
Setelah melangsungkan acara ijab qobul siang tadi, malam ini keluarga Ardiansyah menggelar acara resepsi untuk pernikahan kedua pasangan suami istri yang baru menyandang status. Siapa lagi kalau bukan pasangan Irvan dan Cia, serta Gama dan Luci. Kini kedua pasangan itu menikmati acara bersama teman teman mereka.
" Selamat Gam, akhirnya penantian lo berakhir juga." Ucap Leo, teman Gama.
" Thanks Bro." Sahut Gama.
" Gue doain semoga malam pertamanya lancar." Ujar Leo membuat pipi Luci memerah.
Gama menatap Luci sambil terkekeh melihat istrinya yang menampakkan malu.
" Lo bikin istri gue malu Bro." Ujar Gama.
Leo menatap ke arah Luci.
" Nggak perlu malu, udah biasa kan kalau pengantin baru melakukan malam pertama." Ucap Leo yang mendapat geplakan dari Gama.
" Udah di bilangin istri gue malu." Ucap Gama.
" Ya tapi jangan main geplak kepala orang lah Gam." Cebik Leo.
" Biar otak lo encer nggak cuma mikirin soal ranjang." Ujar Gama.
" Hidup tida ada artinya jika jauh dari ranjang Bro." Seloroh Leo.
Luci dan Gama hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Teman kamu nggak jadi datang Yank?" Tanya Gama menatap Luci.
" Katanya besok mau main ke rumah kita Kak, soalnya malam ini dia ada perlu." Sahut Luci.
" Panggilannya di ganti donk! Masa' sama suami manggilnya Kak, risih telinga gue dengernya Ci." Ujar Leo.
" Gue aja nggak protes, kenapa lo yang protes?" Sahut Gama.
" Kan gue udah bilang tadi kalau gue dengernya risih, kaya' Kakak sama adik aja." Ujar Leo.
" Eh bener juga ya, coba panggil aku Mas, Yank." Ujar Gama.
" Iya Mas." Ucap Luci.
" Nah gitu kan enak dengarnya." Sahut Leo.
Di meja sebelah, nampak pasangan Cia dan Irvan yang sedang berkumpul bersama teman temannya juga.
" Selamat Van atas pernikahan lo, semoga bahagia dan bisa menyayangi istri lo, gue nggak nyangka lo bisa menikah juga dengan wanita lain." Ucap Sakti penuh arti.
Cia menatap ke arah Irvan, apa maksudnya bisa menikahi cewek lain? Apa Irvan punya cewek yang saat ini bertahta dalam hatinya? Pikir Cia. Tapi Cia tidak terlalu memikirkannya. Ia nampak cuek saja, toh bukan urusannya kan? Di hatinya juga masih ada Dika.
" Ngomong apa sih lo, by the way makasih ya atas doanya." Sahut Irvan.
" Cia senyum donk, kaya'nya nggak bahagia amat nikah ma Irvan." Ujar Sakti.
Cia tersenyum ke arah Sakti membuat Irvan sedikit tidak rela melihatnya.
" Jangan tebar senyum sama pria lain Lecia." Ujar Irvan.
" Widih posesif nih ceritanya." Ejek Sakti.
" Eh mana? Nggak ada ya." Sahut Irvan.
Di meja sebelah Irvan, terlihat Valen, Nathan dan Azza terlibat obrolan yang lumayan serius. Dimana Valen sedang mengintrogasi saudaranya ini.
__ADS_1
" Gimana Za?" Tanya Valen membuat Azza mengerutkan keningnya.
" Gimana apanya Kak? Kabarku? Alhamdulillah kabarku baik Kak." Sahut Azza.
" Bukan itu." Ucap Valen.
" Lalu?" Tanya Azza menatap Cia.
" Mas Dika, gimana usaha Mas Dika mendekatimu?" Tanya Valen yang di balas senyuman oleh Azza.
" Maksudmu Dika suka sama Azza gitu Yank?" Tanya Nathan.
" Sepertinya Mas." Sahut Valen.
" Wah cepet juga dia move onnya." Ujar Nathan menutup mulutnya sendiri saat sadar dengan ucapannya.
" Move on? Apa Mas Dika sudah punya pasangan sebelumnya Kak?" Selidik Azza menatap Nathan dan Valen bergantian.
" Ah kalau soal itu, kau bisa menanyakan sendiri pada Dika." Sahut Nathan.
" Kami tidak sedekat itu Kak, lagian juga bukan urusanku sih kalau soal itu." Ujar Azza menutupi rasa kecewa dalam hatinya.
Saat mereka asyik ngobrol, Valen melihat Dika yang melintas tak jauh dari mereka.
" Mas Dika." Panggil Valen melambaikan tangannya.
Dika menoleh ke arah suara, Ia tersenyum saat melihat wanita berhijab yang duduk di depan Valen. Ia segera menghampiri Valen di mejanya.
