Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Kelahiran Babby


__ADS_3

" Sayang ini....." Farhan menggantung ucapannya sambil memperhatikan tespack di tangannya.


" Iya Mas, Yang satu garisnya masih bluur belum jelas, Jadi aku nggak mau memutuskan positif takut salah." Ucap Nesha.


" Ya udah nggak pa pa kita coba besok pagi lagi, Atau kalau udah baikan besok kita langsung ke rumah sakit aja ya sekalian USG biar jelas." Ujar Farhan memberi solusi.


" Iya Mas." Sahut Nesha.


Hasil tespacknya satu garis karena yang satunya masih kabur jadi mereka tidak mau terlalu berharap dulu. Mereka akan memastikannya bila sudah ke dokter. Karena harapan palsu hanya akan membuat kita kecewa bukan?


" Sekarang ayo kita makan dulu." Ucap Farhan.


Farhan membawa nampan yang tadi di bawakan oleh Mbak Nadia.


" Abang duduk di bawah saja nanti takut piringnya jatuh." Ujar Farhan meletakkan nampannya di sana.


" OK Pi, Ayo Dek Gam, Dek Gam duduk di bawah aja sama Abang, Abang suapin ya biar Papi suapin Mami." Ujar Nathan menggendong pelan Gama lalu mendudukkannya di karpet.


" A." Ucap Nathan mulai menyuapi Gama.


Dengan telaten Nathan menyuapi Gama suap demi suap. Farhan dan Nesha melihatnya dengan perasaan bahagia.


" Mami juga harus makan jangan cuma lihatin Abang sama Adek saja." Ucap Farhan menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Nesha.


" Aku makan sendiri Mas biar Mas juga bisa makan." Ucap Nesha.


" Nggak boleh Mi, Kami para lelaki harus mendahulukan wanita dulu, Karena Mami wanita terhebat yang Abang miliki." Sahut Nathan membuat Nesha tersenyum.


" Tuh dengerin Abang aja udah bisa ngegombal." Kekeh Farhan mendengar ucapan Nathan seperti pria dewasa saja.


" Abang ngomong nyata Papi." Protes Nathan.


" Ah iya Abang bener, Mami wanita terhebat yang pernah kami miliki." Ucap Farhan.


" Kamu menyianyiakan Mama kamu Mas." Cebik Nesha.


" Eh????? Udah lah yang penting sekarang kamu makan udah pegel nih tangan." Ujar Farhan.


Nesha duduk bersandar pada headboard, Ia menerima suapan demi suapan dari Farhan hingga sepiring nasi dan lauk tandas masuk ke dalam perutnya. Anehnya perutnya tidak mual lagi. Mereka terlihat seperti keluarga harmonis yang sangat bahagia.


Di rumah Jordan, Sifa sedang merasakan mulas pada perutnya. Ia berjalan mondar mandir lalu jongkok berdiri lagi seperti yang di arahkan oleh Dokter saat Ia periksa kandungan terakhir kali. Jordan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya menghampiri Sifa dengan tergesa.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Jordan.


" Perutku mulas Mas, Sepertinya aku mau melahirkan." Sahut Sifa.


" Apa? Melahirkan? Lalu aku harus gimana Yank? Apa kita langsung ke rumah sakit? Atau kita telepon Dokter Silvi dulu? Atau kita telepon ambulan saja?" Pekik Jordan heboh sendiri.


" Tenang Mas nanti kita akan ke rumah sakit kalau mulasnya sudah teratur, Kalau sekarang masih datang pergi." Ujar Sifa.


" Jadi tidak masalah sekarang kita masih di rumah?" Tanya Jordan memastikan.


" Iya Mas." Sahut Sifa.


" Mas akan pesan kamar dulu di rumah sakit jadi nanti saat kamu sampai sana langsung bisa di tangani." Ujar Jordan.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Sifa.


Jordan segera menelepon pihak rumah sakit untuk memesan kamar rawat inap Sifa setelah melahirkan nanti.


" Mas kita ke rumah sakit sekarang sepertinya mulasnya mulai teratur, Kamu bawa koper itu Mas." Ucap Sifa.


" Baiklah sayang, Ayo kita ke mobil mau gendong apa jalan?" Tanya Jordan.


" Jalan aja Mas pelan pelan." Jawab Sifa.


Jordan menuntun Sifa sambil tangan satunya menyeret koper menuju mobilnya. Baru beberapa langkah Sifa sudah berjongkok sambil menahan rasa sakitnya. Ia mengambil nafas sebanyak banyaknya lalu menghembuskannya pelan pelan lewat mulutnya.


" Fiuh....... Sshhh." Desis Sifa saat mulasnya kembali datang.


" Mas elus punggungnya ya." Ucap Jordan menundukkan badannya lalu mengelus pinggang Sifa.


