
" Kenapa kau bodoh sekali Meli, meyakinkan Nathan saja kamu tidak bisa.... Benar benar bodoh." Bentak Feri membuat tubuh Meli berjingkrak kaget.
" Maafkan aku... Aku sudah melakukannya sebaik mungkin tapi istrinya tiba tiba datang dan menggagalkan semuanya, aku yakin istrinya pasti lebih meyakinkan Nathan untuk tidak membantuku sayang." Ujar Meli ketakutan. Ya baru saja Meli mendapat telepon dari Nathan kalau Nathan minta maaf karna tidak bisa membantunya. Bahkan setelah itu nomer Meli langsung di blokir oleh Nathan.
" Aku tidak peduli, pokoknya bagaikanapu caranya kau harus kembali mendekati Nathan dan menghancurkan pernikahannya." Teriak Feri menatap tajam ke arah Meli.
Feri mencengkram dagu Meli dengan kuat.
" Kau harus menggunakan ot*kmu untuk merebut kembali Nathan dari Valen, aku tidak mau Nathan bahagia di atas penderitaanku." Bentak Feri.
" I...iya." Sahut Meli.
" Kau tahu kan apa yang akan aku lakukan padamu dan bayi itu kalau sampai kau tidak menuruti apa kataku." Ucap Feri menatap perut Meli. Meli menganggukkan kepalanya sambil menangis.
" Kalau sampai kau tidak berhasil aku akan melenyapkan bayi itu dan Papa tersayangmu." Sambung Feri mendorong tubuh Meli.
" Awh." Pekik Meli merasakan sakit pada tubuhnya.
" Nathan.... Tunggu pembalasanku, kau yang membuat adikku pergi untuk selamanya maka aku akan membuat istrimu pergi meninggalkanmu untuk selamanya juga, penderitaan harus di balas dengan penderitaan." Monolog Feri tersenyum jahat.
Feri Argianta Kakak dari Feli Argiantari, wanita culun yang diam diam mencintai Nathan saat kuliah dulu. Feli tidak punya kepercayaan diri untuk menunjukkan wajahnya di depan Nathan hingga Ia harus menjadi pengagum rahasianya. Suatu hari setelah pulang kuliah Feri pergi ke apartemen yang di tinggali Feli, tiba tiba Feli di temukan meninggal dunia di dalam apartemennya. Berdasarkan penyelidikan polisi dugaan sementara Feli mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri. Dan saat itu Feri menyalahkan Nathan dengan apa yang terjadi pada adiknya lalu pergi meninggalkan kota ini tanpa tahu kelanjutan kasusnya.
Sebenarnya Feri hendak membalas dendam saat itu tapi apalah daya, Ia hanya orang biasa yang kekuasaannya jauh di bawah keluarga Ardiansyah. Ia pergi merantau ingin mengubah nasibnya menjadi sepadan dengan keluarga Nathan selama bertahun tahun lamanya hingga kini Ia sudah menjadi sukses dalam dunia bisnis gelapnya. Sekarang saatnya Ia membals dendamnya kepada Nathan. Pikir Feri.
Di dalam kamar Ria sedang merias wajahnya, Ia sedang bersiap berangkat ke kantor Gama.
Drt drt
Ponsel Ria berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap ID pemanggil yang merupakan nomer baru. Ria malas menanggapinya, Ia meletakkan kembali ponselnya.
Ting...
Notif pesan masuk ke ponsel Ria. Ria membukanya.
📲 08xxxxxxxxxx
Ini aku Davian, angkatlah
" Ngapain aku suruh mengangkatnya." Monolog Ria.
Drt... drt...
Ponsel Ria berdering lagi. Ia segera mengangkatnya.
" Halo." Sapa Ria.
" Halo Vale, segera keluarlah aku sudah di depan rumahmu." Ucap Davian di sebrang sana.
" Apa? Di depan rumahku? Untuk apa?" Tanya Ria memastikan.
" Iya Vale aku di depan rumahmu untuk menjemputmu.... buruan gih." Ujar Davian.
" Ah maaf Mas, aku berangkatnya bareng Kak Gama, jadi kau terus saja ya." Ujar Ria.
" Vale kau mengecewakan aku, ini pertama kalinya aku menjemputmu kau langsung menolaknya, kalau kamu tidak mau keluar maka aku yang akan masuk ke dalam." Ancam Davian.
" Eh jangan jangan jangan, baiklah tunggu setengah jam lagi aku akan keluar setelah sarapan." Ucap Ria.
__ADS_1
" Nggak usah sarapan, nanti kita sarapan di luar saja, lima menit! Jika dalam waktu lima menit kamu tidak keluar maka aku akan masuk ke dalam menemui orang tuamu." Ucap Davian.