" Malam Than, Len." Sapa Dika duduk di depan Nathan yang berarti Ia duduk di sebelah Azza.
" Malam Mas Dika." Sahut Valen.
Dika beringsut menatap Azza.
" Malam Za." Sapa Dika menatap Azza.
" Malam Mas." Sahut Azza menundukkan pandangannya.
" Kamu jangan menatapnya begitu Mas, Azza nggak suka sama pria yang tidak menjaga pandangannya." Ucap Valen.
" Ah iya maaf Za, aku lupa kalau kamu wanita istimewa." Ujar Dika.
Nyes....
Ucapan Dika membuat hati Azza seperti tersiram air es.
" Sejak kapan lo jadi sok romantis gitu? Perasaan dulu cuek waktu sama Ci.....
Valen membekap mulut Nathan.
" Ayo Mas kita ambil makanan, aku lapar." Ucap Valen.
" Ah iya ayo." Sahut Nathan.
Valen menggandeng Nathan meninggalkan dua orang dalam keadaan canggung. Dika beralih duduk di depan Azza.
" Jangan dengerin ucapan Nathan ya." Ucap Dika.
" Iya Mas." Sahut Azza menunduk.
" Jangan menunduk terus donk, sesekali menatap Mas kan nggak pa pa." Ujar Dika.
__ADS_1
Azza tidak mendongak, Ia tetap menunduk.
" Oh ya soal Mas mau mengajakmu ta'aruuf, Mas udah yakin dengan hati Mas, Mas akan datang ke rumahmu besok malam gimana?" Tanya Dika membuat Azza menatap ke arahnya.
" Apa Mas Dika sudah yakin?" Tanya Azza.
" Yakin, Mas ingin memintamu menjadi istriku." Tegas Dika.
" Sebelum Mas memintaku kepada Papaku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu Mas." Ucap Azza.
" Apa itu Za?" Tanya Dika menatap Azza.
" Aku tahu semua orang punya masa lalu soal asmara Mas, tapi yang aku inginkan jika Mas Dika serius menjalin hubungan denganku, Mas harus bisa menghapus nama wanita masa lalu Mas dalam hati Mas, aku nggak mau masa lalu Mas menjadi batu sandungan dalam hubungan kita ke depannya." Ujar Azza.
" Tapi kalau Mas belum bisa melupakannya maka urungkan saja niat Mas untuk mengkhitbahku." Sambung Azza.
" Jujur saja sejak bertemu denganmu, nama itu mulai terhapus dalam hatiku, entah mengapa kehadiranmu membuat hidupku menjadi lebih bersemangat, aku ingin memilikimu untuk mendampingiku, mensuportku di saat suka dan duka, aku janji tidak akan ada wanita ke dua dalam hubungan kita, tapi maaf untuk siapa wanita itu aku belum bisa memberitahumu." Terang Dika.
" Tidak masalah kalau Mas keberatan jika aku mengetahui siapa wanita itu, yang jelas aku tidak mau Mas membawa wanita itu ke dalam hubungan kita sesuai janji yang Mas Dika ucapkan barusan." Ujar Azza.
" Tentu, jadi bolehkah aku menemui orang tuamu besok malam?" Tanya Dika menatap Azza.
" Insyaallah Mas." Sahut Azza.
" Oh ya kalau boleh Mas tahu, berapa umurmu sekarang?" Tanya Dika di balas senyuman oleh Azza. Hati Dika meleleh melihat senyum manis Azza.
" Dua puluh Dua tahun Mas." Sahut Azza.
" Kalau Mas sendiri berapa tahun?" Azza balik bertanya.
" Mas tiga puluh satu tahun." Sahut Dika.
" Apa? Tiga puluh satu tahun Mas?" Tanya Azza memastikan. Ia takut kalau pendengarannya bermasalah.
" Iya, kenapa? Nggak suka sama yang jauh lebih tua ya?" Tanya Dika lemas. Entah mengapa hatinya merasa kalau Azza akan menolaknya. Azza tersenyum melihat wajah Dika.
" Enggak kok Mas, bagiku umur tidak masalah, kalau sudah jodohnya mau apa, yang jelas Mas harus menepati janji Mas dan selalu menjaga hati Mas dari wanita lain setelah menikah nanti." Sahut Azza membuat Dika merasa lega.
" Tentu say...
" Azza." Sahut Azza.
" Ah iya Azza." Ucap Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Udah malam Mas, aku mau pamit pulang." Ucap Azza.
" Iya hati hati, aku akan mengantarmu." Ucap Dika.
" Aku bawa mobil Mas." Ujar Azza.
" Mas ngikutin kamu dari belakang, jadi kita tidak satu mobil." Ujar Dika.
" Baiklah Mas." Sahut Azza.
TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya ya....
Terima kasih untuk para reader yang selalu mensupport author... Semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1