
Setelah berlarian menuruni tangga, ternyata Valen sudah pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Nathan di kantornya.
" Arghhhh..... Bodoh kamu Nathan, kenapa kamu cari masalah lagi dengan macan betina, bagaimana jika Valen meninggalkanku lagi? Nathan... Kau benar benar bodoh." Gerutu Nathan menarik kasar rambutnya.
" Eh.... Masa' istri cantikku aku bandingkan dengan macan betina sih, bahaya nih kalau dia dengar." Ujar Nathan menyadari ucapannya.
Nathan berjalan menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Valen berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia menghampiri Mami Nesha yang sedang menyiapkan makanan di dapur.
" Siang Mi." Sapa Valen.
" Siang sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Mami Nesha.
" Sudah Mi, aku bantu ya Mi." Ujar Valen.
" Kamu istirahat saja Len, biar Mami yang menyelesaikannya, ini juga sudah hampir selesai kok." Sahut Mami Nesha.
" Ya udah Mi, aku ke kamar ya." Ucap Valen.
" Iya sayang." Sahut Mami Nesha.
Valen berjalan masuk ke kamarnya. Ia membersihkan dirinya di kamar mandi. Lima belas menit kemudian Valen keluar hanya dengan memakai hotpant dan tanktop saja.
" Aaaaa." Teriak Valen saat melihat Nathan yang sudah duduk di sofa sedang menatapnya.
Nathan menelan salivanya kasar menatap ke arah Valen. Paha mulus seputih susu dan lengan putih yang membuat sesuatu di bawah menegang.
" Ngapain kamu di sini Mas? Keluar sekarang aku mau ganti baju dulu." Ucap Valen.
Nathan beranjak menghampiri Valen, Valen memundurkan tubuhnya. Nathan terus maju hingga tubuh Valen hampir terjengkang di pintu kamar mandi yang terbuka karna terdorong oleh tubuhnya. Nathan segera merengkuh pinggang Valen membuat Valen menubruk tubuhnya.
" Tidak perlu ganti baju, aku menginginkan kamu memakai seperti ini kalau kita hanya berdua saja di kamar." Ujar Nathan menatap wajah cantik Valen.
" Tidak mau, aku tidak tahu kalau kamu akan pulang siang." Sahut Valen.
" Kenapa hmm? Apa kamu malu?" Tanya Nathan mengelus pipi Valen.
" I.. Iya Mas." Gugup Valen.
" Kenapa kau gugup sayang." Bisik Nathan membuat Valen meremang.
" Gu.. gup... Ah tidak." Ujar Valen.
Tangan Nathan menyusup ke belakang leher Valen. Valen memejamkan matanya menikmati sentuhan Nathan.
Cup
Nathan mengecup pipi Valen.
Cup
Giliran kening Valen.
Dan yang terakhir Nathan mengecup bibir Valen, Nathan menggigit pelan bibir bawah Valen membuat Valen membuka sedikit mulutnya. Nathan menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchi mulut Valen. Keduanya sama sama terbuai dengan manisnya ciuman yang mereka ciptakan. Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Nathan melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Valen dengan jempolnya.
" Manis Yank." Ucap Nathan menempelkan keningnya ke kening Valen.
__ADS_1
Valen menatap Nathan. Keduanya saling pandang dengan perasaan masing masing.
" Pengin Yank." Ujar Nathan.
" Masih siang Mas." Sahut Valen.
" Nggak kuat nunggu malam." Ujar Nathan.
" Nggak kuat karna habis di peluk wanita lain." Sindir Valen menabuh genderang perang.
" Yank jangan bahas wanita lain di saat kita sedang berdua, aku tidak mau mendengarnya." Ucap Nathan.
" Maafkan aku, aku berjanji tidak akan membantunya tanpa seijinmu Yank, maafkan aku yang tidak memikirkan tentang perasaanmu... Maafkan aku, aku terbawa suasana karna kasihan kepadanya." Sambung Nathan.
" Ya sudahlah Mas aku maafkan, aku juga tidak mau membahas hal itu lagi." Sahut Valen mengalungkan tangannya ke leher Nathan.
Nathan menarik Valen hingga ke ranjang. Ia mendorong pelan tubuh Valen. Ia menindih tubuh Valen dan menatap wajah Valen dengan intens.
" Yank mau ya." Ucap Nathan meminta ijin.
