
Setelah pulang dari SH group, Valen melajukan mobilnya menuju VA group untuk menemui Nathan suaminya. Sesampainya di sana Ia berjalan masuk menuju ruangan Nathan.
" Selamat siang Nyonya Valen." Sapa salah satu karyawan di sana.
" Selamat siang." Sahut Valen terus berjalan.
Sampai di depan ruangan Nathan, Valen membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Ceklek....
Valen masuk ke dalam ruangan dengan pelan menghampiri Nathan yang sedang duduk di sofa memunggunginya sambil memejamkan mata. Valen menutup mata Nathan dari belakang.
" Sayang, kamu ke sini?" Ujar Nathan mendongak.
" Kok tahu kalau ini aku Mas." Ucap Valen menjauhkan tangannya. Ia duduk di depan Nathan.
" Ya tahu lah sayang, dari getaran hati yang aku rasakan bisa membuatku mengerti kalau itu kamu." Sahut Nathan.
" Halah gombal." Cebik Valen.
" Ini realita sayang bukan rayuan." Sahut Nathan.
" Erald sama siapa Yank?" Tanya Nathan.
" Erald sama Mami Mas." Sahut Valen.
" Duduk sini." Ucap Nathan menepuk pahanya.
Valen beranjak lalu duduk serong di pangkuan Nathan.
" Apa kamu ada masalah Mas? Sepertinya kamu terlihat banyak masalah." Ujar Valen menangkup wajah Nathan.
" Enggak sayang, Mas hanya merasa sedikit pusing saja karena banyak pekerjaan." Sahut Nathan.
" Mau aku bantu?" Tanya Valen.
" Nggak perlu sayang, aku bisa mengatasinya kok." Sahut Nathan.
" Mau aku beri penyemangat?" Tawar Valen.
" Pakai itu." Sahut Nathan menunjuk bibir Valen dengan dagunya.
Valen memajukan wajahnya dan...
Cup....
Valen mengecup bibir Nathan. Ia mengalungkan tangannya ke leher Nathan, sedangkan Nathan menahan tengkuk Valen menggunakan satu tangannya.
__ADS_1
Nathan membuka sedikit mulutnya membiarkan Valen mengekspos setiap inchinya. Tak mau di kuasai oleh istrinya, Nathan membalas ciuman Valen dengan lebih lembut. Suara decapan memenuhi ruangan Nathan. Keduanya menikmati indahnya berbagi saliva.
Ciuman Nathan turun ke leher Valen. Nathan membuat tatto merah di sana membuat Valen mendesis.
" Shh Mas." Desis Valen.
Jiwa Nathan semakin tertantang setelah mendengar suara seksi Valen. Tangannya mulai bergerilya kemana mana.
" Mas ini di kantor." Ucap Valen menghentikan kegiatan Nathan.
Nathan meriah remot lalu memencet tombol Key yang menyebabkan pintu ruangannya terkunci secara otomatis. Ia mengambil ponselnya menelepon Dika sang asistent.
" Halo ada apa Than?" Tanya Dika setelah mengangkat panggilannya.
" Aku sedang tidak mau di ganggu sampai jam makan siang, tolak jika ada tamu yang ingin bertemu denganku, siapapun itu." Ucap Nathan.
" Baik." Sahut Dika.
Nathan mematikan ponselnya. Ia menggendong Valen ala bridal style menuju kamar pribadinya. Nathan membaringkan tubuh Valen di atas ranjang. Tidak lupa Nathan mematikan ponselnya dan ponsel Valen supaya tidak ada yang mengganggu kegiatan mereka. Ia ingin menikmati suatu hal yang membuatnya semangat tanpa gangguan dari luar.
Nathan memulai aksinya dengan melepas satu persatu kain yang melekat pada tubuhnya dan Valen. Lalu Ia memulai permainannya dengan lembut membuat keduanya seolah terbang ke nirwana bersama.
Suara erangan dan desah** mengiringi kegiatan mereka berdua. Kamar pribadi Nathan seolah menjadi saksi bisu keduanya dalam meluapkan cinta dan kasih sayang keduanya.
Di tempat lain tepatnya di dalam ruangan pribadi Soni. Widya tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Soni benar benar menghajarnya habis habissan. Bahkan Soni tidak memberikan jeda untuk Widya istirahat.
Widya menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia mengepalkan erat tangannya menahan kebenciannya kepada Valen yang semakin dalam.
" Aku mohon jangan lakukan itu Pak, aku tidak mau terjerumus ke tempat itu, aku mohon maafkan aku." Ucap Widya.
" Memangnya kau mau pergi kemana? Aku yakin Nona Valen tidak akan melepaskanmu begitu saja, dia akan membuangmu hingga kau sendiri yang akan datang ke tempat itu." Ucap Soni memakai kembali pakaiannya.
" Aku mohon lindungi aku, aku siap menjadi wanitamu." Ujar Widya.
" Apa? Wanitaku? Ha ha ha." Soni tertawa keras mendengar ucapan Widya.
" Kau bahkan tidak pantas menjadi pelayanku, apalagi menjadi wanitaku, jangan pernah bermimpi akan hal itu Widya, aku main pakai pengaman, jangan pernah mengaku kalau kamu mengandung benihku suatu hari nanti, ah sial... Aku mendapatkan barang bekas sepertimu, benar benar menjijikkan." Cebik Soni menatap remeh ke arah Widya.
" Setelah ini pergilah kemanapun kau mau, aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita sepertimu." Titah Soni.
" Apa begini caramu memperlakukanku? Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, kamu bisa membuangku begitu saja? Aku memang tidak bisa melawan Valen ataupun Tuan Nathan, tapi aku bisa melawanmu Tuan Soni." Tekan Widya memberanikan diri. Ia lebih baik menjadi simpanan Soni dari pada harus bertemu dengan orang orang Valen dan berakhir di lokali****.
" Apa maksudmu Widya?" Tanya Soni menatap Widya dengan tajam.
" Aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pelecehan Tuan Soni, kau akan masuk penjara atau setidaknya namamu akan rusak, dan kau tahu pengaruh apa yang akan kau dapat untuk perusahaan ini, apa kau tidak mau mempertimbangkannya?" Ancam Widya.
" Heh... Kau kira aku takut? Sebelum kau melaporkanku ke polisi, aku yakin Nona Valen sudah melaporkanmu lebih dulu, jadi bersiap siaplah untuk kehancuranmu Widya, jika kau tidak tahu cara menghancurkan, maka jangan pernah kau lakukan! Inilah akibat yang harus kamu terima." Ucap Soni meninggalkan ruangan pribadinya. Ia menyuruh sekretarisnya untuk mengawasi Widya di dalam sana.
__ADS_1
" Argh.... Sial sial sial...." Teriak Widya.
" Aku akan membalasmu Valen, aku akan melakukan apa saja untuk menghancurkan keluargamu, akan ku buat kau kehilangan orang yang kamu sayang." Ucap Widya tersenyum menyeringai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Cia, Saka sedang bermain di sana bersama dengan si kembar. Saka lebih dekat dengan Vebby dari pada Verdy. Hal itu membuat Cia sedikit khawatir akan ucapan Saka waktu itu yang akan menikahi Vebby jika mereka dewasa nanti.
" Mas itu Saka jangan keseringan ke sini lah." Ujar Cia duduk di sofa samping Irvan.
" Kenapa sayang?" Tanya Irvan.
" Ya aku nggak suka aja sama dia, aku nggak mau Saka dekat dekat dengan Veb Mas." Sahut Cia.
" Lhoh Vebbynya aja nyaman kok sama Saka, bahkan Vebby akan tidur kalau di ayun sama Saka, lagian sayang... Kasihan Saka nggak ada teman buat main, kamu tahu sendiri kan kalau Om Alex sibuk mengurus tanaman bonsainya." Ujar Irvan.
" Aku khawatir kalau ucapan Saka menjadi kenyataan Mas, aku nggak mau kalau sampai Saka menjadi menantu kita, ih enggak banget." Ucap Cia.
" Memangnya kenapa sayang? Jika mereka memang berjodoh kita bisa apa?" Tanya Irvan.
" Aku nggak mau punya menantu yang nggak jelas asal usulnya, apalagi nggak punya keluarga seperti dia." Sahu Cia.
Deg....
Jantung Irvan seperti di sayat sembilu. Sakit... Mendengar ucapan Cia.
" Maaf Mas bukan maksudku menyinggung perasaanmu." Ucap Cia melihat perubahan wajah Irvan.
Tanpa berkata apa apa Irvan pergi meninggalkan Cia.
" Mas tunggu." Teriak Cia.
Irvan tidak bergeming, Ia terus berjalan menaiki tangga, sepertinya hendak menuju kamarnya. Semua itu membuat Cia merasa bersalah.
Nah loh Babang Irvan ngambek... Sakit hati dianya....
Jangan lupa like koment dan vote ya biar author semangat menulisnya.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu....
Miss U All...
Dukung juga karya karya author yang lain donk...
Klik profile author lalu pilih karya ya...
__ADS_1
Author tunggu di sana...
TBC......