
" Hukuman apa yang akan kau berikan pada Arsya Mas?" Tanya Valen menatap Nathan. Begitupun dengan ketiga orang di sana.
" Aku akan menjadikannya asisten pribadiku menggantikan Tora, dan aku akan menempatkan Papa sebagai wakil direktur di perusahaan lama." Sahut Nathan membuat semua orang yang berada di sana melongo tak percaya.
" Maaf Bang aku nggak bisa." Ucap Arsya.
" Kenapa Arsya?" Tanya Nathan.
" Aku tidak mempunyai pengalaman untuk hal itu Bang, lebih baik Abang meminta Rasya saja, Papa sudah menyiapkan Rasya untuk menjadi penggantinya dulu." Ujar Arsya menolak tawaran Nathan.
" Rasya? Dimana Rasya?" Tanya Nathan.
" Rasya sedang bekerja Bang." Sahut Arsya.
" Rasya kerja dimana Pa?" Tanya Nathan.
" Rasya kerja di showroom mobil depan jalan." Sahut Papa Jordan.
" Lalu apa yang ingin kamu kerjakan jika kamu menolak di perusahaan?" Tanya Nathan.
Arsya menatap Papa Jordan yang di balas gelengan kepala oleh Papa Jordan. Valen melirik Papa Jordan. Ia tahu apa maksud Papa Jordan.
" Katakan saja Arsya, Kakak dan Abangmu akan membantumu, tidak perlu takut sama Papa." Ujar Valen.
" Em... Sebenarnya aku lebih tertarik dengan cafe." Ucap Arsya lirih.
Valen tersenyum mendengar ucapan Arsya.
" Tenang saja, aku punya cafe yang sudah lama aku serahkan kepada temanku, nanti akan aku berikan untukmu." Ucap Valen.
" Benarkah?" Tanya Arsya dengan mata berbinar.
" Iya, kau bisa mengubah konsep sesuai keinginanmu." Sahut Valen.
" Kamu punya cafe? Kok aku nggak tahu Yank?" Tanya Nathan menatap Valen.
" Aku udah lama tidak mengurusinya Mas, itu sebabnya kamu tidak tahu." Sahut Valen.
Tiba tiba Papa Jordan menangis membuat semua orang menatap heran ke arahnya.
" Kenapa Pa? Kenapa Papa menangis?" Tanya Arsya.
" Papa malu sama Abang dan Kakak iparmu, begitu baiknya Kakak iparmu kepada kita, kenapa dulu Papa berniat untuk memisahkannya dengan Abangmu hanya karena ucapan Meli." Ujar Papa Jordan menghapus air matanya.
" Yang lalu biarlah berlalu Pa, kita jadikan pelajaran untuk ke depannya, sekarang mari kita buka lembaran baru, bersiaplah untuk pindah dari sini kita akan mengantar kalian ke rumah baru kalian." Ucap Valen.
" Iya Pa, aku akan mengantar Papa, Ma ayo bersiap sebelum hari sore." Ujar Nathan.
Mama Sifa menatap Papa Jordan seolah meminta persetujuannya.
" Baiklah Papa terima bantuan kalian dengan senang hati, Papa sangat berterima kasih karna kalian masih menganggap kami sebagai keluarga kalian." Ucap Papa Jordan.
" Tidak usah di pikirkan Pa." Sahut Nathan.
" Arsya, jemput adikmu untuk bersiap, jangan biarkan Abangmu menunggu lama." Ucap Papa Jordan.
" Iya Pa." Sahut Arsya.
__ADS_1
Nathan dan Valen menunggu mereka bersiap di depan rumah. Keduanya duduk di bawah pohon rindang.
" Mas apa kamu sudah menelepon Mami dan mengatakan kalau Papa akan menempati rumahmu?" Tanya Valen.
" Sudah sayang, Mami dan Papi sudah berada di rumah kita untuk menyambut kedatangan mereka." Sahut Nathan.
" Sayang." Ucap Nathan menggenggam tangan Valen.
" Terima kasih sudah menyatukan keluargaku, aku bangga memiliki istri sepertimu, selain cantik kamu juga berhati bak malaikat, kamu baik kepada semua orang, aku tidak salah telah mencintai wanita sepertimu." Ungkap Nathan mencium tangan Nathan.
" Aku juga tidak salah memilih suami sepertimu." Sahut Valen.
" Kok bisa Yank?" Tanya Nathan.
" Selain tampan kamu juga baik hati, tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu." Ujar Valen.
" Apa?" Tanya Nathan.
" Kamu penurut." Sahut Valen.
" Hmm aku akan menuruti apa maumu Yank asalkan kamu tetap setia menemaniku sampai akhir hayat nanti." Ucap Nathan merangkul pundak Valen.
" Aku akan selalu berada di sisimu asalkan kamu tidak menyakitiku Mas." Sahut Valen.
" Aku janji akan hal itu, semoga tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita Yank." Ucap Nathan.
" Dan semoga keluarga kita selalu bahagia." Sahut Valen.
" Amien." Sahut Nathan.
