
Saat ini Luci sedang bersama temannya Nadira di sebuah cafe yang ada di dalam Mall xx. Keduanya baru saja mencari buku buku panduan tentang tata rias. Ya Luci dan Nadira baru saja menyelesaikan pendidikan tata riasnya. Mereka berencana membuka salon sendiri dan ingin mengajukan kerja sama dengan MUA ternama di kota ini.
" Mau pesan apa Ci?" Tanya Nadira yang sering di sapa Ira.
" Dessert sama capuccino saja." Sahut Luci sambil memainkan ponselnya.
" Ok tunggu di sini, gue pesan dulu." Ucap Ira menuju kasir.
Sepuluh menit kemudian Ira kembali dengan nampan berisi pesanan mereka.
" Nih Dessert sama cappuccinonya." Ucap Ira meletakkan pesanan Luci di depannya.
" Makasih Besti." Ucap Luci.
" Sama sama Best." Sahut Ira.
Luci menyuapkan dessert ke mulutnya sambil sesekali menyesap cappuccinonya dengan pandangan tidak lepas dari layar ponselnya.
" Rencana lo mau buka salon sendiri, apa mau kerja dulu di salon orang lain?" Tanya Ira.
" Gue juga nggak tahu Best, soalnya belum aku bicarakan sama Kakak gue, coba lihat nanti aja deh." Jawab Luci.
" Ok pokoknya gue ngikut lo aja ya, lo kan tahu gue nggak punya modal apa apa, gue jadi assistent lo aja nggak pa pa deh." Ujar Ira.
" Tenang aja Best, kita kan Besti selamanya." Sahut Luci.
" Makasih ya Ci, lo mau berteman sama gue padahal gue orang nggak punya, nggak kaya' teman teman yang lain, gue bisa mendapatkan gelar seperti sekarang aja karna beasiswa sama bantuan Kakak lo." Ucap Ira sedih.
Ya Ira hanya anak seorang petani biasa di kampungnya. Ia nekat mengadu nasib untuk melanjutkan studinya di ibukota. Beruntung Ia bertemu dengan teman sebaik Luci yang mau membantu dan menemaninya hingga berhasil seperti sekarang.
" Jangan ungkit masalah itu Ra, lagian Kakak gue udah nganggap lo adik sendiri kan jadi sebagai keluarga kita harussaling membantu." Ujar Luci.
" Iya, padahal tadinya gue siap mengabdikan diriku sebagai istrinya untuk membalas semua jasanya, tapi sayang Kakak lo nggak minat sama gue." Ujar Ira.
" Mau gimana lagi? Cinta tidak bisa di paksakan." Sahut Luci.
" Hai Ci, Ra, boleh gabung?" Tanya Seorang teman pria mereka. Keduanya mendongak menatap pria yang sedang berdiri di depan mereka.
" Satria." Gumam Luci.
" Hai Sat, silahkan duduk." Ucap Ira.
Satria duduk di samping Ira dan pas di depan Luci.
" Hai Ci apa kabar?" Tanya Satria menatap Luci.
" Seperti yang kamu lihat Sat." Sahut Luci kurang nyaman pasalnya Satria adalah pria yang menyukai Luci.
__ADS_1
" Kalian mencari apa ke sini?" Tanya Satria.
" Mencari buku buku tentang merias wajah." Sahut Ira.
" Owh... Selamat ya kalian udah mendapat gelar sarjana muda." Ucap Satria.
" Sama, kamu juga kan? Kalau begitu selamat untukmu juga." Ucap Ira.
" Rencana mau lanjut atau langsung buka salon? Atau mau langsung merintis perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan?" Tanya Satria.
" Aku ngikut Luci aja sih." Ujar Ira.
Satria dan Ira menatap ke arah Luci.
" Lihat kondisi aja nanti." Sahut Luci.
" Hei kamu di sini? Kok nggak ngajak aku sih?" Ucap Gama menepuk pelan pundak Luci. Tanpa basa basi dengan kedua orang di depannya, Gama langsung duduk di sebelah Luci.
" Apaan sih." Cebik Luci.
" Ci, dia siapa?" Tanya Ira menunjuk Gama.