Klik...
Ria mematikan sambungan teleponnya.
" Ngapain sih nih orang jemput aku segala, Hah... Mana Mas Adrian juga mau jemput lagi." Gerutu Ria.
Drt... drt...
Ponsel Ria berdering lagi, tanpa melihat siapa peneleponnya Ria langsung mengangkatnya.
" Apalagi sih aku bilang kalau mau tunggu setengah jam lagi aku keluar." Cebik Ria.
" Sayang..." Ucap Adrian di sebrang sana.
Ria menatap layar ponselnya.
" Mas Adrian." Gumam Ria.
" Emang siapa lagi?" Tanya Adrian yang mendengar Ria bergumam.
" Eh tadi ada orang iseng Mas, aku kirain dia nelepon lagi." Sahut Ria.
" Oh... Yaudah aku sudah ada di depan, ayo kita berangkat." Ucap Adrian.
" Iya Mas tunggu sebentar." Sahut Ria mematikan sambungan teleponnya.
" Hah mending berangkat bareng Yayank dari pada bersama orang asing, mau marah bodo' lah." Monolog Ria.
Ria berjalan keluar kamar menuruni anak tangga. Ia menghampiri keluarganya di meja makan.
" Pagi sayang." Sahut Mami Nesha.
" Pagi Ria." Sahut Valen.
" Maaf semuanya, aku berangkat dulu Mas Adrian sudah menunggu di depan." Ucap Ria.
" Cie cie udah mau terang terangan nih ya.." Goda Gama.
" Apasih Kak, kan sekarang aku sudah besar jadi boleh kan Mi." Ujar Ria.
" Hmm... Kalau memang Adrian serius sama kamu, suruh dia datang kemari untuk melamarmu." Ucap Mami Nesha.
" Mas Adrian baru merintis usahanya Mi, jadi dia belum mau melangkah ke jenjang yang lebih serius, kami hanya sebagai teman saja dulu Mi." Sahut Ria.
" Teman tapi sayang." Ujar Gama.
" Apa sih kamu Kak." Sahut Ria tersipu malu.
" Kan kamu bisa membantu merintis usahanya Ria, jadi kamu bisa menemaninya dari bawah, suatu kebanggaan lho bisa menemani suami mulai dari nol." Ujar Valen.
" Iya sih Kak, coba nanti aku bicarakan lagi padanya." Sahut Ria.
" Ya udah Ria berangkat dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Ria.
" Wa'alaikumsallam." Sahut semuanya serempak.
__ADS_1
Ria berjalan keluar rumah menghampiri motor Adrian.
" Ayo Mas." Ucap Ria.
" Ayo." Sahut Adrian sambil memakaikan helm ke kepala Ria.
Davian mengepalkan erat tangannya melihat semua itu.
" Kau mengabaikanku Vale, baiklah aku harus menyingkirkan pria itu supaya aku bisa dengan mudah mendapatkanmu." Monolog Davian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ria.
Ria nampak menikmati perjalanannya menuju kantornya. Ia mendekap erat perut Adrian seolah takut jatuh terbawa angin kencang.
" Mau sarapan dulu nggak?" Seru Adrian.
" Nggak usah nanti di kantor saja kita pesan ya." Sahut Ria sedikit berteriak supaya kedengeran oleh Adrian. Adrian menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di kantor, Ria turun dari motor Adrian.
" Mau mampir kita sarapan dulu?" Tanya Ria.
Adrian melihat jam yang melingkar di tangannya.
" Waktunya udah mepet Yank, aku ke kantor dulu ya." Sahut Adrian.
" Baiklah hati hati Mas, nanti kalau bisa jemput aku jam lima sore." Ujar Ria.
" Akan aku usahakan, semangat bekerjanya nanti kalau udah nikah sama aku kamu hanya boleh tinggal di rumah." Sahut Adrian.
" Siap Mas." Sahut Ria.
Adrian melajukan motornya meninggalkan kantor Ria. Ria membalikkan badannya, saat Ia akan melangkah Davian memanggilnya.
" Vale." Panggil Davian menghampiri Ria.
" Pagi Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ria sopan.
" Apa kamu lupa kalau aku menjemputmu di depan rumah?" Tanya Davian.
" Astaga... Maaf Pak aku lupa." Sahut Ria menatap Davian.
" Kamu melupakan aku karna pacarmu itu." Ucap Davian sedih membuat Ria merasa bersalah.
" Maaf Pak." Ucap Ria.
" Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat." Ucap Davian.
" Apa?" Tanya Ria.
Apa ya kira kira syaratnya????
Tunggu di bab selanjutnya.....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport Author...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....