Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Masalah Lagi


__ADS_3

Sudah dua hari Nesha mendiamkan Farhan karena Ia kesal saat Farhan meragukan anak kembarnya. Ia bersikap acuh pada Farhan. Mungkin terlihat lebay tapi itulah Nesha apalagi saat ini emosinya sedang tidak stabil akibat hormon kehamilannya.


" Sayang." Panggil Farhan dari kamar mandi yang hanya melongokkan kepalanya saja.


Nesha tidak bergeming, Ia masih sibuk merapikan tempat tidur.


" Nesha sayang... Mas lupa bawa handuk, Ambilkan donk." Ucap Farhan.


" Modus... Padahal di dalam kamar mandi ada handuknya yang baru di pakai kemarin sore, Kau pikir aku akan masuk perangkapmu Mas, Sorry tidak akan." Gerutu Nesha dalam hatinya.


"Sayang..... Vanesha Ardiansyah sayangku... Cintaku.... Ambilkan handuk donk." Ujar Farhan.


Melihat Nesha yang diam saja, Muncul ide di benak Farhan. Saat Nesha hendak menuju ruang ganti tiba tiba Farhan lewat di depannya tanpa mengenakan sehelai kainpun hingga sesuatu di bawah terlihat jelas oleh mata Nesha.


" Astaga... Gila kamu Mas." Pekik Nesha menutup matanya dengan telapak tangannya.


Bukannya segera masuk ke ruang ganti, Fathan justru berdiri di depan Nesha sambil tersenyum.


" Tidak perlu menutup mata bukankah setiap malam kamu selalu melihatnya? Kamu boleh menyentuhnya sekarang juga." Ucap Farhan membuka tangan Nesha. Nesha memejamkan matanya.


" Jangan gila kamu Mas, Buruan pakai baju, Entar kalau anak anak kemari gimana?" Ujar Nesha.


" Aku gila karna kamu abaikan selama dua hari ini, Jadi biarkan aku semakin gila kalau kamu tidak mau memaafkan aku." Ucap Farhan.


Tok tok tok


" Mami...." Panggil Nathan di luar kamat.


Nesha membuka matanya menatap Farhan yang masih berdiri di depannya.


" Buruan masuk Mas ada Nathan." Ucap Nesha.


" Maafkan aku dulu dan jangan abaikan aku lagi." Ucap Farhan.


" Mami... Apa Nathan boleh masuk?" Tanya Nathan.


" Mas buruan." Ujar Nesha.


" Di maafkan?" Tanya Farhan.


" Iya iya aku maafkan, Sekarang masuk dan pakai bajunya, Aku sudah siapkan di tempat biasa." Ujar Nesha.


Cup..


Farhan mengecup pipi Nesha.


" Makasih sayang." Ucap Farhan masuk ke dalam ruang ganti.


" Sepertinya aku harus memberi Nathan hadiah, Makasih sayang udah bantu Papi." Batin Farhan.


Nesha membuka pintunya, Ia menatap Nathan yang berdiri di depan pintu sambil menggandeng tangan Gama.


" Kenapa Mami lama sekali? Apa Mami sakit?" Tanya Nathan.


" Enggak sayang jangan khawatir Mami baik baik saja, Tadi Mami sedang menyiapkan baju buat ganti papi jadi nggak denger Nathan ketuk pintu." Sahut Nesha.


" Ma...Mi.." Ucap Gama.


" Iya sayang... Sini." Ucap Nesha menggendong Gama menuju ranjangnya.


" Mami sebenarnya kemarin Meli pengin main ke sini, Tapi katanya nggak di bolehin sama Papi." Ucap Nathan.


" Iya sayang... Kemarin kan Papanya marahin Papi kan." Dusta Nesha.


Bukan maksudnya membohongi putranya tapi Nesha tidak mau terjadi masalah antara Farhan dan Raman. Nesha menghela nafasnya.

__ADS_1


" Eh anak Papi udah pada ganteng." Ucap Farhan.


" Udah donk Pi." Sahut Nathan.


" Pinter, Ayo kita sarapan dulu baru berangkat sekolah." Ajak Farhan.


