
Pagi ini Nesha mulai menyusui Babby Farhan yang mungil. Mereka sudah memikirkan nama yang akan di sandang oleh Babby Farhan ke depannya.
" Sayang sambil makan ya... Dedeknya dari tadi minum mulu entar nggak ada asupan yang masuk kalau kamu lapar." Ucap Farhan menyuapi Nesha.
" Pelan Mas nanti dedeknya kejatuhan makanannya lagi." Ujar Nesha.
" OK sayang." Sahut Farhan mengusap sudut bibir Nesha.
Ceklek....
"Mami.." Teriak Nathan berlari menghampiri Nesha tapi saat Ia melihat Farhan, Nathan langsung bersembunyi di balik punggung Sifa.
" Kenapa sayang? Sini sama Mami sama Adek juga." Ujar Nesha.
Sifa menggendong Nathan menghampiri Nesha.
" Nathan takut sama Kak Farhan, Dia merasa bersalah karena membuatmu jatuh Nes." Jelas Sifa.
" Ya ampun sayang... Kamu nggak salah, Mami yang kurang hati hati sayang, Sini lihat Adeknya." Ujar Nesha.
Nathan menyembunyikan wajahnya ke leher Sifa, Farhan menghela nafasnya bagaimanapun Nathan tidak bisa di salahkan. Farhan menghampiri Sifa lalu mengambil alih Nathan dari gendongnya.
" Lihat dedeknya sama Papi." Ucap Farhan.
Nathan menatap wajah Farhan, Farhan tersenyum ke arahnya.
" Papi ndak marah sama Athan?" Tanya athan polos.
" Enggak sayang... Kenapa harus marah hmmm seharusnya Papi marah sama Mami karena Mami yang kurang hati hati." Ucap Farhan mencium pipi Nathan.
" Yeiiii Papi ndak marah." Sorak Nathan gembira lagi.
" Mau lihat dedek?" Tanya Farhan. Nathan menganggukkan kepalanya.
" Tapi dari sini aja, Perut Mami lagi sakit entar takutnya Nathan nyenggol Mami, Ok?" Ujar Farhan.
" OK Pi... Halo Adek Bang Athan.... Siapa namanya Pi?" Tanya Nathan mengelus pipi adiknya dengan lembut.
" Namanya Gama... Gama Sky Ardiansyah." Sahut Farhan.
" Hallo adik Gama... Kalau di panggil adek Gam." Ujar Nathan.
" Hallo abang." Ucap Nesha menirukan suara anak kecil.
" Mami apa Nathan dulu minum susu Mami kaya' adik Gama?" Tanya Nathan polos.
Deg..... Jantung Nesha berdetak kencang, Ia menatap Farhan seolah meminta bantuan dari tatapannya.
" Tidak sayang.... Dulu kamu tidak suka asi, Abang Nathan minumnya susu formula pakai dot." Jelas Farhan.
" Oh.... Athan jadi anak sapi donk." Ucap Nathan membuat semuanya tertawa.
" Nes bolehkah aku menggendongnya?" Tanya Sifa.
" Tentu." Sahut Nesha memberikan Gama pada Sifa.
" Boleh dia memanggilku Mama?" Tanya Sifa lagi.
" Boleh donk, Dia juga akan menjadi anakmu, Ya kan Mas?" Sahut Nesha.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Farhan.
" Aaaaaaa anak kedua Mama... Kapan Mama punya anak ke tiga ya?" Tanya Sifa.
" Mama juga harus buatin adek buat Athan juga ya, Biar Athan punya banyak adek." Ujar Nathan.
" Iya sayang doakan semoga Mama bisa dengan segera memberikan adek untukmu dan Gama." Sahut Sifa
Sifa menciumi pipi Gama, Ia semakin ingin segera hamil dan memiliki anak sendiri. Mau bagaimanapun menggendong anak.sendiri rasanya akan berbeda. Sifa sudah berusaha tapi Tuhan belum mempercayakan rejeki itu padanya.
" Kak Jordan kemana Sif?" Tanya Nesha.
" Kerja." Sahut Sifa singkat. Ia sedang fokus bermain main dengan Babby Gama.
Ceklek.....
Semua orang menatap ke arah pintu, Nampaklah Mama Rena dan Papa Ardi masuk ke dalam menghampiri Mereka.
" Oma." Pekik Nathan memeluk kaki Mama Rena.
" Uhh cucu oma.." Sahut Mama Rena menggendong Nathan.
" Lihat oma itu Gama adeknya Athan." Ucap Nathan.
" Oh jadi namanya Gama to." Ujar Mama Rena.
" Iya Oma, Ada nama Papi juga di belakangnya." Sahut Nathan.
" Wah pintar sekali cucu Oma satu ini." Ucap Mama Rena mencubit pipi Nathan.
" Oma jangan di cubit, Athan bukan anak kecil lagi." Ujar Nathan cemberut.
" Udah gedhe kok masih minta gendong." Sahut Papa Ardi.
" Pintar alasan seperti bapaknya." Cebik Papa Ardi.
Nesha dan Farhan saling pandang, Mereka memang tidak memberi tahu tentang kebenaran Nathan tapi Farhan yakin jika Papanya sudah mengetahui semuanya, Mungkin Papa tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan Farhan.
Menjelang siang Papa, Mama, Sifa dan Nathan pamit untuk pulang, Kini tinggal Nesha dan Fathan. Babby Gama sedang terlelap di ranjangnya.
" Sayang makan lagi ya." Ucap Farhan menatap Nesha yang sedang rebahan bersandar pada kepala ranjang.
" Nanti aja Mas, Aku masih kenyang." Sahut Nesha.
" Apa pengin makan yang lainnya?" Tanya Farhan.