Di tempat ini ada keluarga Nathan yang sedang berbahagia, sedangkan di tempat lain tepatnya di depan sebuah salon nampak sepasang muda mudi sedang terlibat perselisihan. Siapa lagi kalau bukan Luci dan Gama.
" Aku juga sudah bilang sama kamu kalau kamu tidak perlu mencari pekerjaan." Sahut Gama.
" Emangnya kamu siapa? Ngatur ngatur aku segala, Kak Davi aja nggak ada masalah sama keinginanku kok." Ketus Luci.
" Aku calon suami kamu, setelah menikah aku tidak mengijinkan kamu untuk bekerja, kamu cukup di rumah saja menungguku pulang kerja." Ucap Gama.
" Kamu gila ya? Siapa yang mau menikah denganmu? Jangan kepedean jadi orang." Ujar Luci tidak mau kalah.
Gama menarik kasar tangan Luci hingga membuat tubuh Luci menubruk dada bidangnya.
Deg deg deg
Jantung keduanya sama sama berdetak kencang seperti genderang mau perang. Ada sesuatu yang berdesir di hati mereka.
" Jangan menguji kesabaranku Luci, menurutlah atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya." Tekan Gama di telinga Luci.
" Lepas... Aku bilang lepaskan aku." Bentak Luci mendorong tubuh Gama menjauh darinya.
" Jangan berbuat sesuka hatimu dan selalu memaksakan kehendakmu Tuan Gama, aku ingatkan sekali lagi, jangan menemuiku apalagi bersikap tidak sopan seperti ini." Ucap Luci.
" Ah ya satu lagi, aku tidak tertarik untuk menikah denganmi, sama sekali tidak tertarik, camkan itu." Sambung Luci menekan dada Gama.
Luci berlari menjauh dari Gama. Ia menghampiri Ira yang berdiri mematung di depan pintu salon tempat mereka hendak melamar kerja.
" Ayo Ra kita segera pergi dari sini." Ajak Luci menarik tangan Ira menuju mobilnya.
__ADS_1
Gama berlari mengejar Luci. Saat Luci hendak membuka pintu mobilnya tiba tiba Gama mengangkat tubuhnya seperti karung beras.
" Lepaskan.. Lepaskan." Teriak Luci memukuli punggung Gama.
" Hei lepaskan dia, kamu penculik ya." Ucap seorang pria bertubuh gempal.
Gama menatap tajam ke arahnya membuat nyali pria itu menciut.
" Jangan ikut campur urusan suami istri." Ucap Gama.
" Hei tolong pak, aku bukan istrinya." Teriak Luci.
" Hah ada ada aja kelakuan anak muda zaman sekarang." Keluh Pria itu.
Gama melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Ia menurunkan Luci di kursi samping kemudi. Setelah menutup pintu Gama buru buru memutari mobil lalu duduk di depan kursi kemudi sebelum Luci berhasil kabur.
" Buka pintunya, kamu mau membawaku kemana." Teriak Luci mencoba membuka pintu mobilnya.
" Diam atau aku akan berbuat kasar kepadamu." Ucap Gama.
" Gila... Dasar kamu gila..." Teriak Luci meluapkan kekesalannya.
Gama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Luci memilih untuk diam.
" Kalau menurut begitu kan terlihat semakin manis." Ucap Gama menoleh ke arah Luci sambil tersenyum. Luci tidak bergeming.
" Kau tidak bertanya aku mau membawamu kemana?" Tanya Gama.
Luci memutar bola matanya malas. Ingin sekali Ia menggetok kepala Gama saat ini agar kewarasannya kembali. Bukankah tadi Ia dusah bertanya? Setengah jam akhirnya Gama sampai di kediaman Davian.
Gama membukakan pintu mobil untuk Luci turun. Luci segera turun dari sana.
" Eh bentar, kita masuk bareng." Ucap Gama mencekal tangan Luci saat Luci hendak berjalan duluan.
Keduanya berjalan menghampiri pintu rumah Davian dan masuk ke dalam.
Luci membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga saat melihat keluarga Gama berada di sana. Apa yang sebenarnya di rencanakan Gama? Pria gila yang selalu mengejarnya?
" Kalian sudah datang?" Tanya Mami Nesha.
" Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Apa yang terjadi?" Tanya Luci heran menatap semua orang yang berada di sana.
Luci menatap Papi Farhan, Mami Nesha, Nathan, Valen, Papa Jordan, Mama Sifa, Arsya dan juga Rasya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Ya Saat mereka hendak menuju rumah Nathan, tiba tiba Gama menelepon dan menyuruh mereka semua berkumpul di rumah Davian. Sebelum Gama dan Luci sampai di sini, Davian sudah menjelaskan kepada kedua orang tua Gama tentang apa tujuan Gama menyuruhnya mereka semua datang ke rumahnya.
" Kami semua berada di sini dalam rangka ingin melamarmu menjadi istri anak Mami, yaitu Gama."
Gubrak.....
Nah loh suara apa itu?
Udah double up ya...
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author...
__ADS_1
Miss U All....
TBC...