" Ayo Dek Gam, Abang gandeng aja." Ucap Nathan.


Nathan menggandeng Gama di ikuti Farhan dan Nesha di belakangnya, Mereka berjalan menuju ruang makan.


" Sayang senyum donk katanya tadi udah maafin." Ucap Farhan merangkul pundak Nesha.


Nesha memperlihatkan senyum manisnya kepada Farhan membuat hati Farhan bahagia.


Setelah sampai di meja makan, Seperti biasa Farhan menggelar karpet untuk Gama dan Nathan. Sedangkan Nesha mengisi piring kedua putranya dengan makanan kesukaan mereka.


" Sekarang makan dulu, Ingat sebelum makan kita harus berdoa ya." Ucap Nesha meletakkan piring masing masing di depan kedua putranya.


Nesha melatih Gama untuk makan sendiri dengan pengawasan tentunya. Nathan dan Gama mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Farhan duduk di samping Nesha.


" Mami harus makan juga, Jangan sampai kelaparan kasihan dedeknya." Ujar Farhan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Nesha.


Nesha menerima suapan Farhan dengan perasaan bahagia. Suaminya benar benar sangat perhatian kepadanya. Nathan menatap kedua orang tuanya dengan perasaan bahagia juga. Dalam hatinya Ia akan membahagiakan kedua orang tuanya. Apapun keinginan kedua orang tuanya Ia akan memberikannya termasuk nyawanya sendiri.


Setelah acara sarapan selesai, Nathan dan Farhan segera berangkat ke dua tempat yang berbeda. Nathan pergi ke sekolah sedangkan Farhan pergi ke kantornya. Ia hanya sebentar karena hanya memantau Banknya saja.


Di rumah Nesha sedang bermain dengan Gama di temani Mbak Nadia.


" Mbak aku ke kamar dulu ya." Ucap Nesha.


" Iya Non." Sahut Mbak Nadia.


Nesha berjalan menuju kamarnya, Ia mengambil ponselnya lalu membukanya siapa tahu ada seseorang yang mengirimkan pesan untuknya. Dan benar saja ada pesan dari nomer baru.


πŸ“² 089xxxxxxxx


Merasa tidak mengenal nomer itu, Nesha mengabaikannya. Tapi tak lama nomer itu mengirim pesan lagi.


πŸ“² 089xxxxxxxxx


Aku Raman Aku mau minta bantuanmu, Meli sakit keras dia selalu menangis dan menanyakanmu, Ku mohon datanglah ke rumah sakit xx, Jangan takut aku tidak akan berbuat macam macam


Nesha menghela nafasnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ia tidak tega mengabaikan anak sekecil Meli tapi Ia takut kedatangannya membuat masalah dalam rumah tangganya. Ia mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Raman.


πŸ“²Me


Maaf aku belum bisa ke sana aku harus meminta ijin suamiku dulu


Sebenarnya Nesha tidak enak hati karena terlihat menghindari Raman. Tapi ini yang terbaik untuk mereka semua.


Tok tok


Nesha menoleh ke arah pintu.


" Ada apa Mbak?" Tanya Nesha.


" Non Sifa ada di depan Non bersama Den Arsya." Ujar Mbak Nadia.


" Aku akan menemuinya Mbak." Sahut Nesha.


" Baik Non." Ujar Mbak Nadia.


Nesha berjalan menuju ruang tamu dimana Sifa sedang duduk memangku Arsya bersama Jordan di sampingnya.


" Hai Nes gimana kabarmu?" Sapa Sifa.

__ADS_1


" Hai Sif Kak, Aku baik baik saja, Kamu sendiri gimana?" Sahut Nesha.


" Kami baik baik saja Nes." Sahut Jordan.


" Ada perlu apa Sif? Udah lama nggak main ke sini?" Tanya Nesha.


Sifa dan Jordan saling pandang. Sifa memberi kode kepada Jordan supaya Jordan yang mengatakannya pada Nesha.


" Ka.. Kami membutuhkan Nathan Nes." Ucap Jordan.


" Apa maksudmu membutuhkan Nathan Kak?" Tanya Nesha dengan tatapan menyelidik.


