
Malam ini Gama menjemput Kavia seperti biasa, sebelum sampai rumah Gama membawa Kavia ke sebuah cafe yang sudah di bookingnya.
" Kenapa kita ke sini Gam?" Tanya Kavia.
" Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Sahut Gama.
" Ayo." Ajak Gama menggandeng tangan Kavia.
Keduanya masuk ke dalam dan di sambut ramah oleh para pelayan cafe. Bahkan manager cafe sendiri menjemput mereka dan mengantarkan ke ruang VIP yang sudah di pesan Gama.
" Silahkan Tuan dan Nona." Ucap manager cafe membukakan pintu.
" Terima kasih Pak." Ucap Gama.
" Ayo masuk kita makan malam dulu." Ujar Gama.
Keduanya duduk di meja yang sudah terhidang makanan hangat.
" Silahkan nikmati dulu makanannya Kavia." Ucap Gama.
Keduanya makan dengan khidmat. Kavia di liputi rasa kebingungan yang mendalam. Setelah selesai makan Gama menggenggam tangan Kavia.
" Kavia." Panggil Gama.
" Ya." Sahut Kavia menatap Gama.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar Gama.
" Katakan saja." Sahut Kavia.
" Kavia jujur aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita, aku bukan pria romantis dan umurku sudah tidak muda lagi, maukah kau menikah denganku." Ungkap Gama.
" Gama apa yang kamu katakan? Kita bahkan baru saling kenal kenapa kau sudah berani mengambil keputusan sepenting ini." Ujar Kavia.
" Aku tidak perlu mengenalmu lebih dalam karna aku tahu kamu adalah wanita yang baik." Sahut Gama.
" Maaf Gama aku tidak bisa menjawabnya sekarang, berikan aku waktu untuk memikirkannya." Ujar Kavia.
" Baiklah aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya tapi aku mohon jangan lama lama." Ujar Gama.
" Hmm... Sekarang sudah malam ayo kita pulang." Ujar Kavia.
" Ayo." Sahut Gama.
Gama mengantar Kavia pulang ke rumahnya. Ia langsung pulang karna Kavia tidak memperbolehkannya mampir ke rumahnya. Sesampainya di rumah Gama segera menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
" Malam Mi Pi, Cia, Ria, Abang." Sapa Gama duduk di sofa yang masih tersisa.
" Malam." Sahut Mereka serempak.
" Pi Mi ada yang ingin Gama bicarakan pada kalian." Ucap Gama.
" Apa itu sayang?" Tanya Mami Nesha.
" Aku ingin melamar Kavia." Ujar Gama.
" Apa?" Pekik Mami Nesha.
" Iya Mi, jujur Gama mencintainya Mi." Ujar Gama.
" Apa tidak ada wanita lainnya Kak? Cia merasa dia tidak sebaik yang Kakak kira." Ujar Cia.
" Jaga ucapanmu Cia, kakak tidak suka kamu berbicara tidak sopan begitu, kakak yakin dia wanita yang baik untuk kakak." Sahut Gama.
__ADS_1
" Hah terserah kakak saja, Abang dia kan teman Abang, pasti Abang tahu kan dia baik atau tidak." Ujar Cia beralih menatap Nathan.
Nathan menatap ke arah Mami Nesha.
" Cia benar sayang, kau carilah wanita yang lebih baik dari Kavia." Ucap Mami Nesha.
" Tidak Mi, Gama terlanjur mencintainya dan Gama akan mendapatkannya." Sahut Gama keras kepala.
" Abang tolong yakinkan Mami untuk menerima Kavia sebagai pasangan hidupku, Abang pasti akan menuruti apa kemauanku kan." Sambung Gama menatap ke arah Nathan.
" Gama jangan keras kepala Nak." Ujar Mami Nesha.
" Kalau Gama tidak bisa mendapatkannya maka Gama tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun." Ancam Gama meninggalkan mereka semua dengan kekecewaan di hatinya.
" Pi gimana ini?" Tanya Mami Nesha.
" Biarkan mereka mengenal lebih dekat dulu sayang, jika Gama mampu mengatasi setiap masalahnya maka restui saja, Gama sudah dewasa jadi kau tidak perlu khawatir." Ucap Papi Farhan.
" Baiklah Pi." Sahut Mami Nesha.
" Apa Papi dan Mami merestui hubungan mereka?" Tanya Nathan memastikan.
" Entahlah Bang, rasanya Mami berat untuk melepas Gama bersama Kavia." Sahut Mami Nesha.
" Kalau Mami dan Papi merestui maka Abang akan berbicara pada Gama." Ujar Nathan.
" Bicaralah padanya Bang kalau bisa bujuk Gama supaya mau melupakan gadis itu." Sahut Mami Nesha.
" Iya Mi, Abang ke kamar Gama dulu." Ucap Nathan.
Tok tok tok
" Dek Gam apa Abang boleh masuk?" Tanya Nathan di luar kamar.
