
" Apa maksudmu sayang? Anakku yang lain yang mana? Aku bahkan belum punya anak." Ujar Irvan.
" Anak yang kamu suapi semalam."
Jeduar.....
Jantung Irvan bagai terkena ledakan petasan. Ia menatap Cia dengan jantung yang berdegup kencang sekencangnya. Cia tersenyum sinis ke arah Irvan.
" Ka... Kamu melihat aku di rumah sakit semalam?" Tanya Irvan. Ia yakin kalau Cia melihatnya makanya Ia tidak mengelak.
" Ya, kamu memberi makan satu anakmu dan membuat anakmu yang lain kelaparan." Ketus Cia.
" Anakku yang lain? Apa maksudmu?" Irvan mengerutkan keningnya.
" Maksudku istrimu, apa kau tahu dari siang aku tidak makan sedikitpun, dan semalam aku menunggumu hingga aku kelaparan, bahkan asam lambungku sampai naik, tapi kamu apa? Kamu justru mempedulikan orang lain di bandingkan istrimu yang menunggumu sampai tiga jam, bayangkan saja aku menunggumu hingga tiga jam, apa yang aku dapat? Aku malu karena kamu tidak datang, aku keluar dari cafe tanpa mampu menatap para pelayan ataupun pengunjung lainnya." Ujar Cia.
" Kamu bukan hanya membuatku kecewa, tapi kamu juga membuatku malu, di tambah lagi ternyata kamu tidak datang karena sibuk dengan urusan wanita lain, bagaimana perasaanmu jika berada di posisiku? Apa kamu akan diam saja dan tidak berpikir negative tentangku?" Tanya Cia menatap Irvan.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengecewakanmu sayang, aku hanya...
" Entah itu kepedulian atau rasa sayangmu pada mereka aku tidak tahu." Sahut Cia memotong ucapan Irvan.
" Astaga sayang .... Jangan berpikiran macam macam, karena yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan sayang." Ujar Irvan.
" Lalu aku harus berpikiran seperti apa ha? Apa aku harus berpikir kalau kamu tidak ada hubungan apa apa dengan mereka? Aku harus berpikir bahwa yang kamu lakukan hanya kepedulian semata begitu? Pikiranku mengatakan itu tapi hatiku menolaknya Irvan." Ucap Cia meninggalkan panggilan sayangnya.
Hati Irvan mencelos saat Cia menyebutnya dengan nama saja tanpa embel embel Mas di depan namanya.
" Sayang saat aku dalam perjalanan ke cafe, aku melihat Elin pingsan di pinggir jalan sayang, dan Saka menangis di sampingnya, aku tidak tega membiarkan mereka begitu saja di saat tidak ada orang yang peduli dengan mereka, aku menghampiri mereka dan membawanya ke rumah sakit, sampai di rumah sakit Saka menangis tidak berhenti dan aku mencoba menenangkannya sampai aku lupa mau mengabarimu, saat aku mau meneleponmu ternyata ponselku mati, aku ke cafe itu namun kamu sudah tidak ada di sana." Terang Irvan.
" Percayalah padaku kalau aku menolong mereka hanya karena rasa kemanusiaan saja, tidak ada maksud apa apa dan hubungan apa apa antara aku dengannya, jika orang lain yang mengalaminya aku juga akan menolong mereka sayang." Sambung Irvan.
" Aku tidak peduli, sekarang pulanglah atau temui mereka, rawat mereka dengan baik supaya kau terlihat seperti seorang pahlawan di mata mereka ataupun di mata semua orang." Sahut Cia.
" Kita akan pulang bersama." Ujar Irvan.
" Aku tidak mau, kau pulanglah aku masih mau di sini." Sahut Cia.
" Kalau begitu aku akan menemanimu di sini." Ujar Irvan.
__ADS_1
" Aku bilang aku mau di sini, aku akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan dan aku tidak mau kamu juga ada di sini." Jelas Cia.
" Apa maksudmu sayang? Kamu mau menginap di sini sendirian di saat aku di rumah? Jangan buat keluargamu berpikir macam macam tentang hubungan kita, jika aku pulang kamu harus pulang, jika kamu belum mau pulang maka aku juga tidak akan pulang, aku akan di sini bersamamu." Tegas Irvan.
