
Hari ini Nesha sedang menemani Nathan dan Gama bermain di ruang bermainnya. Nathan belajar menggambar dan mewarnai sedangkan Gama bermain robot dan mainan lainnya.
" Nathan Mami haus, Mami mau minum dulu di dapur ya, Jagain Adeknya sebentar jangan kemana mana, Jangan biarkan Adek bermain kertas ya, Mengerti?." Ucap Nesha.
" Iya Mi." Sahut Nathan.
Nathan pindah ke belakang Gama menjaga Gama agar tidak jatuh ke belakang. Kadang kadang saat Gama duduk tiba tiba Ia merebahkan punggungnya kebelakang di sembarang tempat.
(Kalau bahasa author mah " Nggeblak", Tahu kan ya)
Nesha berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, Setelah meminum segelas air putih Ia kembali ke kamarnya.
" Ya ampun Nathan." Peki Nesha melihat Gama merobek robek gambar yang Nathan buat hingga menjadi kertas kecil kecil.
" Maaf Mi." Ucap Nathan menunduk. Ia takut di marahi Nesha karena membiarkan Gama bermain kertas padahal Ia sudah di beritahu oleh Nesha sebelumnya.
" Kenapa kamu diam aja gambarnya di sobek sama Adek gini sayang? Kenapa nggak kamu ambil saja? Kan sayang Nathan udah gambar capek capek malah di sobek sama Gama." Ujar Nesha mencuci tangannya di wastafel yang berada di kamar Nathan, Lalu ia menjajari mereka. Nesha memasukkan jarinya ke mulut Gama khawatir ada kertas yang termakan oleh Gama.
" Biarin aja Ma Athan takut kalau Athan minta kertasnya entar Dek Gam nangis, Entar di kira Athan ndak sayang sama Dek Gam, Lagian Athan bisa gambar lagi Mi." Sahut Nathan. Nesha tersenyum menatap Nathan.
" Sayang.... Cara kamu menunjukkan kasih sayang pada Adek salah sayang." Ucap Nesha.
" Salah?" Gumam Nathan.
" Iya Sayang.... Kalau Adek melakukan kesalahan seharusnya sebagai Abang, Nathan menegurnya bukan diam mengalah seperti ini sayang." Ujar Nesha lembut.
" Tapi kan Adek masih kecil Mi, Jadi Athan harus mengalah sama Adek, Athan kan Abangnya jadi harus bisa momong Dek Gam." Ujar Nathan.
" Siapa yang bilang begitu?" Tanya Nesha.
" Papi Mi." Sahut Nathan menunduk.
" Sayang.... Adek Gam memang masih kecil, Tapi semua hal baik harus di tanamkan sejak kecil bukan? Jangan jadikan Adek anak yang egois, Kalau Nathan terus mengalah sama Adek Gama, Gama akan menjadi anak yang semena mena sama Nathan, Bukan hanya sama Nathan tapi sama temannya juga sayang." Tutur Nesha memberi pengertian kepada Nathan, Entah Nathan mengerti atau tidak yang penting Ia sudah memberitahunya.
" Gama tidak akan pernah mengerti akan kesalahannya, Kamu harus bisa menunjukkan emosimu sayang, Jika Nathan tidak suka bilang tidak suka, Jika Nathan marah maka katakan aku marah, Jangan hanya mengalah dan diam saja, Jangan biarkan kasih sayang Nathan justru membuat Adek terjerumus dalam kesalahan sayang, Nathan paham kan ucapan Mami?" Tanya Nesha menatap Nathan.
" Iya Mi." Sahut Nathan.
" Kalau Adek salah katakan, Adek tidak baik seperti itu harusnya Adek tidak menganggu Abang yang sedang belajar, Adek bisa bermain yang lainnya." Ucap Nesha memberi contoh.
" Terus kalau Dek Gam nangis gimana Mi?" Tanya Nathan.
Nesha sedikit berpikir karena tidak mungkin kan Nathan menggendong Gama untuk meredakan tangisannya. Bukankah cara efektif membuat anak diam dari tangisannya adalah menggendongnya?
" Jika Dek Gam nangis, Abang harus merayunya donk, Seperti gini ya." Ujar Nesha memberi contoh.
" Cup cup cup Adek jangan nangis ya, Kita mainan yang lainnya aja." Ucap Nesha mengelus punggung Gama.
" Tapi ingat Bang Nathan tidak boleh menggendongnya, Karena apa?" Tanya Nesha menatap Nathan.
__ADS_1
" Bahaya." Sahut Nathan.
" Pinter, Jadi kalau Adek salah harus...." Nesha menjeda ucapannya.
" Harus di tegur Mi biar Dek Gam tahu kalau itu salah, Dan kalau nagis harus di bujuk sampai nangisnya diem." Ujar Nathan.
" Pinter anak Mami." Sahut Nesha mencium pipi Nathan.
