Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
108. Memberitahu Kehamilan Cia


__ADS_3

Sepulang dari pemakaman, keluarga Ardiansyah pulang ke rumah. Nathan segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.


" Udah pulang Mas?" Tanya Valen.


" Udah, Mas mandi dulu." Sahut Nathan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai Ia menghampiri Valen yang sedang bermain main di atas ranjang dengan Erlad.


" Anak Mami yang ganteng, mau apa sih?" Ucap Valen saat Erald menarik narik rambutnya sambil menggerakkan kedua kakinya.


" Aduh aduh nanti tangan kamu sakit sayang kena rambut Mami." Ujar Valen menarik rambutnya dari tangan Erald dengan pelan.


Nathan menghampiri Valen sambil membawa sebuah ikat rambut.


" Makanya kalau mau main sama Erald, di ikat dulu rambutnya Yank! Nanti kalau masuk ke mulut Erald kan bahaya." Ujar Nathan mengikat rambut Valen.


" Maaf Mas, tadi aku nggak sempet ngikat rambutku karna Erald udah keburu nangis." Sahut Valen.


" Selesai." Ucap Nathan.


" Tayangna Papi makin gembul aja nih." Ucap Nathan menciumi pipi gembul Erald.


" Iya donk Papi, anak Papi kan sehat." Sahut Valen.


" Ha..a...a..." Tawa Erald pecah kala Nathan mendusel perutnya.


" Udah Mas jangan gitu, nanti Erald nggak doyan makan." Ujar Valen.


" Makan? Apa Erald sudah makan? Kan cuma minum asi kamu aja Yank." Ujar Nathan.


" Ya maksudku itu Mas." Sahut Valen.


" Ah kamu ini Yank, istri siapa sih manis banget walau udah punya anak satu, makin sayang deh aku sama kamu." Ujar Nathan mencium pipi Valen.


" Mas." Ucap Valen manja.


" Apa sayang?" Tanya Nathan kembali bermain dengan Erald.


" Mas kamu ih." Ujar Valen.


" Pengin apa sih Yank? Mau ciuma lagi atau mau yang lebih?" Goda Nathan.


" Tau ah." Sahut Valen cemberut.


" Erald sayang, lihat Mamimu kalau cemberut tambah manis kan? Papi tidak tahan ingin mencium bibir Mamimu." Ujar Nathan.


" Mas ngomong apa sih, nggak boleh ngomong gitu di depan Erald ah." Sahut Valen.


" Ya nggak pa pa lah sayang, kan cuma ngomong gitu doank, nggak yang aneh aneh." Ujar Nathan.


" Uluh uluh anaknya Papi yang paling ganteng, udah mik cucu belum sih kok nyesapin jempol." Ujar Nathan.


" Tadi sih udah Mas, masih kenyang juga kaya'nya." Ujar Valen.


" Kalau anaknya udah kenyang, gimana kalau sekarang di kasih ke bapaknya aja." Ujar Nathan menatap Valen.

__ADS_1


" Mas kamu ini." Cebik Valen.


" Boleh ya?" Tanya Nathan.


" Enggak." Sahut Valen.


" Boleh lah Yank." Ujar Nathan.


" Kamu udah setiap malam Mas minta jatah, kalau siang nggak ada! Lagian ada Erald juga ngomongnya gitu." Ucap Valen cemberut.


" Ya udah nggak usah cemberut gitu kali." Sahut Nathan.


" Baiklah Mas aku akan tersenyum manis untukmu, full smile." Ucap Valen mengembangkan senyumnya ke arah Nathan.


Tiba tiba....


Cup....


Valen membulatkan matanya sambil melongo. Kesempatan itu Nathan gunakan untuk menyusupkan lidahnya. Nathan menahan tengkuk Valen memperdalam ciumannya. Nathan melum** bibir Valen dengan lembut. Ia mengekspos setiap inchinya. Belum juga puas menikmati manis bibir istrinya tiba tiba....


Oek.. Oek...


Erald menangis kencang membuat Nathan melepas pagutannya.


" Sayangnya Papi kenapa?" Tanya Nathan salah tingkah lalu Ia menggendong Erald.


Valen menahan tawa melihat sikap suaminya yang seolah terpergok oleh orang dewasa. Valen merasa bahagia memiliki dua pangeran tampan yang selalu berada di sisinya.


" Sayang kapan jadwal chek up kamu?" Tanya Irvan memeluk Cia dari belakang.


Saat ini Cia sedang berdiri menghadap keluar jendela.


" Kapan kapan." Sahut Cia.


