
Hari ini adalah hari perayaan acara tujuh bulanan untuk Cia. Cia sedang bersiap untuk menuju ke tempat acara.
" Kamu sudah siapa sa......" Ucapan Irvan menggantung kala menatap Cia yang nampak begitu cantik. Gamis panjang beserta hijab yang menutupi kepalanya.
" Sayang kamu cantik sekali." Ucap Irvan.
" Kamu bisa aja Mas, kamu juga tampan Mas menggunakan baju koko ini." Sahut Cia menepuk pelan dada Irvan.
" Aku memang tampan dari dulu sayang, apa kamu baru menyadarinya." Ucap Irvan.
" Itu sebabnya banyak wanita yang tergoda kepadamu, dan sayangnya kamu meladeninya." Batin Cia menjauh dari Irvan.
" Ayo kita berangkat, semua orang sudah menunggu kita di sana." Ajak Irvan.
" Iya Mas." Sahut Cia.
Irvan menggenggam tangan Cia lalu menggandengnya berjalan pelan keluar rumah menuju mobilnya. Irvan melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan menuju tempat acara di laksanakan.
Drt... Drt...
Cia menatap ponsel Irvan yang berdering, panggilan masuk dari seseorang bernama Popi membuat hati Cia bergemuruh namun Ia mencoba menahan emosinya.
" Mas kenapa nggak di angkat?" Tanya Cia menatap Irvan yang sedang fokus menyetir.
" Nggak penting." Sahut Irvan.
" Kamu bilang nggak penting karena di depanku, tapi aku yakin kamu pasti akan mengangkatnya jika di belakangku." Ujar Cia dalam hatinya.
" Aku lihat yang menelepon namanya Popi, siapa dia Mas?" Tanya Cia.
" Dia rekan kerjaku." Sahut Irvan santai.
" Rekan kerja yang mana? Perasaan nggak ada tuh yang namanya Popi?" Tanya Cia.
" Dia pegawai baru di kantorku." Sahut Irvan.
" Heh pegawai baru... Padahal jelas jelas Kak Valen bilang tidak ada pegawai yang bernama Popi baik itu pegawai baru ataupun pegawai lama, kamu membohongiku lagi Mas, entah berapa kebohongan yang kamu ucapkan kepadaku, rasanya aku sudah tidak ingin mempercayaimu lagi saat ini.." Batin Cia.
" Apa kamu tidak percaya padaku?" Tanya Irvan.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Cia balik bertanya.
" Yah di lihat dari muka kamu, sepertinya kamu tidak percaya dengan jawabanku." Ucap Irvan.
" Tenang saja aku percaya kok Mas, aku tidak mau memikirkan hal hal yang tidak berfaedah, aku mau fokus aja sama kehamilanku." Ujar Cia.
" Itu lebih bagus sayang, dari pada memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi." Ujar Irvan.
" Tapi semua hal bisa terjadi Mas, bahkan hal mustahil saja bisa terjadi jika Tuhan sudah menghendakinya." Sahut Cia dalam hati.
__ADS_1
Mobil terus melaju. Cia menatap ke luar kaca. Ia diam karena Ia malas mendengar kebohongan yang akan Irvan ucapkan lagi. Ia sudah tidak tahan dengan semua kecurigaannya kepada suaminya yang belum juga menemui titik terang.
" Sayang kamu nggak capek kan duduk begitu?" Tanya Irvan menatap perut Cia yang nampak besar seperti orang hamil sembilan bulan saja.
" Enggak Mas, aku kuat kok." Sahut Cia.
" Baiklah." Sahut Irvan kembali fokus mengemudi.
Cia mengerutkan keningnya saat melewati jalan yang pernah Ia lewati saat mengikuti mobil Irvan waktu itu. Ia menatap Irfan dengan tatapan menyelidik.
" Hotel mana sebenarnya yang kamu sewa untuk acara kita Mas?" Tanya Cia memastikan.
" Kenapa?" Irvan balik bertanya.
" Aku merasa ini bukan jalan ke arah hotel King deh, kan harusnya kita belok kiri di pertigaan tadi." Ujar Cia.
" Kita lewat pintu belakang sayang, jadi sedikit memutar arah." Sahut Irvan.
