
Valen masuk ke dalam mobilnya. Saat Ia hendak menyalakan statrnya, Ia melihat sosok pria memakai topi hitam, wajahnya tertutup masker sedang mengintainya. Valen melongkok keluar kaca mobil. Pria itu pergi menjauh dari tempat Valen berusaha kabur darinya.
" Kau mau bermain main denganku, kau tidak tahu kalau aku punya jiwa intelegent." Monolog Valen sambil menyeringai.
Valen keluar dari mobil, Ia berlari mengejar pria itu tanpa sepengetahuan pria itu pastinya. Di depan jalan, pria itu menaiki taksi. Valen segera menyetop taksi di belakangnya
" Pak ikuti taksi di depan itu." Ucap Valen pada sang driver.
" Baik Nona." Sahut Driver taksi.
Perjalanan hampir satu jam tapi taksi yang di tumpangi oleh pria penguntit itu belum juga berhenti. Hingga tak lama setelah itu, taksi pria itu berhenti di depan halaman rumah yang sederhana. Bahkan sangat sederhana dan jauh dari kata layak pada umumnya. Taksi Valen berhenti di jalan yang tak jauh dari rumah itu.
" Rumah siapa itu?" Gumam Valen.
" Bapak boleh pergi, saya sudah mengirim pesan kepada teman saya untuk menjemput, ini ongkosnya pak terima kasih." Ucap Valen memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
" Ini kebanyakan Nona." Ucap Driver hendak mengembalikan sisa uangnya.
" Sisanya buat bapak saja." Ucap Valen.
" Terima kasih banyak Nona." Sahut Driver.
Valen berjalan menuju rumah itu. Sesampainya di depan pintu Ia mendengar percakapan orang orang di dalam rumah itu.
" Darimana kamu?"
" Suara itu..." Gumam Valen yang merasa familiar dengan suara itu. Valen mengintip di sela sela pintu yang sedikit terbuka.
Deg....
Pria tua itu....
Valen membulatkan matanya, Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya supaya tidak menimbulkan suara.
" Jawab Papa darimana kamu Arsya." Bentak Papa Jordan.
Ya... Pria itu adalah Papa mertuanya. Dan pria penguntit itu Arsya yang Valen yakini sebagai anak pertama mertuanya yang dulu sakit sakitan.
" Untuk apa Papa tahu tentang kegiatanku?" Tanya Arsya.
" Arsya, Papa sudah bilang berhenti menjadi penguntit Kakak iparmu, dia istri Abangmu Arsya." Ujar Papa Jordan.
" Tapi aku menyukainya Pa, dan aku akan merebutnya dari Abang." Sahut Arsya.
Jeduar.....
Tubuh Valen terasa kaku tidak bisa di gerakkan. Menyukainya? Apa Arsya sudah gila? Bagaimana Arsya menyukai Valen sedangkan mereka saja tidak pernah bertemu. Apa ada yang Valen lewatkan?
" Arsya berhenti bermain main dengan keluarga Abangmu apalagi Kakak iparmu Nak, dia bukan orang sembarangan Arsya, apa kau tidak sadar kita hidup seperti ini karna ulah Papa yang mencari masalah dengannya." Ujar Papa Jordan.
" Aku tidak peduli Pa, aku akan mendapatkan apa yang aku mau, aku akan merebut Valen dari Abang dan aku akan menerima anak Abang sebagai anakku sendiri." Sahut Arsya.
" Arsya." Bentak Papa Jordan.
__ADS_1
" Dia istri dari Abangmu Arsya..." Sambung Papa Jordan.
" Heh Abang.... Abang yang tidak pernah menganggap kita sebagai keluarganya." Ucap Arsya.
" Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" Tanya Papa Jordan.
" Buktinya kita hidup sengsara saja dia tidak tahu Pa, bahkan menanyakan kabar kita saja tidak." Ujar Arsya
" Bukan Abang yang tidak mau menanyakan kabar kita Arsya, tapi Papa dan Mama lah yang memutuskan kontak dengan mereka, Papa malu.... Papa malu dengan apa yang Papa lakukan kepada Abangmu selama ini... Pengobatanmu dari kecil di bantu oleh Kakek Ardi, ayah dari Papinya Abang sampai kamu bisa sembuh seperti sekarang, dan kamu tahu? Semua hutang hutang Papa kepada Papanya Meli, Valenlah yang membayarnya Arsya, tapi apa yang Papa lakukan kepada mereka? Papa berusaha memisahkan Abangmu dengan istrinya, Papa malu Arsya." Terang Papa Jordan menyesal.
" Tapi aku mencintai Valen Pa, wanita yang telah menolongku dari kematian." Ucap Arsya
" Dia memang wanita berhati malaikat Nak, tidak ada salahnya jika kamu menyukainya, tapi suatu kesalahan besar jika kamu ingin merebutnya dari Abangmu." Ucap Papa Jordan.
" Hidup kita sudah susah, bahkan Papa, Mama dan adikmu Rasya harus kerja banting tulang demi mencukupi semua kebutuhan kita, Papa tidak mau kita mendapat masalah baru Arsya, jadi Papa mohon dengan sangat kepadamu, lupakan tentang perasaanmu kepada Valen, carilah wanita lainnya dan jangan pernah mengusik keluarga Abangmu lagi, biarlah mereka bahagia tanpa kita." Ucap Papa Jordan.
