
Tiga hari menjelang pernikahan Anli, keluarga Permana nampak sedikit sibuk menata tempat untuk acara ijab qobul yang akan di lakukan di rumah ini, sedangkan untuk acara resepsi mereka menyewa hotel King yang ada di kota ini.
Setelah selesai memindai bufet dan sebagainya, kini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga dengan duduk lesehan beralaskan karpet. Ya mereka menghilangkan sofa karena akan di isi kursi tamu dari pihak dekorasi.
Mereka adalah Tuan dan Nyonya Indra Permana, Tuan dan Nyonya Andre Permana, Anli, Bryan dan Vanka dan juga Brayen dan Rea. Dan jangan lupakan pasangan senior mereka yaitu Oma Meri dan Oppa Anton.
" Kia doakan besok acaranya lancar ya." Ucap Nyonya Liona, Mamanya Anli.
" Tentu donk Li, kamu jangan khawatir semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana kita." Sahut Nyonya Kia menenangkan Nyonya Liona.
" Iya Ma, Mama jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi Ma, Mom Kia saja dulu tenang tenang aja tuh waktu menikahkan Bry sama Bray." Sahut Anli.
" Ya jangan di samakan donk sayang, Mommymu kan memang bawaannya tenang kalau Mama kan tidak, lagian Mama kan belum pernah menikahkan siapapun jadi hati Mama tuh sedikit gugup." Sahut Liona.
" Seharusnya yang gugup itu aku Ma, kan aku calon pengantinnya." Ujar Anli.
" Benar itu sayang, kamu yang tenang ya ada aku di sini, dan yakinlah jika semuanya pasti baik baik saja." Sahut Tuan Andre, Papanya Anli.
" Emangnya kamu nggak merasa gugup sama sekali ya Li?" Tanya Vanka menatap Anli.
" Emang waktu kamu mau nikah sama Bry, kamu gugup gitu?" Anli balik bertanya.
" Ya sedikit." Sahut Vanka.
" Ah tapi aku nggak merasa begitu sih tahu nanti kalau saat acara, mudah mudahan sih nggak ya." Ujar Anli.
" Ya semoga saja, paling juga Naren nanti yang akan gugup ngucapin ijab qobulnya." Ujar Bryan.
" Kemarin kamu sama Naren kemana Li?" Tanya Brayen membuat Anli menoleh ke arah Brayen.
" Ke rumah sahabatnya Mas Naren Kak." Sahut Anli.
" Dimana?" Tanya Brayen lagi.
" Di perumahan xx dekat taman kota Kak." Sahut Anli.
" Eh tahu nggak Kak?"
" Enggak." Jawab Brayen memotong ucapan Anli.
" Aku belum ngomong Kak.." Cibir Anli.
" Iya iya deh." Sahut Brayen.
" Sahabatnya Mas Naren itu ternyata CEO Alexandre Group." Ucap Anli.
" Alexander Group?" Tanya Tuan Indra memastikan.
" Iya Dad, dia menantu dari Tuan Farhan Ardiansyah, suaminya Nathan Ardiansyah yang memiliki perusahaan VA Group." Sahut Anli.
" Wah hebat ya bisa memiliki istri dan menantu dari keluarga Xander." Ujar Tuan Indra.
" Iya Dad." Sahut Anli.
Bryan menatap Vanka yang sedang menundukkan kepalanya. Ia menggenggam tangan Vanka membuat Vanka menatap ke arahnya.
__ADS_1
" Papa juga hebat memiliki menantu seperti Vanka dan Rea, walaupun mereka tidak sehebat putri dari Tuan Alexander tapi kebaikan mereka tidak berbeda dengan mereka yang berada di kalangan atas Pa." Ujar Bryan membuat Tuan Indra menyadari kesalahannya.
" Iya kamu benar Bry, Rea, Vanka... Papa minta maaf ya Papa tidak bermaksud melukai ataupun menyinggung hati kalian." Ucap Tuan Indra.
" Tidak masalah Pa." Sahut Vanka dan Rea bersamaan.
" Mommy..... Dicka menangis." Teriak Rayyan anak pertama Vanka dari depan pintu kamar Twins.
" Iya sayang Mommy ke sana." Sahut Vanka menghampiri Rayyan.
Bryan segera menyusul Vanka masuk ke dalam kamar ketiga putranya. Sedangkan yang lainnya kembali berbincang bincang.
" Papa lain kali kalau mau ngomong lihat lihat situasi dulu donk Pa, kan kasihan kalau menantu kita tersinggung." Ucap Nyonya Kia.
" Iya sayang maaf, tapi aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mereka sayang." Ujar Tuan Indra.
" Ya namanya manusia Mas, apalagi perasaan wanita... Mas kan paham dan tahu nagaimana sensitifnya perasaan wanita." Sahut Nyonya Kia.
" Iya sayang, Rea Papa minta maaf ya." Ucap Tuan Indra.
