
" Kakak aku menyuruhnya untuk pergi karna aku ingin memastikan hatiku Kak, walaupun aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk meninggalkannya tapi nyatanya hati ini menolaknya Kak, di dalam hati ini masih menyimpan cinta untuknya, aku tidak tahu apakah aku wanita bodoh atau wanita lemah hingga hatiku tidak mampu menolaknya atau hanya sekedar membencinya, aku hanya ingin tahu apa yang aku inginkan dan apa yang hatiku inginkan Kak, apa aku salah?" Tanya Ria menatap Valen.
Valen tersenyum mendengar ucapan Ria. Andai Davian mendengarnya pasti Ia akan sangat bahagia.
" Sayang.... Itulah ikatan cinta antara suami dan istri, mereka di persatukan oleh Tuhan untuk saling melengkapi, ada kalanya rasa kecewa karna kesalahan yang pasangan kita lakukan, tapi tugas seorang istri adalah memaafkan kesalahan itu, jika kita ikhlas melakukannya maka akan ada pahala yang menanti kita, kau tidak salah, kau benar Ria... Jagalah selalu cintamu untuk suamimu, lagian kesalahan yang Davian lakukan bukan karna pengkhianatan kan? Dia hanya salah mengira saja, dia hanya salah sasaran tapi dia mencintaimu... Dia mencintai Ria dan Kakak yakin dia tidak akan menduakanmu." Ujar Valen.
" Jangan seyakin itu Kak buktinya Abang hampir melakukan semua itu padamu Kak." Sahut Ria.
" Menurut penglihatan Kakak, Abangmu dan Davian beda sayang, Davian sebenarnya memang tipe penyayang tapi dia punya prinsip sendiri, dia tidak mudah mengiyakan keinginan orang lain walaupun itu orang terdekatnya, tidak seperti Abangmu yang selalu menuruti apa kata orang tuanya." Jelas Valen.
" Iya kau benar Kak, aku melihat semua itu dalam dirinya, bagaimana Mas Davi menentang kalian saat kalian memaksanya untuk menceraikan aku, bagaimana Mas Davian menerima kemarahan kalian dan menerima kemarahanku dengan pasrah.. Aku tahu selama ini Mas Davi selalu diam diam menangis di dalam kamar mandi Kak." Ucap Ria.
" Kamu memahami semuanya?" Selidik Valen.
" Ya... Aku memahaminya Kak tapi aku susah untuk meresponnya saat itu, yang aku pikirkan saat itu hanyalah kematian saja." Sahut Ria.
" Semoga kau segera memahami perasaanmu kembali, dan kalian bisa bersatu dan hidup bahagia selamanya." Ucap Valen.
" Semoga Kak." Sahut Ria.
" Ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang keterlibatan Davi dalam kasus pembunuhan Ardian." Ucap Valen.
" Apa itu Kak?" Tanya Ria.
Drt.... Drt...
Belum sempat Valen menjawabnya, ponsel Ria berdering tanda panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya di atas nakas lalu melihat id pemanggil.
" Luci." Guma Ria.
" Luci? Coba angkat siapa tahu penting." Ucap Valen.
Ria mengangkat panggilan teleponnya lalu menyalakan loudspeakernya.
" Halo Luci." Ucap Ria.
" Kak Ria... Hiks... Hiks." Isak Luci di seberang sana.
" Ada apa Luci? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Tanya Ria.
" Kak Davi Kak... Hiks.." Ucap Luci.
" Kenapa dengan Mas Davi Luci?" Tanya Ria.
" Kak Davi mengurung diri di dalam kamarnya, dia mencambuk seluruh tubuhnya hingga bekas cambukannya mengeluarkan darah Kak... Hiks, saat ini Kak Davi tidak sadarkan diri Kak, aku takut terjadi sesuatu pada Kak Davi, aku tidak mau kehilangannya Kak... Tolong aku hiks." Ucap Luci sambil terisak.
" Mas Davi." Gumam Ria.
" Luci apa kamu sudah menghubungi Dokter?" Tanya Valen.
" Sudah Kak tapi belum sampai sini, kalau Kak Ria tidak mau ke sini bisakah Kak Valen ke sini? Aku benar benar takut Kak." Ucap Luci khawatir.
__ADS_1
" Baiklah Kak Valen akan segera ke sana, kamu tenanglah." Ujar Valen.
" Baik Kak makasih." Sahut Luci mematikan sambungan teleponnya.
" Ria Kakak mau ke sana, apa kamu mau ikut?" Tanya Valen.
" Aku ikut Kak." Sahut Ria.
Ria membasuh mukanya terlebih dahulu, setelah itu keduanya keluar kamar Ria untuk turun ke bawah.
" Kalian mau kemana?" Tanya Nathan.
