Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
107. Arsaka Xander


__ADS_3

" Baiklah, terima kasih Len kamu memang teman terbaik untukku." Ucap Irvan memeluk Valen.


" Ehm... Ehm...."


Valen dan Irvan menoleh ke arah suara. Nathan berdiri sambil menggendong Erald di tangannya.


" Mas Nathan." Ucap Valen. Valen menatap Irvan begitupun sebaliknya.


" Tega kamu Yank selingkuh di depanku." Ucap Nathan. Entah itu gurauan ataupun beneran Valen tidak tahu.


" Apasih kamu Mas, jangan bercanda gitu donk! Aku sedang menghibur Irvan yang lagi bersedih karna Cia marah padanya." Ujar Valen.


" Benarkah? Hanya itu?" Tanya Nathan menatap keduanya.


" Iya.. Hanya itu, kamu tidak percaya sama aku?" Tanya Valen.


Nathan merangkul pundak Valen lalu mencium pipinya.


" Percayalah Yank, ayo kita ke kamar biarkan Irvan menyelesaikan masalahnya sendiri." Ajak Nathan menggandeng Valen menuju kamarnya.


Drt.... Drt....


Ponsel Irvan berdering. Ia mengambil ponsel di saku celananya.


" Rumah sakit." Gumam Irvan.


Irvan segera menerima panggilan itu.


" Halo." Sapa Irvan.


............


" Apa? Baiklah saya akan ke sana sekarang juga." Sahut Irvan memutuskan panggilan ponselnya.


" Duh gimana ini? Mana Cia masih ngambek lagi, kalau aku main pergi gitu aja pasti dia makin marah." Gumam Irvan.


Tok tok tok....


Irvan mengetuk pintu kamarnya.


" Sayang keluarlah ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ucap Irvan berharap Cia mau membukakan pintunya.


" Sayang aku harus ke rumah sakit sekarang juga, Elin koleps Cia." Sambung Irvan.


Di belakang pintu Cia yang tadinya hendak membukakan pintu mengurungkan niatnya.


" Elin lagi... Kenapa sih kamu peduli banget sama dia Mas." Gumam Cia.


" Sayang ku mohon bukalah, ini darurat sayang, aku harus segera ke rumah sakit karna dokter sudah menunungguku.... Cia ini bukan pilihan untukku, kalau aku harus memilih tentu saja aku memilihmu sayang, namun ini harus aku lakukan demi rasa kemanusiaan, Elin tidak punya siapa siapa lagi sejak ayahnya di penjara, aku harus ke sana Cia, saat ini Elin sedang sekarat dan Saka sedang menangisinya, aku mohon berikan rasa ibamu sedikit saja kepada mereka sayang." Ucap Irvan.


Ceklek....


Cia membuka pintu kamarnya. Ia menatap tajam ke arah Irvan.


" Kau pikir aku tidak punya rasaiba kepada sesama begitu?" Ketus Cia.


" Ah bu.... bukan begitu maksudku sayang." Ujar Irvan.


" Aku sudah menyuruhmu pergi sejak pagi bukan? Kenapa kau tidak pergi? Aku juga tidak mau melihatmu di sini, sekarang diam dan pergilah! Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan." Sahut Cia kembali menutup pintunya.


" Sa....


Drt... drt.....


Ponsel Irvan kembali berdering. Ia segera mengangkatnya.


" Ya." Ucap Irvan.

__ADS_1


...........


" Iya saya otw ke sana." Sahut Irvan.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Irvan berjalan menuruni tangga menuju mobilnya. Lalu Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Elin telah di rawat.


Lima belas menit Irvan sampai di rumah sakit. Ia segera berlari menuju ruang rawat Elin.


Brak....


Irvan membuka kasar pintunya.


Di dalam ruangan itu berdiri dua dokter dan tiga perawat yang sedang menangani Elin. Irvan menghampiri Elin yang terlihat sangat lemah.


" Irvan." Lirih Elin menatap Irvan.


" Aku di sini." Sahut Irvan.


Elin menggenggam tangan Irvan.


" Irvan aku ada permintaan untukmu, maukah kamu mengabulkan permintaanku?" Tanya Elin.


" Apa itu Elin?" Tanya Irvan.


" Umurku tidak lama lagi Van, aku ingin setelah kepergianku kau mau merawat Saka putraku, aku sudah mencari ayah kandungnya namun aku gagal Van, aku tidak percaya lagi kepada ayah, hanya tersisa kamu yang aku kenal di dunia ini, aku mohon rawatlah putraku seperti putramu sendiri." Ujar Elin dengan nafas tersengal.


" Elin terus terang aku tidak bisa merawat putramu menjadi putraku, tapi aku berjanji Saka akan di rawat oleh orang yang sudah aku anggap menjadi ayahku sendiri, Saka jauh lebih terjamin bila hidup bersamanya." Sahut Irvan.


" Siapa orang itu Van?" Tanya Elin.


" Om Alex, papanya Valen." Sahut Irvan.


" Baiklah aku percaya padamu.... terima kasih." Sahut Elin.


Setelah itu nafas Elin semakin tersengal hingga....


