
Brak...
Seisi dalam tas Cia berhamburan keluar. Irvan segera memungutinya satu persatu sampai pada kotak kecil terbungkus rapi dengan pita merah di atasnya. Ia membuka kotak itu dan menemukan sebuah benda kecil yang ternyata sebuah alat tes kehamilan. Irvan mengambil benda kecil itu lalu menatap aris yang tertera di sana dan....
" Garis dua.... Positif? Apa mungkin ini milik Cia? Tapi kemarin negatif...." Gumam Irvan.
Irvan melihat isi lain dari kotak itu. Sebuah kertas berwarna merah berbentuk love, Irvan segera membukanya.
Happy Birthday Daddy.... Aku akan hadir melengkapi kebahagiaan kalian berdua... I Love U Full......
Deg....
Jantung Irvan berdetak dengan kencang.
" Aku akan menjadi seorang ayah? Jadi Cia hamil? Ya Tuhan... Terima kasih sudah memberikan kado terindah di hari ulang tahunku kali ini." Ujar Irvan dalam hatinya.
Irvan beranjak menghampiri Cia.
Grep....
" Ah." Pekik Cia saat Irvan tiba tiba memeluknya dari belakang.
" Terima kasih sayang." Ucap Irvan mencium pipi Cia.
" Untuk apa?" Tanya Cia.
" Terima kasih sudah memberikan aku kado terindah dalam hidupku." Sahut Cia
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Cia belum mengerti akan sikap Irvan.
" Kau membuatku menjadi seorang ayah." Ucap Irvan.
Cia membalikkan badannya. Ia menatap Irvan sambil mengerutkan keningnya.
" Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu katakan, kamu akan menjadi seorang ayah? Dari siapa? Wanita mana yang sedang mengandung anakmu?" Tanya Cia.
" Wanita yang sangat sangat aku cintai." Sahut Irvan menangkup wajah Cia.
" Siapa?" Tanya Cia.
" Siapa lagi kalau bukan dirimu sayang." Irvan mencium kening Cia.
" Kamu salah paham, aku tidak....
" Jangan mengelak lagi sayang, aku punya buktinya." Ujar Irvan menunjukkan kotak berisi hasil tespact kepada Cia.
" Kamu dapat darimana? Apa kamu menggeledah tasku?" Tanya Cia merebut kotak itu.
" Aku tidak sengaja menjatuhkan tasmu, dan kotak itu keluar dengan sendirinya." Sahut Irvan.
" Ah iya aku lupa menutup tasku tadi saat ambil charger." Batin Cia.
" Itu bukan milikku." Ucap Cia.
" Kalau kamu bilang seperti itu, itu tandanya kamu tidak bersyukur sayang, kamu tidak mensyukuri apa yang sudah kita nantikan selama ini, apa kamu mau Tuhan mengambilnya kembali dari kita? Apa kamu...."
" Tidak." Sarkas Cia memotong ucapan Cia.
" Jadi?" Tanya Irvan merapikan anak rambut Cia.
" Ya, itu milikku." Sahut Cia.
" Lalu hasil yang kemarin kamu berikan padaku dan Bang Nathan kenapa negatif?" Tanya Irvan.
" Aku sengaja ingin memberi kejutan untukmu, sebelum Abang membelikan tespack itu padaku, sebenarnya aku sudah membelinya lebih dulu." Ujar Cia.
" Aku mencampurkan air saat mengetes dengan tespack yang Abang berikan." Sambung Cia.
" Nakal kamu ya." Ucap Irvan mencubit pelan hidung Cia.
" Sayangnya kejutan itu berantakan dan berakhir seperti ini." Ucap Cia sedih.
" Maafkan aku sayang, Maafkan aku yang telah membuat semuanya berantakan, aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, aku mohon maafkan aku, kalau perlu hukumlah aku sesuka hatiku." Ucap Irvan.
__ADS_1
" Pergilah dari sini, itu hukumanku untukmu."
Jeduar....
Irvan menatap Cia tidak percaya, Ia tidak akan sanggup jika harus berpisah dari Cia.
" Tidak sayang, jangan hukum aku seperti itu, aku akan menerima hukuman appaun darimu selain perpisahan, aku tidak sanggup jika harus berpisah dari kalian sayang." Ucap Irvan berlutut di depan Cia.
" Tampar aku, atau pukul aku sepuasmu." Irvan menarik tangan Cia lalu menamparkannya ke pipinya sendiri.
" Lepas Mas." Ucap Cia menarik tangannya.
" Sayang Mas mohon..." Lirih Irvan.
Cia menghela nafasnya. Ia menjadi tidak tega melihat suaminya seperti itu.
" Bangunlah Mas." Ucap Cia.
" Aku tidak akan bangun kalau kamu belum memaafkan aku." Sahut Irvan.
" Baiklah aku memaafkanmu, sekarang bangunlah." Ujar Cia.
Irvan kembali berdiri memeluk Cia.
" Terima kasih sayang, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Valecia Ardiano." Ucap Irvan memeluk erat tubuh Cia.
" Aku juga mencintaimu Mas, aku ucapkan selamat ulang tahun dan selamat karena kamu akan menjadi seorang daddy." Ucap Cia mengelus punggung Irvan.
" Terima kasih sayang." Ucap Irvan.
" Jadilah daddy yang baik untuk anak anakmu nanti." Ujar Cia.
" Tentu sayang, aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita nanti." Sahut Irvan.
" Aku tidak mau kamu berhubungan dengan Elin ataupun anaknya lagi." Ucap Cia.
