
Jam sembilan pagi Nathan dan Valen menuju resto di sebuah hotel untuk bertemu client. Perusahaan Nathan mengajukan kerja sama dengan perusahaan terbesar nomer dua yaitu AZ Group. Setelah sampai, keduanya menuju meja yang sudah di booking sebelumnya. Meja nomer lima ruang vip.
" Kosong Pak, berarti Tuan Ardan belum datang." Ujar Valen sambil duduk di kursi.
" Tidak apa karna kita yang butuh maka kita yang harus menunggu mereka." Sahut Nathan.
" Mana ada kaya' gitu, mau siapapun yang butuh kita tetap harus on time dok Pak, enak aja sembarangan buang buang waktu orang. time is money Pak Nathan." Ujar Valen membuat Nathan tersenyum kecil.
" Kamu ini ya, nggak dimana mana penginnya marah marah terus." Kekeh Nathan.
" Kalau aku punya pegawai kaya' dia udah aku pecat." Cebik Valen.
" Sayangnya dia di sini sebagai Bos sayang." Ucap Nathan.
" Iya kamu benar." Sahut Valen.
Nathan dan Valen menunggu hampir tiga puluh menitan, akhirnya seorang pria tampan berjalan tegap menghampiri mereka, Ia lalu menarik kursi dan duduk di depan mereka bersama seorang pria yang mungkin asistentnya.
" Sudah menunggu lama?" Tanya Ardan basa basi.
" Sekali Pak." Sahut Valen tidak bersahabat.
" Oh." Ujar Ardan.
Apa? Hanya oh saja? Pikir Valen.
" Apa anda tidak mau meminta maaf karna sudah membuang waktu kami dengan cuma cuma Tuan Ardan Zavran yang terhormat" Ucap Valen menekan empat kata terakhirnya.
Ardan menatap ke arah Valen, tatapan mereka bertemu seketika membuat jantung Ardan terasa berdetak sangat kencang. Ia terus memperhatikan Valen dengan seksama, ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.
Valen tidak takut dengan Ardan karna parusahaan Ardan berada di bawah naungan Perusahaannya, atau lebih tepatnya perusahaan papanya.
" Sudah tidak masalah Len, apa bisa di mulai sekarang Tuan Ardan?" Tanya Nathan menengahi, Ia tidak mau Ardan menilai buruk tentang etikad perusahaannya.
Valen mendengus kesal melihat Nathan yang mengalah. Walaupun kita yang membutuhkan kerja sama ini setidaknya orang lain tidak boleh semena mena pada kita bukan? Ia sudah bosan menunggu sedari tadi malah yang di tunggu tidak merasa bersalah sama sekali.
" Silahkan, bacakan presentasi kalian nanti saya akan pertimbangkan, apakah saya akan menyetujui kerja sama ini atau tidak." Ucap Ardan melirik Valen.
" Tidak masalah." Gumam Valen yang masih di dengar oleh ketiga pria yang ada di sana.
Valen mulai membuka map berkas presentasinya. Ia mencoba bersikap profesional walaupun sebenarnya moodnya berubah jadi jelek.
" Gadis ini menarik juga, aku harus tahu siapa dia hingga membuatnya berani memprotes keterlambatanku." Batin Ardan tersenyum smirk.
" Pertama tama perkenalkan, saya Valentina sekretaris dari perusahaan VA coorp, di sini saya akan menjelaskan beberapa penawaran dengan keuntungan yang lumayan menarik." Ucap Valen.
Valen melanjutkan presentasinya sedangkan kedua pria di depan dan di sampingnya justru memperhatikannya. Kalau asistent Ardan sibuk mencatat poin poin penting dari presentasi yang di bacakan Valen. Nathan dan Ardan menatap kagum ke arah Valen dengan versi masing masing.
" Sudah itu aja Tuan, dan kami berharap anda tertarik dengan kerja sama ini." Ujar Valen menutup presentasinya.
Ardan menoleh ke arah Asistentnya, Asistentnya terlihat membisikkan sesuatu padanya. Keduanya tampak mengangguk anggukkan kepala.