" Mama..." Teriak Saka memeluk tubuh Mamanya yang telah memejamkan matanya.


" Innalillahiwainnailaihiroji'un." Ucap kedua Dokter bersamaan.


" Kami turut berduka cita Pak." Ucap salah satu dokter menepuk pundak Irvan.


" Terima kasih Dok." Sahut Irvan.


" Mama.... Jangan tinggalin Saka Ma.... Bangun Ma jangan tinggalin Saka, Saka mohon Ma... Saka tidak akan nakal lagi hiks... hiks.. Saka mohon bangun Ma... Saka sama siapa kalau Mama pergi? Saka tidak punya siapa siapa Ma...." Ucap Saka sambil menangis.


Irvan memeluk Saka dengan erat.


" Tenanglah sayang biarkan Mamamu pergi dengan tenang, ada Om yang akan menemanimu." Ucap Irvan.


" Tapi aku mau sama Mama Om, aku tidak mau kehilangan Mama, aku tidak mau Om." Ujar Saka.


" Sabar sayang." Ujar Irvan mengelus punggung Saka.


" Hiks.. Hiks... Mama Om." Ucap Saka.


" Jangan menangis! Biarkan Mamamu pergi dengan tenang, kalau kamu menangis Mamamu juga akan sedih di sana, kamu anak laki laki jadi harus kuat dan tabah dalam menjalani semua rintangan dalam hidup ini ya." Ujar Irvan.


" Iya Om." Sahut Saka melepas pelukannya.


...****************...


Saat ini Irvan, Saka, Papa Alex, Papi Farhan, Nathan dan Mami Nesha berada di pemakaman Elin. Mereka semua mendoakan untuk kebaikan Elin di akhirat nanti. Saka duduk di depan pusara sambil mengelus gundukan tanah merah di depannya. Kini Ia sudah tidak menangis lagi. Saka mencoba mengikhlaskan semuanya.


" Saka ayo kita pulang Nak." Ajak Mami Nesha.


" Pulang kemana Oma?" Tanya Saka mendongak.

__ADS_1


" Kamu pulang ke rumah Papa Alex gimana?" Tawar Papa Alex.


" Papa Alex?" Ujar Saka menatap Papa Alex.


" Iya Saka, sekarang kamu menjadi anaknya Papa Alex, Papa Alex ini akan merawat dan membesarkanmu sampai kamu menjadi orang dewasa dan bisa berdiri di kakimu sendiri." Terang Irvan.


" Benarkah? Om bukan orang jahat?" Tanya Saka memastikan membuat semua orang tersenyum.


" Bukan sayang, Papa Alex ini Papa angkatnya Om, dan Om ganteng itu." Ucap Irvan menunjuk Nathan.


" Dia Kakak Iparmu." Sambung Irvan.


" Jadi sekarang aku punya Papa dan Kakak ya Om?" Tanya Saka.


" Iya, sekarang sapa dulu Papa baru Saka dan Kakak baru Saka." Ujar Irvan.


Saka mendekati Papa Alex lalu memeluknya.


" Panggil aku Papa ya." Ujar Papa Alex.


" Papa." Ucap Saka sambil menganggukkan kepala. Papa Alex melepas pelukannya, Ia menangkup wajah Saka.


" Anak pintar, siapa namamu?" Tanya Papa Alex.


" Namaku Arsaka Karvano." Sahut Saka.


" Sekarang namamu menjadi Arsaka Xander." Ucap Papa Alex.


" Arsaka Xander." Ucap Saka.


Saka beralih ke arah Nathan. Ia menatapnya dengan sedikit takut. Nathan tersenyum lalu menarik Saka ke dalam pelukannya.


" Panggil aku Abang." Ucap Nathan.


" Baik Abang." Sahut Saka.


" Kakakmu ada di rumah, kapan kapan main ya ke rumah dan berkenalan dengan Kakakmu dan keponakanmu." Ujar Nathan.


" Aku punya keponakan? Apa itu masih bayi?" Tanya Saka.


" Iya... Dia masih tiga bulanan." Sahut Nathan.


" Siapa namanya Bang?" Tanya Saka.


" Erald." Sahut Nathan.


" Papa kapan kapan kita main ya ke rumah Erald, aku mau bermain dengannya." Ujar Saka.


" Baiklah sayang." Sahut Papa Alex.


Semua orang merasa lega. Sepertinya Saka anak yang mudah bergaul dan akrab dengan orang lain. Raut wajahnya sudah tidak sedih lagi.


" Van..." Panggil Papa Alex.


" Iya Om." Sahut Irvan.


" Hapus semua identitas Saka, jangan sampai ada yang mengetahui asal mula Saka, Om tidak mau ada masalah dengan perusahaan di kemudian hari karna ini, kamu yang harus bertanggung jawab atas semua ini." Ujar Papa Alex.


" Iya Om, akan saya lakukan." Sahut Irvan.


**TBC....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....


Siapa nih yang berpikir kalau Saka bakal jadi mantu Irvan????


Tunggu aja di bab cucu cucu Mami Nesha dewasa ya....

__ADS_1


Miss U All**....


__ADS_2