Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
63. Valen Merajuk


__ADS_3

" Ingin itu? Ingin apa?" Tanya Davian tidak mengerti.


" Aku ingin..." Ucap Ria menggantung.


" Iya sayang, kamu ingin apa?" Tanya Davian menatap Ria.


" Aku ingin menggigit telingamu Mas." Ucap Ria nyengir.


" Astaga sayang.... Kamu cuma mau bilang ingin menggigit telingaku aja lamanya minta ampun." Kekeh Davian.


" Aku takut kamu marah Mas." Sahut Ria.


" Tidak sayang, apapun keinginanmu akan aku berikan asalkan kamu berjanji untuk selalu berada di sampingku, jangankan telinga, semua tubuhku ini milikmu sayang." Ujar Davian mengelus pipi Ria.


" Sekarang lakukanlah." Ucap Davian memalingkan wajahnya supaya Ria bisa menggigit telinganya dengan mudah.


Ria duduk di samping Davian. Ia memajukan wajahnya lalu menggigit telinga Davian dengan pelan dan dalam durasi yang lama. Keduanya terdiam, Ria sedang menikmati senangnya menggigit telinga Davian, sedangkan Davian merasakan sensasi panas dingin dari sentuhan Ria. Ya bagi Davian itu hanya sentuhan bukan gigitan. Davian memejamkan matanya menahan sesuatu yang terasa sesak di bawah sana.


Setelah hampir sepuluh menit, Ria melepas gigitannya. Ia menatap wajah Davian untuk memastikan apakah Davian kesakitan atau tidak.


" Apa kamu merasa sakit Mas?" Tanya Ria.


" Tidak sayang, rasanya bukan seperti gigitan tapi terasa seperti sentuhan." Ucap Davian.


" Sentuhan?" Tanya Ria.


" Ya..." Sahut Davian.


" Sentuhan yang membuatku terangsang." Gumam Davian.


" Ha??" Ucap Ria.


" Udah puas belum? Kalau belum kamu boleh melakukannya lagi." Ucap Davian.


" Nanti lagi aja kalau aku ingin." Sahut Ria.


" Sekarang giliran aku yang mau ngomong sama kamu." Ucap Davian.


" Ngomong apa Mas?" Tanya Ria.


" Mas juga pengin." Ucap Davian ambigu.


" Pengin apa?" Tanya Ria.


" Pengin makan." Sahut Davian.


" Makan apa? Nanti akan aku buatkan atau aku belikan Mas." Ujar Ria.


" Makan kamu." Sahut Davian.


Mata Ria melotot ke arah Davian dengan mulut menganga. Ia merasa kaget dengan jawaban Davian yang nyeleneh. Melihat Ria yang seperti Davian tidak melewatkan kesempatan. Ia memajukan wajahnya, tangannya menyusup ke belakang leher Ria. Davian mencium bibir Ria dengan lembut. Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Ria untuk mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling melepas rindu lewat ciuman yang Davian ciptakan. Davian melum** lembut bibir Ria.


Setelah keduanya kehabisan nafas Davian melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Ria dengan jempolnya untuk membersihkan sisa salivanya.


" Terima kasih sayang." Ucap Davian.

__ADS_1


" Hmm." Gumam Ria.


" Hari ini sampai di ciuman dulu, kalau aku sudah sembuh aku tidak akan melepaskanmu walau hanya sedetik saja, kamu harus melunasi semua hutang hutangmu." Ucap Davian.


" Lakukanlah setelah kamu sembuh nanti." Sahut Ria malu malu.


" Ah aku jadi pengin cepet sembuh." Ujar Davian.


" Mas aku kepikiran tentang sesuatu, bagaimana bisa kamu menukar pil yang aku minum dengan pil penyubur kandungan? Bukankah aku meminumnya atas perintahmu." Ucap Ria menatap Davian.


" Aku melakukannya setelah perasaan cinta dalam hatiku hadir untukmu, aku ingin ada anak yang hadir untuk mempersatukan kita karna aku tidak ingin kehilanganmu Yank." Sahut Davian.


" Dan itu terbukti dengan keberadaanku di sini Mas." Ujar Ria.


" Terima kasih sayang kamu mau memaafkan kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, walau aku tahu kalau kamu tidak bisa melupakannya, aku menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya Yank." Sesal Davian.


" Sudahlah Mas tidak perlu di bahas lagi, itu hanya akan membuat kita sakit hati, aku tidak mau ada kesedihan di dalam lembaran baru yang sedang kita buka Mas, jadi ku mohon jangan ungkit soal itu lagi, biarlah semua itu menjadi rencana Tuhan yang paling indah untuk mempersatukan cinta kita." Tutur Ria.


" Aku tidak salah memilihmu sayang, aku mencintaimu." Ucap Davian hendak memeluk Ria.


" Eits kamu lagi sakit Mas, jangan peluk peluk entar tergores lagi lukamu." Cegah Ria.


" Hmm luka sialan ini membuatku tidak bisa mendominasi dirimu sayang." Cebik Davian.


" Kan kamu sendiri yang buat." Ujar Ria.


" Iya, semua ini demi kamu." Sahut Davian.


...****************...


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Mami Nesha saat berpapasan dengan Valen di tangga.


" Aku capek Mi mau istirahat, maaf ya Mi aku tidak bantuin Mami." Ujar Valen.


" Tidak masalah sayang, kamu kan lagi hamil jadi jangan sampai kecapekan." Sahut Mami Nesha.