" Kok kapan kapan sih? Tentukan jadwalnya donk sayang biar aku bisa mengantarmu." Ujar Irvan mencium pipi Cia.


" Tidak usah repot repot aku bisa sendiri Mas." Sahut Cia.


" Kok kamu ngomongnya gitu sih? Aku kan ingin mengantar kamu periksa untuk yang pertama, aku sayang kamu sama calon babby kita sayang, apa kamu masih marah sama aku? Aku sudah meminta maaf sama kamu sayang, apa kamu nggak kasihan sama aku yang merasa kesepian karna kamu bersikap dingin seperti ini kepadaku?" Tanya Irvan.


Cia tidak bergeming, Ia memilih bungkan daripada berdebat.


" Masalah Elin sudah terselesaikan, masalah Saka juga sudah, lalu kenapa kamu masih marah sama aku? Sebenarnya apa yang membuatmu marah seperti ini sayang?" Sambung Irvan.


" Entahlah Mas aku juga tidak tahu, moodku sedang dalam kondisi tidak baik akhir akhir ini, kau tidak perlu banyak bertanya, sekarang lepaskan aku! Aku mau ke bawah buat makan siang." Ujar Cia.


" Kamu baru mau makan siang sayang? Padahal ini hampir petang." Ujar Irvan.


" Aku lagi malas makan, sekarang mumpung aku mau jadi lepaskan aku." Ucap Cia.


" Baiklah sayang." Sahut Irvan melepas pelukannya.


Cia berjalan meninggalkan Irvan tanpa mengajaknya membuat Irvan menghela nafasnya pelan. Irvan segera menyusul Cia ke bawah.

__ADS_1


" Eh sayang, apa ada yang kamu butuhkan?" Tanya Mami Nesha yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka.


" Aku mau makan Mi, dari tadi siang aku nggak makan." Sahut Cia duduk di meja makan.


" Silahkan sayang makan yang banyak biar sehat dan cepat di beri momongan." Ujar Mami Nesha.


" Aku sudah mendapatkannya Mi." Ucap Cia.


" Apa maksudmu?" Tanya Mami Nesha menatap Cia.


" Aku sedang hamil Mi." Ucap Cia.


" Apa? Kamu sedang hamil?" Pekik Mami Nesha.


" Iya Mi." Sahut Cia.


" A.... Selamat sayang, selamat untukmu karna sebentar lagi kamu mau jadi seorang ibu, semoga sehat dan lancar sampai persalinan ya... Mami sudah tidak sabar melihat cucu cucu Mami berkumpul di sini, pasti ramai banget ya." Ujar Mami Nesha berbinar bahagia sambil memeluk Cia.


" Iya ya Mi, nanti kalau pada rebutan Mami gimana? Kira kira siapa yang akan menang Mi?" Ujar Cia melepas pelukannya.


" Iya siapa ya? Mami juga bingung, kira kira Mami bisa adil nggak ya sama mereka? Atau kalau tidak ke sininya gantian aja." Ujar Mami Nesha.


" Gantian gimana Mi?" Tanya Cia sambil mengambil makanan.


" Senin untuk Erald, selasa untuk Fara, Rabu nanti untuk anak Kak Gama, kamis untuk anakmu." Ujar Mami Nesha.


" Terus Juma't Sabtu sama Minggu untuk siapa?" Tanya Cia menatap Mami Nesha.


" Ya rolling lagi biar adil." Sahut Mami Nesha.


" Kalau kebagian dua hari dua hari, ya kurang seharilah Mi." Ujar Ciam


" Ya udah nggak pa pa dua hari dua hari, kalau Erald kan bisa setiap hari sama Mami." Ujar Mami Nesha.


" Itu baru benar Mi." Sahut Irvan menghampiri keduanya.


" Mami titip Cia ya Van, ingat jangan buat dia kelelahan apalagi sampai stres, itu bisa berakibat fatal untuk kehamilannya." Tutur Mami Nesha.


" Tentu Mi, aku akan menjaga Cia dan calon anak kami, aku akan menyayangi mereka dan mencintai mereka dengan nyawaku sendiri." Sahut Irvan merangkul pundak Cia.


" Terima kasih sudah menjadi menantu dan suami yang baik dalam keluarga ini." Ucap Mami Nesha.


" Aku yang berterima kasih Mi, karna keluarga ini mau menerimaku." Ucap Irvan.


TBC......


*Jangan lupa like koment dan votenya ya...


Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author...


Semoga sehat selalu....


Miss U All*...

__ADS_1


__ADS_2