__ADS_1
" Perkenalkan saya Digdo asistent sekaligus sekretaris dari Tuan Ardan, saya merasa tawaran yang anda berikan kepada kami begitu menarik Nona Valentina, jadi kami ingin mencoba kerja keras perusahaan anda untuk membuktikan jika memang perusahaan anda mampu menjalankannya." Ucap Digdo penuh sindiran.
" Tenang saja Tuan Digdo, perusahaan kami akan memperlihatkan kemampuan kami untuk mensukseskan kerja sama ini, anda bisa melihat hasil akhirnya nanti." Sahut Valen.
" Baiklah silahkan Tuan Nathan tanda tangani kontrak kerja samanya, dan jangan lupa untuk di baca terlebih dahulu." Ujar Digdo.
" Terima kasih." Sahut Nathan.
" Nona Valentina." Panggil Ardan.
" Hmm." Gumam Valen. Tidak sopan memang tapi Valen merasa ada yang berbeda dengan tatapan Ardan sehingga dia malas meladeninya.
" Anda seorang sekretaris yang profesional, berbakat dan aku yakin anda memiliki loyalitas tinggi, lalu kenapa anda memilih bekerja di perusahaan kecil seperti perusahaan VA?" Tanya Ardan.
" Apa masalah anda Tuan?" Valen balik bertanya.
" Aku akan memberimu penawaran, bagaimana jika aku merekrut anda untuk menjadi sekretarisku saja? Aku akan membayar anda jauh lebih tinggi dari perusahaan Tuan Nathan Nona." Ujar Ardan.
Nathan menoleh ke arah Valen, jujur Ia takut jika Valen akan menerima tawaran Ardan.
" Tuan Ardan Zavran, bagiku bekerja bukan hanya masalah bayarannya saja, bukankah perusahaan sebesar AZ Group tidak membutuhkan sekretaris seperti saya Tuan?" Tanya Valen.
" Apa maksudmu Nona?" Ardan balik bertanya.
" Perusahaan anda sudah besar Tuan, lalu mau sebesar apa lagi? Justru yang membutuhkan saya adalah perusahaan kecil seperti VA Coorporation supaya perusahaan itu bisa maju dan nantinya akan menjadi perusahaan besar sebesar perusahaan Alexandre Group." Sahut Valen.
" Cih... Anda bermimpi kejauhan Nona, perusahaan saya saja tidak bisa mengimbangi perusahaan Alexander Group apalagi perusahaan sekecil VA corp." Ejek Ardan.
" Dalam waktu tiga bulan perusahaan VA akan berada di bawah naungan Alexander Group dan tentunya akan menggeser perusahaan anda Tuan Ardan." Sambung Valen.
" Apa kau sadar dengan ucapanmu Nona? Bagaimana bisa dalam waktu sesingkat itu kau bisa menggeser kedudukanku." Ujar Ardan.
" Aku Valen, apapun yang aku inginkan akan menjadi kenyataan, camkan itu Tuan!" Ucap Valen.
" Saya rasa pertemuan cukup sampai di sini dan saya ucapkan terima kasih atas kerjasama ini." Ucap Valen meninggalkan ruangan itu.
" Maafkan sikap sekretaris saya Tuan, dia memang keras kepala seperti itu tapi dia tidak berniat merendahkan anda Tuan Ardan." Ucap Nathan.
" Tidak apa aku merasa tertantang dengan sikapnya, bolehkah aku tahu tentang profilenya?" Tanya Ardan membuat Nathan terkejut.
" Maaf Tuan itu privasi perusahaan kami." Sahut Nathan.
" Ya ya tidak masalah aku bisa mencari tahunya sendiri, aku katakan padamu kalau aku menyukai sekretarismu itu dan akan aku pastikan kalau aku akan mendapatkannya untuk menjadi pendamping hidupku satu satunya." Ucap Ardan.
Jeduarrrr.....
