
Nathan baru saja pulang sekolah, Setelah turun dari mobil Ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia menuju kamarnya untuk mengganti bajunya, Setelah itu Ia menuju kamar Nesha.
Tok tok tok
" Mami Papi apa Abang boleh masuk?" Tanya Nathan setelah mengetuk pintunya.
" Boleh sayang." Teriak Nesha dari dalam.
Ceklek....
Nathan berjalan menghampiri Nesha yang sedang bermain dengan Gama di atas karpet bulunya.
" Udah pulang sayang?" Tanya Nesha basa basi, Padahal tanpa bertanya Ia pun sudah tahu.
" Sudah Mi." Sahut Nathan menyalami Nesha dengan takzim.
" Mi, Papi mana?" Tanya Nathan mengedarkan pandangannya barang kali bisa menemukan Farhan.
" Papi baru saja keluar, Katanya ada urusan sebentar." Sahut Nesha.
" Mi bolehkan Abang meminta sesuatu dari Mami?" Tanya Nathan menatap Nesha. Sedangkan Nesha mengerutkan keningnya.
" Apa itu sayang?" Tanya Nesha.
" Meli sudah tiga hari tidak masuk sekolah Mi, Dia di rawat di rumah sakit, Apa Mami mau mengantar Abang untuk menjenguknya?" Tanya Nathan menundukkan kepalanya.
Nesha tampak berpikir sebentar.
" Kalau Mami sih mau mau saja sayang tapi kita harus meminta ijin sama Papi dulu." Sahut Nesha.
" Iya Mi Abang mengerti, Nanti kalau Papi udah pulang Abang akan bilang sama Papi." Ujra Nathan.
" Kamu belum makan kan?" Tanya Nesha.
" Belum Mi." Jawab Nathan menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu sekarang makan dulu minta Mbak Nadia untuk mengambilkannya ya sayang." Ujar Nesha.
" Apa Mami udah makan?" Tanya Nathan.
" Sudah sayang, Maafin Mami ya karna Mami makan duluan, Sekarang kan ada dua adek Abang di dalam perut Mami jadi Mami selalu merasa lapar setiap saat sayang." Jelas Nesha.
" Iya Mi Abang tahu, Adek adek Abang jangan nakal ya sama Mami, Kasihan Mami kita Dek, Sehat sehat di dalam sana, Besok kalau kalian udah lahir kita bisa main bola atau masak masakkan ya." Ucap Nathan mengelus perut Nesha yang sudah terlihat lebih besar dari wanita hamil pada umumnya. Maklumlah ya kembar.
" Iya Abang sekarang Abang makan dulu ya." Ucap Nesha menirukan suara anak kecil.
" Iya Mi, Dek Gam kamu udah makan?" Tanya Nathan menatap Gama. Gama menganggukkan kepalanya saja.
" Abang makan dulu Mi, Mami ingin Abang ambilkan sesuatu?" Tanya Nathan.
" Tidak sayang terima kasih." Ucap Nesha.
" Baiklah." Sahut Nathan.
Nathan keluar kamar menuju dapur untuk mengisi perutnya. Nesha melanjutkan kegiatannya menemani Gama bermain. Tak lama Farhan masuk ke dalam menghampirinya.
" Apa kamu mau menjenguk Meli di rumah sakit?" Tanya Farhan tiba tiba.
" Eh.." Gumam Nesha sambil mengerutkan keningnya.
" Nathan meminta ijin mau menjenguk Meli bersamamu, Apa kamu mau ke sana?" Ucap Farhan.
" Kalau Mas mengijinkan aku mau menjenguk Meli Mas, Kata Nathan dia di rawat di rumah sakit udah tiga hari, Aku hanya ingin melihat keadaannya saja." Sahut Nesha.
" Aku ijinkan tapi harus aku yang mengantar kalian." Ucap Farhan.
" Baiklah Mas, Nanti sore saja ya." Ujar Nesha.
" Hmm... Tujuanmu menjenguk Meli jadi kamu harus jaga jarak dengan Raman." Ucap Fathan.
" Kamu meragukan aku setelah sekian lama aku menjadi istrimu?" Tanya Nesha menatap Farhan.
" Bukan tidak percaya padamu sayang, Tapi aku tidak percaya dengan Raman." Ujar Farhan.
" Ya terserah kau saja Mas, Tapi ngomong ngomong kalau Raman mau juga nggak masalah sih." Gurau Nesha.
" Kamu mau berpaling dariku?" Selidik Farhan.
" Aku bosan dengan tuduhanmu Mas, Jadi mending aku jadikan kenyataan saja. " Ucap Nesha memutar bola matanya malas.
" Maafkan aku sayang, Aku hanya terlalu takut kehilanganmu." Ujar Farhan.
" Baiklah Mas tidak masalah, Yang jelas aku akan selalu setia mencintaimu." Sahut Nesha.