" Pintunya?" Tanya Valen.
" Udah aku kunci." Sahut Nathan.
" Mau ya? Aku nggak tahan Yank." Sambung Nathan.
" Iya Mas." Sahut Valen.
" Makasih Yank." Sahut Nathan mulai melakukan aksinya untuk membuat Nathan junior.
" Sudah lama menunggu?" Tanya seseorang yang duduk di depan Ria.
Ria mendongak menatap wajah tampan pria di depannya.
" Kamu." Pekik pria itu menunjuk wajah Ria.
" Maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Ria sopan.
" Aku Davian." Ucap Davian.
" Saya Valeria Pak." Sahut Ria.
" Kalau boleh saya tahu, kenapa anda sepertinya kaget saat melihat wajah saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Ria memastikan.
" Kau tidak ingat atau pura pura lupa gadis blagu? Tapi aku tidak akan pernah melupakanmu Vale...." Batin Davian.
" Ah tidak... Aku salah orang." Sahut Davian.
" Oh.. Kalau bisa apakah anda bisa menandatangani berkas ini secepatnya? Karna saya sudah di tunggu seseorang." Ujar Ria.
" Kenapa terburu buru Nona Vale? Siapa yang sedang menunggu anda saat ini?" Tanya Davian.
" Someone Pak dan saya rasa anda tidak perlu mengetahuinya." Sahut Ria.
Davian menatap wajah Ria yang semakin cantik menurutnya. Ria tampak risih di tatap seperti itu oleh Davian client barunya.
" Pak Davian." Panggil Ria menggerakkan kelima jarinya di depan wajah Davian.
__ADS_1
" Ah iya... Mana berkasnya?" Tanya Davian.
" Ini Pak." Sahut Ria menyerahkan berkas di tangannya.
Davian menandatangani berkas perjanjian kerja sama itu sambil sesekali melirik Ria. Sedangkan Ria nampak gelisah sambil sesekali melirik jam tangannya.
" Sudah selesai Nona." Ucap Davian menyerahkan berkasnya kembali kepada Ria.
" Terima kasih Pak." Ucap Ria.
" Jangan memanggilku Pak! Aku belum setua itu, panggil saja nama saya karna sepertinya kita seumuran" Ujar Davian.
" Rasanya tidak sopan Pak jika memanggil orang lain dengan sebutan nama." Sahut Valen.
" Kau sekarang sudah tahu sopan santun, andai dari dulu kamu memiliki rasa itu aku pasti tidak akan kehilangan ibuku." Ujar Davian dalam hatinya.
" Tidak pa pa aku yang menginginkannya, jika kita hanya berdua panggil saja namaku, dan aku akan memanggilmu dengan namamu saja, bagaimana Vale?" Tanya Davian.
" Vale?.... Orang lain biasa memanggilku Ria." Ujar Ria.
" Aku mau yang luar biasa, jadi aku akan memanggilmu Vale." Sahut Davian.
" Baiklah Mas Davian." Ucap Ria.
" Kedengarannya indah dengan sebutan itu, Mas Davian." Ujar Davian.
" Baiklah Mas Davian saya permisi dulu, sampai jumpa kembali." Ucap Ria.
" Aku mau nomer ponselmu dulu." Ucap Davian.
" Nomer saya tertera di salinan berkas itu Mas." Sahut Ria.
" Oh baiklah nanti aku akan menghubungimu, apa perlu aku antar?" Tawar Davian.
" Tidak perlu Mas karna saya sudah di jemput seseorang." Sahut Ria.
" Baiklah hati hati." Sahut Davian.
" Baik saya permisi." Ucap Ria meninggalkan Davian.
Davian menatap kepergian Ria dengan tersenyum smirk. Ia segera menelepon anak buahnya.
" Halo Bos." Ucap seseoeang di sebrang sana.
" Ikuti dan selidiki dengan siapa gadis yang baru saja keluar dari sini." Titah Davian.
" Baik Bos." Sahut anak buah Davian.
" Aku tidak akan melepaskanmu lagi Vale, kau harus membayar mahal semua yang aku alami karna ulah urakanmu itu.... Tunggu kedatanganku untuk melamarmu sayang." Monolog Davian.
Kisah Ria dan Davian sudah di mulai ya....
Maafkan author jika ceritanya lambat atau sejenisnya.... Author lagi slow motion ha ha ha
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Miss U All...
__ADS_1