
Gama mengajak Luci masuk ke kamarnya yang berada di rumah Ardiansyah.
" Istirahatlah sayang! Kita akan pulang sore nanti." Ucap Gama.
" Iya Mas." Sahut Luci.
Luci duduk di tepi ranjang tiba tiba...
Pyak.... Sur....
" Mas air." Pekik Luci melihat air mengalir dari sela sela pahanya.
" Astaga sayang, air apa ini?" Tanya Gama khawatir.
" Sepertinya aku mau melahirkan Mas, ini air ketuban." Ucap Luci.
" Mana yang sakit sayang?" Tanya Gama.
" Aku tidak merasakan apa apa Mas." Sahut Luci.
" Ayo kita ke rumah sakit sekarang, aku akan menggendongmu sampai ke mobil." Ujar Gama menggendong Luci ala bridal style.
Gama menuruni tangga dengan hati hati. Valen yang hendak menaiki tangga menghentikan langkahnya. Ia menatap Gama dan Luci sambil mengernyitkan dahinya.
" Luci kenapa Gam? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Valen.
" Sepertinya Luci mau melahirkan Len, air ketubannya pecah." Sahut Gama.
" Ya udah segera bawa ke rumah sakit saja, aku akan menyusul dengan yang lainnya." Ujar Valen.
" Ok, aku pergi dulu." Sahut Gama melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
Setelah Luci duduk sempurna di dalam mobilnya. Gama segera masuk ke mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang.
" Apa ada yang sakit sayang? Katakan padaku mana yang sakit." Ucap Gama menoleh ke arah Luci.
" Tidak ada Mas jangan khawatir, aku baik baik saja." Sahut Luci.
" Baiklah jika ada yang sakit katakan saja." Ujar Gama.
" Iya Mas." Sahut Luci.
Dua puluh menit kemudian Gama sampai di pelataran rumah sakit. Ia segera menggendong Luci masuk ke dalam ruangan UGD. Ia membaringkan tubuh Luci di atas brankar dengan pelan.
" Apa yang terjadi dengan istri anda Pak?" Tanya Suster.
" Sepertinya istri saya mau melahirkan sus, air ketubannya sudah pecah di rumah tadi." Sahut Gama.
" Baiklah Pak silahkan tunggu di luar, dokter akan segera memeriksanya." Ujar Suster.
" Baik Sus." Sahut Gama keluar ruang UGD.
Gama keluar ruangan lalu duduk di kursi tunggu menunggu Dokter memeriksa Luci di dalam. Tak berapa lama suster memanggilnya ke dalam.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Gama kepada Dokter yang menangani Luci, sebut saja dokter Mila.
" Istri anda baik baik saja Tuan, tapi detak jantung bayi anda di atas normal, kami harus segera mengeluarkannya demi keselamatan bayinya Tuan." Terang Dokter Mila.
__ADS_1
" Tindakan apa yang akan di lakukan Dok?" Tanya Gama.
" Sebenarnya lebih efektif jika di lakukan tindakan operasi Tuan, namun Nona Luci menolaknya, dia ingin melahirkan normal dan karna Nona Luci belum mengalami pembukaan, maka kami akan menyuntikan obat pendorong supaya Nona Luci bisa segera melahirkan." Sahut Dokter Mila.
Ini kisah author saat mau melahirkan anak ke tiga. Kalau di tempat author orang orang menyebutnya di pacu. Mungkin ada yang pernah mengalaminya.
" Apa itu tidak berbahaya untuk bayi kami Dok?" Tanya Gama.
" Insyaallah tidak Tuan." Sahut Dokter.
" Apa kamu yakin sayang?" Tanya Gama menatap Luci.
" Iya Mas." Sahut Luci.
" Kamu tidak mau operasi supaya bayi kita cepat terselamatkan?" Tanya Gama.
" Insyaallah anak kita kuat Mas, aku ingin merasakan bagaimana menjadi wanita sempurna dengan melahirkannya secara normal." Sahut Luci.
" Baiklah kalau begitu, lakukan segera Dok supaya anak kami segera terselamatkan." Ucap Gama menatap Dokter Mila.
" Baik Tuan, kami akan melaksanakan tapi anda harus menandatangani surat persetujuan tindakan yang akan kami lakukan selanjutnya terlebih dahulu Tuan, silahkan ikut ke ruangan saya sebentar." Ucap Dokter.
" Baik Dok." Sahut Gama.
" Aku ke ruangan Dokter dulu sayang." Ucap Gama mencium kening Luci.
" Iya Mas, jangan lama lama." Sahut Luci.