" Aku ke kamar dulu Mi." Ucap Valen.


" Iya sayang." Sahut Mami Nesha.


Mami Nesha menuruni anak tangga, sampai di pijakan terakhir Ia berpapasan dengan Nathan.


" Istrimu kenapa Bang?" Tanya Mami Nesha menatap Nathan.


" Ngambek Mi." Sahut Nathan.


" Ngambek kenapa?" Tanya Mami Nesha.


" Tadi tanpa sadar aku membahas soal rencana pernikahanku dengan Kavia dulu Mi, aku lupa kalau emosi Valen sedang labil Mi, hingga perkataanku membuat dia marah." Sahut Nathan.


Ya Mami Nesha sudah tahu semua tentang perasaan Kavia dan Nathan dulu sampai Gama datang memisahkan mereka. Beruntung saat itu Nathan belum jatuh terlalu dalam hingga Ia bisa dengan mudah mengusir nama Kavia dari hatinya.


" Kamu ini, sana bujuk dulu istrimu jangan sampai dia kabur lagi dari rumah, karna Mami yakin kali ini jika Valen kabur dia tidak akan mau kembali lagi." Ucap Mami Nesha.


" Doain yang baik donk Mi, dan satu lagi tadi Abang ketemu ibunya Kavia Mi." Ujar Nathan.

__ADS_1


" Apa? Ibunya Kavia? Apa yang dia lakukan padamu atau menantu Mami?" Tanya Mami Nesha.


" Dia maki maki Abang dan menuntut tanggung jawab Abang atas kepergian Kavia." Sahut Nathan.


" Lalu kamu menyanggupinya, dan itu sebabnya Valen semakin marah sama kamu." Tebak Mami Nesha.


" Iya Mi." Sahut Nathan.


" Ya ampun Abang, kenapa sih kamu bodoh banget kalau masalah hati orang, ya kelas Valen marah lah, udah sana bujuk dulu sebelum dia packing baju ke dalam kopernya." Ujar Mami Nesha.


" Ya udah Abang ke kamar dulu." Ujar Nathan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sewaktu Valen dan Nathan hendak membeli bubur, tiba tiba ada seorang ibu ibu yang mengaku sebagai ibunya Kavia. Ia mencaci maki Nathan karna Nathan sudah menghancurkan hidup Kavia. Ibunya Kavia meminta Nathan untuk bertanggung jawab mencari Kavia dimanapun Kavia berada. Dan dengan bodohnya Nathan berjanji akan bertanggung jawab atas semuanya.


Mendengar itu Valen terlihat sangat marah dan kecewa. Valen bahkan memaki ibunya Kavia di sertai ancaman yang Ia keluarkan untuk membungkam mulut ibunya Kavia. Alhasil ibunya Kavia kabur terbirit birit meninggalkan Valen dan Nathan. Valen yang merasa kesal langsung kembali ke rumah tanpa membeli bubur ayam ataupun Es krim coklat yang Ia inginkan.


" Sayang jangan marah donk." Ucap Nathan menghampiri Valen yang sedang duduk di balkon kamarnya.


" Yank... Aku beliin buburnya ya tapi di makan." Ujar Nathan berjongkok di depan Valen sambil menggenggam tangan Valen.


" Apa sih, lepas!" Ketus Valen.


" Yank maaf... Aku cuma salah bicara saja, kan sudah aku beritahu yang sebenarnya Yank, jangan marah lagi ya." Ujar Nathan mencium tangan Valen. Valen menarik kasar tangannya. Ia beranjak masuk ke dalam mendekati ranjangnya.


" Yank aku beliin ya, kamu belum sarapan lhoh kasihan dedeknya." Ujar Nathan.


" Sayang...." Rengek Nathan mendekati Valen yang sedang duduk di atas ranjang.


" Yank... Maafkan aku, aku tadi nggak tahu harus bagaimana Yank, aku berpikir dengan aku mengiyakan permintaan ibunya Kavia semua akan berakhir, aku juga malu Yank di maki maki di depan banyak orang gitu." Ujar Nathan.


" Bilang aja kamu memang mau tahu tentang keberadaan Kavia, aku nggak masalah kok." Ucap Valen.


" Enggak Yank, sumpah." Sahut Nathan mengacungkan dua jarinya.


" Walaupun kamu mencarinya ke ujung dunia pun tidak akan ketemu karna Kavia di sembunyikan oleh orang Papa di tempat yang jauh, supaya tidak akan lagi mengganggu keluarga kita." Ucap Valen.


" Hah... Ada aja masalahnya, kalau nggak Kavia ya Meli, kamu jadi orang terlalu baik pada semua orang Mas hingga menimbulkan masalah untuk dirimu sendiri." Ucap Valen.


" Iya aku mengaku salah, maafkan aku." Sesal Nathan.


" Aku bosan memaafkanmu, udah lah sekarang kamu turun ambilkan pesananku di Gama." Ucap Valen.


" Gama? Kamu pesan apa sama Gama?" Tanya Nathan.


" Sesuatu yang akan membuatku kenyang, udah deh nggak usah banyak nanya aku udah lapar." Ujar Valen dengan nada tidak bersahabat.


" Ah iya, kamu tunggu di sini, akan aku ambilkan." Ujar Nathan keluar meninggalkan Valen.


TBC....


Besok kita beralih ke cerita Gama dan Luci ya...


Jangan lupa like dan komentnya..


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2