Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
75. Tragedi


__ADS_3

Pandangan Irvan semakin kabur hingga....


Brak...


Mobil Irvan menubruk pembatas jalan, beruntung Irvan mengendarai mobilnya dengan peman sehingga tidak mengakibatkan hal hal yang fatal.


" Aduh kepala gue... eh eh ini kenapa ya? Rasanya gue mau terbang Kak." Celoteh Cia sambil mengelus jidatnya.


" Cia... Sepertinya aku tidak bisa menyetir lagi, kita akan menginap di dalam mobil saja, kepalaku pusing sekali." Ujar Irvan.


Tok tok


Seseorang mengetuk kaca mobil mereka. Irvan menurunkan kacanya menatap seorang pria bertubuh tinggi sedang menatap ke arahnya.


" Mas Irvan." Ucap pria itu yang tak lain satpam apartemen yang Irvan tinggali. Namanya Pak Tedjo.


" Siapa?" Tanya Irvan.


" Saya Tedjo Mas, Mas Irvan kenapa?" Tanya Pak Tedjo.


" Kepalaku pusing Pak." Sahut Irvan.


" Sepertinya kalian mabuk, saya antar ke apartemen ya Mas." Ucap Pak Tedjo. Irvan menganggukkan kepalanya.


Pak Tedjo memindahkan Irvan ke kursi belakang. Lalu Ia melajukan mobilnya menuju apartemen Irvan. Di dalam mobil Cia ngeromet seperti orang gila.


Lima belas menit Pak Tedjo sampai di apartemen Irvan. Pak Tedjo membantu Irvan dan Cia berjalan, sangat susah memang kalau membantu orang mabuk yang jalannya sempoyongan seperti orang menari nari.


Setelah masuk ke dalam apartemen Irvan, Pak Tedjo menuntun mereka ke kamar Irvan. Pak Tedjo mengira kalau Cia adalah pacarnya Irvan jadi Ia tidak mempermasalahkan kalau mereka dalam satu kamar.


" Saya pergi dulu Mas." Ucap Pak Tedjo.


" Hmm." Sahut Irvan.


" Huek..." Cia muntah tepat mengenai bajunya.


" Ih bersihkan dirimu di dalam kamar mandi sana." Ucap Irvan menunjuk kamar mandi.


Dengan sempoyongan Cia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari muntahan. Irvan merasa gerah, Ia melepas kemeja dan celananya hingga menyisakan celana boxernya saja. Irvan tidur telungkup di atas ranjang.


Cia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja. Ia menghampiri Irvan di atas ranjang.


" Kak pinjem baju." Ucap Cia mengguncang tubuh Irvan.


Irvan membalikkan badannya dengan kasar membuat tubuh Cia jatuh menindih tubuhnya karna kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


" Awh." Pekik Cia.


Keduanya saling menatap dengan tatapan sendu. Tanpa sadar Irvan membalikkan posisi.


" Kak..." Ucap Cia merasa sesak karna Irvan menindihnya.


Irvan menatap wajah cantik Cia, Ia memajukan wajahnya membuat Cia memejamkan matanya. Irvan mengecup lembut bibir Cia. Tanpa sadar Cia membuka sedikit mulutnya membiarkan Irvan mengekspos setiap inchinya. Keduanya sama sama terlena dengan sensasi panas dingin yang mereka rasakan. Tangan Irvan berkelana ke dada Cia merem** sesuatu di atas sana.


" Shhh." Desis Cia membuat adrenalin Irvan terpacu.


Ciuman Irvan turun ke leher Cia, Ia bahkan membuat banyak jejak di sana. Permainan Irvan semakin liar dan semakin menuntut.


" Cia..." Lirih Irvan menatap Cia dengan tatapan lapar.


Entah apa yang merasuki pikiran Cia hingga Cia menganggukkan kepalanya membuat Irvan melakukan hal yang lebih dari itu. Ia segera melakukan apa yang menjadi tuntutan tubuh bagian bawahnya. Rintihan, erang**, dan desa*** mengiringi kegiatan mereka. Kamar Irvan menjadi saksi bisu permainan mereka malam ini.


Di sisa sisa kesadaran mereka, keduanya berbuat sesuatu hal yang mungkin akan di sesalinya ketika mereka sadar nanti.


...****************...


Sinar matahari masuk ke kamar Irvan melalui celah celah korden. Cia mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang sangat asing baginya. Cia hendak beranjak tapi Ia urungkan niatnya saat merasakan sakit pada bagian bawahnya.


" Awh." Rintih cia.


Mendengar rintihan Cia, Irvan membuka matanya membuat Cia menatap ke arahnya. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat.


" Cia." Ucap keduanya bersamaan.


