Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
48. Kehidupan baru


__ADS_3

Huek... Huek....


Valen kembali memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berupa cairan ke wastafel pagi ini. Nathan yang mendengar suara Valen segera menghampirinya.


" Sayang kamu muntah lagi." Ujar Nathan memijat tengkuk Valen.


" Udah Mas." Ucap Valen menghentikan pijatan Nathan.


" Kita harus periksa ke dokter Yank." Ujar Nathan.


" Enggak usah lah Mas, nanti minum obat juga sembuh." Sahut Valen.


" Jangan sembarangan minum obat donk Yank, nanti kalau salah obat kan bisa bahaya." Ujar Nathan.


" Mas kaya'nya aku hamil deh." Ujar Valen.


" Apa? Hamil? Yang bener Yank." Pekik Nathan.


" Aku telat satu minggu Mas." Ucap Valen.


" Alhamdulillah kalau itu memang benar Sayang, nanti kita ke rumah sakit untuk mengecek kebenarannya, kita cek kandungan ya." Ucap Nathan dengan mata berbinar.


" Tapi jangan seneng dulu Mas, kan aku bilang kaya'nya." Ujar Valen.


" Iya sayang." Sahut Nathan.


...----------------...


Ria sedang meringkuk di kasurnya, tiba tiba..


Byurrrrr


Davian menyiram wajah Ria dengan segelas air. Ria gelagapan dan langsung bangun dari tidurnya.


" Enak ya kamu jam segini belum bangun, kamu mau menjadi ratu di rumahku?" Tanya Davian.


" Tidak Mas, apa yang harus aku kerjakan Mas?" Tanya Ria menahan emosinya.


" Masak sana buat sarapan, dan ingat masak yang enak jangan sampai aku keracunan gara gara makan masakanmu." Ucap Davian.


" Baik Mas, aku akan mandi dulu sebentar." Ucap Ria masuk ke dalam kamar mandi.


Tubuh Ria luruh di lantai. Ia menyalakan shower mengguyur tubuhnya. Ria menggosok bekas sentuhan Davian semalaman hingga kulitnya memerah. Davian kembali memperlakukannya dengan buas layaknya seekor singa yang memangsa buruannya.


" Aku bahkan jijik dengan diriku sendiri, Ya Tuhan berikan aku kekuatan dan kesabaran, bukan aku tidak bisa melawan tapi aku takut Cia dalam bahaya.... Sabar Ria, berikan pembalasan dengan cantik tapi terasa begitu menyakitkan untuknya.... Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta padaku Mas, di saat itu tiba aku akan menunjukkan kebenaran kepadamu dan setelah itu aku akan pergi meninggalkanmu dalam penyesalan." Monolog Ria.


Lima belas menit Ria keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia segera turun ke bawah menuju dapur.

__ADS_1


" Pagi Bi." Sapa Ria kepada Bi Asih.


" Pagi Nyonya, ada yang Nyonya butuhkan?" Tanya Bi Asih.


" Bi mulai sekarang biarkan Nyonya yang memasak, Bibi kerjakan yang lain saja." Ucap Davian yang baru masuk ke dapur.


" Iya Tuan." Sahut Bi Asih meninggalkan dapur menuju ruang laundry.


Ria menatap Davian yang sedang menenggak minumannya di depan kulkas. Ia tidak pernah menyangka jika pria yang Ia sukai membuatnya terikat dalam pernikahan balas dendamnya.


" Cepat bekerja jangan menatapku seperti itu." Ucap Davian.


Ria mendekati Davian. Ia menatap Davian dengan tatapan sayunya.


" Kenapa aku tidak boleh menatap suamiku sendiri? Apa aku harus menatap pria lain begitu?" Tanya Ria.


Deg...


Hati Davian mencelos mendengar ucapan Ria. Menatap pria lain? Entah mengapa hatinya merasa tidak rela. Dan tatapan mata itu... Tatapan itu membuat Davian merasa hangat. Davian segera memutus tatapan mereka lebih dulu.


" Kau boleh menganggapku sebagau suamimu tapi aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku, oh ya nanti malam masak yang enak dan sedikit banyak karna kekasihku akan datang malam ini." Ujar Davian membuat hati Ria seperti tertusuk sembilu.


Davian menatap Ria berharap Ria akan sakit hati. Tapi Ria tidak memberikan respon apa apa membuatnya merasa kesal.


" Baiklah aku akan memasak untuk menyambut kedatangan kekasihmu itu." Sahut Ria mencoba kuat.


"Aku akan lihat seberapa kuat kau akan bertahan Vale..." Gumam Davian dalam hati.


" Aku akan melihat sejauh mana kau mampu menyakitiku Mas, karna aku melihat cinta di matamu, tapi aku tidak akan terhanyut oleh perasaanku karna setelah ini aku harus pergi jauh darimu." Ujar Ria dalam hati.


Ria mulai meracik sayuran dan bumbu bumbunya. Tiga puluh menit Ria mampu menyelesaikan pekerjaannya. Rica rica ayam, rendang sapi dan balado telur, itulah menu yang Ria buat meneruskan pekerjaan Bi Asih.


Ria menatanya di meja makan. Setelah itu Ia memanggil Davian dan Luci untuk sarapan.


" Aku ambilkan Mas." Ucap Ria. Ria mengambil makanan untuk Davian, lalu Ia meletakkannya di depan meja Davian.


" Semoga kau menyukai masakanku Mas." Ujar Ria.


" Kak masakanmu lezat sekali, aku bahkan tidak bisa memasak seperti ini." Ucap Luci sambil mengunyah makanannya.


Davian memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu Ia mulai mengunyahnya meresapi rasa masakan istrinya. Enak.... Benar benar seperti masakan ibunya.


Pyarrrr


Davian membuang makanannya kala Ia mengingat ibunya. Emosinya meluap luap menatap ke arah Ria.


" Kalau kamu tida bisa memasak harusnya kamu bilang Vale." Bentak Davian menarik kasar rambut Ria.

__ADS_1


" Argh Mas sakit." Pekik Ria.


" Kak lepasin Kak Ria, kamu ini kenapa sih Kak masakan Kak Ria enak kok." Ucap Luci melepas tangan Davian dari rambut Ria.


" Kalau aku bilang masakannya nggak enak ya nggak enak Luci, jangan sampai kau menentangku dan membela wanita ini." Teriak Davian.


" Kak tapi...


" Luci." Bentak Davian.


" Luci tidak apa, turuti kata Kakakmu, memang aku yang nggak bisa masak kok." Ucap Ria.


Luci menghentakkan kakinya kesal. Ia meninggalkan meja makan berlari menuju kamarnya.


" Akan aku bereskan Mas." Ucap Ria.


Ria berjongkok memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai. Tiba tiba Davian menginjak tangan Ria hingga terkena pecahan beling membuat darah mengalir dari telapak tangannya. Ria memejamkan matanya menahan rasa sakit di hati dan di tangannya. Tapi Ia harus kuat demi mengalahkan Davian.


" Kau tidak merasa sakit?" Tanya Davian.


" Walaupun sakit aku akan menahannya Mas, lakukan apa yang membuatmu senang jika itu bisa mengurangi kesalahan yang telah aku lakukan padamu." Sahut Ria.


Ucapan Ria membuat hati Davian tak menentu. Ia meninggalkan Ria menuju kamarnya. Kamar yang semalam menjadi saksi bisu perbuatannya kepada Ria.


" Hah... Ada apa dengan diriku? Kenapa aku merasa goyah untuk melanjutkan balas dendam ini?.... Tidak tidak, aku harus tetap menyiksanya supaya dia tahu bagaimana rasanya sakit." Monolog Davian menatap langit langit kamarnya.


Setelah membereskan semuanya, Ria mengunci dirinya di dalam kamar mandi. Ia menangis mengeluarkan sesak di dadanya.


" Ini baru dua hari, lalu bagaimana bisa aku menjalaninya selama lima bulan? Cia ku harap kau akan kembali secepatnya, aku tidak sanggup jika harus menahan sakit terus terusan seperti ini... Hiks... Ya Tuhan tabahkan hatiku." Monolog Ria membasuh wajahnya agar tidak terlihat Davian.


Ria keluar dari kamar mandi, Ia berjingkrak kaget saat menatap Luci yang sedang bersedekap dada di depannya.


" Luci kau mengagetkan Kakak saja." Ujar Ria.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kakak dan Kak Davi? Kenapa Kak Davi menjadi berubah sekasar ini dengan seorang perempuan Kak? Apa lagi Kakak istrinya sendiri." Ujar Luci bertanya tanya.


" Kau tanyakan saja pada Kakakmu sendiri, aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi Luci, Kakakmu bilang aku membuat kesalahan besar kepadanya, tapi aku sendiri tidak mengetahuinya sama sekali kesalahan apa yang sudah aku perbuat pada Kakakmu, aku merasa tidak mengenal Kakakmu sebelumnya, tapi biarlah... Mungkin ini jalan takdir dari yang Maha Kuasa, satu pesanku untukmu Luci, jangan pernah kau tertipu dengan sikap manis lelaki, karna bila rasa manis itu hilang yang tersisa hanya rasa pahit di dalamnya." Ucap Ria berlalu meninggalkan Luci.


Tanpa mereka sadari jika Davian mendengarkan mereka sejak tadi.


" Apa benar dia tidak ingat sama sekali? Apa dia lupa ingatan? Kenapa aku merasa dia bukan dirinya? Lalu siapa wanita yang aku nikahi?" Batin Davian.


TBC....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author...

__ADS_1


Miss U All...


__ADS_2