Arsya menatap Papanya dengan sendu. Apakah tindakannya akan berakibat fatal untuk keluarganya? Lalu bagaimana dengan cintanya? Arsya mengingat beberapa tahun lalu saat dirinya di rawat di rumah sakit ternama di negara tetangga.
Flashback On
Saat itu Arsya keluar kamar dengan menggunakan kursi rodanya. Ia ingin keluar dari rumah sakit menuju taman yang berada di depan rumah sakit itu untuk menghilangkan rasa bosan yang mendera karna selama pengobatan Ia hanya di dalam kamar saja. Arsya memasuki lift bersamaan dengan seorang wanita yang tak lain adalah Valen. Arsya nampak kesulitan mendorong kursi rodanya untuk memasuki lift. Melihat itu Valen menawarkan bantuan kepada Arsya.
" Can I help you?" Tanya Valen.
( Bisakah aku membantumu?)
" Yes please." Sahut Arsya.
Valen membantu mendorong kursi roda Arsya masuk ke dalam lift.
" I'm going to the ground floor, if you?" Tanya Valen.
(Saya mau ke lantai dasar, kalau kamu?)
" Mee too." Sahut Arsya.
(Aku juga)
Valen memencet tombol lantai satu. Lift mulai bergerak.
" Are you Indonesian? If you see from your face you are Indonesian." Ucap Valen menatap Arsya.
(Apakah kamu orang Indonesia? Kalau di lihat dari wajahmu kamu orang Indonesia)
" Yes Im Indonesian." Sahut Arsya.
(Ya saya orang Indonesia)
" Berarti kamu bisa bahasa Indonesia donk?" Tanya Valen.
" Bisa, terima kasih sudah membantuku." Sahut Arsya.
" Sama sama, oh ya kenalin aku Valen dari Jakarta." Ucap Valen.
__ADS_1
" Aku Fathan." Sahut Arsya.
Keduanya diam tak tahu harus ngobrol apa lagi. Ingin sekali Valen menanyakan tentang penyakit Arsya tapi Ia takut Arsya akan tersinggung. Sampai tiba tiba lift berhenti.
" Astaga, sepertinya liftnya mati." Ucap Valen.
" Kita terjebak dalam lift ini?" Tanya Arsya.
" Sepertinya, mungkin butuh beberapa waktu untuk kita bisa keluar dari sini." Sahut Valen.
Arsya tidak menyahut lagi. Valen menatap ke arah Arsya. Tiba tiba Arsya menggigil dan nafasnya tersengal.
" Fathan kamu kenapa?" Tanya Valen berjongkok di depan Arsya.
Arsya tidak bergeming, Ia terus menggigil dengan nafas yang semakin tersengal.
" Astaga, kenapa ini.... Tolong... tolong." Teriak Valen mencoba menggedor pintu lift berharap ada bantuan yang datang. Tapi keberuntungan tidak memihak kepada mereka hari ini karna sepertinya tidak ada sahutan dari luar.
Valen kembali berjongkok di depan Arsya. Ia menatap Arsya dengan tatapan iba. Pikirannya melayang memikirkan cara apa yang bisa membantu Arsya.
" Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Valen memutar otaknya.
" Nafas buatan.. Ya aku harus memberinya nafas buatan, kalau tidak dia akan mati dan aku akan terkena masalah karna ini." Pikir Valen.
Ide gila muncul di benak Valen. Ia tidak peduli apakah caranya salah atau benar, Ia terserang rasa panik yang luar biasa kali ini. Ia tidak mau melihat seseorang mati di hadapannya.
Valen memajukan wajahnya, Ia menahan kepala Arsya dan dengan pelan Valen memberikan nafas buatan untuk Arsya berharap kondisi Arsya bisa membaik.
Ajaib...
Perlahan nafas Arsya kembali normal, tapi tubuhnya masih menggigil. Valen menurunkan Arsya dari kursi rodanya dan mendudukkannya di lantai lift. Ia melepas jaketnya lalu memakaikannya kepada Arsya. Valen memeluk tubuh Arsya layaknya seorang ibu kanguru yang memeluk anaknya. Ia mencoba memberi kehangatan untuk Arsya. Jantung Arsya berdetak kencang, ada desiran aneh dalam hatinya. Arsya berjanji jika Ia sudah sembuh nanti, Ia akan mencari Valen sampai ketemu dan akan menikahinya.
Flashback Off
" Arsya kau mendengarkan Papa kan?" Tanya Papa Jordan membuat Arsya tersadar dari lamunannya.
" Iya Pa." Sahut Arsya.
Sedangkan di luar pintu, Valen masih setia mendengarkan pembicaraan kedua orang di dalam sana. Sampai suara seseorang mengagetkannya.
" Kamu siapa? Ngapain kamu di rumah saya?"
Valen membalikkan badan menoleh ke asal suara, dan.....
Siapakah Dia???
Jangan lupa like koment vote dam hadiahnya ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1