
Hari ini Davian kembali di panggil oleh pihak kepolisian, Christian sang pengacara handal yang biasa di panggil Tian telah membawa bukti bukti ketidak terlibatan Davian dalam kasus yang menjeratnya. Bersama Christian dan Irvan, Davian duduk di depan penyidik.
" Ini bukti bukti jika Tuan Davian tidak terlibat dalam bisnis gelap yang telah di tuduhkan kepada client saya, saya harap kasus ini selesai sampai di sini dan tidak berlanjut sampai pengadilan karena itu hanya akan membuang waktu saya." Ucap Tian memberikan sebuah map kepada tim penyidik.
" Kami tim penyidik sudah mempelajari kasus Tuan Davian, dan kami membebaskan Tuan Davian karena memang Tuan Davian terbukti tidak bersalah, kami mohon maaf kepadaTuan Davian dan Pak pengacara atas ketidaknyamanan yang telah kami perbuat, dan mohon di maklumi jika tim kami hanya menjalankan tugas saja." Ucap pihak penyidik.
" Alhamdulillah." Ucap Davian.
" Baiklah tidak masalah, kami mematuhi protokol hukum yang berjalan, kalau begitu kami permisi Pak." Ucap Tian.
" Silahkan Tuan, terima kasih atas kerja samanya." Sahut pihak penyidik.
Davian, Irvan dan Christian berjalan keluar meninggalkan kantor polisi. Di depan Nathan dan Valen sudah menunggu mereka.
" Valentina Adriana, wanita tercantik yang pernah mencuri hatiku, tak ku sangka setelah sekian lama kita berpisah kita bisa bertemu kembali hari ini." Ucap Tian menyalami Valen.
" Dan sesuai janjiku aku kembali karna dirimu sendiri yang memanggilku kemari, aku membukatikan jika ucapanku waktu itu benar bukan." Sambung Tian.
" Ya kau benar Tian, ternyata aku memang membutuhkanmu di masa depan seperti saat ini, maafkan aku yang terlalu menyombongkan diriku waktu itu." Sahut Valen.
" Its OK tidak masalah Valen, aku senang bisa membantumu dan adikmu." Ujar Tian.
" Oh ya kenalkan ini suamiku." Sambung Valen.
" Ah iya aku sampai lupa kalau kau sudah punya suami, hai aku Tian mantan kekasih Valen, eh bukan... Tapi statusku masih kekasihnya sampai saat ini karena belum ada kata putus di antara kami." Ucap Tian mengulurkan tangannya kepada Nathan.
" Aku Nathan, senang bertemu denganmu." Ucap Nathan membalas uluran tangan Tian tanpa mempedulikan ucapan Tian, karena semalam Valen sudah menceritakan sedikit tentang Tian.
" Aku rasa tidak begitu." Ujar Tian.
" Apa maksudmu?" Tanya Nathan mengerutkan keningnya.
" Kehadiranku akan membuat pernikahanmu terancam Tuan Nathan." Sahut Tian.
Deg....
Jantung Nathan terasa berdegup begitu kencang. Valen menatapnya dengan cemas, Ia takut Nathan akan meladeni Tian yang super konyol.
" Kau membuat suamiku cemas Tian, hentikanlah sikap konyolmu itu, jangan sampai suamiku jantungan karena candaanmu." Ucap Valen.
" Ha ha ha... Maafkan aku." Ucap Tian.
" Kau tenang saja Tuan Nathan, walaupun aku menginginkan Valen kembali padaku tapi dia tidak akan mungkin mau dengan pria pengecut sepertiku, aku pernah melukai hatinya dan aku rasa luka itu masih membekas di hatinya sampai sekarang." Terang Tian berubah sendu.
__ADS_1
" Aku rasa juga begitu Tuan Christian, aku juga tidak merasa khawatir tentang itu, karena saya percaya akan cinta istri saya kepada saya." Sahut Nathan.
" Wow.... Saya salut dengan anda Tuan Nathan, baguslah kalau begitu Tuan Nathan, memang pondasi dasar dalam hubungan adalah kepercayaan, tanpa kepercayaan hubungan tidak akan langgeng seperti hubunganku dengan Valen di masa lalu." Sahut Tian.
" Sudah sudah hentikan semua ini jangan berdebat lagi, tidak akan ada habisnya jika kamu meladeni Tian Mas." Ujar Valen menengahi.
" Oh ya gimana Davi? Semuanya sudah kelar kan? Kamu di bebas kan sekarang kan?" Tanya Valen menatap Davian.