Cia menatap tubuhnya di balik selimut yang ternyata tidak mengenakan apapun, lalu Ia menatap ke arah Irvan yang juga tidak memakai atasan. Kalau bagian bawahnya masih tertutup selimut yang sama. Keduanya mencoba mengingat ingat apa yang terjadi pada mereka berdua. Bayangan bayangan permainan yang menyebabkan mereka seperti terbang ke atas nirwana seolah menari di dalam kepala mereka.


" Kak apa yang terjadi pada kita? Apa kita benar benar melakukan hal itu? Itu semua bukan mimpi?" Lirih Cia menatap Irvan dengan tatapan nanar.


" Cia sepertinya kita memang melakukan kesalahan besar." Sahut Irvan.


" Hiks.. Hiks..." Isak Cia.


" Cia maafkan aku, aku tidak sadar jika kita benar benar melakukan hal ini." Ucap Irvan memeluk Cia.


" Apa yang harus kita katakan pada keluargaku Kak? Malam ini Mas Dika mau melamarku hiks... Hiks... Kenapa ini harus terjadi padaku, aku melakukan ini di saat kita tidak ada hubungan apa apa Kak, apa yang akan Mas Dika pikirkan tentang aku hiks... hiks.." Isak Cia.


" Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik." Ujar Irvan mengelus punggung Cia. Cia tidak bergeming hingga beberapa saat.


" Aku harus pulang Kak, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi pada kita." Ucap Cia melepas pelukannya.


" Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, apa kamu mau melanjutkan pertunanganmu dengan Dika?" Tanya Irvan mengusap air mata di pipi Cia.

__ADS_1


" Iya Kak, kalau kita diam tidak akan ada yang tahu soal ini." Sahut Cia.


" Dika akan mengetahuinya saat kalian melakukan malam pertama, apa yang akan kamu katakan padanya?" Tanya Irvan.


Deg....


Jantung Cia serasa berhenti berdetak. Kenapa Ia tidak berpikir sampai di situ? Jika mereka sudah menikah akankah Dika mau menerimanya? Pikiran Cia kalut untuk saat ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Tidak mungkin kan Ia meminta pertanggung jawaban Irvan sedangkan mereka melakukannya atas dasar mau sama mau.


" Arghhhh." Teriak Cia menari kasar rambutnya


" Ini semua gara gara Davian, kalau saja dia tidak menyuruhku minum pasti semua ini tidak akan terjadi." Kesal Cia.


" Ini juga salahmu, kalau saja kamu tidak memintaku untuk minum, ini semua juga tidak akan terjadi." Sahut Irvan.


Cia menoleh ke arah Irvan.


" Tidak ada gunanya saling menyalahkan, ini murni kesalahan kita berdua, aku akan bertanggung jawab kepadamu, aku akan bicara pada keluargamu dan meminta restu mereka untuk menikahimu, aku bukan pria yang tidak bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan." Ujar Irvan.


" Be... Benarkah? Lalu bagaimana dengan perasaan kita? Kita tidak saling mencintai, bagaimana bisa kita membina rumah tangga yang bertahan lama?" Tanya Cia.


" Cukup saling membuka diri, aku yakin cinta akan hadir dengan sendirinya, maafkan aku yang telah merenggut kesucianmu, sekarang mandilah aku akan memesankan pakaian untukmu." Ujar Irvan.


" Apa kau yakin kita bisa melalui semua ini?" Tanya Cia.


" Kalau kita bersatu dan saling mendukung satu sama lain, maka aku yakin kita bisa melaluinya, tenanglah jangan khawatir." Sahut Irvan.


" Bagaimana dengan Mas Dika? Bagaimana nasib cintaku kepadanya? Impian yang sudah kami rancang bersama harus hancur karena kecerobohanku, aku merasa telah mengkhianati Mas Dika hiks.. hiks." Cia kembali menangisi nasibnya.


" Kita pasrahkan saja pada Tuhan Cia, jika Tuhan sudah berkehendak maka kita tidak bisa menentangnya, jika kamu masih berjodoh dengan Dika maka semua akan baik baik saja dan akan berjalan sesuai keinginan kalian, sekarang cepat mandilah aku akan menemui keluarga sekarang juga." Ujar Irvan.


Cia membelit tubuhnya denga selimut, sedangkan Irvan menutup bagian bawahnya dengan handuk. Cia berjalan menuju kamar mandi sambil tertatih. Sedangkan Irvan duduk menundukkan kepalanya mencari cara bagaimana Ia bisa memberitahu keluarga Cia nanti.


" Aku harap keputusanku tidak akan salah, mungkin ini takdir yang Tuhan rencanakan untukku supaya aku bisa melupakanmu Valen." Monolog Irvan.


Gimana pada kecewa nggak nih?


Dari awal memang author mau menjodohkan Cia sama Irvan dan Dika hanya sebagai perantara saja....


Tenang saja author akan siapkan jodoh untuk Dika jika kalian mau, tulis di kolom komentar ya...


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2