
" Berjanjilah padaku sayang kau tidak akan meninggalkanku lagi." Ucap Nathan.
" Jangan membuatku berjanji apapun Mas, karna aku takut tidak bisa menepatinya." Sahut Valen membuat Nathan semakin lemas.
Nathan melepaskan genggaman tangannya. Ia memalingkan wajahnya dari Valen menahan air matanya.
" Jangan memikirkan hal lain Mas, sekarang makanlah, setelah itu minum obat biar kamu cepat sembuh." Ucap Valen.
" Untuk apa kau merawatku, menyembuhkanku jika akhirnya nanti kau akan meninggalkan aku, kau tega padaku Yank." Sahut Nathan.
" Jadilah orang yang selalu bisa instropeksi diri sebelum menilai orang lain Mas, aku tidak mau berdebat jika kau tidak mau makan dan minum obat terserah kau saja, aku akan pulang karna tidak ada yang harus aku kerjakan di sini ." Ujar Valen hendak membalikkan badannya.
"Ku mohon jangan pergi." Cegah Nathan mencekal tangan Valen.
" Mau makan?" Tanya Valen.
" Baiklah tapi aku mau kamu suapi." Sahut Nathan mengalah.
" Hmm, sekarang duduk dulu." Ucap Valen sambil menumpuk bantal. Valen membantu Nathan bersandar pada tumpukan bantal itu.
" Sekarang makanlah yang banyak, aku akan menyuapimu." Ujar Valen menyodorkan sesendok nasi ke mulut Nathan.
Nathan menerima suapan demi suapan dari Valen sambil terus menatap wajah Valen. Ada kerinduan yang menggunung dalam hatinya. Ingin sekali saat ini Ia memeluk Valen dan tidak akan membiarkannya menjauh lagi, tapi apalah daya Nathan. Ia tidak cukup berani untuk melakukannya. Ia takut Valen semakin menjauhinya. Valen menyuapi Nathan dengan telaten hingga makanan di piringnya habis.
" Selesai, sekarang minum obatnya dulu setelah itu istirahat lagi biar demamnya turun." Ujar Valen.
" Nggak mau pahit Yank, aku nggak pernah minum obat sebelumnya." Ucap Nathan menutup mulutnya.
" Tidak perlu kau bilang jika obat itu pahit, aku sudah tahu Mas." Sahut Valen.
" Lalu bagaimana kamu minum obat selama ini?" Tanya Valen.
" Kan tadi aku udah bilang kalau aku nggak pernah minum obat." Ujar Nathan.
" Masa' sih?" Ujar Valen.
" Tapi obat itu akan terasa manis bila aku menelannya langsung dari bibirmu." Ucap Nathan.
" Kamu ini manja sekali banyak maunya lagi, bukankah dari kecil kau terlihat bersikap sangat dewasa." Ujar Valen.
" Sejak aku menikah denganmu aku ingin merasakan di manja oleh orang yang aku cintai Yank, dulu aku bersikap dewasa karna aku terpaksa sayang... Aku anak pertama yang harus memberi contoh untuk adik adikku, aku juga harus menjaga adik adikku bukan? Aku menyadari jika aku bukan anak kandung mereka, tapi cinta dan kasih sayang yang Mami berikan padaku melebihi orang tua kandungku, jadi aku harus membalas mereka dengan kasih sayang juga kan." Terang Nathan.
Valen menatap iba ke arah Nathan. Benarkah apa yang suaminya katakan? Bagaimanapun Valen adalah istri yang masih mencintai Nathan, terlepas dari kesalahannya Valen tidak tega melihat suaminya bersedih. Banyak orang yang menilai itulah kelemahan wanita tapi bagi sebagian orang sebenarnya itulah kekuatan wanita. Wanita mampu mengorbankan dirinya demi orang yang mereka cintai.
Valen meletakkan satu butir obat di lidahnya, Ia memajukan wajahnya menatap Nathan. Nathan langsung menarik tengkuk Valen lalu mencium bibirnya. Valen menyusupkan lidahnya ke mulut Nathan hingga obat itu berpindah ke mulut Nathan. Bukannya melepas ciumannya, Nathan justru menahan tengkuk Valen untuk memperdalam ciumannya. Untung saja Nathan sudah menelan obatnya tapi masih menyisakan pahit di bibir Valen. Valen memukul mukul pelan bahu Nathan berharap Nathan mau melepas pagutannya tapi Nathan justru tidak mempedulikannya.
Nathan menyesap bibir Valen seperti orang kehausan yang sudah lama mendambakan ciuman istrinya, Ia melum** lembut bibir Valen. Ciuman mereka berlangsung beberapa menit. Setelah keduanya kehabisan nafas Nathan melepas pagutannya. Valen mengusap bibirnya. Ia mengambil segelas air di atas nakas dan langsung meminumnya hingga tandas untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya.
Nathan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Tak tahan dengan rasa pahit yang masih tersisa, Valen mengambil permen di tasnya lalu memakannya.
