
Saat ini Farhan sedang mondar mandir di depan ruang UGD. Dokter sedang memeriksa Nesha di dalam bersama satu orang suster. Tak berapa lama pintu pun terbuka. Seorang Dokter keluar dari sana.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok? Bagaimana kandungannya?" Tanya Farhan mendekati Dokter Jesika.
" Nona Nesha hanya kelelahan dan sedikit stres saja Pak, Oh ya selamat istri anda sedang mengandung enam minggu, Kandungannya baik baik saja, Di usia ini janin masih rawan keguguran, Apalagi istri anda masih tergolong muda, Jaga kestabilan emosi Nona Nesha jangan sampai Ia selalu stres dan tertekan seperti saat ini, Istirahat cukup dan banyak makan makanan yang bergizi, Kurangi pekerjaan yang berat berat." Saran Dokter Jesika.
" Tapi kenapa dia merasakan kesakitan tadi?" Tanya Farhan.
" Itu hal biasa yang terjadi pada ibu yang sedang hamil muda, Itu hanya kram biasa Pak jangan khawatir kandungan Nona Nesha cukup kuat." Sahut Dokter.
" Lalu apa yang harus saya lakukan saat ini Dok?" Tanya Farhan.
" Untuk beberapa hari ini Nona Nesha harus mendapat perawatan intensif karna tekanan darahnya sangat rendah sampai pasien pulih baru boleh pulang, Kami akan memindahkan Nona Nesha ke ruang rawat." Ujar Dokter Jesika.
" Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok." Ujar Farhan.
" Kami akan berusaha semaximal mungkin Pak, Kalau begitu saya permisi." Pamit Dokter undur diri.
" Silahkan Dok, Terima kasih." Sahut Farhan.
Tak lama setelah Dokter meninggalkan Farhan, Seorang suster mendorong brankar menuju ruang rawat VIP, Nesha terbaring lemah di atas brankar tersebut. Nesha masih setia menutup matanya membuat Farhan merasa bersalah. Farhan terus mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang rawat, Farhan segera memindahkan Nesha ke ranjang pasien. Ia duduk di kursi samping ranjang dengan menggenggam tangan Nesha. Sesekali Farhan menciuminya.
" Sayang sadarlah... Maafkan aku, Maafkan aku yang bodoh ini, Aku mengulangi kesalahan yang sama lagi, Maaf... Aku tidak memikirkan akibatnya untuk hubungan kita, Aku hanya merasa bertanggung jawab karna Ayahnya pernah menitipkan dia kepadaku.... Maafkan aku... Jangan pernah tinggalkan aku, Ijinkan dan halalkan aku untuk menyentuh dirimu, Aku tidak mau kehilanganmu dan anak kita." Ucap Farhan menciumi tangan Nesha, Ia beralih ke perut Nesha.
" Sayang... Maafin Papi ya.. Papi sudah membuatmu marah seperti ini, Sehat sehat di dalam jangan merepotkan Mami, Kasihan Mami kalau harus kerepotan ngurus kamu sama Bang Nathan, Papi sudah tidak sabar ingin di repotkan olehmu... Kamu pengin makan ini, Makan itu nanti minta sama Papi ya.. Papi tak sabar menunggu kehadiranmu..Papi sayang kamu dan Mamimu sayang." Ucap Farhan sambil menciumi perut rata Nesha.
Nesha mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya menatap setiap sudut ruangan yang bernuansa putih, Ia menatap jarum infus yang menancap pada tangannya. Merasa ada pergerakan Farhan mendongak menatap Nesha.
" Sayang kamu sudah sadar, Minum ya." Farhan menyodorkan segelas air putih ke arah Nesha, Tapi Nesha menolaknya. Ia membuang muka ke arah berlawanan.
" Sayang... Minum dulu, Sini aku bantu" Ucap Farhan.
Nesha memejamkan matanya lagi, Saat ini Ia tidak mau melihat suaminya. Hatinya masih dongkol dengan sikap Farhan yang kurang peka dan selalu seperti ini, Dia akan baik pada semua orang hingga melupakannya, Nesha merasa jengah Ia memencet tombol nurse tanda memanggil perawat tanpa Farhan ketahui. Tak lama kemudian seorang perawat masuk ke dalam ruangannya.
" Ada yang bisa di bantu Pak?" Tanya perawat yang bernama Ida menghampiri ranjang Nesha.
" Eh..." Ucap Farhan bingung, Ia tidak merasa memanggilnya.
" Sus..." Lirih Nesha.
" Iya Nyonya..." Sahut Suster Ida mendekati Nesha.
" Boleh aku meminjam ponselmu?" Tanya Nesha.
" Boleh.... Sebentar kebetulan saya membawanya, Untung saja ini jam istirahat Nya, Kalau tidak saya tidak boleh membawa ponsel." Celoteh suster Ida.
__ADS_1
" Ini..." Ucap Suster Ida menyodorkan ponselnya.
Nesha menerimanya lalu Ia memencet beberapa nomer untuk di hubunginya. Panggilan tersambung sampai beberapa menit akhirnya panggilan terjawab.
" Halo... Siapa ya?" Tanya seseirang di sebrang sana.
" Aku Sif.... " Sahut Nesha.
" Nesha? Kenapa pakai ponsel orang?" Tanya Sifa.
" Segera ke rumah sakit yang kemarin aku opname di sini." Ujar Nesha.
" Ok Ok aku segera ke sana." Sahut Sifa menutup panggilannya.
" Makasih Sus." Ucap Nesha mengembalikan ponsel suster Ida.
" Sama sama Nya, Semoga cepat sembuh kalau begitu saya permisi dulu." Sahut suster Ida, Lalu Ia berjalan keluar ruangan Nesha.