" Alhamdulillah Kakak Ipar aku bebas, aku terbukti tidak bersalah, terima kasih aku ucapkan untuk bantuan kalian semua, terutama kamu Kakak Ipar." Ucap Davian menatap Valen.
" Apa kamu sadar jika di sini ada tiga Kakak Iparmu." Ujar Valen.
Davian menatap Nathan dan Irvan sambil tersenyum kikuk.
" Ah iya maaf aku lupa, maksudku kamu Kak Valen semua berkat dirimu yang meminta bantuan kepada Kak Irvan dan Tuan Christian, sekali lagi terima kasih." Sahut Davian.
" Tidak perlu sungkan Davi, kami semua keluargamu, jadi sudah kewajiban kami untuk membantumu keluar dari masalah ini." Sahut Valen.
" Kau memang wanita yang baik Kak." Ucap Davian.
" Ehmmm kamu memuji istriku di depanku Davi, sepertinya kau harus mendapatkan hukuman dariku." Ucap Nathan.
" Maaf Bang." Ucap Davian.
" Baiklah ayo." Sahut Nathan.
" Kalau semua berarti aku ikut pulang bersamamu juga nih?" Tanya Tian menggoda Valen.
" Iya kamu ikut ke rumah, Mami dan Papi ingin mengucapkan terima kasih padamu Tian." Sahut Valen.
" Baiklah just for U." Sahut Tian.
" Ayo." Ajak Valen.
" Eits ... Tunggu." Tian mencekal tangan Valen.
" Apalagi? Lepasin tangan istri gue." Ucap Nathan menepis tangan Tian.
" Kamu ikut mobil aku Len, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucap Tian.
" Nggak bisa, Valen sama gue." Sahut Nathan.
" Kamu percaya kan sama Valen? Jadi nggak perlu khawatir Tuan Nathan." Ucap Tian.
__ADS_1
" Itung itung rasa terima kasih kamu sama aku Len." Sambung Tian.
" Nggak pa pa ya Mas, aku bareng Tian." Ucap Valen menatap Nathan.
" Tenanglah Mas! Tian tidak akan melakukan apa apa, aku bisa melawannya jika kau lupa." Ujar Valen.
" Baiklah." Sahut Nathan menghela nafasnya.
Mereka berlima masuk ke dalam mobil. Valen bersama Tian, Nathan sendiri dan Davian bersama dengan Irvan. Ketiga mobil melaju dengan kecepatan sedang.
" Berapa usia anakku?" Tanya Tian sambil terus mengemudi.
" Engh..." Valen mengerutkan keningnya.
" Ya anakmu, anakku juga kan." Ujar Tian.
" Tian aku mohon jangan bersikap seperti ini, hubungan kita hanya masa lalu dan itu pun hanya sesaat saja, berhentilah bersikap seolah olah kita saling dekat! Aku tidak mau keluarga suamiku berpikur yang tidak tidak tentang kita." Ucap Valen menatap ke luar.
" Entah mengapa dalam hatiku masih merasa jika kamu milikku, aku tidak pernah melepasmu untuk bersama yang lain." Sahut Tian.
" Kamu sendiri yang membuangku waktu itu kan? Sudahlah Tian anggap saja kita tidak pernah bertemu apalagi berhubungan, karna hubungan sepintas itu tidak ada artinya bagiku." Ujar Valen.
" Tapi sayangnya aku menganggap masa itu adalah masa berarti bagiku." Sahut Tian.
Sekilas tentang Tian. Christian dan Valen dulu saling memiliki perasaan, namun Tian meninggalkan Valen begitu saja bersama wanita lainnya. Ia pergi ke luar negeri tanpa kabar dan Valen menganggap hal itu tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Itulah sebabnya Ia tidak pernah mengatakan apapun tentang Tian.
" Bersikaplah seperti orang asing seperti apa yang kamu lakukan selama ini." Ucap Valen.
" Baiklah.... Mungkin itu memang yang terbaik untuk kita berdua, maafkan aku." Ucap Tian.
Valen memilih memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Sekuat hati Ia menahan sesak dan emosi yang kembali hadir dalam hatinya setelah kedatangan Tian.
" Andai saja dulu kamu bersikap seperti ini, aku akan merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, tapi sayang semuanya sudah terlambat jauh, semuanya sudah berubah Tian, kau membuat luka dalam hatiku dengan begitu dalam." Batin Valen.
TBC......
*Bab selanjutnya kita akan bahas Cia ya....
Terima kasih atas suport yang para reader berikan kepada author dari awal hingga akhir... Semoga sehat selalu...
Jangan lupa like dan komentnya ya....
Miss U All*....
__ADS_1