Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
131. Anli dan Valen


__ADS_3

" Apa sayang? Katakan saja apa syaratnya nanti aku penuhi deh." Ucap Naren.


" Beneran ya." Ujar Anli.


" Iya Anliku sayang." Sahut Naren.


" Ah so sweet denger kamu bilang kaya' gitu Mas, rasanya adem." Ucap Anli.


" Kamu bisa aja, terus apa donk syaratnya?" Tanya Naren lagi.


" Syaratnya adalah kamu harus memperkenalkan aku dengan wanita yang kamu cintai sebelum aku nanti." Ucap Anli.


" Apa?" Pekik Naren membuat Aira kaget.


A... a... a...


Aira menangis dengan keras. Naren berdiri menimang Aira berharap Aira diam.


" St st sayang... Kaget ya? Maafin Om ya... Uluh uluh sayang diam ya... Nanti Bunda kamu marah di kira kamu di apa apain sama Om ust ust ust." Ucap Naren.


" Kamu nya sih Mas ngomongnya keras keras, kan jadi nangis Airanya." Ujar Alin.


" Iya sayang, aku kan hanya kaget saja denan syaratmu." Sahut Naren terus menimang Aira.


" Jadi gimana Mas? Kamu mau kan memperkenalkan aku dengan wanita itu? Aku penasaran wanita mana dan wanita seperti apa yang bisa membuat kamu gagal move on hingga berkali kali." Ucap Anli.


" Em gimana ya? Aku takut membuat kamu insecure, aku nggak mau kalau kamu nanti justru merasa rendah hati sayang dan nggak mau menikah denganku." Ujar Naren.


" Apa dia levelnya jauh di atasku? Apa dia jauh lebih cantik dariku? Atau apa dia jauh lebih baik daripada aku Mas?" Selidik Anli.


" Ah bukan begitu maksudku sayang, maafkan aku jika aku menyinggung perasaanmu." Ucap Naren.


" Lalu apa maksudmu Mas?" Tanya Alin.


" Nggak ada maksud apa apa, ya sudah kalau kamu mau bertemu dengannya besok akan aku kenalkan kamu dengannya." Sahut Naren.


" Beneran ya?" Tanya Anli.


" Iya sayang beneran deh." Sahut Naren.


" Ya udah deh, besok jam sembilan aku tunggu di cafe KA ya Mas." Ujar Anli.


" Baiklah sayang aku akan membawanya menemuimu." Ucap Naren.


" Ya udah Mas aku tutup dulu ya, I love you." Ucap Anli.


" Love you too sayang." Sahut Naren.


" Assalamu'alaikum." Ucap Anli.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Naren menutup sambungan ponselnya.


" Eh ternyata kamu bobok sayang." Ucap Naren menatap Aira yang memejamkan mata.


Naren kembali ke ruang keluarga menghampiri keluarganya.


" Aira tidur Za." Ucap Naren memberikan Aira kepada Azza.


" Ah iya." Sahu Azza memangku Aira.


" Tidurkan aja di kamar Za." Ucap Mama Esti.


" Iya sayang, ayo ke kamar biar Aira enakan tidurnya." Ujar Dika.


" Iya Mas." Sahut Azza beranjak.


" Ma Pa aku ke kamar dulu ya." Pamit Dika.


" Iya sayang." Sahut Mama dan Papanya.


Dika dan Azza beranjak meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini jam sudah menunjukkan pukul delapan, Naren berjalan mondar mandir di dalam kamarnya memikirkan bagaimana caranya mengajak Valen bertemu dengan Alin. Kalau Ia tidak menuruti kemauan Anli maka Ia yakin kalau Anli akan marah padanya.


" Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?Apa aku harus menelepon Valen dan ngomong terus terang ya? Tapi kan sampai saat ini Valen tidak tahu kalau aku memiliki perasaan untuknya.... Ya Tuhan... Apa yang harus aku katakan kepada Valen soal pertemuan ini?" Monolog Naren.