Sore hari Nesha, Nathan dan Farhan menuju rumah sakit. Mereka masuk ke dalam ruang rawat yang sudah di beritahukan oleh suster sebelumnya.
Ceklek....
__ADS_1
Farhan membuka pintunya, Ketiganya masuk secara bergantian. Raman menoleh ke arah pintu. Ia menatap tajam ke arah Farhan.
" Kau." Ucap Raman.
" Selamat sore Tuan Raman." Sapa Nesha dari belakang tubuh Farhan.
" Ah selamat sore Nona Nesha, Silahkan masuk, Terima kasih sudah memenuhi undanganku walaupun sedikit telat tapi tida apa daripada tidak sama sekali." Ujar Raman.
Farhan menoleh ke arah Nesha membuat Nesha sedikit takut. Pasalnya Nesha tidak mengatakan tentang pesan yang Raman kirimkan padanya.
" Mengundangnya? Apa kau mengundang istriku? Untuk apa?" Tanya Farhan.
" Iya aku meminta istrimu yang seharusnya menjadi milikku untuk ke sini, Meli selalu menangis menyebut namanya." Ujar Raman menunjuk Nesha.
" Kau menggunakan putrimu untuk mendekati istriku." Ucap Farhan.
" Ayo kita pulang." Sambung Farhan menarik tangan Nesha.
" Tante." Pekik Meli. Semua orang menatap ke arah Meli yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia duduk di atas ranjang.
" Tante, Om, Vernathan sini." Panggil Meli.
Nesha menatap Farhan lalu melepaskan cekalan tangan Farhan. Ia menggandeng tangan Nathan menghampiri Meli. Raman dan Farhan saling pandang. Senyum mengejek terbit di bibir Raman sambil mengedikkan bahunya.
" Halo sayang gimana keadaanmu hmm?" Tanya Nesha.
" Sakit Tan." Sahut Meli.
" Hallo Mel, Semoga cepat sembuh ya." Ucap Nathan.
" Makasih ya udah mau jenguk Mei ke sini." Ucap Meli.
" Sama sama." Sahut Nathan.
" Mana yang sakit sayang?" Tanya Nesha.
" Sini." Sahut Meli menunjuk dadanya.
" Tante tiup ya biar sembuh." Ujar Nesha. Meli menganggukkan kepalanya.
Nesha meniup dada Meli. Ia teringat saat dia kecil, Jika Ia merasa kesakitan Mama Ranti pasti akan meniup bagian yang sakit itu. Terbesit pertanyaan dalam hatinya, Sebenarnya Meli ini sakit apa? Kenapa bagian dadanya yang ia rasakan? Nanti akan Nesha tanyakan kepada Raman. Pikir Nesha.
" Makasih Tante." Ucap Meli.
" Sama sama sayang." Ucap Nesha.
" Tante aku mau makan, Apa tante mau menyuapinya?" Tanya Meli.
" Dari kemarin dia tidak mau makan Nona Nesha." Sahut Raman yang duduk bersama Farhan di sofa.
" Duh kasihan sekali gadis cantik ini." Ucap Nesha.
" Nathan mau menyuapi Meli?" Tanya Nesha.
" Enggak ah Mi, Aku mau lihat aja." Sahut Nathan.
" Nathan duduk di sini ya." Ujar Nesha.
" Iya Mi." Sahut Nathan.
Nesha mengambil makanan Meli di atas nakas, Ia mulai menyuapkan suap demi suap hingga makanan Meli habis tak tersisa. Setelah itu Nesha meminumkan obatnya.
" Kau lihat perhatian Nesha pada putriku? Kedekatan mereka akan membawa Nesha kepadaku." Ujar Raman menatap interaksi ke tiga orang berbeda generasi itu.
" Bangunlah dari tidurmu agar kau bangun dari mimpimu karna mimpimu tidak akan pernah menjadi kenyataan." Sahut Farhan.
" Kita lihat saja Han, Apa yang Raman inginkan pasti akan menjadi kenyataan walaupun itu hanya sekedar mimpi maupun ilusi." Ucap Raman.
" Kau benar benar tidak malu Man." Cebik Farhan.
" Lebih baik tidak tahu malu daripada tidak menepati janjinya." Sindir Raman.
" Tidak perlu membahas itu lagi karna sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan istriku untuk orang lain, Perhatian Nesha pada putrimu hanya sebagai bentuk kepeduliannya saja." Ujar Farhan.
" Dari kepedulian menjadi cinta, Sama seperti yang Ia lakukan dengan putramu bukan?" Ujar Raman.
Farhan mengepalkan tangannya menahan emosinya. Ia beranjak dari kursinya lalu menarik pelan tangan Nathan dan Nesha.
" Mas." Ucap Nesha.
Farhan menarik tangan keduanya keluar ruangan tanpa mempedulikan teriakan Meli.
" Tante.... Vernathan..." Teriak Meli memanggil Nesha dan Nathan.
" Mas apa apaan ini? Kita mau kemana?" Tanya Nesha.
" Kita pulang." Sahut Farhan.
__ADS_1
" Mas apa yang terjadi? Kenapa begini?"Tanya Nesha.
" Papi." Ucap Nathan.
Farhan tidak mempedulikannya, Ia menarik tangan istri dan putranya hingga ke mobil.
" Papi sakit." Ucap Nathan.
Mendengar Nathan memekik kesakitan Nesha menyentak kasar tangan Farhan hingga membuat cekalannya lepas.
" Apa apaan kamu Mas? Kamu menyakiti putraku." Bentak Nesha melepas paksa cekalan Farhan pada tangan Nathan.
" Sayang kamu tidak pa pa?" Tanya Nesha cemas.
" Tidak apa Mi hanya sedikit sakit saja." Jawab Nathan.
" Baiklah sekarang masuk ke dalam mobil." Titah Nesha.
" Baik Mi." Sahut Nathan.
Nathan masuk ke dalam mobilnya. Ia tahu jika Maminya akan menyelesaikan masalahnya.
" Kamu ini kerasukan setan apa Mas? Tega teganya kamu menyakiti kami." Ucap Nesha.
Farhan yang sadar akan kesalahannya menatap tangan Nesha yang memerah akibat cekalannya.
" Maafkan aku sayang, Aku begitu emosi mendengar...
" Kita selesaikan di rumah." Potong Nesha. Ia tidak mau Nathan melihat pertengkaran mereka.
Setelah Nesha dan Nathan masuk mobil, Farhan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai. Nesha menyuruh Nathan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia mengajak Farhan masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.
" Katakan apa yang membuatmu begitu kesal!" Titah Nesha duduk di tepi ranjang.
" Kamu membohongiku." Ucap Farhan.
" Tentang apa? Tentang pesan Raman menyuruhku datang ke rumah sakit begitu? Aku tidak mengatakannya padamu karna aku tidak menanggapi permintaannya Mas, Dan kau juga tidak bertanya padaku bukan? Jadi aku tidak membohongimu." Jelas Nesha.
" Tapi setidaknya cerita padaku sayang, Kau menyembunyikan hal ini dariku." Ujar Farhan.
" Aku baru tidak jujur tentang hal sepele macam ini saja kamu sudah marah, Lalu bagaimana denganku yang berkali kali kamu bohongi Mas, Apa perlu aku mengungkit semua kebohongan yang kau lakukan padaku begitu?" Tekan Nesha.
Skakmat...
Farhan tidak bisa berkata apa apa lagi di depan Nesha.
" Maaf... Bukan hal itu saja yang membuat aku marah, Tapi perkataan Raman yang ingin merebutmu dariku." Ucap Farhan.
" Kenapa kau begitu khawatir? Apa kau menyamakan aku dengan mantan istrimu yang mudah tergoda dengan pria lain?" Selidik Nesha.
" Bukan seperti itu sayang tapi aku hanya takut kehilanganmu." Sahut Farhan.
" Lagi lagi itu lagi yang kamu ucapkan Mas, Aku bosan mendengarnya, Harus berapa kali aku bilang kalau aku bukan wanita gampangan yang mudah tertarik dengan pria lain, Kalau aku gampangan aku tidak mau dengan sisa orang sepertimu." Ketus Nesha.
Wah pedas ucapan Nesha. Tapi Ia saking gedhegnya sama Farhan yang selalu berpikiran buruk tentang hubungan mereka.
" Maafkan aku sayang, Maafkan aku sekali lagi." Ucap Farhan memeluk Nesha.
" Aku bosan mendengar kata maafmu Mas." Sahut Nesha.
" Apa kamu tidak mau memaafkan aku kali ini?" Tanya Farhan menangkup wajah Nesha.
" Aku akan memaafkanmu lagi dan lagi, Tapi jangan salahkan aku jika aku sudah bosan memaafkanmu maka aku akan pergi meninggalkanmu." Ujar Nesha.
" Jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Farhan.
" Hmm.. Tergantung." Gumam Nesha.
" Tergantung? Tergantung apa?" Tanya Farhan.
" Ya tergantung bagaimana sikapmu padaku Mas, Udah ah aku laper mau makan." Ujar Nesha.
" Uluh anak anak Papi udah lapar lagi ya, Maafin Papi ya yang udah nyakitin Mami kalian" Ujar Farhan mrngelus perut Nesha.
" Minta maaf juga sama Nathan." Ucap Nesha mengingatkan.
" Baiklah sayang akan aku lakukan." Sahut Farhan.
TBC......
Hayooo siapa nih yang gampang marahan dan gampang baikan juga sama suami???
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentnya...
Author ucapkan terima kasih buat readers yang udah selalu dukung author...
Jangan lupa mampir ke karya baru author ya..
__ADS_1
..." **TERNYATA DIA HANYA MILIKKU"...
Miss U All**...