" Iya Pa nggak pa pa kok." Sahut Rea.
" Ya udah bahas yang lain aja Ndra, lagian aku yakin kalau Vanka juga tidak mudah tersinggung seperti yang di khawatirkan istrimu." Ucap Tuan Andre.
" Iya semoga ya." Sahut Oma Meri.
" Oh ya Anli, semua persiapan kamu sudah siap semua kan?" Tanya Nyonya Kia.
" Sudah Mom, baju akad, baju resepsi, kamar pengantin, semua sudah siap." Sahut Anli.
" Iya Mom." Sahut Anli.
" Boleh Mommy memberimu suatu nasihat?" Tanya Nyonya Kia.
" Ya tentu boleh donk Mom, Mom itu Mommyku juga, katakan apa nasihat dari Mommy! Anli akan mematuhinya." Sahut Anli.
" Mommy berpesan supaya kamu belajar menjadi istri yang sholehah, menurut sama suami, dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi suatu masalah, masalah apapun itu harus di selesaikan dengan baik, jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang marah, karena biasanya keputusan yang di ambil saat marah adalah keputusan yang tidak baik, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya." Nasihat Nyonya Kia.
" Baik Mom, aku akan selalu mengingat kata kata Mommy, terima kasih Mom sudah peduli denganku." Ucap Anli memeluk Nyonya Kia karena memang mereka duduk bersebelahan.
" Sama sama sayang, semoga bahagia selamanya." Sahut Nyonya Kia mengecup kepala Anli.
Walaupun Nyonya Kia hanya Tante dari Anli namun Nyonya Kia menyayangi Anli seperti putrinya sendiri, apalagi Nyonya Kia hanya mempunyai dua orang putra.
Mereka melanjutkan mengobrol mengenai persiapan pernikahan Anli dan Naren.
Sedangkan di dalam kamar Bryan, Vanka sedang menyus*** babby Dicka, sedangkan Bryan menggendong Babby Dicky, dan Rayyan sedang bermain dengan Dira anak dari Brayen dan Rea
" Sayang... Maafkan ucapan Papa ya, Papa tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, apalagi melukai hati kamu Dek." Ucap Bryan menatap Vanka.
" Iya Mas nggak pa pa kok, aku juga mengerti dan aku juga nggak tersinggung sama sekali." Sahut Vanka.
" Terima kasih sayang, kau memang istri terbaik yang Mas miliki." Ucap Bryan.
" Kok istri terbaik? Emang Mas punya istri berapa? Kalau ada yang terbaik berarti ada yang terburuk donk." Goda Vanka.
__ADS_1
" Ya enggak mungkinlah sayang, Mas suami setia yang hanya punya satu istri dan itu adalah kamu, Adek Devanka tersayang." Ucap Bryan.
" Beneran? Nanti nanti nggak mau nambah istri lagi?" Tanya Vanka menaik turunkan alisnya.
" Ya tergantung." Sahut Bryan.
" Tergantung gimana Mas?" Tanya Vanka.
" Ya kalau Mas tidak khilaf, kalau khilaf ya....." Bryan menggantung ucapannya menatap Vanka yang sudah cemberut mengerucutkan bibirnya.
" Sayang jangan cemberut gitu donk... Bikin Mas pengin ngecup tuh bibir manis kamu." Ucap Bryan.
" Nggak boleh." Ucap Vanka.
" Kenapa? Kan tuh bibir milik Mas juga." Ujar Bryan.
" Tadi... Sekarang udah enggak." Sahut Vanka.
" Enggak gimana?" Tanya Bryan.
" Sejak kamu punya niat menikah lagi, bibir ini sudah bukan milikmu lagi." Ketus Vanka.
" Ei ya nggak bisa gitu donk Dek, maaf deh... Maafin Mas ya." Bujuk Bryan duduk di samping Vanka. Vanka tidak bergeming, Ia memilih untuk diam.
" Nanti apapun mau kamu pasti Mas beliin deh, tapi maafin Mas dulu ya." Rayu Bryan.
" Yakin apapun?" Tanya Vanka menatap Bryan.
" Iya." Sahut Bryan.
" Baiklah aku memaafkanmu." Sahut Vanka.
" Terima kasih sayang, lalu apa yang ingin kamu minta dari Mas? Nanti akan Mas belikan." Ujar Bryan.
" Aku tidak meminta apa apa Mas, yang aku minta hanya cinta dan kesetiaan Mas saja." Sahut Vanka.
" Tentu sayang, love you." Ucap Bryan mencium kening Vanka.
" Love you too Mas." Sahut Vanka.
Yang belum baca kisah Bryan dan Vanka kira kira pada penasaran nggak nih?
Kalau penasaran baca ya di judul sebelah...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu....
Miss U All....
**TBC.....
Kisah Bryan dan Vanka ada di seasons ke dua ya**....
__ADS_1