" Tapi aku harus tetap meneleponnya dan memintanya datang kan? Ah ya aku akan bilang kalau aku ingin memperkenalkan calon istriku kepadanya, kepada sahabat yang aku sayangi." Ujar Naren.


Naren mengambil ponselnya di atas ranjang, Ia segera menelepon Valen. Panggilan tersambung hanya tinggal menunggu Valen mengangkatnya saja.

__ADS_1


" Halo." Sapa Valen di sebrang sana.


" Halo Len, gimana kabar kamu?" Tanya Naren.


" Alhamdulillah baik Ren, kalau kamu sendiri gimana? Pasti baik kan? Apalagi mau menikah pasti baik banget." Valen balik bertanya.


" Aku juga baik Len seperti dugaanmu." Sahut Naren.


Hening....


" Apa kamu meneleponku hanya untuk diam diaman gini." Ujar Valen setelah lama hanya ada keheningan saja.


" Begini Len, bisa nggak kita bertemu satu jam lagi?" Tanya Naren.


" Dimana?" Tanya Valen.


" Di kafe KA, aku ingin memperkenalkan calon istriku kepada sahabat tercintaku sebelum pernikahanku." Ujar Naren.


" Kenapa di kafe? Kenapa tidak kamu ajak dia ke sini saja?" Tanya Valen.


" Emang boleh aku bawa dia ke rumahmu?" Tanya Naren.


" Ya bolehlah Ren, lagian hari ini aku lagi nggak bisa kemana mana soalnya Erald nggak ada yang jagain Ren, Maaf ya." Ucap Valen.


" Emangnya Tante sama Om kemana?" Tanya Naren.


" Mami sama Papi sedang ada urusan di rumahnya Bi Nadia, Mas Nathan ke kantor jadi aku sendiri di rumah, kalau mau bawa Erald kemana mana kasihan Ren, apalagi cuacanya panas gini." Ujar Valen.


" Baiklah kalau begitu aku saja yang akan ke rumahmu." Ucap Naren.


" Ok sekali lagi maaf ya nggak bisa menuruti kemauanmu." Ucap Valen.


" Tidak masalah, ya udah aku tutup ya sampai ketemu nanti." Ujar Naren.


" Ok bye." Sahut Valen menutup panggilannya.


Naren segera keluar dari kamarnya menuju ke mobilnya. Ia berencana untuk menjemput Alin lalu membawanya ke rumah Valen.


Setengah jam kemudian Naren sampai di kediaman keluarga Permana. Alin sudah menunggunya di depan pintu setelah Naren menghubunginya tadi. Alin berjalan mendekati mobil Naren.


" Pagi sayang." Sapa Anli setelah duduk di samping kemudi.


" Pagi sayang." Sahut Naren.


" Wanita itu tidak bisa keluar rumah karena tidak ada yang menjaga anaknya." Sahut Naren.


" Owh." Sahut Anli.


Naren melajukan mobilnya menuju rumah Nathan. Tiga puluh menit Naren sampai di kediaman Nathan.


" Ayo sayang kita turun." Ucap Naren membuka pintu mobilnya.


" Iya Mas." Sahut Alin.


Keduanya berjalan bergandengan menuju pintu rumah Nathan.


Ting tong....


Valen yang sedang menjaga Erald di ruang bermainnya segera keluar untuk membukakan pintu.


Ceklek....


" Hai." Sapa Naren.


" Naren." Pekik Valen.


" Ya ampun gue kangen banget sama lo Ren." Sambung Valen memeluk Naren.


" Gue juga Len." Sahut Naren mengusap punggung Valen.


" Ehm ehm." Dehem Anli membuat Valen melepas pelukannya.


" Eh maaf, aku refleks aja meluk Naren, maklum ya sahabat terbaik yang udah lama tidak bertemu." Ucap Valen.


" Kalian sahabat?" Tanya Anli menatap Valen.


" Iya... Kami sahabat dekat sejak sekolah dulu, oh ya kenalin aku Valentina, kamu boleh panggil aku Valen." Ucap Valen mengulurkan tangannya.