" Masuk Bang." Sahut Gama dari dalam.
" Bang yakinkan Kavia untuk menerimaku, aku merasa nyaman bersamanya Bang, aku mencintainya, bahkan aku merasa aku tidak bisa hidup tanpa dirinya Bang." Ujar Gama.
" Apa kamu yakin kalau apa yang kamu rasakan itu cinta?" Tanya Nathan.
" Walaupun aku tidak pernah jatuh cinta tapi aku yakin seyakinyakinnya Bang, aku mencintainya aku ingin hidup bahagia bersamanya, Abang mau kan membuat Kavia menerima cintaku?" Tanya Gama.
" Akan Abang usahakan." Sahut Nathan.
" Tadi aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya Bang, tapi dia belum memberikan jawabannya, apa ada kemungkinan kalau dia suka sama Abang?" Tebak Gama.
" Enggak lah kami cuma teman biasa Dek, jangan berpikiran yang aneh aneh Abang akan membujuknya besok untuk menerima lamaranmu." Sahut Nathan.
" Makasih Bang." Sahut Gama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari Kavia datang di ruangan Nathan. Ia menghampiri Nathan yang sedang berkutat dengan komputernya.
" Than aku mau bicara." Ucap Kavia membuat Nathan menoleh.
" Aku sedang bekerja Kavia, nanti saja." Sahut Nathan.
" Tapi ini penting Than, semalam Gama melamarku." Ucap Kavia.
" Lalu?" Tanya Nathan.
" Aku akan menolaknya dan mengatakan kalau aku mencintaimu." Sahut Kavia.
__ADS_1
" Apa?" Pekik Nathan.
" Ya Than... Aku mencintaimu bukan Gama, seharusnya yang melamarku itu kamu bukan Gama Than." Ujar Kavia.
" Tapi aku tidak tertarik denganmu Kavia." Sahut Nathan membuat Kavia mengepalkan erat tangannya.
" Nathan apa kau tidak mencintaiku?" Tanya Kavia menatap Nathan.
" Tidak, yang mencintaimu adalah Gama." Sahut Nathan.
" Lalu apa artinya kedekatan kita selama ini Nathan?" Ujar Kavia.
" Aku hanya menganggapmu sebagai temanku saja Kavia." Jawab Nathan.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu, aku yakin kau juga mencintaiku hanya saja kau lebih mengalah demi adik tersayangmu itu." Ucap Kavia.
" Cobalah menerima kenyataan Kavia, Aku hanya menganggapmu sebagai temanku saja tidak lebih." Ujar Nathan.
" Aku tetap akan menolaknya dan mengatakan jika aku mencintaimu." Ucap Kavia.
" Jika kau berani menolak adikku dan mengatakan hal yang bisa menyakiti adikku maka aku tidak akan segan segan memecatmu dan menghancurkan keluargamu Kavia, ingat ancamanku tidak main main Kavia." Tekan Nathan menatap tajam ke arah Kavia. Kavia menelan kasar salivanya, Ia merasa takut dengan ancaman Nathan. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan keluarganya.
" Nathan kau tidak bisa berbuat begini denganku, kau ternyata pria jahat yang suka mengancam." Kesal Kavia keluar dari ruangan Nathan sambil menutup pintunya dengan keras.
" Aku memang menyukaimu Kavia, tapi aku tidak yakin jika yang aku rasakan padamu ini cinta, karna hatiku sudah terisi oleh gadis lain." Batin Nathan.
" Pak." Ucap Valen lebih keras.
" Eh.." Nathan menatap ke arah Valen.
" Kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke sini?" Tanya Nathan menatap Valen.
" Bapak lihat tangan saya." Ucap Valen menunjukkan punggung tangannya.
" Kenapa merah seperti itu?" Tanya Nathan.
" Karna terlalu lama mengetuk pintu Pak." Sahut Valen.
" Apa?" Gumam Nathan.
" Saya sudah mengetuk pintu berkali kali tapi Bapak tidak mendengarnya, itulah sebabnya saya menghampiri Bapak, maaf jika saya lancang Pak." Sahut Valen.
" Ah tidak masalah, apa jadwalku hari ini?" Tanya Nathan.
" Ada meeting bersama client di restorant xx jam sebelas Pak." Sahut Valen.
" Baiklah kau harus ikut nanti." Ujar Nathan.
" Baiklah Pak, dan ini dokumen yang harus Bapak tanda tangani." Ujar Valen menyodorkan sebuah stopmap.
" Baiklah letakkan saja di sana." Ucap Nathan menunjuk meja sofa.
" Baiklah Pak saya permisi dulu." Pamit Valen.
" Silahkan." Sahut Nathan.
Valen keluar dari ruangan Nathan dengan jantung deg degan karna Nathan menatapnya dengan tajam.
" Kau sangat mempesona Nona..." Batin Nathan.
TBC......
Jangan lupa like dan komentnya ya...
__ADS_1
Terima kasih suportnya...
Miss U Al....