" Emang bisa lewat sini? Kan kejauhan Mas? Aneh." Ucap Cia.
" Udah kamu tenang aja yang penting kan kita sampai dengan selamat." Ujar Irvan.
" Hah terserah kamu saja lah Mas." Sahut Cia menghela nafasnya pelan.
Lima belas menit kemudian mobil Irvan berhenti di sebuah mewah.
" Kok berhenti Mas?" Tanya Cia mengerutkan keningnya.
" Ayo turun sayang." Ucap Irvan menyadarkan lamunan Cia.
" Mas, inikan rumah yang kamu bilang rumah clientmu, lalu kenapa kamu membawaku ke sini?" Tanya Cia tidak mengerti.
" Sebelum kita ke tempat acara, clientku ingin memberikan kita hadiah dulu." Sahut Irvan.
" Hadiah? Hadiah apa maksudmu? Hadiah untuk apa?" Cia kembali bertanya.
" Bukan hadiah sih, semacam kado untuk calon kedua anak kita, ayo turun kasihan Beliau jika harus menunggu lama." Ujar Irvan.
" Baiklah." Sahut Cia membuka pintu mobil.
Irvan menggandeng tangan Cia berjalan mendekati pintu rumah itu. Irvan memencet bel rumah itu, dan tak lama pintu pun di buka dari dalam oleh seorang wanita.
Deg....
Jantung Cia berdegup kencang saat melihat jika wanita yang membukakan pintu adalah wanita yang sama dengan wanita yang Ia lihat bersama Irvan saat itu. Refleks Cia melepas gandengan tangan Irvan.
" Hai." Sapa wanita itu yang Cia yakini bernama Popi.
" Cia kenalin dia Popi, dan Popi ini Cia." Ucap Irvan.
__ADS_1
" Cia." Ucap Cia mengulurkan tangannya.
" Popi." Sahut Popi membalas uluran tangan Cia.
" Oh ini yang kamu bilang adik kamu Van, cantik ya." Ucap Popi.
Deg....
" Apa? Adik? Irvan mengakuiku sebagai adiknya? Tega sekali kamu padaku Mas... Wajar saja kamu tergoda dengan wanita seksi ini, secara bodyku kalah jauh darinya." Batin Cia memejamkan matanya. Ia tak kuasa menahan sedih di dalam hatinya.
Bagaimana tidak? Semenjak perutnya membesar Cia merasa insecure dengan tubuhnya sendiri. Sebenarnya tidak banyak perubahan dalam dirinya, hanya saja saat ini tubuh Cia semakin berisi dan perutnya yang besar karena kedua anak di dalamnya.
" Bolehkah kami masuk?" Tanya Irvan tanpa mengiyakan ucapan Popi.
" Ah iya silahkan masuk." Ucap Popi.
" Ayo Cia." Ucap Irvan menggandengtangan Cia.
Cia melangkah masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan sedihnya. Ia pijak satu persatu lantai marmer dengan lesu.
Deg...
Cia menghentikan langkahnya, Ia menatap tatanan ruang tamu yang sangat mirip dengan rumah idamannya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah itu sampai matanya tertuju pada bingkai foto besar yang terpasang pada dinding ruang tamu itu.
" Foto pernikahan." Gumam Cia.
Cia melepas tangan Irvan, Ia berjalan mendekat menatap foto pernikahan yang terpajang di sana. Ia dapat melihat dengan jelas jika pria di dalam foto itu adalah foto Irvan. Ya... Pria itu adalah Irvan suaminya...
Lalu siapa wanita yang berada di sampingnya? Cia semakin maju menatap cermat foto sang mempelai wanita. Dan....
Deg....
Jeduar.....
Cia meneteskan air matanya. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya agar tangisnya tidak meledak di sana. Hatinya sesak karena tidak bisa mengeluarkan suara tangisannya. Irvan segera menghampirinya.
" Cia sebenarnya aku ingin mengatakan.....
Mengatakan apa hayooooo.....
Adakah yang bisa menebaknya?????
Kasih tahu author di kolom komentar ya....
Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiah untuk author biar author semangat melanjutkan ceritanya ya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mendukung author dengan like, koment ataupun hadiah dan votenya, semoa sehat selalu dan di lancarkan jalan rizkinya.
Miss U All...
__ADS_1
TBC....