" Arsya butuh donor sumsum tulang belakang, Dan hanya Nathan yang bisa menolong kami." Lirih Jordan.


Jeduarrrrr...


Bagai di sambar petir Nesha mendengar ucapan Jordan. Emosinya tiba tiba memuncak di ubun ubun.


" Ku mohon Nes bantu kami, Tidak sekarang... Oprasinya menunggu Arsya berumur tujuh tahun, Saat itu tiba tolong berikan Nathan kepada kami." Ucap Jordan.


Brakkkk


Nesha menggebrak meja. Ia tidak peduli ketiga orang di depannya kaget. Hatinya memanas mendengar ucapan Jordan yang baginya tidak punya hati.


" Nathan bukan barang Kak yang bisa kau buang dan kau pungut sesuka hatimu, Bukankah kau sendiri yang bilang tidak perlu memikirkan dan memperdulikan Nathan, Sudah ada Arsya bukan? Lalu kenapa sekarang kau kemari untuk meminta Nathan dariku." Ucap Nesha penuh emosi.


" Apa kau tidak punya hati? Kau benar benar egois hanya memikirkan kebahagiaan keluargamu sendiri Kak, Aku tidak menyangka kau mampu berbuat seperti ini, Aku beruntung Nathan memiliki Papi seperti Mas Farhan, Aku tidak bisa membayangkan jika Nathan hidup bersama kalian.... Kasih sayang, Cinta harta dan bahkan tahta kalian pasti tidak bisa memberikan itu kepada Nathan, Kalian hanya akan memikirkan anak kalian sendiri... Begitu malang sekali nasibmu Nathan..." Ujar Nesha sedih.


" Hiks.... Hiks... Bagaimana bisa seorang Papa berbuat seperti itu pada putranya sendiri...." Isak Nesha.


Nesha menghapus air matanya.


" Bukan... Dia bukan putramu, Dia hanya putraku dan Mas Farhan, Kau sudah memberikan hak asuh itu padaku, Nathan sudah resmi menjadi putraku, Jangan karena aku membiarkan kalian mendekatinya kalian bisa berbuat sesuka hati kalian, Jika Arsya membutuhkan donor dari saudara kandungnya kamu lahirkan lagi putra untuk Jordan Sif, Bukankah waktunya masih panjang? Kenapa harus Nathan? Kalian tidak rela bukan jika darah daging kalian sendiri di korbankan untuk menolong saudaranya? Sama... Aku juga sama... Aku tidak rela Nathan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk putra kalian sendiri... Pergi dari sini.... Pergi dari sini sekarang juga." Teriak Nesha histeris.


" Nesha...


" Pergi... Pergi sekarang juga." Teriak Nesha.


Jordan dan Sifa segera pergi dari sana, Mereka akan mencoba membicarakan hal ini lain kali.


" Haaaaaa..." Nesha menangis mencoba mengeluarkan sesak di hatinya.


Farhan yang baru saja turun dari mobil segera berlari saat mendengar teriakan Nesha. Ia menghampiri Nesha yang sedang menangis di lantai.


" Sayang..." Ucap Farhan.


Nesha langsung memeluk tubuh Farhan mencari kedamaian lewat pelukan itu.


" Hiks... Mereka jahat Mas... Mereka mau mengambil Nathan dariku Mas... Mereka jahat." Ujar Nesha sambil menangis.


" Maksudmu Jordan?" Tanya Farhan karena Ia tadi berpapasan dengan mobil Jordan.


" Mereka jahat Mas... Aku tidak akan memberikan Nathan pada mereka." Lirih Nesha bersamaan dengan ambruknya tubuh Nesha.


" Sayang... Sayang bangunlah." Ucap Farhan menepuk pelan pipi Nesha.


TBC....


Haduh yang minta adem ayem jadi panas yah... Ha ha ha maafin author ya... Sebelum adem ayem kita panas panassan dulu ya...


Menurut pemahaman author kalau saudara seayah bisa di sebut saudara kandung kan? Kalau saudara tiri itu anak bawaan.. Maaf ya bila author salah menafsirkan...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Makasih untuk yang sudah selalu dukung author...

__ADS_1


Miss U All


__ADS_2