Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
56. Gama dan Luci


__ADS_3

" Kak aku keluar dulu ya." Ucap Luci.


" Iya, kalau mau pulang, pulang aja nggak pa pa, Kakak bisa di sini sendiri." Sahut Davian.


" Nantilah Kak, aku mau jalan jalan aja nanti ke sini lagi." Sahut Luci.


" Baiklah hati hati." Ucap Davian.


Luci berjalan mendekati pintu, saat Ia hendak membuka pintu tiba tiba ada yang mendorong pintunya dari luar.


Dugh....


" Awh." Teriak Luci mengusap usap jidatnya.


" Maaf maaf aku nggak tahu kalau ada kamu di belakang pintu" Ucap Gama meniup jidat Luci.


"MasyaAllah gantengnya bikin Adek klepek klepek Bang... Hah nafasnya bikin adem hati Adek.. Segerrrr." Batin Luci menatap wajah tampan Gama.


" Apa masih sakit?" Tanya Gama menatap Luci yang sedang bengong karna terhipnotis dengan ketampanannya.


" Hei Nona, apa otakmu geser gara gara kepentok pintu?" Seloroh Gama.


" Bukan otak aku Bang tapi hati aku langsung hilang kamu curi." Sahut Luci tanpa sadar.


" Apa dia jadi tidak waras ya?" Monolog Gama.


" Hei." Ucap Gama menepuk pundak Luci hingga membuatnya tersadar dari lamunannya.


" Ah iya maaf." Ucap Ria salah tingkah.


" Siapa yang mencuri hatimu?" Tanya Gama.


" Kamu." Sahut Luci spontan membuat Gama terkekeh.


" Eh bukan... Maaf aku salah bicara." Ucap Luci.


" Beneran juga nggak pa pa kok, mau jalan jalan?" Tanya Gama.


" Iya." Sahut Luci.


" Ayo." Ajak Gama menggandeng tangan Luci membuat Luci mengikuti langkahnya.


" Eh maksudku aku mau jalan jalan sendiri." Ucap Luci. Gama menghentikan langkahnya, Ia berbalik menatap Luci membuat Luci gugup.


" Beneran nih mau jalan sendiri?" Tanya Gama.


" Iya." Sahut Luci.


" Nggak mau aku temani?" Tanya Gama.


" Ya maulah." Sahut Luci keceplosan.


" Ha ha ha." Tawa Gama.


Luci menampar pelan mulutnya sendiri.Ia merutuki kebodohannya.


" Ish bibir.... Jangan terlalu jujur donk! Kali kali bohong kek kenapa, malu maluin gue aja." Cebik Luci dalam hati.


" Jangan sakiti diri sendiri karna aku tidak menyukai itu." Ucap Gama menurunkan tangan Luci dari bibirnya.


" Sebenarnya kamu ini siapa sih? Kenapa baik sama aku? Atau jangan jangan kamu penculik ya yang modus mendekati targetnya." Ucap Luci menarik tangannya dari genggaman Gama.


" Eh tapi kalau penculiknya tampan kaya' gini sih aku mau." Batin Luci.


" Mana ada penculik setampan gue." Ujar Gama.

__ADS_1


" Idih narsis." Cebik Luci.


" Kamu nggak mau mengakui ketampananku?" Tanya Gama menatap Luci.


" Eh aku... Aku...." Ujar Luci gugup. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.


" Kenalin aku Gama, Kakak dari Ria." Ucap Gama mengulurkan tangannya. Wajah Luci tiba tiba berubah menjadi ketakutan.


" Kenapa? Apa kamu takut?" Tanya Gama.


" Iya... Aku takut kamu akan membalas dendam pada Kakakku lewat aku." Sahut Luci jujur.


" Heh.... Aku bukan pecundang seperti Kakakmu yang bisanya menyiksa perempuan yang tak berdaya seperti adikku, coba sama Kakak ipar Valen berani nggak dia." Sahut Gama.


" Kaya'nya enggak deh, secara kan Kak Valen orang berkuasa." Sahut Luci.


" Kau benar itu, sekarang ayo kita jalan jalan, oh ya siapa namamu?" Tanya Gama.


" Aku Luci." Sahut Luci.


" Luci.... Baiklah ayo." Ujar Gama.


Keduanya berjalan menuju taman yang ada di rumah sakit tersebut. Di samping taman ada kantin yang sedang ramai pengunjung.


" Mau makan sesuatu?" Tanya Gama.


" Tidak, aku baru makan saat mau ke sini tadi." Sahut Luci.


" By the way aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Ah Kakak saja ya biar sama kaya' Kak Davi." Ucap Luci menjawab pertanyaannya sendiri.


" Mas aja." Ucap Gama.


" Hah Mas??? Nggak mau ah kaya' sama pacar aja manggil Mas." Ujar Luci.


Luci menatap Gama yang saat ini sedang menatapnya juga.


" Kamu nembak aku?" Tanya Luci tidak percaya.


" Anggap saja begitu." Sahut Gama.