__ADS_1
" Kenapa Yank? Apa masih terasa pahit?" Tanya Nathan.
" Tidak perlu pura pura peduli padaku Mas." Ketus Valen duduk di sofa. Ia mengambil ponsel di dalam tasnya.
" Yank jangan marah donk, maafkan aku... Aku melakukannya karna aku merindukanmu." Ucap Nathan.
" Apa jika kamu merindukan seseorang kamu langsung menciumnya begitu?" Tanya Valen.
" Tidak Yank cuma sama kamu aja, maaf ya." Ujar Nathan.
" Aku bosan mendengar kata maaf darimu Mas, dan tentunya aku juga bosan memaafkanmu." Sahut Valen tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
" Yankkk." Rengek Nathan.
Valen tidak bergeming, Ia merasa kesal karna Nathan mengerjainya. Padahal Ia sama sekali tidak suka pahitnya obat, semuanya terpaksa Ia lakukan karna merasa kasihan dengan Nathan, supaya Nathan mau meminum obatnya. Tapi malah Nathan mencuri ciumannya. Yah walaupun sebenarnya Valen senang tapi Valen harus jual mahal kan? Apalagi Ia belum melihat perjuangan Nathan untuk mendapatkan maaf dan cintanya lagi.
" Sayang maafin aku donk, sini mendekatlah jangan menjauh dariku Yank." Ujar Nathan manja.
Valen menelepon Naren. Panggilan sudah tersambung tinggal menunggu Naren mengangkatnya.
" Halo Beb ada apa?" Tanya Naren setelah mengangkat panggilannya.
" Aku lapar, bisakah kau mengantarkan makanan untukku?" Tanya Valen.
" Emang kamu dimana?" Tanya Naren.
" Rumah sakit xx ruang Vip nomer lima belas, lima belas menit harus sudah sampai di sini." Ujar Valen.
" Bukan aku, tapi suamiku." Sahut Valen.
" Kak Nathan sakit apa?" Tanya Naren.
" Sakit hati." Sahut Valen asal.
" Sakit hati? Liver maksudmu? Apa kanker?" Tanya Naren.
" Maksudku patah hati, udahlah gak usah banyak nanya aku udah laper buruan ke sini." Ujar Valen.
" Baiklah Babbyku sayang, tunggu di sana dan ingat jangan sampai kamu memakan orang karna kelaparan ya." Canda Naren.
" Kamu ini bisa aja bercandanya, buruan aku tunggu." Sahut Valen mematikan panggilannya.
" Tega kamu Yank, suamimu di sini malah minta makan sama orang lain membuatku sakit saja." Cebik Nathan sedih.
" Katakan apa yang lebih sakit dari suami ingin menikahi wanita lain! Lagian Naren itu sahabatku bukan orang lain." Sahut Valen.
" Untuk itu aku minta maaf Yank." Ujar Nathan.
" Simpan kata maafmu untuk besok, sekarang fokuslah pada kesembuhanmu, aku tidak mau lama lama di sini." Sahut Valen.
__ADS_1
Nathan membaringkan tubuhnya menghadap ke tembok. Hatinya sakit dengan sikap dingin Valen kepadanya. Ia benar benar menyesali kebodohannya. Valen benar benar murka dengan keputusannya.
Tak lama pintu terbuka menampakkan Naren yang sedang berjalan menghampiri Valen dengan menenteng plastik di tangannya.
" Pesanannya Beb." Ucap Naren meletakkan kantong plastik di depan Valen.
" Thank you." Sahut Valen.
Valen segera memakan makanannya, sedangkan Naren menghampiri Nathan.
" Gimana kabarnya Kak?" Tanya Naren. Ia tahu jika Nathan tidak tidur.
Nathan membalikkan tubuhnya menatap Naren.
" Aku baik baik saja, terima kasih sudah mau membawakan makanan untuk istriku." Sahut Nathan menegaskan kepemilikannya.
" Sans aja Kak, Valen juga sahabatku kok." Ujar Naren.
" Naren apa Kakak boleh meminta sesuatu darimu?" Tanya Nathan.
" Apa itu Kak?" Tanya Naren.
" Bujuk Valen untuk kembali ke rumah, buatlah dia memaafkan kesalahanku dan mau menerimaku lagi, Kakak tidak bisa hidup tanpanya." Pinta Nathan.
" Apa kalian ada masalah?" Tanya Naren.
" Valen tidak membeeitahumu?" Nathan balik bertanya.
" Sedikit." Sahut Naren.
" Bantu Kakak ya." Ujar Nathan.
" Aku akan membantu Kakak tapi keputusan berada di tangannya Kak." Ujar Naren.
" Kakak tahu, terima kasih sudah mau membantu." Ujar Nathan.
" Tentu Kak." Sahut Naren.
Berhasilkah Naren membujuk Valen untuk memaafkan dan kembali ke rumah Nathan?
Temukan jawabannya di bab berikutnya
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mendukung author semoga sehat selalu
Dukung juga karya author yang lain ya..
Miss U All
__ADS_1
TBC....