Irvan melepas pelukannya, Ia menatap Cia dengan perasaan yang tak menentu.
" Kalau begitu pergilah." Sahut Cia.
" Benarkah sayang?" Tanya Irvan dengan mata berbinar.
Cia membalikkan tubuhnya menatap keluar jendela.
" Pergilah." Ucap Cia.
" Baiklah aku akan pergi sekarang." Ujar Irvan hendak melangkah.
" Pergilah dan jangan pernah kembali lagi." Ucap Cia membuat Irvan menghentikan langkahnya.
" Ah tidak... Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu saja di sini." Ujar Irvan duduk di tepi ranjang.
Bukan Cia tidak punya rasa kemanusiaan, namun saat ini emosinya masih labil. Ia tidak rela jika Irvan dekat dengan wanita manapun. Sepertinya Ia akan menjadi lebih possesif kepada suaminya.
Cia menoleh ke arah Irvan, Ia mengembangkan senyum di sudut bibirnya. Ia merasa dirinya lebih berarti dari pada wanita yang bernama Elin.
" Ayo Mas kita berangkat." Ajak Cia membuat Irvan menatap ke arahnya.
" Berangkat kemana?" Tanya Irvan.
" Ke rumah sakit." Sahut Cia.
" Kamu mau menjenguk Elin juga?" Tanya Irvan.
" Kenapa menjenguk Elin?" Cia balik bertanya.
" Engh.... Maaf aku kira kamu mau menjenguk Elin." Ujar Irvan.
" Apa segitunya kamu ingin menjenguk Elin?" Selidik Cia.
" Kamu jangan salah paham sayang, aku hanya merasa kasihan kepada mereka berdua." Sahut Irvan.
" Kasihan kenapa?" Tanya Cia.
__ADS_1
" Elin mengidap kanker rahim stadium akhir Cia, dokter bilang mungkin umurnya tidak akan lama lagi, aku merasa kasihan jika Elin tidak ada umur siapa yang akan merawat Saka?" Ujar Irvan.
" Kenapa kamu peduli Mas?" Tanya Cia
" Aku pernah merasakan menjadi Saka sayang, hidup sebatang kara di dunia ini terasa begitu menyakitkan, aku sedih jika melihat Saka yang setiap saat menangisi ibunya." Ujar Irvan.
" Lalu apa kamu mau menikahi Elin begitu?" Selidik Cia menatap Irvan.
" Tidak sayang, aku hanya punya pemikiran jika Elin tiada aku ingin merawat Saka, bagaimana menurutmu?" Tanya Irvan hati hati.
Cia membulatkan mata sambil melongo.
" Kamu ingin membuat keputusan sebesar itu? Apa kamu yakin bisa merawatnya tanpa melibatkan aku Mas?" Tanya Cia.
" Apa maksudmu tanpa melibatkan kamu sayang? Jika aku mengadopsi Saka maka kita akan menjadi orang tuanya, aku akan menjadi ayahnya dan kamu akan menjadi ibunya." Ujar Irvan.
" Aku tidak mau." Sahut Cia.
" Apa kamu tidak kasihan dengan nasibnya sayang?" Tanya Irvan.
" Baiklah sekarang kamu tinggal pilih, kamu pilih aku atau Saka." Ucap Cia.
" Astaga sayang...." Ujar Irvan menarik kasar rambutnya.
" Kamu membuat moodku hancur Mas, niatnya aku mau cek kandunganku tapi sepertinya kamu lebih peduli pada mereka, sekarang terserah apa maumu Mas, aku sudah menyuruhmu pergi dari tadi bukan untuk merawat mereka tapi kamu tidak mau Mas, sekarang pergilah." Ucap Cia.
" Sayang bukan maksudku seperti itu." Ujar Irvan.
" Pergi." Teriak Cia sambil meneteskan air matanya.
" Sayang..
" Pergi... Aku bilang pergi dari sini... Pergi..." Teriak Cia menarik kasar tangan Irvan.
Cia mendorong Irvan keluar kamarnya lalu Ia menutup pintunya dengan kasar.
Brak...
Irvan berjingkrak kaget.
" Kamu salah Van, kamu memilih waktu yang tidak tepat." Ucap Valen.
Irvan membalikkan badannya. Ia menatap Valen yang saat ini berdiri di depannya.
" Kamu mendengar semuanya?" Tanya Irvan.
" Ya aku mendengar semuanya, aku ucapkan selamat untukmu, selamat atas kehamilan Cia semoga sehat sampai persalinan." Ucap Valen.
" Terima kasih Len." Sahut Irvan.
" Kamu jago dalam pekerjaan, tapi kamu payah soal hati dan cinta, baru saja baikan kamu sudah membuat masalah lagi." Ujar Valen.
" Maafkan aku Len, aku tahu harus bagaimana." Ujar Cia.
" Kamu urus Cia saja, soal Elin dan Saka biarkan aku yang menghandlenya, jika kamu kasihan karna Saka tidak ada yang mengurusnya, biarkan Papa Alex yang akan mengadopsinya." Ujar Valen.
" Benarkah?" Tanya Irvan.
" Ya... Tapi ingat kamu harus menjaga jarak dengannya, aku nggak mau kalau sampai kamu terus terusan menyakiti Cia." Ucap Valen.
" Baiklah, terima kasih Len kamu memang teman terbaik untukku." Ucap Irvan memeluk Valen.
" Ehm... Ehm...."
*Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih untuk para reader yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu....
Miss U All*....
TBC....
__ADS_1