" Enggak Mas... Aku cuma masih kenyang aja kok, Jangan khawatir nanti kalau udah lapar pasti aku makan lagi." Ujar Nesha.
" Baiklah sekarang tidurlah biar Gama Mas yang jaga." Ucap Farhan mencium kening Nesha.
" Baik Mas makasih." Sahut Farhan.
Sesampainya di rumah Sifa menidurkan Nathan , Ia merebahkan tubuhnya di samping Nathan. Saat ini Sifa memikirkan bagaimana caranya supaya dia cepat hamil. Sifa benar benar sudah ingin menyempurnakan dirinya dengan melahirkan seorang bayi lucu.
" Apa yang sedang kamu pikirkan Yank? Sehingga tidak menyadari kedatanganku?" Tanya Jordan mengelus kening Sifa.
" Eh kamu udah pulang Mas?." Bukannya menjawab Sifa justru bertanya.
" Pertanyaan aneh udah tahu aku di sini kok masih nanya." Ujar Jordan mencubit hidung Sifa.
__ADS_1
" Mikirin apa?" Sambung Jordan.
" Aku lagi mikirin kapan aku hamil? Aku sudah tidak sabar ingin menimang bayi lucu seperti Gama." Ujar Sifa.
" Gama??? Siapa Gama?" Tanya Jordan.
" Adeknya Nathan." Sahut Sifa.
" Anaknya Nesha dan Farhan?" Tanya Jordan memastikan.
" Ya iyalah masa' anak kita." Cebik Sifa.
" Sabar sayang suatu saat nanti pasti kita akan mendapatkan putra yang lucu seperti Gama." Ujar Jordan walaupun Ia belum melihat Gama.
" Tapi kapan Mas? Kita bahkan menikah hampir satu tahun tapi aku belum hamil hamil juga." Protes Sifa.
" Sedikasihnya aja Yank." Ucap Jordan.
" Kita periksa lagi ya Mas, Siapa tahu kali ini ada masalah." Usul Sifa.
" Ya udah nanti malam kita periksa." Sahut Jordan.
Malam harinya Jordan dan Sifa pergi ke Dokter kandungan yang pernah di datanginya. Mereka menitipkan Nathan kepada Mama Rena. Setelah menempuh jarak sekitar setengah jam akhirnya Jordan sampai pada klinik Dokter Sinta. Mereka berdua masuk ke dalam untuk menjalani serangkaian pemeriksaan.
" Setelah di lakukan beberapa test, Dengan terpaksa saya mengatakan kendala yang membuat Nona Sifa belum hamil juga sampai saat ini." Jelas Dokter.
" Apa itu Dok?" Tanya Sifa.
" Sp**** yang di hasilkan oleh Tuan Jordan ternyata tidak sekuat sp***** pada umumnya atau bisa di katakan lemah, Walaupun nanti anda hamil biasanya akan mengalami keguguran Nona." Ujar Dokter.
" A.. Apa keguguran Dok?" Tanya Sifa
" Iya Nona karena janin yang di hasilkan dengan kualitas rendah akan rentan terhadap keguguran, Sebaiknya saya sarankan Tuan Jordan untuk melakukan pengobatan dan untuk saat ini Tuan harus menggunakan pengaman terlebih dahulu jika berhubungan sampai Tuan di nyatakan sembuh dan bisa menghasilkan bibit unggul untuk janin yang sehat dan kuat." Jelas Dokter.( Berdasarkan pengalaman teman author)
Bagai pukulan telak di dalam hati Sifa, Cobaan datang kembali pada rumah tangga mereka, Semua ini membuat Sifa semakin kuat dan semakin ingin mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saat ini Sifa harus menguatkan Jordan karena Ia butuh dukungan penuh dari Sifa.
" Pengobatannya butuh waktu berapa lama Dok?" Tanya Sifa antusias, Ia tidak boleh terlihat sedih di depan Jordan.
" Tergantung kondisi pasien itu sendiri Nona, Tapi mayoritas mereka akan sembuh total setelah menjalani pengobatan selama satu tahun." Jelas Dokter.
" Lakukan yang terbaik untuk suamiku Dok, Buat dia sehat kembali." Ucap Sifa.
" Baiklah saya akan segera menjadwalkannya." Sahut Dokter.
Jordan menggenggam tangan Sifa. Ia menatap manik hitam yang ada di depannya. Rasa bersalah menjalar dalam hatinya.
" Maaf." Hanya kata itu yang mampu Jordan ucapkan.
Apakah Ia harus merelakan Sifa dengan Pria lain? Saat ini Sifa sangat menginginkan keturunan tapi waktu pengobatan Jordan paling cepat satu tahun, Apakah Sifa mau bersabar menunggu waktu selama itu, Sedangkan jika dengan pria lain waktu satu tahun itu Sifa bisa melahirkan satu bayi.
" Mas.... Jangan bersedih... Tetaplah menjadi pria yang kuat, Kamu harus semangat kita akan melaluinya bersama sama, Aku akan selalu berada di sampingmu untuk mendukungmu." Ujar Sifa menguatkan Jordan.
" Terima kasih sayang.... Terima kasih karena kamu mau menerima kekuranganku." Ucap Jordan memeluk Sifa.
" Tidak masalah Mas, Tidak ada manusia yang sempurna buksn? Sekarang kamu harus tetap semangat." Sahut Sifa membuat Jordan menganggukkan kepalanya.
Bukankah dalam rumah tangga kita harus saling menguatkan dan saling melengkapi? Itulah yang di lakukan Sifa saat ini.
**TBC .....
__ADS_1
Terima kasih untuk para readers yang sudah menemani author sampai episode ini.
Miss U All**....