
" Apa yang kamu lakukan di sini sayang?" Tanya Farhan menghampiri Nesha.
Nesha melepas pelukannya Ia mendongak menatap Farhan yang sedang berdiri melipat kedua tangan di depan dadanya.
" Mas." Ucap Nesha beranjak sambil mengusap air matanya.
Farhan menelisik wajah sembab istrinya, Yang tadinya Ia ingin marah tapi Ia urungkan karena melihat kesedihan di mata istrinya. Farhan yakin terjadi sesuatu yang tidak beres di sini.
" Hei kenapa kamu menangis sayang?" Tanya Farhan mengusap lembut pipi Nesha.
" Ar.... Arnold Mas." Jawab Nesha sesegukan.
" Arnold? Arnold kenapa?" Farhan menangkup wajah Nesha.
" Arnold bunuh diri Mas Hiks..." Ucap Nesha memeluk tubuh Farhan. Ia kembali menangis tapi kali ini di pelukan suaminya sendiri.
" Astaga...." Gumam Farhan.
" Tenanglah sayang jangan menangis, Kamu sedih dia meninggalkanmu? Atau menangis karena iba dengannya?" Selidik Farhan mulai menampakkan rasa cemburunya karena istrinya menangisi kepergian pria lain.
" Mas...Aku hanya merasa bersalah." Ucap Nesha melepas pelukannya. Ia menatap ke arah Farhan.
" Dia mengakhiri hidupnya sendiri karena aku Mas, Dia berpikir aku telah mengkhianatinya." Ujar Nesha.
" Siapa yang bilang seperti itu? Apa dia punya bukti untuk membuktikan semua ucapannya?" Tanya Farhan melirik Rendi yang duduk di bangku taman.
" Ah iya untung kau mengungkit bukti, Tenang broo aku sedang tidak berdrama, Nes aku belum sempat menunjukkan surat yang Arnold tuliskan untukmu." Sahut Rendi.
Rendi merogoh kantongnya, Ia mengambil sebuah kertas yang terlipat rapi.
" Ini Nes, Aku menemukannya di bawah bantal Arnold, Dan kamu tahu pasti tulisan tangan Arnold karena dulu kau selalu mendapatkan surat darinya, Kau bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu." Ucap Rendi melirik tajam Farhan.
Nesha membuka lipatan itu, Sambil duduk di bangku Nesha mulai membaca surat yang Arnold tuliskan.
Neshaku Tersayang
Hari berganti minggu bahkan minggu pun kini sudah berganti bulan
Tapi penantianku ini tiada ujungnya
Aku menanti matahari terbit dari barat
Seperti aku menantikan kedatanganmu untuk menemuiku di dalam penjara yang menyesakkan ini
Kau tega mengkhianati cintaku dan melupakan aku yang sedang berjuang di sini
Kau sudah bahagia bersama orang lain
Dari dulu kau memang tak pernah menganggapku ada
Aku bagaikan angin lalu dalam kehidupanmu
Hah Aku sungguh tak tahu diri
Bagaimana bisa kau mengharapkan pria gila sepertiku
Sedangkan di sana kau telah bersanding dengan pria normal yang mampu membahagiakanmu
Perjuanganku selama ini sia sia sudah
Aku tidak sanggup memperjuangkan cintaku dan dirimu
Aku selalu menanti Tuhan untuk mengakhirinya
Tapi sepertinya dia pun benci padaku seperti dirimu yang membenci diriku
Aku harus menghentikan perjuangan ini
Aku tidak kuat menahan sakit dan sesak di dada ini
Maafkan aku
Percayalah aku mencintaimu
__ADS_1
Cinta ini akan aku bawa menghadap Tuhanku
Vanesha Febiola kau penyemangat hidupku
Tapi sayangnya penyemangat itu sudah tidak ada lagi
Jangan tangisi atau sesali kepergianku
Berbahagialah....
Aku selalu mencintaimu
Maaf aku tidak bisa menjemputmu di pintu Surga nanti
Yang selalu mencintaimu
Arnold
(Huaaaaa author nangis sumpah)
" Hiks... Hiks..." Nesha membekap mulutnya agar rongrongannya tidak keluar dan membuat orang memperhatikannya.
Farhan merebut kertas itu lalu membacanya. Terbesit rasa iba dan sedih di dalam hatinya.
" Sayang tenanglah." Ucap Farhan memeluk Nesha.
" Itu asli tulisan tangannya Mas, Dia menderita karena aku, Aku berdosa padanya Mas." Lirih Nesha.
" Bukan sayang semua ini bukan salah kamu, Semua ini sudah takdir dari yang Maha kuasa." Sahut Farhan.
" Apa aku boleh ke rumahnya Mas?" Tanya Nesha hati hati takut Farhan salah paham padanya.
" Baiklah aku akan mengantarmu." Sahut Farhan.
" Ren kapan dan dimana Arnold di makamkan?" Tanya Nesha menghapus air matanya dengan tisu.
" Hari ini di TPU kampungnya." Jawab Rendi.
" Baiklah terima kasih kau telah memberitahuku, Aku akan ke sana apa kau juga akan ke sana?" Ujar Nesha.
" Baiklah." Sahut Nesha.
" Mas telepon Mbak Nad dulu untuk menjaga putra kita sampai kita pulang." Ucap Nesha.