" Aku Anli, calon istrinya Mas Naren." Sahut Anli membalas uluran tangan Valen.


" Duh yang di panggil Mas, pasti hatinya adem." Ujar Valen.

__ADS_1


" Iya donk, gue boleh masuk nggak nih?" Tanya Naren.


" Ah iya sorry lupa, silahkan masuk." Ucap Valen.


Ketiganya berjalan memasuki rumah.


" Ren langsung ke ruang bermain anak gue yah, soalnya anak gue sendirian di sana." Ujar Valen.


" Ok deh." Sahut Naren mengikuti Valen dari belakang.


Ketiganya masuk ke ruang bermain Erald. Di sana Erald sedang duduk bermain main dengan mobil dan robotnya.


" Anak kamu Len?" Tanya Anli.


" Eh aku panggilnya Valen aja ya, biar terlihat akrab gitu." Sambung Anli.


" Iya boleh, ini anak aku Erald namanya." Sahut Valen.


" Hai Erald.... Ih kamu ganteng banget sih." Ucap Anli menoel pipi Erald membuat Erald tersenyum.


" Ma... Mi..." Ucap Erald.


" Eh udah bisa bicara." Ujar Anli.


" Iya tapi baru bisa Mami sama Papi aja." Sahut Valen.


" Wah anak pintar." Ucap Anli.


" Aku buatkan minum dulu ya." Ucap Valen.


" Boleh deh... Jus dingin aja ya Len." Ucap Anli.


" Siap, aku tinggal sebentar ya." Sahut Valen.


" Ok." Sahut Anli.


" Gue tinggal dulu bro." Ucap Valen meninggalkan Anli dan Naren ke dapur.


Anli menatap Naren membuat Naren merasa gugup.


" Aku yakin Valen tidak tahu kalau kamu memiliki perasaan kepadanya Mas." Tebak Anli.


Melihat sikap Valen yang tidak canggung dengan Naren membuat Anli menyimpulkan kalau Naren memendam perasaannya kepada Valen. Walaupun sebenarnya Valen mengetahui semuanya namun Valen pura pura tidak mengetahuinya untuk menjaga hubungan keduanya agar tetap dekat.


" Iya kai benar, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku karena aku takut di akan menjauh dariku, karena seperti yang kau lihat, sepertinya Valen tidak tertarik denganku." Sahut Naren jujur.


" Dari keluarga mana dia Mas?" Tanya Anli menatap Naren.


" Dia pewaris Alexander Group." Sahut Naren.


" Wow.... Sempurna." Ucap Anli.


" Apanya yang sempurna?" Tanya Naren mengerutkan keningnya.


" Valen Mas, udah cantik, pintar, seorang Ceo dari perusahaan besar lagi, bahkan perusahaan Opa saja masih di bawahnya, kamu benar Mas setelah aku tahu siapa wanita itu aku merasa insecure." Ucap Anli.


" Jangan begitu donk sayang." Ujar Naren.


" Tapi aku yakin kalau saat ini dan nanti, cintamu hanya untukku Mas, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu ataupun perasaanmu di saat itu, tapi yang jelas aku mau cintamu hanya untukku, tinggalkan perasaanmu di belakang dan melangkahlah ke depan menuju kebahagiaan bersamaku." Ucap Anli.


" Tentu sayang." Sahut Naren merangkul Anli.


" Duh calon pengantin mesra banget sih." Ucap Valen yang baru masuk dengan membawa nampan di tangannya.


" Iya donk, jangan kalah sama pengantin lawas." Sahut Naren.


" Ini jusnya silahkan di nikmati." Ucap Valen menyuguhkan dua gelas jus stroberry beserta cemilannya.


" Makasih Len, jadi merepotkan." Sahut Anli.


" Tidak kok." Sahut Valen.


Ketiganya terlibat obrolan yang menyenangkan membuat hati ketiganya merasa senang.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat....


Setelah pernikahan Naren kita tamat ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2