Keringat dingin mulai menetes di kening Sifa turun ke pipinya, Jordan menyekanya menggunakan tisu.


" Ayo Mas jalan lagi." Ajak Sifa.


Keduanya berjalan hingga beberapa langkah Sifa berjongkok lagi begitu seterusnya jika di hitung sudah enam kali Sifa berjongkok hingga masuk ke dalam mobilnya. Jordan membukakan pintu mobilnya.


" Ayo sayang." Ucap Jordan membantu Sifa duduk di kursi depan.


Jordan memutari mobilnya, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Sifa mendesis menahan sakit yang luar biasa nikmatnya.


" Tahan ya sayang sebentar lagi sampai." Ucap Jordan.


Sifa sudah tidak bisa menjawab lagi, Ia sibuk dengan dunianya menahan rasa mulas yang semakin dekat jaraknya dan semakin lama durasinya. Ia menyeka keringat pada dahinya.


" Kenapa Pak?" Tanya Suster.


" Istri saya mau melahirkan Sus." Sahut Jordan.


" Baiklah tidurkan di sini saja Pak." Ujar Suster.


Jordan merebahkan tubuh Sifa di atas brankar. Suster segera mendorongnya menuju ruang bersalin.


" Silahkan Pak ikut masuk." Ucap Suster.


" Baik Sus." Sahut Jordan.


Di dalam ruangan Sifa di periksa oleh seorang Dokter kandungan.


" Sudah pembukaan sempurna Bu, Ikuti aba aba saya ya kalau saya suruh dorong maka doronglah sekuat tenaga ya." Ucap Dokter membuka lebar kaki Sifa.


Sifa menganggukkan kepalanya saja.


" Tarik nafas dalam dalam lalu hembuskan mulai dorong bu." Ucap Dokter.


Sifa mengejan mengikuti arahan Dokter. Jordan menggenggam tangan Sifa seolah memberikan kekuatan lewat genggamannya.


" Dorong lagi Bu sudah kelihatan kepalanya." Ujar Dokter.


Sifa mendorong sekuat tenaga, Sekitar hampir tiga puluh menit akhirnya terdengar....

__ADS_1


Oek.... Oek.... Oek....


Sifa bernafas lega setelah mendengar tangisan bayinya.


" Selamat Pak Bu bayi anda laki laki." Ucap Dokter memberikan bayi itu pada suster untuk di pakaikan baju.


" Alhamdulillah terima kasih Dok." Ucap Jordan yang di balas senyuman oleh Dokter.


" Makasih sayang udah mau berjuang menyempurnakan diriku." Ucap Jordan menciumi kening dan pipi Sifa.


" Sama sama Mas." Sahut Sifa.


" Aku kabari Farhan dulu ya." Ujar Jordan.


" Iya Mas." Sahut Sifa.


Jordan keluar ruangan untuk menghubungi Farhan. Sambungan berdering tinggal nunggu Farhan mengangkatnya.


" Hallo Dan ada apa?" Tanya Farhan di sebrang sana.


" Aku cuma mau mengabari kalau Sifa udah lahiran, Bayinya laki laki Han." Ucap Jordan.


" Wah selamat ya Dan atas kelahiran Babby kedua." Ucap Farhan.


" Apa kamu bisa datang ke sini dengan mengajak Nathan? Aku ingin memperkenalkan Nathan dengan adiknya." Ujar Jordan.


" Haduh maaf Dan kalau hari ini nggak bisa, Nesha sedang sakit soalnya besok aja gimana? Sekalian aku mau periksain Nesha ke dokter." Sahut Farhan.


" Ya udah tidak apa, Semoga Nesha lekas sembuh ya." Ujar Jordan.


" Makasih Dan." Sahut Farhan menutup sambungan teleponnya.


" Siapa Mas?" Tanya Nesha yang masih berbaring di atas ranjang.


" Jordan mengabarkan kalau Sifa udah lahiran, Anaknya cowok." Jawab Farhan.


" Alhamdulillah aku ikut seneng." Ucap Nesha.


" Kamu bawa Nathan ke sana Mas perkenalkan dia dengan Adiknya, Siapa tahu dengan begitu Nathan mau dekat lagi dengan Sifa dan Kak Jordan." Ujar Nesha.


" Besok aja sayang sekalian kita periksa ya, Sekarang aku mau menemani kamu aja." Sahut Farhan.


" Baiklah Mas terserah kamu saja." Sahut Nesha.


**TBC....


Yang gregetan bisa cubit author.... Tunggu hasil USG besok ya....


Oh ya... Author mau donk readers nyumbang nama untuk anak Sifa nanti author pilih ya pas, Yang nggak ke pilih jangan nangis ya**....


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Beri author mawar donk biar tambah semangat ngetiknya....


Makasih untuk readers yang sudah selalu dukung author...

__ADS_1


Miss U All*....


__ADS_2