" Heh... Apa begini cara orang kaya meminta wanita menjadi pacarnya?" Tanya Luci.


" Aku tidak pandai merangkai kata kata dan aku lebih suka to the point dari pada basa basi." Ucap Gama.


" Lupakan itu, aku mau kembali ke ruangan Kakakku." Ucap Luci beranjak dari kursinya.


" Hei jawab dulu ungkapanku." Ujar Gama.


" Lakukan dengan benar baru aku akan menjawabnya." Ucap Luci meninggalkan Gama.


Gama terkekeh melihat sikap Luci.


" Menarik... Aku harap aku tidak salah dalam mengambil keputusan." Monolog Gama.


Gama berlari menyusul Luci. Luci masuk ke dalam ruangan Ria di ikuti Gama di belakangnya.


" Kalian dari mana?" Selidik Davian.


" Dari taman Kak." Sahut Luci.


Davian mendekati Gama.


" Kau Kakak iparku jadi jauhi adikku, biarkan dia bersenang senangmenikmati masa mudanya dan jangan ganggu dia." Ucap Davian.


" Apa kau juga memikirkan hal itu kepada Adikku?" Pertanyaan Gama menohok hati Davian.

__ADS_1


" Adikku kau siksa fisik dan batinnya, Kau membuatnya mengakhiri hidupnya sendiri Davian, bagaimana jika aku melakukan semua itu pada adik tersayangmu." Ucap Gama menatap nyalang ke arah Davian.


" Jangan... Aku mohon jangan pernah lakukan itu pada adikku, jika kau mau membalasnya maka lakukan itu padaku, jangan pada adikku." Ucap Davian.


" Hukum karma berlaku Davian, jika bukan aku yang melakukannya maka orang lain yang akan melakukan semua itu." Sahut Gama.


Gama menghampiri Ria yang sedang bercanda dengan Irvan. Padahal hari mulai gelap tapi Ria masih seceria sinar matahari pagi.


" Sayang." Panggil Gama kepada Ria.


Ria menatap ke arah Gama lalu menatap Irvan.


" Dia Kak Gama, Kakak tersayangmu... Kau biasa bermanja manja padanya." Ucap Irvan seolah tahu arti tatapan Ria.


" Kakak.." Lirih Ria.


" Iya... Kak Gama." Ujar Irvan.


" Kak Gama." Ucap Ria menirukan Irvan.


" Pintar! Sekarang udah malam kamu istirahatlah aku mau pulang dulu, besok aku akan ke sini lagi." Ujar Irvan.


" Tetaplah di sini." Ucap Ria menggenggam tangan Irvan.


" Iya Van, Tetaplah di sini temani Ria sampai dia pulih." Ucap Gama.


" Ya nggak bisa gitu donk, perusahaan membutuhkan aku apalagi Valen tidak ada di sana." Ucap Irvan.


" Aku akan meminta Kakak Ipar untuk menggantikanmu sementara dengan yang lain." Ujar Gama.


" Tidak ada yang di percaya Valen kecuali aku." Sahut Irvan.


" Itulah sebabnya Kakak ipar memintamu di sini karna dia yakin kamu bisa membuat Ria terhibur dan sembuh seperti sedia kala." Ujar Gama.


Irvan menghela nafasnya. Ia menatap Ria yang sedang menatapnya menatapnya dengan tatapan memohon.


" Baiklah." Sahut Irvan.


" Adrian." Panggil Ria.


" Ya." Sahut Irvan.


" Aku mau tidur, bisa kamu mengusap usap kepalaku." Ucap Ria.


" Baik, sekarang tidurlah." Sahut Irvan mulai mengusap usap kepala Ria hingga Ria memejamkan matanya.


" Kalau boleh aku tahu, kenapa Ria memanggilmu Adrian bukan Irvan?" Tanya Gama menatap Irvan mengabaikan dua kakak beradik yang sedang duduk di sofa di ujung sana.


" Aku pernah bertemu Ria sebelumnya, dia menemukan ktpku yang jatuh saat dan entah kenapa dia menyebut nama belakangku bukan nama depanku." Terang Irvan.


" Saat aku tanya kenapa, dia hanya menjawab kalau dia suka dengan nama itu.... Mungkin dia masih mengingat Adrian mantan kekasihnya." Sambung Irvan.


" Bisa jadi, atau karna alasan lain kita juga tidak tahu, saat ini kondisi Ria tidak stabil, mungkin dia menganggapmu sebagai Adrian kekasihnya." Ujar Gama.


" Aku turut prihatin atas keadaannya sekarang, jika Valen mengijinkan aku menghajar pria brengsek itu pasti sudah aku lakukan sejak lama." Ucap Irvan melirik Davian.


" Akupun juga begitu, sekarang kita berdoa saja semoga Ria cepat pulih, aku ucapkan terima kasih padamu karna kamu mau membantu kami." Ucap Gama.


" Sama sama." Sahut Irvan.


TBC......


Jangan lupa like dan komentnya ya....


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2