" Jika kamu keras kepala maka aku akan lebih keras kepala, kalau kamu tidak mau pulang aku akan tinggal di sini selamanya." Sahut Cia membuat Irvan melongo.
Cia turun dari ranjang, Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya. Irvan menghela nafasnya pelan menatap punggung Cia.
" Arghhhh....." Irvan menarik kasar rambutnya.
Selesai mandi Cia keluar dari kamar mandi. Ia duduk di depan meja rias untuk memakai cream yang Ia oleskan pada wajahnya. Ia tidak mempedulikan Irvan yang kini sedang duduk di tepi ranjang sambil menatapnya.
" Sayang ku mohon....
Cia beranjak lalu berjalan keluar kamarnya. Ia malas harus berdebat dengan Irvan. Entah mengapa dalam hatinya rasanya begitu kesal melihat Irvan bersama wanita lain. Wanita yang pernah mencoba merusak rumah tangganya.
Cia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Di sana sudah ada Papi Farhan, Mami Nesha, Nathan dan Valen yang sedang bersiap untuk sarapan.
" Pagi semua." Sapa Cia membuat keempat orang yang berada di sana menatap ke arahnya.
" Pagi pagi udah sampai sini Dek? Mana suamimu?" Tanya Nathan.
" Mas Irvan sedang mandi di kamar Bang." Sahut Cia.
" Apa semalam kamu menginap di sini sayang?" Tanya Mami Nesha.
" Iya Mi, semalam setelah pulang dari makan malam aku pulang ke sini, tapi sayang kalian semua sudah pada tidur, ya aku langsung tidur aja." Ujar Cia duduk di kursi sebelah Nathan.
" Ya sudah silahkan makan yang banyak biar sehat, dan biar program kehamilanmu cepat berhasil." Ujar Mami Nesha.
" Makasih Mi." Sahut Cia.
Cia mengambil makanan lalu Ia memakannya dengan lahap. Ia merasa sangat lapar karena dari kemarin siang tidak makan.
" Pagi semua." Sapa Irvan yang baru bergabung.
" Pagi Van, silahkan makan." Sahut Nathan.
" Makasih Bang." Sahut Irvan.
__ADS_1
Mami Nesha menatap Cia yang malah diam saja, tidak seperti biasanya yang mengambilkan makanan untuk Irvan.
" Cia...
" Aku duluan." Ucap Cia beranjak dari kursinya sebelum Mami Nesha melanjutkan ucapannya.
" Suamimu belum di ambilkan makana Cia." Ucap Valen.
" Dia bisa ambil sendiri Kak, lagian aku sedikit lupa apa makanan kesukaannya." Sahut Cia meninggalkan mereka semua.
Semua orang saling melempar tatapannya. Irvan hanya menundukkan kepalanya saja.
" Apa kamu ada masalah dengan Cia Van?" Tanya Mami Nesha.
Irvan menatap Mami Nesha, lalu Ia menundukkan kepalanya kembali.
" Tidak Mi, Cia mungkin lelah karena semalam Cia kurang tidur." Sahut Irvan.
" Owh kalau begitu Mami memakluminya, rupanya kalian berusaha keras untuk mendapatkan kabar bahagia ya." Ucap Mami Nesha salah paham dengan ucapan Irvan.
" Iya Mi." Sahut Irvan.
Selesai sarapan Irvan kembali ke kamar Cia.
Ceklek...
Irvan membuka pintu kamarnya. Ia menatap bayangan Cia yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Irvan menutup kembali pintunya, lalu Ia berjalan menghampiri Cia. Saat melewati bufet kecil tiba tiba Ia menyenggol tas Cia yang terbuka.
Brak...
Seisi dalam tas Cia berhamburan keluar. Irvan segera memungutinya satu persatu sampai pada kotak kecil terbungkus rapi dengan pita merah di atasnya. Ia membuka kotak itu dan menemukan sebuah benda kecil yang ternyata sebuah alat tes kehamilan. Irvan mengambil benda kecil itu lalu menatap aris yang tertera di sana dan....
Dan apa hayoooo??????
Penasaran kan? Dari kemarin di gantung kaya' jemuran...
Jangan lupa tekan like vote dan hadiahnya ya biar author semangat meneruskan ceritanya..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All...
TBC....