" Ada aku di sini Yank, Kenapa minta bantuan orang lain?" Tanya Farhan.
Nesha tidak menanggapinya, Ia kembali berbaring memejamkan matanya. Farhan menghela nafasnya, Ia duduk di kursi tadi sambil menggenggam tangan Nesha. Nesha menarik tangannya tapi Farhan mengeratkan genggamannya.
" Sayang... Ku mohon maafkanlah aku, Aku menyesalinya, Sungguh.... Aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku membuatmu kecewa, Maafkan aku ya.. Perlu aku jelaskan padamu, Fatika menderita kanker rahim stadium akhir, Dia di ceraikan oleh suaminya, Suaminya menikah lagi, Ia ingin aku menemani saat saat terakhirnya sebagai sahabat, Kami tidak punya perasaan apa apa Yank, Aku nggak tega melihatnya, Sahabat yang dulu selalu ceria kini hanya bisa terbaring lemah di atas brankar saja, Maafkan aku yang membuatmu kecewa, Maafkan aku Yank, Kalau kamu tidak percaya kamu bisa menemuinya, Dia ada di rumah sakit ini, Maafkan aku ya... Jangan marah lagi, Aku nggak kuat di abaikan olehmu Yank... Maaf." Ucap Farhan dengan tatapan memelas. Farhan menunduk mencium kening Nesha, Tiba tiba...
Huek....
" Jangan ikuti aku, Aku mual berada di dekatmu." Ketus Nesha menutup pintu kamar mandi membuat Farhan tidak bisa masuk ke dalam.
Huek....Huek...Huek....
" Ya Allah kasihanilah istriku, Jangan kau buat dia mengalami hal seperti ini, Limpahkan semuanya kepadaku saja, Biar aku yang menggantikannya, Aku tidak tega melihat Ia tersiksa dengan keadaannya, Ia sedang mengandung anakku, Darah dagingku, Biarkan aku mengalami kehamilan simpatik agar dia tidak tersiksa seperti ini" Monolog Farhan.
Huek...Huek...
" Sayang... Buka pintunya donk... Aku mau masuk, Sayang...." Ucap Farhan sambil mengetuk pintunya.
" Kenapa Kak?" Tanya Sifa yang baru masuk menghampiri Farhan yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Ini Nesha mutah lagi, Dia nggak mau aku deketi, Katanya mual." Ujar Farhan.
Tok tok tok...
" Nes... Ini aku." Ucap Sifa.
Ceklek...
Nesha membuka pintu, Sifa segera masuk ke dalam.
__ADS_1
" Udah mendingan?" Tanya Sifa.
" Udah." Sahut Nesha.
" Ayo aku bantu." Ucap Sifa sambil memapah Nesha menuju ranjang. Sifa merebahkan tubuh Nesha ke ranjang lalu Ia menyelimutinya.
" Sif.. Tolong bilang sama dia, Suruh dia pergi dari sini, Aku mual dekat dengannya." Ujar Nesha menunjuk ke arah Farhan.
" Baik." Sahut Sifa.
Sifa menghampiri Farhan yang sedang duduk di sofa.
" Maaf Kak, Nesha menyuruhmu keluar dari ruangan ini, Nesha mual jika berdekatan denganmu." Ucap Sifa hati hati.
" Sayang kamu mual berada di dekatku? Kenapa?" Tanya Farhan mendekati Nesha.
Huek...
Nesha menutup mulutnya, Ia kembali berlari ke kamar mandi memutahkan isi perutnya kembali.
" Sepertinya anakmu membencimu Kak, Makanya dia nggak mau dekat denganmu." Ujar Sifa.
" Anakku marah denganku, Nesha... maafkan aku." Lirih Farhan.
" Sabar Kak, Mungkin ini yang di namakan bawaan bayi." Ucap Sifa.
" Tapi sampai kapan Sif? Aku nggak mau jauh jauh dari Nesha." Tanya Farhan.
" Biasanya sampai trisemester pertama kalau tidak ya bisa sampai bayinya lahir." Jelas Sifa.
" Apa? Sampai bayinya lahir? Lama amat... Ya Allah jangan menghukumku seperti ini, Aku tidak bisa jauh dari istriku." Ujar Farhan.
" Tapi akhir akhir ini kamu bisa jauh dari Nesha." Ucap Sifa.
" Maksudmu?" Tanya Farhan.
" Buktinya kamu jarang pulang, Kamu mengabaikan Nesha akhir akhir ini, Sampai Nesha pingsan aja kamu lebih mentingin lembur... Lembur mengurusi mantan jodoh kamu, Sekarang rasakan pembalasan dari anakmu yang tidak mau dekat dekat denganmu, Sekarang silahkan kamu keluar dari sini, Urus Safita aja Kak biar Nesha aku yang urus." Ketus Sifa.
Skak Mat.... Farhan bungkam tidak bisa bicara apa apa walau hanya untuk membela dirinya. Sifa sudah tahu yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya. Nesha sempat mengeluh Farhan jarang pulang dan membohonginya dengan alasan lembur. Walau Nesha masih menutupi tentang Farhan yang mengurus Safita tapi Sifa tidak bodoh, Ia mencari tahu sendiri alasan Farhan jarang pulang ke rumah, Hingga akhirnya Sifa tahu kalau ternyata Farhan menemani Safita sang mantan jodohnya. Sifa segera menyusul Nesha ke kamar mandi meninggalkan Farhan yang masih berdiri mematung.
**TBC.....
Jangan lupa like di setiap babnya...
Kasih author hadiah ya biar semangat nulisnya.
Makasih... Miss U All**
__ADS_1