" Baiklah sayang." Sahut Farhan segera menelepon Mbak Nadia.
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah duka yang masih satu kecematan dengan rumahnya. Setelah menempuh waktu sekitar satu jam akhirnya mereka sampai pada rumah yang cukup mewah di antara yang lain dengan bendera kuning berkibar di pagar.
Nesha turun dari mobil menunggu Rendi. Ketiganya memasuki rumah dimana semua anggota keluarga sedang berkumpul.
" Assalamu'alaikum." Sapa Ketiganya bersamaan.
" Wa'alaikum sallam." Sahut seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
" Vanesha." Pekik wanita itu yang tak lain ibu Romlah, Ibunya Arnold.
" Apa kabar bu." Ucap Nesha mencium punggung tangan Bu Romlah.
" Baik sayang, Gimana kabarmu?" Jawab Bu Romlah.
" Alhamdulillah baik Bu, Kami turut berduka cita atas kepergian Arnold Bu." Ucap Nesha.
" Makasih sayang, Ayo silahkan masuk." Ucap Bu Romlah.
" Ini suamimu?" Tanya Bu Romlah setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
" Ah iya bu kenalin Mas Farhan suami Nesha." Ucap Nesha.
" Farhan Bu." Ucap Farhan menyalami Bu Romlah.
" Kau beruntung bisa mendapatkan Nesha tidak seperti putraku." Ujar Bu Romlah.
" Yang tabah ya Bu, Jodoh rejeki dan Maut itu sudah di tentukan oleh Tuhan." Ucap Farhan.
__ADS_1
" Iya Nak kau betul, Sayangnya putraku tidak memiliki takdir untuk bahagia sampai di penghujung usianya." Bu Romlah menghapus air matanya.
" Semoga Arnold tenang dan bisa bahagia di sana Bu." Ucap Nesha walaupun Ia tahu kalau ucapannya mustahil.
" Semoga saja Allah mau mengampuninya." Sahut Bu Romlah.
" Apa aku boleh ke pemakamannya Bu?" Tanya Nesha.
" Maaf Nak bukannya tidak boleh, Tapi ibu rasa kamu tidak perlu ke sana karena walaupun Arnold sudah tiada tapi dia tahu akan kehadiranmu, Dan itu akan membuatnya semakin sedih karena dia telah meninggalkanmu dengan cara seperti ini." Ujar Bu Romlah. Entah pemikiran dari mana Nesha sendiri pun tidak tahu.
" Baiklah Bu, Nesha akan mendoakan saja dari sini." Sahut Nesha.
" Ren kapan terakhir kali kamu mengunjungi Arnold?" Tanya Bu Romlah.
" Sekitar seminggu yang lalu Tan." Sahut Rendi.
" Apa dia baik baik saja saat itu?" Tanya Bu Romlah.
" Dia tidak pernah baik baik saja setelah Nesha meninggalkannya Bu." Lirih Rendi.
" Ya sudah lah tidak perlu di bahas kita bahas yang lain saja." Sahut Bu Romlah.
" Nak Farhan kerja dimana?" Tanya Bu Romlah menatap Farhan.
" Saya bekerja di Bank swasta Bu." Sahut Farhan.
" Owh." Gumam Bu Romlah.
Mereka berbincang hingga sore hari.
" Udah sore aku pulang dulu Bu, Putraku juga sudah menungguku." Pamit Nesha.
" Ah iya sayang makasih ya udah datang, Hati hati di jalan." Sahut Bu Romlah.
" Sama sama Tan." Sahut Nesha.
Nesha dan Farhan masuk ke dalam mobil, Farhan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Arnold.
" Tidak mampir ke rumah Mama?" Tanya Farhan.
" Tidak usah Mas kasihan anak anak udah lama aku tinggal." Sahut Nesha memejamkan matanya.
" Tidurlah nanti kalau udah sampai Mas bangunin." Ujar Farhan.
" Iya Mas." Sahut Nesha.
Satu jam kemudian Farhan memarkirkan mobilnya ke garasi rumah. Ia menggendong Nesha ala bridal style menuju kamarnya.
" Mami." Pekik Nathan menghampiri Farhan yang baru masuk ke dalam kamarnya. Farhan memberi isyarat kepada Nathan untuk diam menggunakan jarinya.
" Papi apa Mami sakit?" Lirih Nathan.
" Tidak sayang Mamimu baik baik saja, Saat ini Mami sedang tidur karena capek di perjalanan." Terang Farhan.
Nathan naik ke atas ranjang dengan pelan. Ia membaringkan tubuhnya di samping Nesha. Nathan memeluk Nesha sambil memejamkan matanya.
Farhan menatap haru pada kedua insan beda generasi itu. Mereka nampak seperti ibu dan anak kandung yang saling menyayangi satu sama lain.
" Semoga keluargaku selalu di liputi kebahagiaan Ya Allah." Monolog Farhan menutup pintu kamarnya.
TBC ...
*Jangan lupa like dan komentnya...
Hai hai hai....
Author kasih tahu ternyata novel ini belum bisa tamat sampai bulan depan guys...
Padahal udah pada bosen baca ya...
Gimana nih kalau kita lompat ke Nathan dewasa.... Mau nggak? Atau kita jalan pelan pelan aja sampai sebulan ke depan?
Mohon pendapat bukan hujatan ya ..
__ADS_1
Makasih...
Miss U All*....