" Aku mau ke rumah Davian Mas, Davian menyiksa dirinya sampai pingsan." Sahut Valen.
" Aku antar." Ucap Nathan.
" Pi, Mi kami pamit mau ke rumah Davi, Davi menyiksa dirinya Pi." Pamit Nathan pada Papi dan Maminya.
" Papi sama Mami ikut." Ucap Papi Farhan.
Kelima orang itu masuk ke dalam mobil Nathan Papi Farhan duduk di depan bersama Nathan sedangkan para wanita duduk di belakang. Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karna membawa banyak nyawa. Setengah jam kemudian mobil Nathan masuk ke halaman rumah Davian. Ria turun dari mobil langsung berlari menuju rumah Davian.
" Kak Ria." Ucap Luci memeluk Ria.
" Tenanglah semua akan baik baik saja Luci." Ucap Ria mengelus punggung Luci.
" Kak Davi menghukum dirinya sendiri Kak karna telah menyakitimu, aku mohon maafkan Kak Davi Kak, Kak Davi menyesali semua perbuatannya, Kak Davi benar benar mencintaimu Kak." Ujar Luci melepas pelukannya.
" Tenanglah Luci, Kakak akan kembali kepada Kakakmu, Kakak akan pulang ke sini untuk merawat Kakakmu." Ucap Ria.
" Benarkah?" Tanya Luci menatap Ria.
"Iya, Kakak sudah memaafkan Kakakmu." Ucap Ria.
" Terima kasih Kak." Ucap Luci memeluk Ria kembali.
" Apa Kakakmu sudah sadar?" Tanya Ria.
" Belum Kak tapi Dokter sedang memeriksanya." Sahut Luci.
" Nona Luci, ini obat yang harus di minum Tuan Davi, dan ini salep yang di oleskan pada lukanya, semoga lukanya cepat sembuh dan tidak menimbulkan bengkak." Ucap Dokter membuat Ria melepas pelukannya.
" Terima kasih Dok, oh ya kenalkan ini istri Kak Davi namanya Kak Ria." Ucap Luci.
" Halo Nona, saya Andreas." Ucap Dokter.
" Ria Dok, terima kasih atas bantuannya." Ucap Ria.
" Sama sama Nona, rawatlah suami anda dengan penuh cinta dan kasih sayang, saya jamin Tuan Davi akan cepat sembuh." Ujar Dokter.
" Baik Dok." Sahut Ria.
__ADS_1
" Saya permisi." Ucap Dokter Andreas meninggalkan rumah Davian.
Ria berjalan mendekati keluarganya.
" Maaf Pi, Mi, Kak, Bang, kalian pulang saja, terima kasih sudah mengantarku pulang." Ucap Ria.
Keluarga Ria tersenyum bahagia, akhirnya ria mau kembali pada tempat yang sebenarnya.
" Baiklah sayang kami pulang dulu, semoga Davian cepat sembuh." Ucap Mami Nesha.
" Makasih Mi." Ucap Ria.
" Sama sama sayang." Sahut Mami Nesha.
" Kakak pulang dulu ya, jaga diri baik baik kalau ada apa apa segera kabari Kakak." Ucap Valen.
" Iya Kak, terima kasih sudah memberikan pencerahan kepadaku." Ucap Ria.
" Sama sama sayang." Sahut Valen.
" Abang pulang dulu." Ucap Nathan.
" Hati hati Bang." Ucap Ria.
" Hmm." Gumam Nathan.
" Ayo Kak kita ke kamar." Ajak Luci setelah kepergian keluarga Ria.
" Ayo." Sahut Ria.
Ria dan Luci berjalan menuju kamar Davi.
Ceklek....
Ria membuka pintunya. Ia menatap Davian yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa memakai baju. Terlihat jelas bekas memar di seliruh tubuhnya bahkan ada yang masih mengeluarkan darah. Rasa sesak menghimpit dada Ria melihat suaminya terluka seperti itu karna dirinya. Ria meneteskan air matanya.
" Kak jangan bersedih." Ucap Luci.
" Bagaimana aku tidak bersedih Luci saat aku melihat Mas Davi terluka seperti ini, aku yang menyebabkan semua ini." Ucap Ria menghapus air matanya. Ia tidak peduli penilaian ornag terhadapnya, yang jelas Ria mencintai Davi dan tidak mau kehilangannya.
Hai hai readers terzeyeng.... Kita beri kesempatan untuk Ria dan Davi bahagia ya...
Cukup sudah penderitaan yang mereka alami, eits... tunggu dulu, kita akan melihat bagaimana mereka saling mengungkapkan perasaan masing masing ya....
Yang mau cerita Gama dan Luci angkat tangan donk... Nanti akan author berikan juga di sini.
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya
Beri author hadiah yang banyak donk udah double up nih....
Miss U All...
__ADS_1
TBC....