" Kenalin aku Gama, pacarnya Luci." Ucap Gama memperkenalkan diri. Luci membulatkan matanya dengan mulut menganga mendengar ucapan Gama. Pacar??? Pacar darimana? Kapan mereka jadian? Pikir Luci.
" What? Pacarnya Luci?" Pekik Ira menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
" Eh bukan bukan, dia bukan siapa siapa kok." Ucap Luci.
" Kamu malu mengakuiku sebagai kekasih di depan temanmu?" Tanya Gama menatap Luci.
" Apa sih Kak? Udah diem deh nggak usah ngaco, pacar... Pacar darimana." Cebik Luci menatap tajam Gama.
" Nggak apa kali Ci, nggak usah malu malu gitu orang Kakaknya ganteng kok, jadi kan nggak malu maluin." Ujar Ira.
" Lo mah kambing di bedakin juga ganteng Ra." Sahut Luci.
" Udah udah nggak usah ribut, kalau gitu gue pulang dulu ya, sampai jumpa lain waktu." Ujar Satria beranjak dari kursinya.
" Eh sini aja nemenin gue, masa gue jadi obat nyamuk." Sahut Ira.
" Bukan obat nyamuk kali Ra, tapi setan." Ucap Satria.
" Ya udah gue ikut lo aja cabut." Ujar Ira.
" Eh nggak bisa gitu donk, kita pulang bareng gimana sih." Ucap Luci mencekal tangan Ira.
" Lo kan udah ada pacar, jadi biarin gue jalan sama Satria, nggak dapat Abang lo nggak pa pa yang penting dapet Babang Satria kan lumayan, nggak kalah ganteng sama Bang Davi kan." Ujar Ira mengejar Satria yang sudah berlalu lebih dulu.
__ADS_1
Kini tinggal Luci dan Gama yang sedang duduk berdua. Tanpa Luci sadari kalau makanan dan minumannya habis di makan Gama.
" Eh kok di habisin sih makanan gue." Kesal Luci menatap Gama yang hanya di balas senyuman olehnya.
" Kita pesan lagi." Ujar Gama.
" Nggak mau, aku mau pulang." Sahut Luci beranjak.
" Hei tunggu dulu, kenapa buru buru." Ucap Gama mencekal tangan Luci.
" Lepasin ih." Ujar Luci menyentak tangan Gama.
Gama menarik kasar tangan Luci membuat Luci duduk di pangkuannya. Tatapan mereka bertemu membuat jantung keduanya berdetak tak menentu.
" Sweet banget."
" Uluh bikin iri aja sih."
Bisik bisik para pengunjung lain. Luci mengedarkan pandangannya dimana para pengunjung sedang berbisik membicarakannya.
" Lepasin, malu tahu nggak Kak di lihat orang gitu." Ujar Luci bangun dari pangkuan Gama sambil cemberut.
Gama tersenyum melihat Luci cemberut.
" Jangan cemberut gitu donk! Duduklah ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ujar Gama.
Akhirnya Luci kembali ke tempat duduknya.
" Luci dengarkan aku." Ucap Gama menggenggam tangan Luci. Luci menatap Gama.
" Aku benar benar mencintaimu, menikahlah denganku dan jadilah ibu dari anak anakku." Ucap Gama menatap Luci.
Luci tidak bergeming, Ia menatap Gama mencari kebohongan di mata Gama, namun Ia tidak menemukan kebohongan di dalamnya.
" Aku tahu kau juga punya perasaan yang sama denganku, tapi ada ketakutan dalam hatimu kan? Kau berpikir kalau aku hanya membohongimu untuk membalas dendam kepada Kakakmu seperti apa yang Kakakmu lakukan pada adikku, percayalah Luci aku tidak seperti Kakakmu, aku mengatakan hal yang tulus dari dalam hatiku, aku benar benar mencintaimu dan menginginkanmu untuk menjadi istriku, aku berjanji tidak akan menyakitimu, aku akan selalu membuatmu bahagia." Ucap Gama.
" Apa kau mau menjadi istri dan ibu dari anak anakku?" Tanya Gama sekali lagi.
Mau nggak ya?????
Hayooo kira kira Luci mau jawab apa ya???
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya..
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All..
__ADS_1
TBC....