayang, Udah kasih aja dulu nanti kalau udah pasti baru kita sambung sufor ya." Ucap Farhan.
" Baiklah Mas." Sahut Nesha.
Nesha berbaring miring membuka kancing bajunya lalu mulai menyusui Gama.
" Mami." Teriak Nathan menghampiri Nesha.
" Iya sayang." Sahut Nesha.
" Kenapa belum bersiap?" Sambung Nesha.
" Mi kata Papi Mami lagi sakit, Jadi Abang ijin nggak sekolah buat ngerawat Mami aja di rumah, Abang pijitin kepalanya ya Mi." Ucap Nathan.
Ucapan Nathan membuatnya haru, Nathan benar benar menyayanginya. Lalu bagaimana jika Nathan tahu kalau dia bukan siapa siapa? Ia hanya ibu asuhnya, Apakah Nathan masih akan menyayangi Nesha seperti saat ini?
" Mami kok malah melamun si." Ujar Nathan.
" Ah iya sayang... Maaf." Ucap Nesha.
" Mana yang sakit Mi?" Tanya Nathan.
" Sini... Tangannya aja ya." Ujar Nesha.
Nathan memijat lengan Nesha dengan semangat.
" Enak nggak Mi?" Tanya Nathan.
" Iya.. Pijatan Abang mantap yakin." Sahut Nesha walau sebenarnya tidak berasa apa apa hanya seperti di elus elus saja.
" Nanti gantian Papi ya Bang." Ujar Farhan.
" Nggak mau kan Mami yang sakit." Sahut Nathan.
__ADS_1
" Abang mah sayangnya cuma sama Maminya doank." Cebik Farhan.
" Iya lah tanpa Mami Abang tidak akan sebesar ini, Abang tidak mau kehilangan Mami lagi seperti saat Abang masih kecil." Ujar Nathan.
Farhan dan Nesha saling pandang seolah memberi isyarat sedih mengetahui Nathan berpikiran seperti itu.
" Udah baikan belum Mi?" Tanya Nathan.
" Udah sayang... Sini bobok aja sama dedek." Ucap Nesha.
" Iya Mi." Sahut Nathan ikut masuk ke dalam pelukan Nesha.
" Mas nggak berangkat kerja?" Tanya Nesha.
" Enggak.. Mau menemani kamu saja takut kenapa napa." Sahut Farhan.
" Baiklah untuk hari ini jangan kemana mana ya Mas, Aku mau kamu di sini saja." Ucap Nesha.
" Baiklah sayang." Sahut Farhan.
Tok tok tok...
Suara pintu di ketuk oleh Mbak Nadia. Farhan segera menghampirinya.
" Ini Tuan." Ucap Mbak Nadia memberikan bungkusan plastik kepada Farhan.
" Makasih Mbak." Ucap Farhan.
" Sama sama Tuan, Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Mbak Nadia.
" Iya Mbak." Sahut Farhan kembali menghampiri Nesha dan kedua putra tercintanya.
" Sayang ini mau di coba nanti atau sekarang?" Tanya Farhan.
" Nanti aja Mas, Gama lagi nggak mau di ganggu." Sahut Nesha.
" Gama sama Papi dulu yuk? Sini mainan." Ujar Farhan.
Mendengar namanya di panggil Gama langsung melepas put*** Nesha lalu mendekati Farhan.
" Anak pinter, Udah di coba dulu sayang, Satu aja dulu yang lainnya buat besok pagi." Ujar Farhan.
" Iya Mas." Sahut Nesha.
" Sayang Mami ke kamar mandi bentar ya." Ujar Nesha.
" Iya Mi hati hati." Sahut Nathan.
" Abang jagain Adek dulu Papi mau gendong Mami ya." Ucap Farhan.
" Iya Pi." Sahut Nathan.
Farhan memggendong Nesha menuju kamar mandi. Ia mendudukkan Nesha di atas closet.
" Mas keluar dulu sana, Aku malu." Ucap Nesha.
" Kenapa harus malu hm? Mas udah lihat semuanya bahkan hafal dengan setiap inchinya." Ujar Farhan.
" Apa sih Mas, Kalau nggak mau keluar aku nggak mau ngetes nih." Ancam Nehsa.
" Baiklah Mas keluar, Sekarang di tes dulu aja ya." Ujar Farhan.
Setelah Farhan keluar, Nesha mencoba mengikuti petunjuk dan melakukan sesuai langkah langkah yang tertera di label. Lima belas menit Ia menunggu hasilnya sampai hasilnya bisa terlihat.
Nesha keluar kamar mandi dengan merambat pada dinding.
" Gimana sayang?" Farhan menghampiri Nesha, Lalu menggendongnya kembali ke ranjang.
" Ini Mas." Ucap Nesha menyerahkan benda pipih kecil itu kepada Farhan.
Farhan menerima lalu membaca hasilnya. Ia menatap ke arah Nesha.
" Sayang ini.....
TBC.....
Hayooo tebak apa hasilnya...
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya.