
Setelah makan siang Nathan kembali ke dalam kamarnya, saat ini Ia sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Valen baru saja masuk, Ia menutup pintu lalu menghampiri Nathan.
" Mas kenapa kamu nggak ke kantor hari ini?" Tanya Valen menatap Nathan.
" Lagi males aja." Sahut Nathan singkat.
" Mas kamu kenapa sih? Masih marah sama aku? Dari kemarin diemin aku mulu, Ngambek nih ceritanya?" Tanya Valen duduk di samping Nathan.
" Buat apa marah sama kamu? Aku hanya kecewa aja sama sikap kamu yang menyembunyikan tentang Ria dariku." Sahut Nathan.
" Mas maafkan aku, aku melakukannya karna Ria yang memintanya Mas, aku juga tidak bermaksud untuk membohongimu." Ujar Valen.
" Apa kalau Ria memintamu untuk tidak membantunya, kamu tidak akan membantunya begitu?" Tanya Nathan dengan nada tinggi.
" Mas ku mohon mengertilah." Ucap Valen.
" Ya... Aku yang harus selalu mengerti dirimu, aku bahkan merasa kau wanita mandiri yang memiliki multitalenta, itu sebabnya kau tidak membiarkan aku untuk berjalan di sisimu karna aku tidak pantas untukmu." Sahut Nathan.
Valen menatap Nathan tidak percaya. Inikah suami yang sudah di nikahinya? Apakah Nathan yang merasakan efek dari kehamilannya?
" Kenapa kau bilang seperti itu Mas?" Tanya Valen.
" Ya itu kenyataannya, kau selalu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, kau selalu berlari di depanku tanpa memberikan aku kesempatan untuk aku bisa mengejarmu." Ucap Nathan.
" Mas kau salah paham padaku, kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku tidak pernah berpikir seperti apa yang kamu bilang Mas, aku tidak memberitahumu karna aku tahu kau sudah pusing memikirkan perusahaanmu jadi aku tidak mau menambah beban pikiranmu, bahkan selama aku ngidam saja aku tidak meminta apa apa padamu kan?" Ujar Valen.
" Itu karna kamu wanita mandiri seperti apa yang aku katakan padamu tadi." Ucap Nathan.
Valen menghela nafasnya. Susah juga berdebat dengan orang yang sedang emosi.
" Seandainya kamu mengatakan padaku saat itu, maka keadaan Ria tidak akan seperti ini Valen, kamu yang harus bertanggung jawab atas keadaan Ria saat ini." Ucap Nathan.
Valen membulatkan matanya dengan mulut menganga.
" Kau menyalahkan aku? Kau meminta pertanggung jawaban dariku?" Tanya Valen menatap Nathan dengan tatapan menyelidik.
" Aku tidak perlu memintamu untuk bertanggung jawab karna aku tahu kamu pasti mampu melakukannya." Sahut Nathan.
" Mas jika waktu itu aku memberitahumu apa yang akan kau lakukan? kau akan menghajar Davian dan mengatakan semuanya kan? Kau akan mengatakan jika Ria punya kembaran mungkin saja yang Davian maksud adalah Cia, benar begitu bukan?" Tanya Valen.
" Tentu saja, aku akan menghajarnya dan akan aku kirim Davian brengsek itu ke neraka." Sahut Nathan.
" Kalau Davian tahu jika Ria bukan Cia, Davian pasti akan memburu Cia juga Mas karna targetnya adalah Cia, itu sebabnya aku tidak memberitahu semua orang, aku nggak mungkin membiarkan pengorbanan Ria menyelamatkan Cia jadi sia sia... Saat itu Davian belum mencintai Ria dan aku yakin demi membalas dendamnya Davian tidak akan melepaskan keduanya, Jika aku lakukan itu maka aku yakin saat ini yang berada di rumah sakit bukan hanya Ria tapi Cia juga Mas, berpikirlah rasional! Jangan menuruti egomu saja." Ujar Valen.
Nathan menatap Valen, benar juga apa yang di katakan Valen. Kenapa Nathan tidak berpikir sampai ke situ? Pikir Nathan.
" Maafkan aku sayang, aku tidak berpikir sampai ke situ, maafkan aku." Ucap Nathan memeluk Valen.
__ADS_1
" Demi anak kita aku memaafkanmu." Sahut Valen membalas pelukan Nathan.
" Terima kasih." Ucap Nathan.
Drt... Drt....
Ponsel Valen berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengambil ponselnya lalu melihat id pemanggil.
" Halo Van, katakan ada apa." Ucap Valen setelah mengangkat panggilannya.
" Ria sudah sadar Len." Sahut Irvan.
" Apa? Ria sudah sadar?" Pekik Valen. Nathan menatap ke arahnya.
" Iya, segeralah kemari karna sepertinya terjadi sesuatu di dalam sana." Ujar Irvan.
" Baiklah aku akan segera ke sana, kabari aku jika terjadi sesuatu dengan Ria." Sahut Valen menutup panggilannya.
" Mas Ria sudah sadar, ayo kita segera ke rumah sakit." Ucap Valen.
" Ayo, kita ajak Papi dan Mami juga." Sahut Nathan.
Keduanya berjalan keluar kamar menuju kamar Papi dan Maminya.
Tok tok tok
Ceklek...
" Ada apa Bang?" Tanya Mami Nesha.
" Mi kita harus segera ke rumah sakit." Ucap Nathan.
" Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Ria?" Tanya Mami Nesha cemas.
" Mi tenang Mi, Ria sudah sadar." Ucap Valen.
" Apa? Ria sadar? Alhamdulillah... Pi ayo kita ke rumah sakit." Teriak Mami Nesha membuat Papa Farhan mendekat.
" Ria sudah sadar? Bagaimana pihak rumah sakit tidak memberitahu kita?" Ujar Papi Farhan.
" Mungkin mereka berpikir karna ada suaminya di sana Pi." Sahut Nathan.
" Ah iya mungkin saja, kalau begitu ayo kita ke sana." Ucap Papi Farhan.
Nathan, Valen dan Papi Maminya berada dalam satu mobil menuju rumah sakit tempat Ria di rawat. Setelah menempuh perjalanan kira kira empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai. Keempat keluarga Ardiansyah berjalan menuju ruangan Ria.
Ceklek....
__ADS_1
Mami Nesha membuka pintunya. Mereka menatap Ria yang sedang melamun di atas ranjang, sedangkan Davian sedang membujuknya untuk makan.
" Sayang ku mohon makanlah supaya anak kita mendapatkan nutrisi, kalau kamu tidak makan bayi kita akan kelaparan dan tidak bisa berkembang sayang." Ujar Davian.
Ria tidak bergeming. pandangannya kosong menatap ke depan.
" Pi kenapa Ria hanya diam begitu dan pandangannya kosong? Sebenarnya apa yang terjadi dengan putri kita Pi?" Tanya Mami Nesha prihatin dengan keadaan Ria.
" Ria mengalami stres dan tekanan terhadap mentalnya Mi, itu sebabnya dia tidak mau merespon orang di sekitarnya." Sahut Valen.
" Ya Tuhan Ria... Kenapa bisa jadi begini?" Ujar Mami Nesha sedih.
" Yang sabar Mi." Ucap Papi Farhan.
Mendengar bisik bisik Davian menoleh ke arah pintu.
" Mami, Papi silahkan masuk." Ucap Davian.
Mereka semua masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ria. Valen menghampiri Ria yang saat ini sedang menatapnya.
" Ria sayang.... Kamu belum makan dari tadi?" Tanya Valen. Ria menggelengkan kepalanya.
" Mau Kakak suapi? Atau Abang, Mami atau Papi." Ujar Valen. Ria menggelengkan kepalanya membuat Valen menghela nafasnya.
Kelima orang di dalam sana hanya saling melempar pandangannya.
" Kamu harus makan Ria supaya cepat pulih, nanti kita bisa pulang ke rumah, kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Bujuk Mami Nesha.
Ya... Memang sudah menjadi kesepakatan jika Ria pulang dari rumah sakit maka Ia akan pulang ke rumah Papi Farhan. Jika Ria tidak menolak maka Davian juga akan tinggal di sana.
" Mau ya makan dulu, Mami suapi deh." Ujar Mami Nesha. Ria tetap menggelengkan kepalanya.
Ria menatap ke arah pintu, Ia melihat seseorang yang berdiri di sana hendak masuk ke dalam. Tiba tiba Ia berkata...
" Aku mau makan di suapi Tuan tampan itu." Ucap Ria tiba tiba menunjuk seseorang itu. Semua orang menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Ria.
Eng ing eng....
Siapa hayo kira kira orang itu???
Jangan lupa like dan koment dulu lalu...
Temukan jawabannya di bab berikutnya ya...
Terima kasih sudah mensuport author...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....