Tubuh Nathan membeku, Ia memiliki pesaing baru yang sangat jauh di atasnya. Apakah ia bisa memenangkan Valen untuk menjadi miliknya? Jika Ardan menggunakan kekuasaannya maka Nathan yakin Ia akan kalah telak. Ia tidak mempunyai kedudukan yang sepadan dengan Ardan. Harapan satu satunya ada pada Valen, Ia yakin jika Valen tidak mudah terintimidasi dengan orang lain. Semoga Valen akan memperjuangkan hubungannya hingga ke pelaminan.
" Aku akan sering mengunjungi proyek dengan sekretarismu itu, jadi berilah sedikit kelonggaran jam kerjanya, kamu tahu?" Tanya Ardan.
" Jika Valen mau saya akan mengijinkannya tapi jika tidak anda bisa pergi dengan asisten saya Dika, saya permisi Tuan." Sahut Nathan meninggalkan ruangan itu menyusul Valen ke mobil.
__ADS_1
Kenapa Nathan tidak memberitahu perihal hubungannya dengan Valen? Karna Valen yang memintanya. Ia tidak mau hubungannya dengan Nathan terekspos sebelum hari pernikahannya. Biarkan semua ini akan menjadi kejutan tersendiri kata Valen.
Nathan masih melamunkan ungkapan Ardan. Ia masuk ke mobil dengan lesu.
" Kenapa Mas? Dia mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Valen menatap wajah kucel Nathan.
" Jika kerja sama ini tidak penting maka aku akan memukuli wajah songongnya itu Yank." Sahut Nathan.
" Memangnya kenapa Mas?" Valen bertanya lagi.
" Dengan terangnya dia bilang kalau dia menyukaimu, dia akan mendekatimu untuk mendapatkan dirimu, dia akan menjadikanmu istrinya satu satunya." Sahut Nathan.
" Lalu apa masalahnya Mas?" Tanya Valen tak mengerti.
" Yah aku takut lah kalau kamu lebih memilih dia daripada aku, secara dia kan lebih kaya dari aku Yank, perusahaannya juga sangat jauh lebih besar dari perusahaanku." Kesal Nathan.
" Jangan lupakan jika aku lebih kaya darinya Mas, perusahaanku juga lebih besar dari perusahaannya, lalu apa yang aku harapkan darinya?" Tanya Valen.
" Ehhhh?????" Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa Ia tidak kepikiran begitu ya? Jika Valen menginginkan tahta atau sekedar harta bukankah Valen sudah memiliki semuanya? Pikir Nathan.
" Kenapa? Baru menyadari kebodohanmu Mas?" Tanya Valen.
" Iya Yank.... Maaf ya." Sahut Nathan.
" Kamu ini.... Emang kamu takut banget ya kehilangan aku? sampai sampai segitu khawatirnya kedatangan saingan baru." Ujar Valen.
" Sangat Yank, aku sangat takut kehilanganmu, kita nikahnya besok aja ya... Kelamaan kalau nunggu dua minggu lagi aku tidak mau kamu di ambil orang Yank." Seloroh Nathan.
" Sekarang aja gimana Mas?" Tanya Valen.
" Ya nggak bisa gitu donk Yank, entar persiapannya akan sia sia donk, mana udah sewa gedung, cattering, bahkan dekorasinya saja kamu milih sangat mewah, kan sayang kalau semua itu nggak ke pake." Ujar Nathan.
" Itu tahu, jadi harus sabar ya..." Kekeh Valen.
" Kamu pinter banget membuat aku mati kutu Yank." Ucap Nathan memajukan wajahnya.
Wajah keduanya begitu dekat. Nathan menatap bibir manis Valen dan ingin mengecupnya. Valen menghentikannya dengan meletakkan telapak tangannya di bibir Nathan.
" Belum halal Mas, nanti kalau sudah halal semua yang ada padaku menjadi milikmu jadi kamu bisa bebas mau ngapain aja." Ujar Valen.
" Bener ya.." Ujar Nathan.
" Hmm." Sahut Valen.
Nathan melajukan mobilnya menuju kantor kembali. Hatinya selalu berbunga bunga jika di dekat Valen. Valen benar benar membawa kebahagiaan tersendiri untuk hidup Nathan.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment ya....
Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author...
__ADS_1
Miss U All*...