Gama keluar ruangan menuju ruangan Dokter Mila. Setelah selesai menandatangani surat persetujuan, Gama berjalan menuju ruang rawat Luci karna baru saja suster memindahkan Luci ke sana.
Gama membuka pintu ruang rawat Luci. Ia menatap Luci yang sedang terbaring di atas ranjang. Terlihat seorang suster sedang menyuntikkan obat ke dalam infus yang menancap pada tangan kiri Luci.
Gama menghampiri Luci dengan mata berkaca kaca. Beginikah perjuangan seorang istri untuk menyempurnakan kebahagiaan suaminya? Beginikah perjuangan seorang ibu untuk memberikan kehidupan untuk calon anak anaknya? Tak terasa Gama meneteskan air matanya.
Gama duduk di kursi tepi ranjang sambil menggenggam tangan Luci. Sedangkan suster meninggalkan ruangan untuk kembali menangani pasien yang lainnya.
" Sayang kuat dan bertahanlah demi aku dan anak kita nanti, aku selalu berada di sisihmu untuk mendukungmu." Ucap Gama mencium punggung tangan Luci.
" Terima kasih Mas, terima kasih kau sudah menjadi penguat dalam hidupku." Ujar Luci.
" Itu sudah menjadi kewajibanku sayang." Sahut Gama.
Gama mengelus perut Luci.
" Halo sayang, Papa sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu... Segeralah lahir dengan selamat, jangan biarkan kami menantimu lebih lama lagi." Ucap Gama mencium perut buncit Luci.
" Shh..." Desis Luci saat merasakan nyeri pada perutnya.
" Kenapa sayang?" Tanya Gama.
" Sepertinya obatnya mulai bereaksi Mas, sakit." Sahut Luci.
" Mana yang sakit? Biar Mas usap ya." Ujar Gama.
" Perut sama punggung terasa sedikit panas dan sakit Mas." Sahut Luci.
" Coba kamu miring biar Mas mudah untuk mengusapnya." Ujar Gama.
__ADS_1
Luci memiringkan tubuhnya membelakangi Gama. Gama segera mengusap punggung Luci berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Ceklek....
Pintu terbuka menampakkan Valen dan Mami Nesha. Keduanya menghampiri Luci dan Gama.
" Gimana Gam? Apa Luci baik baik saja?" Tanya Valen.
" Iya Len, Luci di berikan suntikan dorongan supaya bayinya bisa segera lahir." Sahut Gama.
" Oh ya Tuhan... Itu pasti terasa sangat sakit sekali, Luci yang kuat ya... Semoga debaynya segera lahir dengan selamat." Ujar Valen.
" Amin... Makasih Kak." Sahut Luci.
" Mami sama Valen pulang aja dulu, kata dokter prosesnya masih lama, entar kalian kelamaan menunggu di sini, kasihan Erald kalau di tinggal lama lama." Ujar Gama.
Mami Nesha dan Valen saling melempar tatapan. Mami Nesha menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan Gama.
" Baiklah, kabari kami jika debaynya sudah lahir." Ucap Valen.
" Iya." Sahut Gama.
" Luci Mami pulang dulu ya, kamu harus kuat dan semoga persalinannya nanti lancar tanpa ada hambatan suatu apapun." Ucap Mami Nesha menyentuh punggung Luci.
" Iya Mi, makasih doanya." Sahut Luci.
" Sayang Mami pulang." Ucap Mami Nesha.
" Hati hati Mi." Sahut Gama.
Mami Nesha dan Valen berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Luci.
Luci mulai merasakan sakit yang luar biasa akibat reaksi obat yang Ia terima beberapa saat lalu. Ia nampak gelisah dan membolak balikkan badannya.
" Kenapa sayang? Apa sudah mulai kontraksi?" Tanya Gama.
" Sepertinya Mas, duh sakit banget Mas." Keluh Luci.
" Aku usap usap lagi ya." Ujar Gama.
" Nggak ngaruh Mas, sakitnya semakin menjadi Mas.... Awh..." Sahut Luci.
" Mas harus gimana sayang? Apa perlu Mas panggil Dokter?" Tanya Gama.
" Tidak usah Mas, kamu cukup diam saja di sini... Sh..... Ya Allah.. Sakit sekali." Ujar Luci.
" Ya Allah kurangi rasa sakitnya, mudahkanlah persalinannya, kuatkan istriku untuk mewujudkan cita citanya menjadi wanita yang sempurna, biarkan aku yang merasakan sakitnya." Batin Gama.
TBC.....
Author jadi gimana gitu..... Ke inget saat lahiran si bontot.... Masya allah nikmatnya sakit saat di pacu...
Jangan lupa like koment dan votenya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... semoga sehat selalu....
Miss U all...
__ADS_1