Nathan menghampiri Gama yang sedang asyik dengan kertasnya.
" Dek Gam jangan ganggu Abang belajar ya, Dek Gam mainan yang lainnya aja, Nanti kalau Bang Athan udah selesai kita main bareng." Ujar Nathan.
Nathan mengumpulkan kertas kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Nesha menatapnya sambil tersenyum haru ternyata putra asuhnya begitu menyanyangi putranya. Ia akan menyayangi kedua putranya tanpa membeda bedakannya. Baginya yang salah harus di tegur dan yang benar harua di bela tidak peduli itu Gama ataupun Nathan.
" Istrinya siapa sih pinter banget ambil hati anak orang." Bisik Farhan di telinga Nesha.
Nesha menoleh ke arah Farhan yang sedang berjongkok di belakangnya dengan satu kaki menjadi tumpuannya. Nesha bahkan tidak sadar jika suaminya melihatnya sedari tadi. Farhan begitu bahagia dan semakin kagum dengan kelembutan hati Nesha.
" Istrinya Mas Farhan donk, Dan perlu Mas tahu Nathan anakku bukan anak orang." Sahut Nesha .
" Iya deh percaya." Ucap Farhan mencium pipi Nesha.
" Mas ada anak anak." Protes Nesha.
" Kenapa? Mereka juga sering lihat aku nyium kamu, Mereka senang karena mereka tahu jika kita saling menyayangi sayang." Ujar Farhan memeluk Nesha dari belakang.
" Kapan Mas datang?" Lirih Nesha.
" Sejak kamu memberi pengertian pada Nathan." Jawab Farhan menyesap tengkuk Nesha, Tentunya diam diam agar kedua putranya tidak mengetahuinya.
" Masss." Desis Nesha.
Gama merangkak menghampiri kedua orang tuanya. Ia memukuli tubuh Farhan dari samping seolah tidak terima jika Maminya di ambil oleh Papinya.
" Uduh anak Papi nggak boleh ya Maminya di minta." Ucap Farhan menggendong Gama.
" Pa pa pa pa." Celoteh Gama.
" Dek Gam sama Papi, Bang Athan sama Mami." Ujar Nathan duduk di pangkuan Nesha.
" Iya sayang." Sahut Nesha.
" Mi kapan Dek Gam punya Adik?" Tanya Nathan polos.
" Kalau Bang Nathan sama Dek Gama udah besar, Udah sekolah SD misalnya." Sahut Nesha.
" Bang Athan pengin punya Adik kembar dari Mami." Ucap Nathan.
( Ah ini mah ke inginanya readers)
__ADS_1
Nesha dan Farhan saling menatap.
" Kembar? Sepertinya nggak bisa sayang, Karena biasanya orang kembar itu harus punya keturunan kembar juga." Ujar Nesha.
" Apa itu Mi? Athan ndak paham." Ujar Nathan.
" Ah iya Bang Athan belum bisa berpikir ke sana, Yang jelas jika Mami hamil lagi nggak bisa kembar, Cuma satu seperti Adek Gama." Terang Nesha.
" Ya udah deh ndak pa pa, Bang Athan pengin punya Adek yang banyak Pi." Celoteh Nathan.
" Insya Allah." Sahut Nesha.
" Oh ya Nathan kan mau punya Adek dari Mama, Jadi tambah banyak donk entar Adeknya." Ujar Nesha mencoba membuat Nathan terbuka lagi dengan mereka.
Nesha sadar bagaimanapun Jordan dan Sifa adalah orang tua Nathan yang sebenarnya. Ia tidak mau egois memiliki Nathan sendirian. Tapi apa boleh di kata jika Nathan sendiri yang menolaknya. Bentakan yang Jordan berikan sepertinya begitu membekas di otaknya.
" Nggak mau, Athan mau Adek dari Mami saja, Mami lebih sayang sama Athan, Mami ndak pernah bentak atau marahi Athan, Mami selalu tersenyum sama Athan ndak kaya' Papa Jordan galak." Gerutu Nathan sambil cemberut.
" Baiklah sayang untuk saat ini biarkan seperti ini, Mami akan pasrahkan apa yang akan terjadi kedepannya jika kamu mengetahui yang sebenarnya." Batin Nesha memeluk Nathan.
Farhan tersenyum bahagia melihat Nathan sangat menyayangi Nesha dan Gama. Semoga mereka bisa selalu bersama untuk mendukung satu sama lainnya di luar hubungan mereka yang tidak ada aliran darah.
TBC....
*Sedikit aja ya... Author udah doble up nih kasih mawarnya donk...
Makasih...
Miss U All*...
DUKUNG JUGA KARYA AUTHOR
PRIA CACAT ITU SUAMIKU
SUAMIKU KAKAK ANGKATKU
Author tunggu dukungannya di sana ya....
__ADS_1